Friday, February 10, 2012

Setetes Embun Yang Meneduhkan

Suatu ketika, Bunda Teresa pernah berkata “In this life, we cannot always do great things. But we can do small things with great love”. Demikianlah kasih sayang yang ditorehkan oleh Civismo Foundation pada hati setiap insan yang perjalanan hidupnya tidaklah semanis yang kita bayangkan. Seperti tetes embun yang meneduhkan dedaunan di pagi hari, Civismo Foundation yang dimotori oleh Billy Bismarak, Kanti Janis, dan Andara Rainy ini dengan konsisten memberikan pelatihan informal bagi anak-anak yatim piatu Muhammadiyah dan Sekolah Bina Insan Tangerang (Bintang).

Bulan Juni tahun lalu, saya diajak oleh Civismo untuk mengadakan Konser Mini dalam rangka memperkenalkan anak-anak binaan mereka akan pertunjukan musik. Kala itu saya memberikan gagasan, bahwa pertunjukan musik (terutama untuk anak-anak) sebaiknya dilakukan secara interaktif, dimana mereka dapat ikut melibatkan diri dalam proses berkesenian. Dalam usia dini, yang paling memungkinkan adalah mengajak mereka untuk turut menyanyikan lagu nasional, lagu daerah, atau lagu anak-anak. Namun di tengah krisis kepemimpinan negeri ini, rasanya lebih tepat apabila lagu-lagu nasional kembali didengungkan, agar kita tidak melupakan bahwa negeri ini dibangun dengan air mata darah, bukan dengan kapital-kapital yang tak berakar.


Bermusik secara profesional di panggung dengan bermusik bersama anak-anak memang memiliki dimensi spiritual tersendiri. Kepolosan mereka dan (tentu saja) latar belakang hidup mereka selalu membawa hati ke ruang sederhana yang kadang jarang terjamah oleh Rasa. Tanpa larut dalam gejolak sentimental, mereka merupakan pribadi yang tangguh. Dalam keadaan serba kekurangan, ketidakmampuan, tak berayah-ibu, semangat mereka untuk hidup dapat diibaratkan selayaknya dian yang tak kunjung padam – meminjam istilah dari Sutan Takdir Alisjahbana. Paling tidak, api itu dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan merupakan sesuatu yang berharga, yang harus dirawat dan dikembangkan dalam upaya memanusiakan sesama manusia. Karena dalam proses mengenal dan menghayati kehidupan manusia, kita sedang menghayati diri kita sendiri. Begitu pun sebaliknya: Suatu proses yang akan terus bersintesis.


Memang benar, di zaman yang serba materialistis seperti saat ini, orang-orang cenderung menilai sesuatu dari mata uang, bukan mata hati. Namun ucapan terima kasih sebesarnya saya haturkan kepada Civismo Foundation yang telah membukakan pintu hati mereka untuk mengisi relung-relung kosong dalam perjalanan hidup kaum yang membutuhkan. Pendidikan yang mereka isi dengan kasih sayang dapat menjadi buah optimisme akan kelangsungan perjuangan kemanusiaan di negeri ini.



Untuk berpartisipasi dalam kegiatan Civismo Foundation, silakan kunjungi situs mereka di http://civismofoundation.org/ atau kantor di alamat:
Jl. Irian No. 7, Menteng, Jakarta Pusat 10230.
Telp (021) 3190 9080

No comments: