Wednesday, February 15, 2012

Whitney Dalam Kenangan

Kabar meninggalnya sang diva pop Whitney Houston memang sangat menyayat hati. Saya sendiri mengenang Whitney melalui kilas balik bertahun-tahun yang lalu, dimana pada tahun 1993 – saat itu TV sedang gencar-gencarnya menampilkan video klip “I will always love you” (OST The Bodyguard) setiap sore. Saya yang saat itu masih duduk di kelas tiga SD, tidak pernah lepas dari hadapan TV setiap kali video klip tersebut lewat. Saat itu sosok Whitney terlihat begitu sempurna, dengan segala passion yang diciptakannya pada setiap lirik, pesona panggungnya memang luar biasa. Hingga suatu ketika, tante saya membeli kaset OST The Bodyguard dan memutarnya di mobil, disana saya mulai berkenalan dengan single Whitney yang lain, seperti “I have nothing”, “Run to you”, “I’m every woman” (duet dengan Chaka Khan). Maka saya mulai mengoleksi semua kaset Whitney (ya, saat itu masih kaset) – dan hampir tiap bulan saya menyambangi toko kaset Aquarius di Jalan Dago Bandung, hingga toko-toko kaset kecil di toserba Borobudur Jalan Setiabudi, yang siapa sangka bahwa di toko sekecil itu ternyata menyimpan banyak rekaman-rekaman lama Whitney!


Setahun setelah itu, saya menemukan sebuah kaset gratisan hadiah deterjen Rinso di gudang (bahkan ada label “Rinso”nya), namun memuat banyak sekali lagu-lagu bagus, antara lain Dionne Warwick “That’s what friends are for” (Itu pertama kalinya saya mendengar lagu tersebut, dan jatuh cinta juga pada suara Dionne Warwick – sepupunya Whitney), dan sebuah lagu berjudul “If you say my eyes are beautiful” yang dibawakan duet oleh Whitney dan Jermaine Jackson – saat itu bisa saya dengarkan berulang kali sepulang sekolah. Lalu kaset Rinso itu menjadi keramat. Saya simpan baik-baik.


Waktu pun terus bergulir. Dari kaset, saya mulai mengoleksi CD Whitney, hasil menabung. Saat itu saya sudah pindah ke Jakarta dan biasanya berburu CD di Disc Tarra Taman Anggrek – saat itu lengkap sekali dan luar biasa besar, bahkan memiliki ruangan untuk musik Jazz dan Klasik sendiri (Saya membeli CD Maria Callas pertama saya di Disc Tarra ini). Dari situ saya membeli OST “The Preacher’s Wife”, film Whitney bernuansa gospel, dimana saya sangat terbius dengan lagu “I believe in you and me”.

Hal yang saya ingat betul – ketika Kerusuhan 1998 memuncak, kami sekeluarga mengungsi ke Bandung. Saat di perjalanan, orangtua saya terus memonitor berita kerusuhan melalui Radio Sonora, sementara saya kekeuh mengganti siaran radio dengan OST The Bodyguard. Akhirnya solusinya: 10 menit Whitney melantunkan nyanyiannya, 10 menit penyiar Sonora berkoar-koar dengan beritanya. Begitu terus sampai tiba di Bandung.

Selain mengoleksi CD, saya juga ingin sekali memiliki original score film "The Bodyguard" dan "The Preacher’s Wife". Saat itu belum ada online shop atau toko partitur di Jakarta. Saya sempat menitip pada ayah saya ketika beliau ditugaskan ke New York, tapi tidak berhasil ditemukan. Lucunya, tidak lama setelah itu, original score "The Preacher’s Wife" dijual di Toko Buku QB Plaza Senayan, dan saya malah mendapatkan fotokopi score "The Bodyguard" dari Ibu Catharina Leimena.

Whitney Houston adalah legenda. Kebesaran nama dan kiprahnya tidak dibangun dalam semalam, tapi melalui serangkaian kesuksesan yang didukung orang-orang terdekatnya, antara lain Cissy Houston, Dionne Warwick, dan Aretha Franklin (ibu baptisnya). Indonesia pun boleh bangga turut mengantarkan Whitney menuju gerbang kesuksesan internasionalnya, ketika tahun 1991 Whitney menyanyikan lagu kebangsaan Amerika “The Star Spangled Banner” pada acara "The Super Bowl XXV" di Stadium Tampa Florida (salah satu penampilan legendarisnya), diiringi Florida Orchestra dibawah baton konduktor Jahja Ling, seorang Indonesia yang memulai pendidikan musiknya di sekolah musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM), sebelum meneruskan studi musiknya di Juilliard New York atas beasiswa dari Rockefeller Foundation.


Seakan sebuah misteri, bintang besar biasanya berpulang di saat yang tak terduga. Seperti soprano Maria Callas di awal masa senja karir meteoriknya, atau Michael Jackson di tengah persiapan rangkaian konser terakhirnya sebelum mengundurkan diri dari panggung hiburan: “This Is It”. Mungkin saja kematian itu hanyalah sebatas ragawi, karena mereka akan tetap hidup sebagai legenda yang menyentuh hati ribuan umat.

Selamat jalan Whitney. Kini kau telah beristirahat dengan tenang di alam keabadian. Biarkanlah semua kenangan indah terpatri dalam lembaran sejarah yang menjadikanmu ada.

No comments: