Wednesday, May 23, 2012

Profesi Musisi: Gengsi atau Pilihan?

Badai krisis ekonomi semakin melanda daratan Eropa. Negara-negara yang terlilit oleh hutang semakin memperketat pengeluaran mereka, dimana salah satu sektor yang terpaksa untuk dikurangi anggarannya adalah bidang seni. Salah satu contohnya adalah orkestra-orkestra yang mendapat suntikan dana dari pemerintah, kini nyaris harus mencari sumber pendanaan secara mandiri. Patron-patron berupa perusahaan besar yang biasanya turut memiliki andil pun cenderung berpikir dua kali: Apakah lebih baik membiayai kelangsungan hidup sebuah orkestra atau menginvestasikan dana mereka dalam bentuk lain.

Baru-baru ini saya berbincang-bincang dengan dua kawan. Yang satu adalah musisi lulusan Royal College of Music di Manchester (sebutlah R), dan satunya lagi adalah pianis lulusan Conservatory of Amsterdam (sebutlah M). Saat itu R berkisah bahwa kehidupan musisi musik seni di Inggris tidaklah semudah yang dibayangkan. Kawannya yang pernah memenangkan kompetisi ini-itu, bahkan terpaksa menganggur lama sebelum akhirnya mendapat tawaran untuk main di sebuah orkestra radio di Irlandia. Sementara itu M mengatakan bahwa banyak sekali kawan-kawannya (pianis) bergelar Master of Fine Arts dari Conservatory of Amsterdam terpaksa pindah haluan profesi dan mengambil S-2 di bidang Manajemen. Mereka terpaksa meninggalkan profesi sebagai musisi dan bekerja sebagai pegawai kantoran demi menjaga dapur tetap ngebul.

Lebih jauh, pemenang kompetisi bergengsi sekalipun tidak lepas dari ancaman krisis ekonomi (dan mungkin dari faktor yang lain). Salah seorang pemenang International Liszt Competition ada yang memilih untuk meninggalkan karir pianonya dan malah mendirikan Event Organizer (EO). Masih pemenang kompetisi yang sama, ada yang terlilit hutang hingga ratusan ribu dollar hingga menjadi skandal di media-media terkemuka di Belanda. Dia terpaksa menjual piano-pianonya demi bertahan hidup. Bahkan ada salah seorang pemenang International Chopin Competition yang mungkin tidak sanggup mempertahankan tuntutan artistik dunia seni yang sangat tinggi, sehingga terpaksa bermain piano di bar-bar dan akhirnya menjadi seorang alkoholik.




Memang tidak mudah mempertahankan sebuah prestasi dalam jangka waktu yang lama. Bagi mereka yang sukses dan memilih untuk menjadi pianis konser, jadwal yang ketat akan selalu menghantui. Seperti ketika saya mengintip jadwal konser pianis Masataka Goto (pemenang Internation Liszt Competition tahun kemarin): Dalam seminggu ia bisa pentas empat-lima kali di kota-kota yang berbeda – dalam format resital solo dan juga sebagai solis dengan orkestra. Atau pianis Hélène Grimaud: Hari ini mementaskan Concerto No 1 Tschaikovsky dan esok lusanya Concerto No 2 Rachmaninoff. Bisa dibayangkan energi yang harus dipersiapkan oleh mereka yang memilih untuk hidup sebagai pianis konser. Betapa stamina dan fokus harus dijaga sedemikian kuat – dan memang tidak banyak manusia yang memiliki daya tahan seperti itu. Seperti penuturan kawan saya, M: Ia pernah diminta untuk audisi memainkan Concerto in G karya Ravel – diberitahu hari ini, dan audisinya esok lusa. Ia memang pernah memainkan konserto tersebut bertahun-tahun lalu, sementara untuk mengembalikan semua ingatannya akan karya tersebut tentu membutuhkan piano, dan di tempatnya saat itu tidak ada piano. Ia terpaksa mempelajari partiturnya hanya dari membaca – serta membayangkan jemarinya menekan not-not tersebut.

Meskipun demikian, M menghadapi semua pekerjaan dengan kelapangan hati dan tidak ngoyo. Banyak yang bilang bahwa hidup M cukup beruntung – kini ia mendapat pekerjaan tetap sebagai seorang guru musik pada sebuah sekolah di Amsterdam, dan secara rutin menggelar konser, kebanyakan dalam format chamber music. Namun keberuntungan tidak datang begitu saja. Keberuntungan datang karena manusia mengisi peluang yang ada.

Salah satu elemen penting dalam pertunjukan musik di Eropa terletak pada peran sebuah agensi. Di negara-negara Eropa (dan Amerika), rata-rata musisi berada di bawah manajemen agensi tertentu yang mengatur jadwal konser, remunerasi, serta kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan pementasan konser (dan publikasi seorang artis). Saat itu M yang baru lulus dari Conservatory of Amsterdam, diminta untuk menggantikan kawannya (yang tergabung dalam Agensi X) pada sebuah konser. Rupanya pihak Agensi X menyukai permainan M sehingga ia ditawari untuk turut bergabung. Begitu sistematisnya dunia pertunjukan musik di Eropa, sehingga seorang musisi bebas untuk menentukan: musik apa saja yang akan ia tampilkan setahun ke depan; berapa penghasilan yang ia inginkan; berapa banyak konser yang disanggupi – semua akan diatur oleh pihak agensi.

M sendiri menuturkan bahwa ia merasa bahagia dengan hidupnya. Ia memiliki pekerjaan tetap sebagai guru musik, dimana pada sela-sela hari yang kosong dapat diisi dengan konser atau kegiatan musik apapun yang telah diatur oleh agensinya. Kadang pekerjaan bisa datang dimana dan kapan saja, seperti jadwalnya untuk musim panas tahun ini sudah penuh sebagai repetiteur opera di sebuah opera company di Cannes Prancis, sebagai pianis tamu sebuah paduan suara di Swiss, dan konser bersama chamber music di Roma. M sendiri menuturkan bahwa baginya pekerjaan apapun adalah sama – baik berskala besar atau kecil – karena dengan adanya peran agensi itu, ia tidak perlu memikirkan apa-apa lagi sehingga fokus untuk latihan piano dapat semakin intensif. “Tidak perlu gengsi. Justru dari pekerjaan kecil, bisa membuka peluang untuk mengembangkan diri,” demikian ungkapnya, mengacu pada kawan-kawannya yang kini memilih untuk banting setir menjadi pegawai kantoran – dimana awalnya mereka enggan untuk bermain di “acara-acara kecil” itu. “Justru berangkat dari idealisme, sebenarnya pekerjaan apapun tidak ada yang besar atau kecil. Asalkan kita main yang benar dan menunjukkan kesungguhan, lama-lama kesempatan pun akan terbuka dengan sendirinya,”

Terkadang nasib memang diciptakan oleh manusia sendiri. Bintang besar seperti Maria Callas memulai karirnya di La Scala sebagai penyanyi pengganti untuk Renata Tebaldi yang ketika itu sedang sakit. “Hidup itu kan pilihan. Sekarang aku bermusik untuk membahagiakan orang. Aku menikmati musikku dan aku pun berharap semoga orang yang mendengarkanku main piano juga terhibur,” kata M – yang telah beberapa kali mendapat kesempatan untuk tampil di gedung konser bergengsi Concertgebouw Amsterdam – dengan wajah cerah.

1 comment:

@trisiakeren said...

Nice one, I'm now a fan!