Sunday, September 23, 2012

Sudiarso Piano Duo: Menyuarakan Transformasi

Menghadiri sebuah konser adalah menghadiri sebuah pameran lukisan. Merupakan kepiawaian seorang pelukis untuk menyapukan kuasnya di atas kanvas menjadi kombinasi warna yang mengekspresikan pengalaman batin tertentu. Selayaknya seorang pelukis, kehidupan batiniah seorang pianis pun tercorak dari kemahirannya menciptakan warna melalui bilah-bilah hitam putih yang sejatinya tidak bernyawa. Apabila sebuah karya musik dicantumkan oleh komposernya melalui ribuan not dalam sehelai kertas, maka seorang pianis menghembuskan daya ekspresinya pada bilah-bilah dua belas titinada sehingga menjadi bernyawa. Proses sakral tersebut merupakan transfer batiniah antara komposer (yang telah meninggal berpuluh tahun lalu) kepada para pianis penafsirnya. Seperti sebuah mantra yang baru berkhasiat jika diucapkan oleh orang-orang tertentu, tidak semua pianis memiliki kemampuan untuk menafsirkan “energi” tersebut.

Pada penampilan Sudiarso Piano Duo (Gedung Kesenian Jakarta, 23 September 2012) yang mengetengahkan penampilan ibu-anak Iravati Sudiarso dan Aisha Sudiarso-Pletscher, transfer energi tersebut terjadi sedemikian intens sehingga seluruh warna-warni kehidupan langsung terjadi di atas panggung pada saat itu juga, ibarat Affandi yang sedang memuncratkan berbagai warna tube cat minyak pada selembar kanvas yang kosong. Apabila Affandi sedang memuntahkan ekstase vitalitasnya, maka Duo Sudiarso mengejawantahkan segenap warna: keceriaan Mozart, kenakalan Lutoslawski, romantisme Rachmaninoff, serta metamorfosis Debussy. Inilah proses yang oleh filsuf Theodor Adorno disebut memiliki dua sisi, yaitu estetik (kemampuan seniman dalam menafsirkan sebuah karya seni secara mendalam), serta mimesis (usaha seniman untuk mengangkat kebenaran yang bersifat transformatif).

Program konser yang diusung memiliki kombinasi terang-gelap – seperti lukisan dengan teknik chiaroscuro – untuk menimbulkan kontras dan nuansa dramatik. Baik babak pertama dan kedua dimulai dengan karya yang bersifat terang dan jenaka, diikuti dengan karya naratif yang berharmoni gelap dan serius. Meminjam istilah Wagner “Gesamtkunstwerk” (Total Work of Art), dapat dikatakan bahwa pergelaran malam itu merupakan gabungan dari berbagai macam jenis seni karena turut melibatkan aktor Jajang C. Noer (sebagai pendeklamasi puisi) serta pujangga tari Sardono W. Kusumo.




Mozart dan Lutoslawski
Sebagai pembuka babak pertama, Duo Sudiarso memilih Mozart Sonata KV 545 dengan Iravati memainkan versi orisinalnya, serta Aisha pada piano dua yang ditambahkan oleh Edvard Grieg. Karya yang membentuk sebuah dialektika ini merupakan simbol dialog antara Mozart (yang berasal dari era Klasik) dengan Grieg (era Romantik), sekaligus melambangkan dua generasi penafsirnya (generasi senior dan generasi penerus). Kendati karya ini seperti lahir kembali menjadi sebuah seni yang baru, namun artistry kedua pianis terlalu memukau, sehingga apabila Anda ingin mendengar versi orisinal dengan format sonata klasik yang utuh, tersaji dengan terang pada jemari Iravati. Apabila Anda ingin mendengar harmoni yang kaya akan nuansa era Romantik, sudah ada pada sapuan tuts piano Aisha. Apabila Anda ingin menikmati karyanya secara utuh ala Mozart-Grieg, maka semuanya telah ada di sana dan disuguhkan dengan sangat apik.

Pembuka babak dua adalah Lutoslawski “Variations on a theme by Paganini” yang belakangan dipopulerkan oleh duo piano Martha Argerich dan Nelson Freire dalam rekaman berlabel Philips. Pada karya ini, Duo Sudiarso bersinergi dengan presisi yang luar biasa, virtuoso, dan sangat artikulatif. Setiap kalimat tergarap dengan prima, terutama pada bagian tengah yang sedikit lambat dan melodius. Coda di bagian akhir sangat menonjolkan unsur virtuositas, dengan penekanan penuh energi baik pada bagian Iravati yang chordal dan sarat akan glissando maupun Aisha sebagai pengusung melodi, seakan-akan Paganini turut hadir di atas panggung memainkan biola keramatnya.

Rachmaninoff dan Romantisme Masa Silam
Bagian oscuro (gelap) pada babak pertama dimulai dengan Rachmaninoff Suite No 1 Opus 5. Karya yang didedikasikan oleh Rachmaninoff untuk Tschaikovsky ini diperdanakan oleh Rachmaninoff sendiri bersama sahabatnya, pianis Pavel Pabst. Sayang, Tschaikovsky sendiri telah satu bulan berada dalam istirahat abadi pada saat momen tersebut berlangsung. Sebuah karya Rachmaninoff muda yang kental akan romantisme, rangkaian lagu-lagu di dalam Suite ini merupakan sebuah lukisan fantasi (Fantaisie Tableaux) dari epigraf puisi karya Lermontov, Lord Byron, Tyutchev, dan Khomyakov yang dideklamasikan oleh Jajang C. Noer seperti seorang pencerita yang selalu membuat penasaran pendengarnya.

Pada “Barkarolla”, Duo Sudiarso langsung menyihir suasana menjadi sublim dan mencekam dengan geliat gelombang senja yang riuh menerjang dayung gondola. Dari kejauhan ada duka dan suka, menyuarakan nyanyian barkarolla yang diusung oleh Iravati pada nada-nada sotto voce layaknya suara cello yang hangat dan manusiawi, diimbangi oleh Aisha pada figurasi-figurasi cantik nan lincah di nada-nada tinggi. Daya magis Duo Sudiarso dalam membuat denting suara piano menjadi bernyawa membuat setiap not bermakna dan berbicara liris: Tentang romantisme masa silam yang belum tersapu oleh waktu.

Dilanjutkan dengan “Malam, Cinta”, bayang dahan yang memudar hadir dalam artikulasi arpeggio Iravati yang sangat jernih. Aisha mengicaukan suara burung bul-bul (Nightingale) yang berkembang menjadi gemuruh angin dan getaran cinta menggelora. Dialog semakin terbangun menuju klimaks dalam not-not agung dan tone besar, mengingatkan akan megahnya cinta.

Dalam “Air Mata”, Rachmaninoff mengambil motif melodi sederhana (Bb – A – G – Eb) yang didengarnya dari suara dentang bel biara Novgorod pada saat berlangsungnya upacara pemakaman. Namun Rachmaninoff mengambil puisi Tyutchev akan “Air mata manusia... Meneteslah seperti derai tetes air hujan, di alam sepi musim gugur yang sunyi dan mati” – yang malam itu dibawakan oleh Duo Sudiarso selayaknya meditasi reflektif akan matinya kemanusiaan di negeri ini. Cipta pun hening.

Ditutup oleh “Paskah”, merupakan rangkaian not-not besar yang mengambil tema dari dentang lonceng-lonceng besar di gereja-gereja Novgorod saat perayaan Paskah. Sebuah finale yang agung, Duo Sudiarso membawa seluruh warna lukisan fantasi yang diistilahkan Adorno sebagai ars inveniendi, yaitu fantasi yang bukan subyektif namun tetap berkorespondensi dengan obyek. Dalam hal ini, terjadi proses dialektis yang terus menerus antara Duo Sudiarso terhadap obyek musiknya dengan menyusun kembali secara interpretatif sebuah karya menjadi imanen dan transendental.

Penutup: Sebuah Dansa dari Masa Nan Indah
Mengenang kembali masa-masa keemasan La Belle Époque (Masa Nan Indah) dengan segala optimisme dan keelokan ornamen-ornamen Art Nouveau, kehidupan nampak begitu indah bersandingan dengan semangat joie de vivre di Paris. Pada masa inilah perusahaan pembuat instrumen Pleyel mendekati Debussy untuk membuat sebuah karya sebagai uji coba bagi harpa kromatik ciptaan mereka yang terbaru. Maka terciptalah “Danse Sacrée et Profane” (Dansa Sakral dan Dansa Duniawi, 1904) yang belakangan diaransemen oleh sang komposer sendiri untuk dua piano.


Dibuka oleh chord streams pada tangganada modal, Debussy mengangkat sebuah tema khidmat akan upacara sakral dewa-dewi Yunani Kuno dan berkembang menjadi melodi cantik yang mengingatkan akan Sarabande (dari Suite Pour le piano, 1901), dengan iringan waltz ala Gymnopédies-nya Erik Satie. Danse berakhir dengan figurasi-figurasi anggun yang mengalir laksana harpa, melambangkan sukacita duniawi yang penuh mimpi.

Sebagai penutup dari program resital Duo Sudiarso, pemilihan “Danse Sacrée et Profane” merupakan bentuk transformasi seni yang sakral, suci, keramat, menjadi cair dan memasyarakat tanpa kehilangan unsur kritisnya. Didukung oleh penampilan pujangga tari Sardono W. Kusumo yang mengekspresikan fase metamorfosis melalui gerak ragawi, Duo Sudiarso nampak menyuarakan bahwa seni tidaklah harus bersifat eksklusif l’art pour l’art (sebagaimana yang ditentang oleh Adorno), namun juga cair dan memiliki unsur mimesis, yaitu usaha seniman untuk mengangkat nilai kebenaran – dalam hal ini realitas masyarakat yang ada: Bahwa seni tidaklah berada di menara gading, namun hidup dalam masyarakat dan menyuarakan keadilan.

Terima kasih Duo Sudiarso atas sajian musik yang begitu menggugah!

2 comments:

TeoMinaroy said...

Tulisan luar biasa untuk melukiskan kembali konser yang luar biasa. Memang siapa saja dapat memainkan instrumen piano; tapi untuk bermain dengan level setinggi itu, sepertinya hanya Sudiarso Duo yang mampu melakukannya. Terima kasih banyak untuk ulasannya ya Dit..

Aditya P Setiadi said...

Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca, Teo.