Friday, September 28, 2012

Warna Nada Dalam Dekonstruksi

Salihara dan Semangat Avant-Garde
Dalam konsistensinya, Komunitas Salihara bersukacita dalam merayakan festival seni yang keempat, dimana pada 25-26 September 2012 yang lalu menampilkan format resital duo piano oleh pianis Belanda Laura Sandee dan Anna van Nieukerken dengan mengusung tema “Spectral Music and Changes, Dances and More”. Secara jelas dicantumkan dalam program bahwa piano duo ini merupakan perkawinan dari produksi warna spektral yang beraneka ragam dengan perubahan-perubahan (estetika?) yang terstruktur.


Menanggapi “perubahan-perubahan yang terstruktur”, dapat dikatakan bahwa program yang ditampilkan justru merupakan dekonstruksi terhadap (apa yang berlaku umum disebut dengan) kemapanan struktur yang sudah menjadi pakem resital musik seni selama ini, sebagaimana umumnya menampilkan karya-karya dari era Barok, Klasik, Romantik, dan Modern. Keberanian kurator musik Salihara untuk menampilkan Duo Piano Laura dan Anna dengan mementaskan program era Modern dan avant-garde (garda depan) selama dua hari berturut-turut merupakan sebuah tantangan tersendiri. Ibarat mengejawantahkan estetika seni yang memiliki dua sisi, maka langkah yang dilakukan oleh Salihara dapat dikatakan sangat bersifat Dionysian, dibanding Apollonian.

Bila ditinjau dari sudut pandang Theodor Adorno, dekonstruksi akan musik avant-garde (yang sudah jelas lepas dari kemapanan tonalitas) merupakan sebuah pembebasan, sebagaimana pendapatnya akan musik komposer pencetus musik dodekafoni Arnold Schoenberg, bahwa “...disonansi semata-mata adalah konsonansi yang hubungan antarnadanya lebih bebas dalam rangkaian nada-nada tambahan (overtones). Walaupun kemiripan nada-nada tambahan yang jaraknya lebih jauh dari nada-nada dasar semakin dikurangi, konsonansi dan disonansi dapat dipahami (comprehensible). Maka bagi “telinga modern”, efek yang membingungkan dan yang tak dapat ditangkap, lenyap” (Dalam C. Teguh Budiarto “Musik Modern dan Ideologi Pasar”, 2001).

Penampilan karya-karya avant-garde tersebut bisa dianggap sebagai suatu dialektika yang dapat menghasilkan pemikiran baru terhadap apa yang disebut dengan “persepsi terhadap bunyi”. Adorno melihat bahwa karena sifatnya yang temporal, musik diikat oleh bentuk atau ruang (yang ditentukan oleh teknik komposisi sebagai mediasi) dan oleh waktu sebagai medium. Karena sistem tonalitas bukanlah hukum yang kekal (natural law), maka perkembangan seni selalu berdasarkan pada karya-karya seni yang muncul dalam sejarah. Dengan situasi seperti itu, Adorno menekankan situasi kebenaran yang obyektif pada saat ini (the present objective situation of truth). Sejarah sendiri hanya bermakna apabila menyatakan diri sebagai inner history (kaitan sebuah komposisi musik dengan waktu dan masyarakat tertentu) dalam fenomena masa kini, karena bukan sejarah yang memberikan makna pada masa kini (the present), namun justru kekinian yang memberikan makna pada sejarah. (C. Teguh Budiarto, op. cit)

Dekonstruksi terhadap kemapanan tonalitas ini, pada akhirnya menyentuh elemen salah satu unsur pembentuk musik, yaitu suara-nada-melodi. Charles Koechlin berpendapat, “Apa itu melodi? Apakah mengacu pada “bel canto” Italia abad ke-19? Atau mengacu pada Bach, atau Frescobaldi, dan Monteverdi? Apakah sebuah melodi itu adalah “phrase à effet” (kalimat yang memiliki efek tertentu) dari sebuah drama verismo dengan C tinggi sebagai klimaks? Ataukah, melodi ala Massenet? Sebagaimana para komposer memiliki banyak format melodi, untuk menentukan bahwa sebuah melodi memiliki aturan tertentu, hal tersebut sudah jelas merupakan sebuah dogma,”

Dekonstruksi berusaha untuk memahami sebuah fenomena dengan melayang di atas struktur, lepas dari konstruksi sosial. Dengan menunjukkan sebuah kesungguhan untuk melepaskan diri dari ikatan estetika Apollonian, tonalitas, serta segala sesuatu yang bersifat dogmatik, maka Salihara dapat dikatakan telah memiliki jiwa avant-garde itu sendiri. Resital Duo Piano Anna van Nieukerken dan Laura Sandee, merupakan salah satu wujud propaganda semangat tersebut.

Warna yang Menyuarakan Perubahan
Resital hari pertama dibuka dan ditutup oleh karya Olivier Messiaen (1908-1992) “Visions de l’amen”, sementara itu di tengahnya diselipkan karya-karya Guus Janssen (1951) “Veranderingen”, Hugues Dufourt “Soleil de proie”, serta Morton Feldman (1926-1987) “Work for two pianists”.

Guus Janssen yang merupakan komposer dan pianis berkebangsaan Belanda, menggubah “Veranderingen” (Perubahan-perubahan) pada tahun 1990 dalam format “Variations on a theme” – yang temanya sendiri tidak ditampilkan. Musiknya terpengaruh akan gaya komposisi Louis Andriessen, Pierre Boulez, Stravinsky, serta Messiaen. Sementara itu Hugues Dufourt adalah komposer dan filsuf Prancis yang karya-karyanya dekat dengan aliran Spektral. Komposer aliran ini (termasuk Messiaen) membuat idiom musik berdasarkan representasi sonografik dan analisis matematika dari spektrum-spektrum warna yang timbul. “Soleil de proie” (Mangsa Sang Surya) merupakan gambaran padang pasir luas, dimana matahari dengan bias-bias cahayanya secara perlahan menyengsarakan setiap makhluk yang di sana. Lalu Morton Feldman, “Work for two pianists” belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Karyanya berupa repetisi motif-motif kecil (hampir menyerupai aliran minimalisme Philip Glass) dengan karakter nada yang sangat transparan.

Seperti pelukis Wassily Kandinsky yang berkilah bahwa “Lukisan abstrak saya adalah representasi dari mood, dan bukan obyek visual,” maka di tangan Duo Piano Anna-Laura, mood tersebut disalurkan secara perlahan namun pasti, melalui kontrol terhadap warna nada yang seksama. Setiap not dari masing-masing piano seolah berbunyi seperti saling teralienasi, tak mengenal, dan meneriakkan sesuatu yang bisu. Notifikasi secara khusus pada karya Dufourt “Soleil de proie”, konsistensi dalam produksi warna spektral dapat menciptakan sebuah suasana ketegangan antara manusia dan jiwanya (human psyche) – terbunuh perlahan, lenyap, dan terkubur oleh tiupan angin.


Visi Ketuhanan dan Kekuatan Destruktif
Menafsirkan Messiaen “Visions de l’Amen” (Visi-visi dari Amin), Duo Piano Anna-Laura menunjukkan kecakapannya baik dalam teknik pianistik maupun kedalaman interpretasi. Kekuatan musik Messiaen yang “Messianistik” dapat diibaratkan seperti Shiva Nataraja yang menari di atas sebuah kekacauan untuk menghasilkan sebuah tatanan dunia yang baru, kendati memang Messiaen sendiri terinspirasi dari ritme-ritme musik Hindu dalam sebagian besar karyanya.


Messiaen menggubah salah satu karya terbaiknya ini ketika ia baru saja dibebaskan dari penjara rezim Hitler Jerman dan mendapati istrinya, Claire, tengah sekarat di Paris. Pada pementasan perdana "Visions de l’amen", Messiaen menyertakan catatan kecil yang menjelaskan mengenai empat makna dari “Amen” itu sendiri: (1) Dia Sang Pencipta yang bersabda “terjadilah”, (2) Menerima apa yang telah ditetapkan oleh-Nya, (3) Menerima kehadiran-Nya dalam diri, dan (4) Menyadari bahwa apa yang telah ditetapkan-Nya, berlaku abadi.

Meskipun hanya membawakan dua dari keseluruhan tujuh nomor, namun pada bagian “Amen de la consommation” (nomor terakhir dalam susunan Visions de l’amen), nampak dengan jelas kekuatan Duo Laura-Anna dalam menerjemahkan tema “cahaya kehidupan abadi” akan warna-warna safir, zamrud, topaz, jacinth, kecubung, sardonyx (rona pelangi batu permata) seperti yang tercantum dalam Kitab Wahyu – mengutip analisis musikolog Paul Griffiths. Lebih jauh, dialog antara kedua piano dapat diibaratkan sebagai sebuah dialektika tesis dan antitesis yang menghasilkan sintesis berupa visi harmoni baru: Laura (piano 1) memainkan motif-motif gerejawi dalam idiom Gregorian, sementara Anna (piano 2) memainkan figurasi-figurasi destruktif yang bertujuan untuk memecahkan pakem kelembaman harmoni tradisional, demi menggambarkan kemegahan surgawi. Bukan kemegahan surgawi ala Monteverdi, Handel, atau Mozart, tapi kemegahan surgawi bersifat “intrinsik” yang merupakan proses ekstase penyatuan manusia dan spiritualitas tertinggi, seperti yang disimbolkan secara visual oleh patung “Ekstase Santa Teresa” karya Bernini.



Stravinsky dan Ritualnya
Tiga program yang ditampilkan pada pementasan hari kedua, terpusat pada karya Stravinsky “Le Sacre du Printemps” (Ritual Musim Semi) yang memiliki durasi kurang lebih 40 menit. Dalam runutan sejarah, karya ini mendapat banyak reaksi pro-kontra saat pementasan perdananya pada tahun 1913. Selain diakibatkan oleh idiom musik yang diangkap terlalu modern dan dekonstruktif pada masanya, Stravinsky ingin menafsirkan “musim semi” dalam artian mikroskopis: Bukan romantisme musim semi selayaknya bunga-bunga bermekaran dan burung-burung bernyanyi, namun “musim semi” dimana sel-sel dan kehidupan mikro berada dalam keadaan stres dan cemas untuk mempersiapkan dirinya lepas dari hibernasi dan bersiap untuk membelah diri.

Stravinsky menangkap kecemasan dan ketegangan tersebut melalui politonalitas, penggunaan ritme kompleks, aksen, dan harmoni disonan. Sementara itu dalam ranah makrokosmos, “Le Sacre du Printemps” menceritakan mengenai ritual pagan masyarakat Rusia purba, dimana seorang gadis harus dikorbankan sebagai tumbal lenyapnya musim dingin (yang mematikan) menuju musim semi (yang menghidupkan). Oleh karena itu, karya ini secara lengkap ditujukan untuk orkestra dan ballet sebagai sebuah manifestasi seni yang utuh.

Sebuah pementasan yang patut mendapatkan penghargaan, Duo Piano Anne-Laura menunjukkan ketahanan stamina mereka dalam mendayagunakan konsentrasi selama bermain. Suasana menegangkan dari sebuah tarian prasejarah dapat dibangun hingga klimaks, dengan tidak meninggalkan bangunan arsitektur musik yang sedemikian pelik. Jika ditampilkan pula balletnya, mungkin akan meninggalkan kesan secara visual, kendati tarian-tarian yang ada telah berhasilkan disajikan secara imajinatif melalui permainan duo piano lulusan konservatorium Den Haag tersebut.

Makna Historis dalam Kekinian
Usaha Salihara untuk menampilkan program resital duo piano musik avant-garde selama dua hari berturut-turut merupakan sebuah perspektif untuk meraba sejarah melalui kekinian. Rangkaian program yang menunjukkan benang merah antara Stravinsky yang menginspirasi Messiaen, serta Messiaen yang menginspirasi komposer-komposer avant-garde setelahnya merupakan sebuah bentuk manifestasi yang dialektis.

Meskipun berusaha untuk tidak terpaku pada ideologi tertentu, diharapkan program Komunitas Salihara dapat terus mengusung sisi kritis dalam masyarakat dengan pementasan-pementasan musik yang inovatif, lepas dari konformitas, serta revolusioner. Duo Piano Anna-Laura dapat diibaratkan sebagai kesinambungan pengusung obor pembaharuan bagi garda depan seni pertunjukan piano di Indonesia, dengan tidak mengesampingkan usaha dari musisi-musisi Indonesia sendiri yang dengan penuh hasrat menyampaikan pesan-pesan transformatif dalam maraknya khazanah berkesenian dewasa ini.


No comments: