Wednesday, October 03, 2012

BARA API YANG TAK PERNAH PUDAR

Schouwburg Festival X "The Legend" & 25th Anniversary Gedung Kesenian Jakarta
Catharina Leimena & Friends in Verdi's Opera "IL TROVATORE" in Concert
Sabtu, 29 September 2012

KATA PENGANTAR

Seseorang layak disebut sebagai maestro (atau maestra) apabila telah sampai pada titik pencapaian tertinggi pada bidang seni yang ditekuninya. Namun tidak semua maestro dapat dianggap sebagai living legend (legenda hidup) apabila daya artistiknya belum mampu menjadi patokan nilai dan menjadi sebuah sistem bagi lingkungan seninya untuk berkarya. Seorang legenda hidup dituntut untuk memiliki visi dan idealisme yang teguh, sehingga integritas yang dimilikinya dapat menjadi inspirasi bagi sebuah perubahan. Secara otomatis, seorang legenda hidup memiliki pengaruh yang besar, dimana kebijaksanaannya akan selalu dikenang dan dihormati.

Setengah abad yang lalu, kantor Antonio Ghiringhelli (sovrintendente gedung opera La Scala Milan, sekaligus figur nomor satu dalam percaturan opera di Eropa yang mengorbitkan Renata Tebaldi dan memecat Maria Callas) diketuk oleh seorang gadis berkebangsaan Indonesia yang hendak meminta rekomendasi untuk mendaftar ke konservatorium “Giuseppe Verdi”. Tanpa banyak bicara, Ghiringhelli mengajak gadis tersebut untuk dites menyanyi langsung di atas panggung La Scala, diiringi sang sovrintendente sendiri dengan piano yang biasa digunakan untuk gladiresik. Sepucuk surat pengantar ditandatangani dan gadis tersebut dapat mengikuti audisi di konservatorium paling bergengsi di seluruh Italia tersebut.


Saat audisi di konservatorium “Giuseppe Verdi” berlangsung, komposer avant-garde Italia Giorgio Ghedini sendiri yang mengiringi gadis tersebut menyanyikan aria “Ombra mai fu” dari opera Xerxes karya Handel. Juri audisinya: Ettore Campogalliani, guru vokal Renata Tebaldi, Renata Scotto, Mirella Freni, dan Luciano Pavarotti. Hasil audisi menyatakan bahwa gadis tersebut diterima sebagai mahasiswa vokal dan ditempatkan di bawah asuhan Prof. Clotilde Ronchi pada seni bernyanyi dan Prof. Carla Castellani pada seni opera, dengan beasiswa penuh dari pemerintah Italia.

Beberapa tahun kemudian, Presiden Sukarno meminta gadis tersebut untuk turut menemaninya menyaksikan opera Aida, lengkap dengan jamuan makan malam bersama soprano Leontyne Price. Keesokan harinya, presiden Republik Indonesia pertama itu memintanya menyanyikan “Last Rose of Summer” dari opera Martha karya von Flotow dalam bahasa Indonesia. Bung Karno sendiri yang menuliskan syair terjemahan bahasa Indonesianya pada secarik kertas. Tidak berhenti hingga di sana, semangat akan pencapaian yang tinggi membawa gadis tersebut bernyanyi di berbagai gedung opera dengan memerankan beragam karakter, hingga suara emasnya dapat mengalir merdu di hadapan Sri Paus Paulus VI, sebagai solis dibawah baton dirigen Riccardo Muti.
Namun hidup adalah pilihan. Tahun 1965, gadis berdarah Ambon-Sunda itu memilih untuk kembali ke tanah airnya dan berniat untuk memperkenalkan keindahan opera Italia pada saudara-saudara sebangsanya. Baginya, selain bermuatan estetik, seni harus menjadi media perubahan karakter bangsa menjadi lebih beradab, jujur, dan bertoleransi, sebagaimana dimensi pembentuk opera yang merupakan gabungan dari berbagai elemen seni (teknik vokal, seni musik, seni peran, penataan cahaya, dekorasi, kostum, dan literatur) sifatnya cair, bersatu untuk menciptakan harmoni.

Dengan visi dan misi sedemikian teguh, pada awal tahun 1970 gadis bertekad baja tersebut mendirikan Sanggar Susvara di Jakarta dan Bandung. Tujuannya adalah untuk membentuk sebuah komunitas yang haus akan apresiasi terhadap musik, khususnya seni vokal dan opera. Berkat dedikasi yang luar biasa, sanggar tersebut berkembang pesat hingga dapat mementaskan beragam opera karya Mozart, Beethoven, Bellini, Verdi, Ponchielli, Mascagni, Puccini, serta menelurkan seniman-seniman yang saat ini dikenal sebagai nama-nama papan atas di ranah seni vokal Indonesia.

Dengan segenap pencapaiannya, kini gadis tersebut telah bermetamorfosis menjadi seorang legenda hidup bernama Catharina Leimena. Seorang maestra yang senantiasa konsisten menjalankan kejujuran dalam musik dengan segala kebersahajaannya. Ia tidak menjadikan opera sebagai kuil pemujaan terhadap kesempurnaan seni selayaknya semboyan l’art pour l’art, namun sebagai pembangun karakter manusia menjadi seseorang yang utuh, sebagaimana figurnya yang dianggap sebagai “Ibu dari semua musisi”.

Melalui Sanggar Susvara yang kini tumbuh menjadi Susvara Opera Company, Maestra Catharina Leimena membuktikan bahwa api yang ada dalam dirinya masih berkobar dengan kuat, sebagaimana jiwa patriotik pada opera-opera karya Verdi dikumandangkan dengan penuh hasrat dan gagah berani: Jangan pernah sekali pun mencoba untuk memadamkan api itu, karena seorang Catharina Leimena akan terus berkarya selama musik masih berkumandang dalam sukma.

Proviciat Maestra Catharina Leimena!

Jakarta, 26 September 2012
Aditya Pradana Setiadi





Kata Pengantar ini dimuat pada buku program acara, yang merupakan penutup dari serangkaian Festival Schouwburg X Gedung Kesenian Jakarta.

No comments: