Sunday, October 07, 2012

Giuseppe Verdi dan Opera Il Trovatore

Giuseppe Verdi (1813-1901) yang kerap kali dijuluki sebagai “Bapak Opera Italia” merupakan figur yang sangat fenomenal dalam runutan sejarah musik Barat. Selain dari karya-karya ciptanya yang masih mendominasi gedung-gedung opera hingga saat ini, banyak musikolog yang menganggap bahwa Verdi turut memiliki andil besar dalam gerakan Risorgimento (Kebangkitan) rakyat Italia dalam melawan dominasi kekuasaan Kekaisaran Austria serta penyatuan seluruh Semenanjung Italia pada abad ke-19. Musik Verdi dianggap memiliki agenda tersembunyi sebagai api pemicu semangat patriotisme, terutama pada opera Nabucco (1844) – dimana bagian koor-nya yang terkenal “Va, pensiero” dijadikan semacam himne sakral bagi para patriot yang berjuang pada saat itu.

Sembilan tahun setelah kesuksesan opera Nabucco, Teatro Apollo di Roma menjadi saksi berhasilnya pementasan perdana opera Il trovatore, sebuah momentum penting dimana para musikolog mengenangnya sebagai saat-saat keemasan bagi dunia opera. Il trovatore sendiri merupakan opera kedua dalam “Trilogia popolare” (tiga rangkai opera favorit karya Verdi) yang masih sering dipentaskan hingga saat ini, selain dari Rigoletto dan La traviata. Dalam menggubah musiknya, Verdi mengambil plot dari drama El Trobador, karya penulis drama Spanyol Antonio Garcia Gutierrez (1813-1844). Struktur musiknya terbagi atas empat babak yang masing-masing diberi judul menggugah, yaitu “Duel”, “Sang Gipsy”, “Putra Sang Gipsi”, dan “Eksekusi Mati” dengan pembagian karakter utama yang merupakan ciri khas Verdi: tenor, soprano, bariton. Namun demikian, Verdi memasukkan sebuah kejutan di tengah plot dengan menambahkan karakter Azucena (mezzosopran), yang pada kenyataannya merupakan karakter utama dari Il trovatore.


Sesuai dengan manuskrip awal yang ditulisnya, Verdi ingin memberi judul La zingara (Sang Gipsy) atau La vendetta (Dendam) dengan pembalasan dendam Azucena sebagai intisari dari keseluruhan cerita. Verdi sendiri memberikan kebebasan kepada penulis libretto-nya: Salvatore Cammarano dan Emanuele Bardare – untuk mematangkan naskah opera, termasuk meminta Bardare memasukkan syair aria baru untuk Azucena di babak kedua, yang kini dikenal dengan aria “Stride la vampa”.

Kisah Il trovatore sendiri menceritakan tentang masa lampau, dimana adegan-adegan yang ada di dalamnya merupakan fragmen-fragmen dari serpihan sentimen yang belum tersapu oleh waktu. Banyak dari adegan yang tidak ditampilkan di atas panggung dan hanya disugestikan melalui deskripsi dari narator (diperankan oleh Ferrando), termasuk adegan yang seharusnya ditampilkan di panggung (seperti Pertempuran Castellor atau Kematian Manrico) namun hanya disugestikan melalui cerita. Minimnya adegan nyata pada akhirnya menciptakan sebuah suasana surealis, dimana setiap karakter terlihat memiliki peran yang ambigu.



Sebagai contoh, pada narasi Ferrando – aria “Abbietta zingara” dan “Buon Conte di Luna” – seluruh karakter utama tampak memiliki dunia paralel dengan masa lalunya: Azucena dengan ibunya, Count di Luna dengan ayahnya, Manrico dengan bayi yang dibakar. Dengan kata lain, karakter yang sedang berada di atas panggung merupakan gema dari bayang-bayang masa lalu – reinkarnasi dari pembalasan dendam “mereka yang telah tiada”. Namun Verdi yang penuh dengan kejutan, memasukkan karakter Leonora sebagai katarsis dari dunia paralel tersebut. Leonora digambarkan sebagai seseorang yang tidak memiliki “dunia paralel” dengan masa lalu. Ia seperti muncul tiba-tiba di atas panggung, seorang diri, jatuh cinta, dan menyingkirkan dirinya sendiri pada babak terakhir.


Meskipun dianggap absurd dan terdapat ambiguitas dalam penokohannya, keseluruhan plot opera dapat disatukan berkat pewarnaan timbre orkestra yang cukup sublim serta ditampilkannya simbol-simbol partikular secara berulang kali (nuansa malam, api unggun, rangka-rangka baja dan rantai di perkemahan kaum gipsy) yang mendeskripsikan tentang “nasib yang tak terelakkan”. Bukan “nasib yang tak terduga” seperti yang menimpa para tokoh di opera La forza del destino (Kekuatan Takdir), namun suatu “nasib” yang secara tidak sadar telah “disusun” sebagai akibat dari perbuatan para leluhur dari Count di Luna, Azucena, dan Manrico.

Sebagai catatan: Trovatore atau troubadour adalah penyair merangkap musisi yang besar dalam tradisi ksatria, dimana mereka biasanya menyanyikan lagu-lagu cinta untuk menarik perhatian para putri istana. Sebuah tradisi yang berkembang pada abad ke-11 akhir di Prancis, dan menyebar hampir ke seluruh daratan Eropa pada masanya.


Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber dan dimuat dalam buku program konser Schouwburg Festival X "The Legend" & 25th Anniversary of Gedung Kesenian Jakarta yang menampilkan "Catharina & Friends in Verdi's Opera "IL TROVATORE", Sabtu 29 September 2012.

No comments: