Monday, October 08, 2012

Pesona Seorang Catharina Leimena

“Api yang menyeringai! Orang-orang berlari riang menuju perapian! Sementara seorang wanita, dipasung, dilemparkan dalam kobaran api itu,”

Demikianlah Azucena menceritakan kengerian yang terjadi dua puluh tahun lalu, saat ibunya – yang oleh Count di Luna dituduh telah menyebarkan guna-guna – dibakar hidup-hidup, disaksikan oleh mata Azucena sendiri, serta kerumunan massa yang menghujatnya penuh sukacita. Azucena bersumpah untuk menuntut balas. Kengerian itu, kekal membakar hatinya.




Saat itulah Catharina Leimena menyihir penonton yang memadati Gedung Kesenian Jakarta pada malam 29 September 2012 yang lalu, dalam konser bertajuk “Verdi’s Il Trovatore in Concert”. Sebagai seorang penyanyi opera, malam itu Catharina berada di atas panggung bukanlah dalam wujud seorang penyanyi nan jelita yang berkilauan lampu sorot panggung, namun sebagai Azucena – seorang gipsy udik nan jelek dari perkampungan kumuh di pegunungan Biscay Spanyol, namun memiliki kharisma layaknya seorang pendeta perempuan (priestess) yang dengan segenap sabdanya mampu menghasilkan kekuatan magnet untuk menyerap getaran energi di atas panggung – baik bagi lawan mainnya, maupun penonton.



Pesona yang sangat kuat memancar dari pribadi Catharina, terutama disebabkan oleh kemampuannya mendalami karakter Azucena sedemikian rupa, sehingga dalam posisi duduk-diam pun, suasana tegang terus menggelora di atas panggung yang gelap. Kekuatan aktingnya tidak terletak pada gestur ragawi atau aksi-aksi dramatik yang hiperbolis, melainkan pada kesederhanaan dan kejujuran ekspresi yang terpancar dari mimik wajahnya, yang justru telah menjadi drama itu sendiri. Dengan kata lain, Catharina telah membawa sebuah realitas ke atas panggung, yang hadir sebagai sebuah akumulasi dari pengalaman hidup terdalamnya selama puluhan tahun bergelut dengan seni opera.



Fokus
“Fokus” merupakan sebuah istilah yang tepat untuk mendeskripsikan proses transformasi yang terjadi di atas panggung – sebagai sebuah usaha penginternalisasian karakter Azucena dalam diri Catharina – dimana seseorang dapat menembus batasan-batasan yang diberikan oleh eksistensinya dan masuk dalam kepribadian yang baru, sebagai alter-ego dari dirinya sendiri, bahkan menuju realitas yang berbeda. Dalam hal ini, Catharina seolah-olah telah lupa akan ke-diri-annya dan mewujud menjadi sebuah fenomena yang hanya dapat disaksikan oleh penonton pada malam itu.

Secara historis, pendekatan teatrikal yang bersifat Dionysian ini mengingatkan komentar George Bernard Shaw ketika membandingkan dua aktor legendaris: Sarah Bernhardt yang asal Prancis, dengan Eleonora Duse yang seorang Italia. Shaw melukiskan bahwa Bernhardt selalu siap dengan senyuman yang menembus awan. Aktingnya merupakan persembahan yang megah dan spektakuler bagi teater, sehingga tidak mungkin dianggap sebagai sebuah pertunjukan yang tidak pantas dinikmati. Sebaliknya, Eleonora Duse memenuhi seluruh prasyarat kemanusiaan yang langsung tertera pada aktingnya. Duse baru lima menit berada di atas panggung, tetapi dia sudah menunjukkan pendekatan akting dua puluh lima tahun lebih maju daripada pendekatan akting Sarah Bernhardt. Duse sendiri ketika ditanya mengenai keaktorannya, menjawab bahwa menafsirkan naskah dengan kreatif adalan tanda pertumbuhan, dimana pengetahuan tersebut harus diperoleh melalui penderitaan – guru yang terhebat!

Penderitaan memang dapat menjadi titik pangkal perubahan karakter seseorang. Pengalaman Catharina Leimena selama menimba ilmu di konservatorium musik Milan bukanlah sebuah perjalanan yang mudah, terutama pada masa-masa dimana rasisme masih menjadi isu yang penting. Dalam beberapa wawancara sebelumnya, Catharina bercerita bahwa di kala itu, kelas Letteratura poetica drammatica (Literatur poetik-dramatik) merupakan salah satu prasyarat tersulit untuk lulus. Para mahasiswa digembleng dengan sangat keras: Dituntut untuk belajar menangis sambil bernyanyi, serta internalisasi watak yang menekankan kepercayaan aktor pada naskah. “Saya pernah diteriaki ‘Dasar orang Asia, tidak bisa apa-apa!’ oleh profesor teater saya, saat saya tidak bisa melakukan apa yang dimintanya. Saya kemudian menangis. Tapi justru si profesor memuji saya, katanya itulah ekspresi menangis penuh kejujuran seperti yang dimintanya. Rupanya dia sengaja membentak agar saya dapat fokus terhadap pewatakan yang ada dalam naskah,”



Berangkat dari kejujuran ekspresi dan penggalian karakter, seorang aktor harus mengenal dirinya sendiri sebelum mengenal karakter hidup orang lain (dalam hal ini: tuntutan naskah). Proses pemusatan fokus Catharina terhadap karakter Azucena yang diperankannya memang merupakan sebuah hasil meditasi yang panjang, reflektif, dan apa adanya. Realitas yang ditampilkannya di atas panggung dapat dibandingkan dengan kemampuan Anna Magnani memerankan seorang wanita depresif nan kelam di film “La voix humaine” (1948) arahan sutradara Roberto Rossellini (berdasarkan drama karya Jean Cocteau), serta seorang mantan mucikari yang berusaha untuk menghidupi anaknya dalam kehidupan kaum buruh di film “Mamma Roma” (1962) arahan sutradara Pier Paolo Pasolini. Dan di atas panggung malam itu, Catharina Leimena adalah Azucena, wanita gipsy tertindas yang hendak menuntut balas atas kelaliman Sang Penguasa, Count di Luna.



Tidak dapat dielakkan bahwa pemusatan fokus yang sedemikian intensif pada akhirnya menyublim dalam sosok Catharina Leimena dengan segala pesona dan kharismanya. Di atas panggung, ia adalah seorang legenda hidup yang bertanggung jawab atas pembentukan watak serta situasi yang dihadapinya, dengan tidak pernah kehilangan jatidiri di atas panggung (yang oleh Konstantin Stanislavsky dianggap dapat menyebabkan ekspresi palsu dan berlebih-lebihan). Catharina adalan Azucena yang hidup dalam kejujuran: Ia tahu bahwa dendam terhadap Count di Luna memiliki konsekuensi yang sangat pahit. Namun demikian, Catharina Leimena adalah Azucena yang memilih tindakannya sendiri. Ia adalah apa yang dialami dan apa yang dilakukannya. Dan Gedung Kesenian Jakarta menjadi saksi bisu atas pesona yang tak kunjung pudar itu.

2 comments:

web lol said...

kul post!

free games to download said...

foot massage are very relaxing, i love to have a foot massage after a hard days work,,