<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990</id><updated>2012-02-10T12:30:00.200-08:00</updated><title type='text'>pianistaholic</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>66</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-1198189567077500918</id><published>2012-02-10T12:12:00.000-08:00</published><updated>2012-02-10T12:30:00.228-08:00</updated><title type='text'>Setetes Embun Yang Meneduhkan</title><content type='html'>Suatu ketika, Bunda Teresa pernah berkata “&lt;em&gt;In this life, we cannot always do great things. But we can do small things with great love&lt;/em&gt;”. Demikianlah kasih sayang yang ditorehkan oleh &lt;strong&gt;Civismo Foundation&lt;/strong&gt; pada hati setiap insan yang perjalanan hidupnya tidaklah semanis yang kita bayangkan. Seperti tetes embun yang meneduhkan dedaunan di pagi hari, Civismo Foundation yang dimotori oleh Billy Bismarak, Kanti Janis, dan Andara Rainy ini dengan konsisten memberikan pelatihan informal bagi anak-anak yatim piatu Muhammadiyah dan Sekolah Bina Insan Tangerang (Bintang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Juni tahun lalu, saya diajak oleh Civismo untuk mengadakan Konser Mini dalam rangka memperkenalkan anak-anak binaan mereka akan pertunjukan musik. Kala itu saya memberikan gagasan, bahwa pertunjukan musik (terutama untuk anak-anak) sebaiknya dilakukan secara interaktif, dimana mereka dapat ikut melibatkan diri dalam proses berkesenian. Dalam usia dini, yang paling memungkinkan adalah mengajak mereka untuk turut menyanyikan lagu nasional, lagu daerah, atau lagu anak-anak. Namun di tengah krisis kepemimpinan negeri ini, rasanya lebih tepat apabila lagu-lagu nasional kembali didengungkan, agar kita tidak melupakan bahwa negeri ini dibangun dengan air mata darah, bukan dengan kapital-kapital yang tak berakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-neApizCL7AU/TzV7l3yY7zI/AAAAAAAAA48/8kNfw74h2h0/s1600/civismo%2B01.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707603993322647346" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 218px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-neApizCL7AU/TzV7l3yY7zI/AAAAAAAAA48/8kNfw74h2h0/s320/civismo%2B01.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bermusik secara profesional di panggung dengan bermusik bersama anak-anak memang memiliki dimensi spiritual tersendiri. Kepolosan mereka dan (tentu saja) latar belakang hidup mereka selalu membawa hati ke ruang sederhana yang kadang jarang terjamah oleh Rasa. Tanpa larut dalam gejolak sentimental, mereka merupakan pribadi yang tangguh. Dalam keadaan serba kekurangan, ketidakmampuan, tak berayah-ibu, semangat mereka untuk hidup dapat diibaratkan selayaknya dian yang tak kunjung padam – meminjam istilah dari Sutan Takdir Alisjahbana. Paling tidak, api itu dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan merupakan sesuatu yang berharga, yang harus dirawat dan dikembangkan dalam upaya memanusiakan sesama manusia. Karena dalam proses mengenal dan menghayati kehidupan manusia, kita sedang menghayati diri kita sendiri. Begitu pun sebaliknya: Suatu proses yang akan terus bersintesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3iqGrpmC95o/TzV7lBmM06I/AAAAAAAAA40/xiQSUGFa0Qo/s1600/civismo%2B02.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707603978776007586" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 214px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-3iqGrpmC95o/TzV7lBmM06I/AAAAAAAAA40/xiQSUGFa0Qo/s320/civismo%2B02.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-IckqQru3GE4/TzV7kyP714I/AAAAAAAAA4k/PXaRYo-DvLY/s1600/civismo%2B03.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707603974656087938" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 214px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-IckqQru3GE4/TzV7kyP714I/AAAAAAAAA4k/PXaRYo-DvLY/s320/civismo%2B03.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-psO8gcUnfB4/TzV7kE6ddnI/AAAAAAAAA4c/g55dj4ii3ZU/s1600/civismo%2B04.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707603962486421106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 214px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-psO8gcUnfB4/TzV7kE6ddnI/AAAAAAAAA4c/g55dj4ii3ZU/s320/civismo%2B04.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, di zaman yang serba materialistis seperti saat ini, orang-orang cenderung menilai sesuatu dari mata uang, bukan mata hati. Namun ucapan terima kasih sebesarnya saya haturkan kepada Civismo Foundation yang telah membukakan pintu hati mereka untuk mengisi relung-relung kosong dalam perjalanan hidup kaum yang membutuhkan. Pendidikan yang mereka isi dengan kasih sayang dapat menjadi buah optimisme akan kelangsungan perjuangan kemanusiaan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Y9lcYUFMhag/TzV7j86R-7I/AAAAAAAAA4M/fzdrE4ZvbXg/s1600/civismo%2B06.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707603960338185138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 175px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-Y9lcYUFMhag/TzV7j86R-7I/AAAAAAAAA4M/fzdrE4ZvbXg/s320/civismo%2B06.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-N6MVaM8-wFc/TzV6--65rQI/AAAAAAAAA4A/WUSRjcsHK3c/s1600/civismo%2B07.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5707603325222497538" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 153px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-N6MVaM8-wFc/TzV6--65rQI/AAAAAAAAA4A/WUSRjcsHK3c/s320/civismo%2B07.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk berpartisipasi dalam kegiatan Civismo Foundation, silakan kunjungi situs mereka di &lt;a href="http://civismofoundation.org/"&gt;http://civismofoundation.org/&lt;/a&gt; atau kantor di alamat:&lt;br /&gt;Jl. Irian No. 7, Menteng, Jakarta Pusat 10230.&lt;br /&gt;Telp (021) 3190 9080&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-1198189567077500918?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/1198189567077500918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=1198189567077500918' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1198189567077500918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1198189567077500918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2012/02/setetes-embun-yang-meneduhkan.html' title='Setetes Embun Yang Meneduhkan'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-neApizCL7AU/TzV7l3yY7zI/AAAAAAAAA48/8kNfw74h2h0/s72-c/civismo%2B01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-3696770288429131332</id><published>2012-01-03T12:52:00.000-08:00</published><updated>2012-01-03T13:42:45.230-08:00</updated><title type='text'>Senandung Kalbu Trisutji Kamal</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;“&lt;em&gt;Anugerah ini akan hidup di dalam dirimu. Pada saat itu, pada saat itu akan kau fahami: Kebenarannya&lt;/em&gt;”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Hidup saya penuh dengan penderitaan” demikian komponis Trisutji Kamal menjawab, ketika ditanya mengapa dalam karya-karyanya yang mengisahkan tentang cinta, selalu mengandung harmoni gelap dan syair-syair yang secara halus menyembunyikan kesedihan. Paling tidak, tembang puitik yang lahir dari keluwesan beliau dalam menggarap sebuah komposisi dapat dibandingkan dengan tonggak musik era Romantik Akhir Italia, seperti kidung-kidung karya Giuseppe Martucci, Franco Alfano, Ottorino Respighi, Riccardo Zandonai, atau Gian-Francesco Malipiero. Tidak meninggalkan identitasnya sebagai seorang Jawa, Trisutji Kamal kerap kali menyelipkan nada-nada pentatonik dalam karyanya, melebur dengan harmonisasi yang pekat. “Saya menulis musik tanpa dicoba-coba di piano. Kalau pakai piano justru jadi bingung,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposer yang menimba ilmu di konservatorium Santa Cecilia Roma ini seringkali menulis sendiri syair-syair tembang puitik ciptaannya. Berbeda dengan tradisi art song/lieder di Eropa (dimana komposer mengambil syair lagu dari puisi-puisi karya sastrawan terkenal), Trisutji menulis puisi yang menyiratkan fase-fase perjalanan hidupnya, terutama dalam pengembaraannya mencari kesejatian hidup dan makna ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-uJ7z0kfF1E4/TwNra6O4jYI/AAAAAAAAA30/NCn0GLWsBfo/s1600/334527_2519057709056_1631693529_2326791_877256122_o.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693512463978892674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-uJ7z0kfF1E4/TwNra6O4jYI/AAAAAAAAA30/NCn0GLWsBfo/s320/334527_2519057709056_1631693529_2326791_877256122_o.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat konser “Tembang Puitik Trisutji Kamal” tanggal 12 Desember yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan soprano Aning Katamsi, Christine Lubis, dan Clarentia Prameta, membawakan tiga siklus (song-cycle) berjudul “Cinta dan Pengorbanan”, “Kepada Kawan”, serta “Harapan dan Kekecewaan”. Secara teknis (terutama dalam membaca not tulisan tangan yang kurang jelas) yang tersulit adalah “Cinta dan Pengorbanan”, dimana sejak jauh-jauh hari Ibu Tri sudah memperingatkan saya, “Hati-hati ya, siklus yang kamu mainkan itu pianonya sulit sekali. Saya sengaja bikinnya dengan style Rachmaninoff,”. Nah loh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi, saya beropini bahwa karya-karya Ibu Tri agak kurang ramah dengan sistem penjarian di tuts piano. Namun seperti halnya musik bergaya Romantik Akhir, keindahannya baru terasa setelah menginterpretasikan struktur lagu secara utuh, dalam hal ini: Setelah latihan pertama dengan para penyanyinya. Pada dasarnya, kekuatan dari musik Ibu Tri adalah melodi-melodinya yang &lt;em&gt;powerful&lt;/em&gt; dan sarat akan kekuatan emosi. Secara harmoni, seorang vokalis pernah berkata pada saya, “Dari sana sudah ketahuan, kedalaman hati Ibu Tri itu seperti menyelami dasar samudera”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BgHAvlONNiM/TwNrZzDRYgI/AAAAAAAAA3s/XcybHWXDmSE/s1600/329550_2537515810497_1631693529_2333541_1512440309_o.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693512444871270914" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-BgHAvlONNiM/TwNrZzDRYgI/AAAAAAAAA3s/XcybHWXDmSE/s320/329550_2537515810497_1631693529_2333541_1512440309_o.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai pengalaman cinta yang pahit, nampaknya hal tersebut menjadi sebuah pemicu bagi Ibu Tri untuk mengeksplorasi kedalaman hati (&lt;em&gt;inner feeling&lt;/em&gt;) melalui sapuan warna nada dan harmoni yang “menembus batas” (&lt;em&gt;transcendental&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Dalam esai pelukis &lt;strong&gt;Wassily Kandinsky &lt;/strong&gt;berjudul “&lt;strong&gt;Pendalaman Spiritual Melalui Seni&lt;/strong&gt;” (ditafsirkan oleh Sulebar Soekarman), ditekankan bahwa dalam setiap manifestasi terkandung benih dari sesuatu yang akan bekerja keras menuju hal abstrak dan non-material. Sabda Sokrates akan “&lt;em&gt;Kenali dirimu sendiri&lt;/em&gt;” – mengatur keseimbangan nilai spiritual dari semua unsur, yang sadar atau tidak sadar membentuk pendekatan psikologis seorang seniman terhadap seni yang mereka hasilkan. Lebih lanjut, Kandinsky mengemukakan bahwa seorang seniman yang tidak menemukan kepuasan apapun di dalam upaya seninya – bagaimanapun artistiknya di dalam kerinduan yang cukup lama untuk mengekspresikan kehidupan rohaninya (&lt;em&gt;inner life&lt;/em&gt;) – secara alamiah akan mencari metode-metode dekonstruktif terhadap apa yang menjadi batasan bagi pengungkapan alam bawah sadarnya. Dalam hal ini, musik yang pada hakikatnya tak terkekang secara alami, tidak membutuhkan bentuk-bentuk yang terbatas untuk ekspresinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-JpfZe4klg4U/TwNrZQeVMII/AAAAAAAAA3c/7YOpqNiB6wM/s1600/341140_2537615092979_1631693529_2333557_171963890_o.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693512435589525634" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-JpfZe4klg4U/TwNrZQeVMII/AAAAAAAAA3c/7YOpqNiB6wM/s320/341140_2537615092979_1631693529_2333557_171963890_o.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pengenalan hakikat dirinya, Ibu Tri bereksplorasi dalam proses pencarian Tuhan, dimana pada usia yang masih sangat muda (21 tahun), pertanyaan-pertanyaan selama pengembaraan spiritual dirinya mulai muncul. Fase ini tergambarkan melalui sebuah puisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Panggilan Suci&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(Roma, 30 Oktober 1958)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sunyi duniaku biru, sejak mengenal Tuhan&lt;br /&gt;Dalam cintaku suci, hingga terpisah dari umat manusia&lt;br /&gt;Kini kulupa bersenyum, bibir pun beku menjadi bisu&lt;br /&gt;Telinga pun tuli, tiada mendengar nyanyian bersama&lt;br /&gt;Hanya hati ini mendengar irama,&lt;br /&gt;Mengandung harapan penuh kepercayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah duniaku sunyi biru, sejuk&lt;br /&gt;Sejak mengenal Tuhan, dalam kesederhanaan&lt;br /&gt;Tenang semedi, khusuk,&lt;br /&gt;Menyerahkan diri,&lt;br /&gt;Sampai mencapai keabadian&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan Ibu Tri menjelaskan bahwa puisi tersebut diciptakan untuk mengekspresikan penyatuan diri antara manusia dengan Tuhannya (dalam istilah kebatinan: &lt;em&gt;Manunggaling kawula-Gusti&lt;/em&gt;). Ketika seseorang sudah mengenal Tuhannya melalui Rasa, maka ia akan masuk dalam suatu ekstase yang membuatnya terpisah dari manusia lainnya. Pengalaman sufistik yang menggambarkan cinta mistik manusia dan Tuhan ini ditafsirkan melalui komposisi yang padat akan warna, dalam gaya harmoni Rachmaninoff, pada 21 Januari 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;NB.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Perhatikan pula, dalam puisi “Panggilan Suci”, Ibu Tri menggunakan ungkapan “&lt;em&gt;Sunyi duniaku biru&lt;/em&gt;”. Dalam filosofi warna Kandinsky, kekuatan dari suatu kedalaman ditemukan pada warna biru (&lt;em&gt;heavenly color&lt;/em&gt;/warna surgawi). Biru melambangkan introspeksi diri: Semakin gelap, daya tarik dari dalam (&lt;em&gt;inner appeal&lt;/em&gt;) menjadi lebih kuat. Kandinsky menyebutnya “&lt;em&gt;Ketika biru tenggelam hampir ke dalam hitam, akan muncul gema dari suatu duka cita yang sangat manusiawi&lt;/em&gt;”. Di dalam musik, warna biru terang (&lt;em&gt;light blue&lt;/em&gt;) seperti sebuah flute, biru yang lebih gelap (&lt;em&gt;darker blue&lt;/em&gt;) adalah cello, lebih gelap lagi adalah sebuah contrabass yang bergemuruh, sementara biru paling gelap (&lt;em&gt;deep blue&lt;/em&gt;) adalah sebuah organ. Maka “Biru” adalah analogi yang sangat manusiawi untuk menggambarkan pengalaman batin terdalam pada upaya persatuan diri dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Qo4Qsb7HHyM/TwNrYKUe-GI/AAAAAAAAA3Q/4yoxeXAzQak/s1600/Trisutji%2BAning.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693512416757741666" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-Qo4Qsb7HHyM/TwNrYKUe-GI/AAAAAAAAA3Q/4yoxeXAzQak/s320/Trisutji%2BAning.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ada “&lt;strong&gt;Anugerah&lt;/strong&gt;” (puisi ditulis di Roma, Mei 1967), menggambarkan kepedihan cinta manusia yang tak dapat dijangkau, namun akan tetap ada sebagai sebuah anugerah. Dengan tempo &lt;em&gt;Allegretto poco agitato&lt;/em&gt; (sedikit gelisah), Ibu Tri tetap memberikan sentuhan dramatis kepada melodi yang liris. Penggarapan harmoni terasa mendekati Piano Concerto no 2 Rachmaninoff, terutama figurasi tangan kiri di bagian interlude – juga dengan melodi-melodi rhapsodic yang berbaur dengan pentatonik Jawa, menghasilkan suatu komposisi yang gelap, minor, namun berangsur menjadi mayor dan berakhir dalam trinada &lt;em&gt;Mayor 11th&lt;/em&gt; yang melambangkan secercah harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anugerah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gema denyut kalbuku sangat pedih&lt;br /&gt;Demi cinta yang akan jadi milikku,&lt;br /&gt;seribu hari lagi.&lt;br /&gt;Anugerah ini akan hidup di dalam dirimu&lt;br /&gt;Pada saat itu, akan kau fahami:&lt;br /&gt;Kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam “&lt;strong&gt;Kegelisahan&lt;/strong&gt;” (puisi ditulis di Roma, Mei 1967), mendeskripsikan akan cinta yang kembali hadir hanya melalui kenangan. Karya yang digubah dalam nuansa dramatis ini menggabungkan harmoni pentatonik Jawa dengan kerumitan ritme poliritmik. Dari segi vokal, &lt;em&gt;tessitura&lt;/em&gt;-nya membutuhkan keahlian soprano dramatik yang mampu untuk terus-menerus menyanyi di wilayah nada tinggi dengan &lt;em&gt;animando&lt;/em&gt; (penuh hasrat) dan &lt;em&gt;con portamento&lt;/em&gt; (seperti diseret, dengan bobot). Kendati tempo yang ditulis adalah &lt;em&gt;Andantino&lt;/em&gt;, namun Ibu Aning meminta agar tempo dinaikkan dua kali lipat supaya &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; dan heroisme yang terkandung di dalamnya dapat ditampilkan dengan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kegelisahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jiwaku yang sekarat,&lt;br /&gt;Mengikutimu penuh gelora&lt;br /&gt;Dalam makam perasaanmu,&lt;br /&gt;Hanya tertinggal kegelisahan. Manis.&lt;br /&gt;Yang membawamu, kembali padaku.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan, pianis Iravati Sudiarso pernah berkata, “&lt;em&gt;Music is always suffering&lt;/em&gt;” karena para komposer pada umumnya menciptakan sebuah karya yang merupakan hasil dari pengalaman batin (&lt;em&gt;inner feeling&lt;/em&gt;) hidupnya – atau &lt;em&gt;cri-de-coeur&lt;/em&gt; terhadap kondisi yang berada di sekitar mereka. Penderitaan psikologis Beethoven atau kemiskinan yang melanda Mozart telah menghasilkan musik yang agung, begitu pula akan melankolia Rachmaninoff terhadap tanah Rusia yang ditinggalkannya, memicu karya-karya rhapsodic yang selalu membangkitkan kenangan akan pengalaman terdalam jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Ibu Tri, pencarian spiritualnya semasa pengembaraan hidup di benua Eropa telah mematangkan identitasnya sebagai komponis, yang oleh Kandinsky digambarkan sebagai puncak tertinggi dalam segitiga spiritual: “&lt;em&gt;Di bagian puncak segitiga ini, berdiri seringkali hanya seorang manusia, dan hanya seorang. Visinya yang penuh kegembiraan menyelubungi penderitaannya yang mendalam. Bahkan mereka yang paling dekat dan memberikan simpati penuh dengannya, tidak mengerti dia&lt;/em&gt;.” – Dari sinilah bahasa musik Ibu Tri bermula, dalam siklus tembang puitik “Cinta dan Pengorbanan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-nsGocWPDIwo/TwNrX9RWYrI/AAAAAAAAA3E/HK9q1RE2DPk/s1600/Trisutji%2BRame2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693512413254935218" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-nsGocWPDIwo/TwNrX9RWYrI/AAAAAAAAA3E/HK9q1RE2DPk/s320/Trisutji%2BRame2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Konser "&lt;strong&gt;Tembang Puitik Trisutji Kamal&lt;/strong&gt;" (Erasmus Huis, 12 Desember 2011), menampilkan vokalis Aning Katamsi, Binu Sukaman, Charles Nasution, Christine Lubis, Clarentia Prameta, Daniel Christianto, diiringi oleh pianis Adelaide Simbolon dan Aditya Setiadi.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-3696770288429131332?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/3696770288429131332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=3696770288429131332' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3696770288429131332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3696770288429131332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2012/01/senandung-kalbu-trisutji-kamal.html' title='Senandung Kalbu Trisutji Kamal'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-uJ7z0kfF1E4/TwNra6O4jYI/AAAAAAAAA30/NCn0GLWsBfo/s72-c/334527_2519057709056_1631693529_2326791_877256122_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-7453349873463995307</id><published>2011-12-13T13:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-13T13:57:09.671-08:00</updated><title type='text'>75 Tahun Trisutji Kamal</title><content type='html'>Mencapai usia 75 tahun merupakan sebuah anugerah, baik bagi mereka yang merayakannya, maupun bagi orang-orang terdekat yang ikut berbagi kebahagiaan bersama. Akhir November lalu, komponis senior Indonesia – Trisutji Djuliati Kamal – merupakan salah seorang tokoh yang ikut menikmati kebahagiaan tersebut, dimana acara syukuran ulang tahun beliau yang ke-75 merupakan berkah bagi dunia musik sastra Indonesia. Terbersit kenangan serupa akan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/A_Great_Day_in_Harlem"&gt;“A Great Day in Harlem”&lt;/a&gt;, acara syukuran ulang tahun Trisutji Kamal tersebut dihadiri oleh musisi-musisi klasik yang ikut mengukir tonggak musik klasik di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadakan di kediaman Trisutji Kamal di bilangan Cipete Jakarta Selatan, rumah asri yang interiornya menggabungkan gaya klasik dan etnik tersebut dipenuhi oleh dekorasi berupa lilin-lilin mungil, karangan bunga, serta asap dupa gaharu yang dibawa khusus dari tanah Arab. Di meja makan tersaji nasi tumpeng, serta sajian khas Italia yang dimasak khusus oleh Trisutji, dengan resep otentik yang dikenalnya selama menimba ilmu komposisi di Accademia Santa Cecilia, Roma – 50 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-B_rv3arFedI/TufBSbtS3EI/AAAAAAAAA14/F__FNDdvzV4/s1600/IMG01169-20111129-1913.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685725576998083650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-B_rv3arFedI/TufBSbtS3EI/AAAAAAAAA14/F__FNDdvzV4/s320/IMG01169-20111129-1913.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt; Dua sahabat: Trisutji Kamal &amp;amp; Catharina Leimena&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-FrcFFMcxXZo/TufBSSPySuI/AAAAAAAAA1w/jyq98kvU-JE/s1600/IMG01168-20111129-1854.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685725574458395362" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-FrcFFMcxXZo/TufBSSPySuI/AAAAAAAAA1w/jyq98kvU-JE/s320/IMG01168-20111129-1854.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Chef Trisutji &amp;amp; Melanzane grigliate, lasagna, pollo ripieno con besciamella&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah langit selesai mencurahkan rintik hujan, perlahan para tamu mulai berdatangan. Musisi senior seperti penyanyi opera &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2008/02/catharina-leimena-dibalik-opera-la.html"&gt;Catharina Leimena &lt;/a&gt;hadir dengan kerinduan akan sahabat lama yang dahulu sama-sama berjuang membawa nama Indonesia di Italia. Kemudian hadir soprano Aning Katamsi, Christine Lubis, tenor Charles Nasution, dan pianis-pianis kenamaan, mulai dari yang senior seperti Pudjiwati Insia Effendi, Endang Kusumaningsih, hingga Adelaide Simbolon, Iswargia Sudarno, Rubi Pertama. Mereka semua memiliki kedekatan batin dengan sosok Trisutji Kamal, sebagai eksponen penting yang pernah menyenandungkan melodi-melodi indah karya sang komponis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685728061653577106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-DZmEoQ4GIGg/TufDjDxU7ZI/AAAAAAAAA24/I9tjsMTryF8/s320/DSC06803.JPG" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685728038587578050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-upXbzLLtQrY/TufDht19tsI/AAAAAAAAA2s/YqhqUEJDZ-E/s320/DSC06805.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat dan keluarga terdekat pun ikut meramaikan acara syukuran malam itu, yang berpuncak pada upacara pemotongan tumpeng yang dipimpin oleh Aning Katamsi, menyanyikan lagu “Melati”, diikuti oleh tarian khidmat penari Nyoman Sura. Pucuk tumpeng diserahkan secara simbolis oleh Trisutji kepada pemain harpa Rama Widi, sebagai pemrakarsa acara syukuran malam itu. Selain untuk memperingati hari ulang tahun Trisutji, momen tersebut merupakan ungkapan doa untuk kelancaran konser “Tembang Puitik Trisutji Kamal” yang dipentaskan tanggal 12 Desember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685728031986062178" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-SUwmTxnDe1s/TufDhVQCk2I/AAAAAAAAA2c/OiL24qfOK1s/s320/DSC06807.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685728024512065602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-qb7G22H6RwI/TufDg5aGcEI/AAAAAAAAA2U/Vb1OwPR6IeE/s320/DSC06813.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685728020684760066" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-V46C-h3ugc0/TufDgrJmZAI/AAAAAAAAA2I/AosSb8eplI0/s320/IMG01160-20111129-1827.jpg" border="0" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-7453349873463995307?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/7453349873463995307/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=7453349873463995307' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7453349873463995307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7453349873463995307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2011/12/75-tahun-trisutji-kamal.html' title='75 Tahun Trisutji Kamal'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-B_rv3arFedI/TufBSbtS3EI/AAAAAAAAA14/F__FNDdvzV4/s72-c/IMG01169-20111129-1913.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-2788031111426435180</id><published>2011-11-27T03:49:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T04:25:26.298-08:00</updated><title type='text'>Peluncuran Buku Pedoman Pelafalan Seriosa Indonesia</title><content type='html'>Jumat, 25 November yang lalu di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki diadakan peluncuran buku “Pedoman Pelafalan Seriosa Indonesia” yang merupakan proyek Dewan Kesenian Jakarta, melibatkan ketua DKJ komisi musik Budi Utomo (Tommy) Prabowo, beserta para ahli fonetik dari bidang bahasa, teater, juga penyanyi seriosa Aning Katamsi, Binu Sukaman, dan Joseph (Akis) Kristanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa buku ini penting untuk ditulis? Dalam sambutannya, Tommy Prabowo menjelaskan bahwa dalam tradisi menyanyi seriosa di Eropa – khususnya di Jerman (dikenal sebagai &lt;em&gt;lieder&lt;/em&gt;) – pendekatan yang digunakan (selain kemahiran teknik menyanyi) adalah acuan terhadap pedoman pelafalan yang akan berpengaruh kepada interpretasi lagu. Adapun pedoman pelafalannya terus berkembang sesuai zaman, sebagaimana penggunaan bahasa akan terus bermetamorfosis. Misalnya, interpretasi terhadap sebuah lagu yang sama di tahun 1980 dan 2000 ternyata sangat berbeda. Hal ini terjadi karena pedoman pelafalan dan fonetik yang digunakan pada era 1980 jauh berbeda dengan yang digunakan di tahun 2000. Hal tersebut wajar, karena selain bahasa yang terus bermetamorfosis, tradisi lieder berkembang dari perkawinan antara musik dan puisi, dimana syairnya biasanya diambil dari karya-karya pujangga terkenal. Maka pendekatan akan pelafalan yang benar adalah penting demi interpretasi lagu yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, Tommy menjelaskan bahwa hingga saat ini di Indonesia belum ada buku pedoman pelafalan menyanyi seriosa. Kendati di masa yang akan datang pedoman itu akan terus berubah, namun harus ada batu pijakan pertama yang akan menjadi acuan bagi revisi-revisi selanjutnya. Buku pedoman tersebut diterbitkan beserta CD yang berisi contoh-contoh penggalan lagu seriosa Indonesia yang dinyanyikan oleh Aning, Binu, dan Akis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bkIjgrHhBHQ/TtInBjLAQmI/AAAAAAAAA1k/Q1nD8Xmikxk/s1600/IMG01145-20111125-1948.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679644987642364514" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-bkIjgrHhBHQ/TtInBjLAQmI/AAAAAAAAA1k/Q1nD8Xmikxk/s320/IMG01145-20111125-1948.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Remy Silado memberikan sambutan dengan hangat dan jenaka&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remy Silado yang turut memberikan sambutan, menjelaskan dengan menarik seputar permasalahan pentingnya pedoman pelafalan bahasa Indonesia dalam musik seriosa, karena banyaknya istilah Indonesia yang diserap dari bahasa asing atau bahasa daerah. Misalnya, untuk akhiran huruf “k” ada dua kemungkinan: menggunakan hamzah (gaya Arab) atau penekanan terhadap “g” dalam bahasa Jawa. Istilah seperti “Tidak” biasanya menggunakan pendekatan hamzah Arab, karena akan dibaca &lt;em&gt;Tida’&lt;/em&gt; sedangkan istilah “Pajak” atau “Goblok” biasanya menggunakan akhirnya “g” Jawa karena huruf “k” nya ikut dibaca. Lantas Remy Silado memberi gambaran bahwa bahasa akan terus bermetamorfosis dan masa depannya ada di tangan generasi muda yang cenderung terpengaruh budaya instan, sehingga muncul istilah-istilah baru. Sedangkan bahasa dalam sastra, tentu berbeda dengan bahasa percakapan sehari-hari. Misalnya, ketika sedang naik bus kota, tidak mungkin berbicara pada supirnya “Wahai buyung, hendaklah dikau menurunkan daku di perhentian yang kelak akan dilalui bus ini,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-xfcziIp0U_k/TtInAzMCMwI/AAAAAAAAA1Y/I4n3sfC3P4k/s1600/DSC06769.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679644974761784066" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-xfcziIp0U_k/TtInAzMCMwI/AAAAAAAAA1Y/I4n3sfC3P4k/s320/DSC06769.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Tommy Prabowo &amp;amp; Aning Katamsi melantunkan tembang puitik&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluncuran buku tersebut ditandai dengan mini resital yang menampilkan baritone Akis Kristanto dan soprano Aning Katamsi (Tommy Prabowo pada piano) membawakan beberapa nomor seriosa seperti “Lagu Biasa” (Komponis: RAJ Soedjasmin, Syair: Chairil Anwar), “Kisah Mawar di Malam Hari” (Komponis: Iskandar, Syair: Zainuddin), “Elegie” (Komponis: FX Soetopo, Syair: Kirdjomoeljo), dan “Kasih dan Pelukis” (Komponis: Mochtar Embut). Kedua resitalis malam itu tampil dengan interpretasi terbaiknya, berada dalam kondisi vokal yang sangat prima. Iringan piano yang musikal dan efisien membawa melodi liris dalam kedinamisan, terutama pada “Lagu Biasa” dan “Elegie”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proviciat untuk Dewan Kesenian Jakarta dan seluruh tim pendukung penulisan buku “Pedoman Pelafalan Seriosa Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gRcTkrO6NIU/TtInAfjZ6cI/AAAAAAAAA1M/az7clq9LRek/s1600/DSC06771.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679644969491098050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-gRcTkrO6NIU/TtInAfjZ6cI/AAAAAAAAA1M/az7clq9LRek/s320/DSC06771.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Bersama Aning Katamsi &amp;amp; Akis Kristanto&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-2788031111426435180?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/2788031111426435180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=2788031111426435180' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2788031111426435180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2788031111426435180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2011/11/peluncuran-buku-pedoman-pelafalan.html' title='Peluncuran Buku Pedoman Pelafalan Seriosa Indonesia'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-bkIjgrHhBHQ/TtInBjLAQmI/AAAAAAAAA1k/Q1nD8Xmikxk/s72-c/IMG01145-20111125-1948.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-7850508534442545968</id><published>2011-11-18T11:07:00.000-08:00</published><updated>2011-11-18T12:50:38.750-08:00</updated><title type='text'>Iskandar Widjaja: Passion &amp; Kerja Keras</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000000;"&gt;Mungkin agak berlebihan jika saya mengatakan bahwa nasib saya seperti Nina Sayers (diperankan oleh Natalie Portman) di film &lt;strong&gt;Black Swan&lt;/strong&gt;. Semua berawal ketika saya mendapat kesempatan untuk menjadi pianis bagi pemain biola &lt;strong&gt;Iskandar Widjaja&lt;/strong&gt; pada konsernya Jumat 18 November yang lalu di Titan Theater Bintaro. Iskandar sendiri sedang melakukan tour keliling South East Asia, dimana Indonesia adalah salah satu tujuannya untuk tampil. Sebelumnya, ia tampil di Kamboja, dan seminggu setelah tampil bersama saya, ia akan pentas di Singapura.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk dapat pentas bersama Iskandar, yang memang membangun karir musiknya di Eropa (ia lahir dan tinggal di Berlin hingga saat ini) – dan betapa ia mengeluh akan macetnya Jakarta yang luar biasa, sehingga ia jadi kehilangan banyak waktu untuk latihan. Saat itu saya diminta untuk mengiringi &lt;strong&gt;Beethoven Violin Concerto op 61&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Massenet Meditation&lt;/strong&gt; (dari opera Thaïs). Setelah kontak via e-mail, Iskandar mengajak saya untuk membawakan &lt;strong&gt;Paganini/Kreisler La Campanella&lt;/strong&gt; sebagai &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt;. Yang sempat membuat saya khawatir adalah perencanaan waktu latihan, dimana ketika saya tanya ke pihak manajemen Titan (sebagai penyelenggara acara), katanya “Latihan sama Iskandarnya nanti saja, saat hari H, beberapa jam sebelum pentas. Dia tidak punya waktu banyak di Indonesia”. Agak kaget memang, karena biasanya saya sebelum pentas (dengan vokalis atau instrumentalis), minimal latihan bersama sebulan sebelumnya. Namun di tengah padatnya jadwal Iskandar (ia tiba di Indonesia tanggal 14 November), saya janjian saja dengan Iskandar untuk latihan hari Rabu dan Kamis (dua hari sebelum pentas).&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color:#0066cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color:#0066cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-9rfYG8_wj4c/TsavihRc0nI/AAAAAAAAA08/uhs1JRw3auw/s1600/IMG01125-20111116-1505.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676417387929064050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-9rfYG8_wj4c/TsavihRc0nI/AAAAAAAAA08/uhs1JRw3auw/s320/IMG01125-20111116-1505.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Latihan pertama di rumah Issi&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu saya ke rumah Iskandar. Sejak saya parkir mobil di depan rumahnya, memang sudah terdengar suara biola dari balkon. Iskandar yang saat itu mengenakan pakaian rumah santai, menyapa saya dengan ramah dan kami langsung memulai latihan. Rupanya saat itu saya baru memahami betapa tinggi &lt;em&gt;musicianship&lt;/em&gt; Iskandar, serta kekuatan fokusnya pada musik. Bisa dikatakan bahwa Iskandar &lt;em&gt;is musically very demanding&lt;/em&gt;. Seorang perfeksionis dengan perhatian terhadap detail yang nyaris tanpa cela. Dia tidak pernah terlihat lelah untuk mengulang satu birama beberapa kali sampai kita mendapatkan nafas dan artikulasi not yang sesuai dengan apa yang diminta oleh partitur. Semua dilakukannya dengan &lt;em&gt;full voice&lt;/em&gt; – dalam arti, setiap kali mengulang suatu frase dalam musik, ia akan mengeluarkan energi dan passion yang sama melalui biolanya. Permainannya &lt;em&gt;fiery&lt;/em&gt;, penuh temperamen, dan berani – seperti keberanian pelukis Affandi dalam memuncratkan &lt;em&gt;tube&lt;/em&gt; cat lukisnya pada kanvas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di partitur tertulis &lt;em&gt;forte&lt;/em&gt;, saya harus memainkan &lt;em&gt;forte&lt;/em&gt;. Jika ditulis &lt;em&gt;fortississimo&lt;/em&gt;, saya harus memainkan persis seperti itu, dengan segenap tenaga – dan dalam setiap pengulangan yang bisa berkali-kali dilakukan. Hingga akhirnya, selesai latihan saya baru sadar bahwa kedua kuku jempol saya berdarah karena kukunya hampir terpisah dari daging – akibat berulang kali menekan not-not dalam oktaf dan &lt;em&gt;chords&lt;/em&gt; dengan &lt;em&gt;fortississimo&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;sforzando&lt;/em&gt;. Thanks to Beethoven dengan &lt;em&gt;Sturm und Drang&lt;/em&gt;-nya. Terima kasih juga pada diri saya yang sudah memotong kuku sedemikian pendeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuku saya memang sakit, tapi saya merasa puas sekali dengan sesi latihan pertama hari Rabu itu. Dalam arti, temperamen dan &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; Iskandar menular dalam jiwa saya. Saya merasa termotivasi dan tertantang untuk mengolah hasil dari latihan hari itu. Setibanya di rumah, saya langsung pasang plester di kedua jempol saya, dan lanjut latihan dengan suatu perasaan antusias – terutama melatih Paganini/Kreisler La Campanella yang masih kacau. Kreisler memang spesial karena karya-karyanya selain menunjukkan unsur virtuositas, juga membutuhkan nuansa elegan dan rubato ekspresif khas Vienna era romantik. Ini yang masih harus saya kejar karena pada saat latihan dengan Iskandar, frase dan nafas-nafasnya belum begitu klop dengan saya. Pun saya masih sedikit kewalahan dengan &lt;em&gt;big chords &lt;/em&gt;yang harus dimainkan dalam tempo begitu cepat dan &lt;em&gt;forte&lt;/em&gt; – dan dengan kuku berdarah-darah. Jadi teringat Nina Sayers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hari Rabu itu, tadinya saya janjian dengan Iskandar untuk langsung bertemu di Titan Theater hari Jumat. Namun hari Kamisnya, saya merasa perlu untuk latihan La Campanella sekali lagi – agar hati merasa tenang. Rupanya setelah latihan hari Kamis itu, saya lumayan bisa mendapatkan nafas-nafas dari Iskandar, namun kedua kuku jempol saya keadaannya semakin memprihatinkan dengan rasa sakit yang tak terkatakan. Akhirnya Kamis malam, saya hanya bisa berdoa saja semoga Jumat pagi keadaan kuku sudah membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-8asfilfqyFE/TsaviROzUVI/AAAAAAAAA00/f-jFxEmOFHU/s1600/DSC06756.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676417383622988114" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-8asfilfqyFE/TsaviROzUVI/AAAAAAAAA00/f-jFxEmOFHU/s320/DSC06756.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Suasana saat gladiresik&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat siang ketika gladiresik di Titan Theater, saya kaget setengah mati karena kuku saya sakitnya bukan main. Saya hampir tidak bisa menekan tuts piano dengan jempol kanan saya! Saya mau paksakan, tapi sepertinya ada mekanisme tubuh yang secara natural akan langsung bereaksi ketika rasa sakit muncul. Pun pianonya suaranya melempem (mungkin karena piano baru), jadi mau dibanting sekeras apapun suaranya ya segitu-segitu saja. Tapi ini bukan alasan, karena saya ingat nasehat Bapak Rudy Laban almarhum, “Pianis tidak boleh menyalahkan piano. Tidak ada piano yang jelek. Adanya pianis yang jelek. Pianis memainkan piano dalam kondisi apapun, suaranya harus terdengar bagus,”. Baiklah Pak Rudy, saya coba usahakan. Akhirnya saya berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam menjelang konser, saya uji coba piano sekali lagi. Anehnya, jempol kanan saya sudah tidak sesakit ketika saat gladiresik. &lt;em&gt;Miracle always happens when we are onstage&lt;/em&gt;. Ketika konser dimulai pun, saya dan Iskandar membukanya dengan &lt;em&gt;Meditation&lt;/em&gt; (Massenet), dimana saya merasa sangat damai dan tenang. &lt;em&gt;There was a bliss&lt;/em&gt;. Berlanjut hingga karya penutup konser (Beethoven Concerto) yang menurut saya diciptakan ketika Beethoven sedang tersenyum, hingga &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt; La Campanella. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati atmosfir konser saat itu. Iskandar pun membawa suasana tegang menjadi rileks dengan beberapa &lt;em&gt;gesture&lt;/em&gt;-nya yang jenaka. &lt;em&gt;Thank you for the opportunity, Issi. It was really an enjoyment to work with you&lt;/em&gt; :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih juga kepada Titan Center, khususnya Mbak Anggie Sagita selaku manajer, Mbak Feli yang sudah mendukung kami dari balik panggung dengan tulus, Ibu Happy Sianturi yang sudah meluangkan waktu untuk menjadi &lt;em&gt;page turner&lt;/em&gt;, dan Ibu Ivonne Atmodjo atas kebaikan hati yang tak berkesudahan – juga atas bouquet cantik yang kini terpajang di atas piano saya di rumah :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-pVPOcbaoiow/TsavhSMi81I/AAAAAAAAA0o/t78H-FbkLcA/s1600/DSC06760.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676417366702093138" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-pVPOcbaoiow/TsavhSMi81I/AAAAAAAAA0o/t78H-FbkLcA/s320/DSC06760.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Bersama Issi &amp;amp; Happy Sianturi&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-9SvC0NvXyCk/TsavhDGHTLI/AAAAAAAAA0c/rb46f-OJ5Bo/s1600/DSC06763.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676417362648583346" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-9SvC0NvXyCk/TsavhDGHTLI/AAAAAAAAA0c/rb46f-OJ5Bo/s320/DSC06763.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Bersama Ibu Ivonne Atmodjo &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-7850508534442545968?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/7850508534442545968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=7850508534442545968' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7850508534442545968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7850508534442545968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2011/11/iskandar-widjaja-passion-kerja-keras.html' title='Iskandar Widjaja: Passion &amp; Kerja Keras'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-9rfYG8_wj4c/TsavihRc0nI/AAAAAAAAA08/uhs1JRw3auw/s72-c/IMG01125-20111116-1505.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-3871262477858987327</id><published>2011-10-22T13:50:00.000-07:00</published><updated>2011-10-22T14:39:52.727-07:00</updated><title type='text'>Beberapa penafsiran atas Seriosa Indonesia</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Dalam resital &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2011/10/salihara-resital-sastra-musik-dan-yang.html"&gt;“Sastra, Musik, dan Yang Klasik” di Salihara &lt;/a&gt;yang lalu, ada beberapa karya yang saya bahas secara khusus pada penonton, terutama mengenai proses pemaknaan para komposer atas puisi yang mereka ambil sebagai syair lagu. Secara personal, ada momen historis yang menjadi latar belakang pembahasan karya-karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Puisi Rumah Bambu – FX Soetopo (1937-2006)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karya ini diangkat dari puisi sastrawan &lt;strong&gt;Kirdjomoeljo&lt;/strong&gt; (1930-2000), sesosok figur yang sangat pemalu, namun semasa hidupnya tetap teguh menjalankan filosofi hidup “&lt;em&gt;Kridha Lumahing Asta&lt;/em&gt;” yaitu menjalankan hidup secara kebersamaan, dengan menengadahkan tangan. Semangat ini ditunjukkannya pada "Puisi Rumah Bambu" – sebuah deklamasi yang selalu dibacakan oleh para seniman yang secara rutin berkumpul dalam suatu komunitas berkesenian di Yogyakarta kala itu: Sanggar Bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak akan pernah melupakan pengantar singkat yang dibawakan oleh aktor kawakan Amoroso Katamsi pada saat resital vokal mezzosoprano legendaris Catharina Leimena dan pianis Aisha Ariadna Pletscher di Goethe Haus sepuluh tahun yang lalu. Saat itu Pak Katamsi mengungkapkan bahwa sebuah komunitas musik yang dibangun dengan semangat humanisme tidak akan pernah mati karena “hati” ada di dalamnya. Beliau mengakhiri salam pengantarnya dengan menyanyikan sebait puisi Kirdjomoeljo – yang digubah dengan penuh intensitas oleh FX Soetopo. Suasana hening menyergap seketika. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“disini aku temukan kau..." &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"disini aku temukan daku..."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"disini aku temukan hati..."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"terasa tiada sendiri...”&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Elegie – FX Soetopo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Elegie&lt;/em&gt;... ketika kita mengenang seseorang yang telah tiada.&lt;br /&gt;Kejeniusan FX Soetopo dalam memusikalisasi puisi karya Kirdjomoeljo ini nampak pada penggarapan tema sederhana namun penuh makna simbolis. Lagu yang digubah dalam format A-B-A ini menggambarkan seseorang yang baru saja kehilangan kekasih tercintanya, &lt;em&gt;“Kemana engkau pergi, sunyilah malamku”&lt;/em&gt; (Bagian A) dengan iringan yang nyaris seperti &lt;em&gt;march&lt;/em&gt;, menyatakan sebuah &lt;em&gt;statement&lt;/em&gt; penuh kepedihan.&lt;br /&gt;Kemudian pada Bagian B, &lt;em&gt;“malam kutidur dalam diri, senja kumenari dalam hati... indahnya tiada arti...”&lt;/em&gt; gejolak jiwa menjadi semakin kalut ketika ia sedang berada dalam kesendirian (dengan iringan piano yang melambangkan kegundahan dan cemas), semua kenangan akan kebahagiaan di masa lampau hadir kembali, namun tanpa keberadaan ia yang terkasih, semuanya lenyap tanpa arti.&lt;br /&gt;Lalu pada rekapitulasi bagian A yang membawa kembali &lt;em&gt;statement&lt;/em&gt; kehilangan tersebut diulang (&lt;em&gt;reminiscing&lt;/em&gt;), kali ini dengan iringan yang tidak seperti &lt;em&gt;march&lt;/em&gt;, melainkan seperti buaian (&lt;em&gt;lullaby&lt;/em&gt;) yang berakhir pada trinada mayor, melambangkan bahwa proses kehilangan tersebut mau tidak mau harus diterima dengan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6ujzbQXVigs/TqMuBvLSGAI/AAAAAAAAA0I/nUcOdH0uJxM/s1600/kirdjomuljo%2B1930-2000.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666423363540752386" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 239px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-6ujzbQXVigs/TqMuBvLSGAI/AAAAAAAAA0I/nUcOdH0uJxM/s320/kirdjomuljo%2B1930-2000.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Elegie ini menyimpan sebuah nostalgia? Saya teringat pada &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2008/08/aning-katamsi-memanusiakan-manusia.html"&gt;resital vokal soprano Aning Katamsi dan pianis Ratna Katamsi di Bentara Budaya Jakarta&lt;/a&gt;, dimana ketika itu Ibu Aning tercekat dan menitikkan air mata saat menyanyikan lagu ini – terkenang akan ibunda almarhumah Pranawengrum Katamsi yang meninggal beberapa minggu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Trima Salamku – Binsar Sitompul (1923-1991)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini memiliki kisah yang unik. Pada awalnya, lagu ini tidak termasuk dalam program konser kami. Seminggu sebelum pentas, siang hari saya dan tenor Pharel Silaban latihan di kediaman Aning Katamsi, dimana setelah latihan, saya dan Ibu Aning iseng-iseng membawakan lagu “Trima Salamku”. Saya bilang pada Bu Aning bahwa lagu tersebut memiliki cerita yang berkesan: Beberapa waktu lalu, psikolog Unpad Amir Husni Siregar (yang juga adalah peserta kompetisi Bintang Radio zaman dahulu kala) berkunjung dan menginap di rumah saya. Bang Amir setahun lalu baru saja kehilangan istrinya (Psikolog dan pianis Purnamawati Nasution) yang memberikan kesedihan luar biasa dalam dirinya – dimana suami-istri tersebut biasa berkolaborasi vokal-piano selama perjalanan hidup mereka. Untuk menghibur Bang Amir, saya mengeluarkan beberapa koleksi lagu seriosa dan mengiringinya menyanyi. Rupanya momen itu memberikan kesan yang mendalam dalam hati Bang Amir. Beliau langsung membuka halaman lagu seriosa favoritnya, “Trima Salamku” yang menurutnya memiliki syair indah dan optimis, karena menyimbolkan: Harapan.&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kepada Tuan yang mengeluh...”&lt;br /&gt;“Tidak ada badai yang tidak akhirnya teduh...”&lt;br /&gt;“Tidak ada malam yang tidak diganti hari,”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-9kBlt37Jb6c/TqMuBavC-YI/AAAAAAAAAz8/KyUr0yxBTgc/s1600/DSC06708.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666423358053611906" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-9kBlt37Jb6c/TqMuBavC-YI/AAAAAAAAAz8/KyUr0yxBTgc/s320/DSC06708.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bagai disentil oleh Tuhan, tiba-tiba sepulang dari rumah Ibu Aning, komponis Tony Prabowo menghubungi saya, katanya pihak Salihara meminta satu lagu lagi untuk ditampilkan: "Trima Salamku" karya Binsar Sitompul! Saya kaget sekali, dan tentu langsung mengiyakan. Sampai saat ini, hal ini masih menjadi misteri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri berpikir, mengapa lagu “Trima Salamku” diminta untuk dibawakan pada konser? Lagu-lagu yang kami pilih untuk konser adalah karya komposer Indonesia yang menafsirkan puisi-puisi sastrawan klasik. Setahu saya – dan juga penuturan dari Ibu Aning – lagu “Trima Salamku” syairnya dibuat sendiri oleh komposernya, bukan diambil dari suatu puisi tertentu. Seusai konser, sastrawan Goenawan Mohamad menerangkan pada saya bahwa syair “Trima Salamku” diambil dari puisi Sanusi Pane, kemungkinan dari kumpulan “Madah Kelana”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada partitur asli lagunya, Binsar Sitompul memang tidak menuliskan siapa pembuat syair “Trima Salamku”, oleh karena itu kami menyimpulkan bahwa pembuat syairnya adalah Binsar Sitompul sendiri. Hal ini membutuhkan sebuah studi tersendiri – semoga Dewan Kesenian Jakarta dapat segera merampungkan proyek Antologi Musik Sastra Indonesia, jadi kita bisa memperoleh tinjauan repertoire yang lebih lengkap lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lagu Biasa – RAJ Soedjasmin (1913-1977)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Judulnya "Lagu Biasa". Tentunya tidak biasa, karena pengarang puisinya – Chairil Anwar (1922-1949) – merupakan seseorang yang sangat individualistis dan mendobrak pakem pada zamannya. Sebagai pelopor Angkatan ’45 ia mendeskripsikan seksualitas dalam bahasa yang sangat lugas dan apa adanya, sebuah pembaharuan dalam konformitas budaya saat itu yang masih menjunjung tinggi norma susila priyayi. Pada intinya, "Lagu Biasa" menggambarkan suatu adegan yang sederhana: Di teras rumah makan sepasang muda-mudi secara tidak sengaja bertemu. Mereka berkenalan, saling menggoda, akhirnya berakhir di ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAJ Soedjasmin menggubah Lagu Biasa dalam beberapa cuplikan (&lt;em&gt;montage&lt;/em&gt;) musik yang dipadu-padankan. Dimulai dengan introduksi yang melodius seperti aria opera Puccini, tiba-tiba musik berkembang ke “March of Toreador” opera Carmen karya Bizet, lalu berubah ke figurasi lincah &lt;em&gt;alberti bass&lt;/em&gt; ala Mozart, dan langsung menusuk sasaran pada kesyahduan “Ave Maria” Bach-Gounod. Suasana komikal yang ada pada Lagu Biasa mengingatkan gaya komposisi Francis Poulenc yang senang sekali tambal-sulam potongan-potongan lagu dengan &lt;em&gt;mood&lt;/em&gt; berbeda, untuk mengaduk-aduk emosi penonton. Unik!&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-AV6ha7aUOGA/TqMuBC5_gcI/AAAAAAAAAzs/VWJIXYMgtB8/s1600/salihara%2Badit%2Bsolo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666423351657071042" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-AV6ha7aUOGA/TqMuBC5_gcI/AAAAAAAAAzs/VWJIXYMgtB8/s320/salihara%2Badit%2Bsolo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penafsiran atas “Aku” Chairil Anwar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RAJ Soedjasmin&lt;/strong&gt; menggubahnya dalam semangat militeristik. Diberi judul “Semangat”, menunjukkan pengaruh pendidikan kepolisian yang dijalani oleh komposernya. Beda komposer, beda persepsi, beda pengalaman spiritual. Ketika puisi yang sama digubah oleh seorang &lt;strong&gt;Trisutji Kamal&lt;/strong&gt;, beliau menggambarkan “Aku” sebagai sosok yang menggelora dalam jiwa: sebuah jeritan hati, dramatis, individualistis – namun puitis, disanalah sosok “Aku” menemukan seorang Aku.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-oZplV45zznE/TqMuA4u_mwI/AAAAAAAAAzk/Ez2uFSykJQg/s1600/trisutjikamal.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666423348926585602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 242px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-oZplV45zznE/TqMuA4u_mwI/AAAAAAAAAzk/Ez2uFSykJQg/s320/trisutjikamal.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 14 Oktober (sehari sebelum resital), saya jatuh sakit, seluruh badan terasa limbung sehingga saya terpaksa berbaring di tempat tidur seharian... hingga sekitar pukul tiga sore, soprano Binu Sukaman telepon, “Adit, barusan Tante Titi (Trisutji Kamal) telepon saya. Beliau ingin dengar kamu dan Devi membawakan “Aku” sebelum kamu pentas besok. Beliau menunggu malam ini di rumahnya. Maaf ya ini mendadak sekali...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, nasib... Tapi tidak apa-apa, diantara seluruh komposer yang kami bawakan karyanya, hanya Trisutji Kamal-lah yang masih ada. Memang sudah sepantasnya apabila kami “sowan” dulu ke beliau sebelum mementaskan karyanya. Akhirnya malam itu juga, saya dan Devi menembus kemacetan Jalan Fatmawati yang luar biasa, hingga tiba di kediaman Tante Titi. Momen ketika memainkan karya seorang komposer di hadapan komposernya sendiri merupakan sebuah proses yang luar biasa, dimana Tante Titi banyak memberikan masukan pada interpretasi “Aku” – yang saya ingat betul, ketika Tante Titi berseloroh “Kamu main pianonya terlalu &lt;em&gt;HOT&lt;/em&gt;!” Saya tertawa saja dalam hati: Seandainya beliau tahu bahwa kondisi fisik saya sedang kurang baik, saya memang bermain sedikit tanpa tedeng aling-aling, berusaha konsentrasi pada not ketika kepala saya pusing berputar-putar. Ah, tapi biarlah itu menjadi rahasia saya saja ;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-3871262477858987327?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/3871262477858987327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=3871262477858987327' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3871262477858987327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3871262477858987327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2011/10/beberapa-penafsiran-atas-seriosa.html' title='Beberapa penafsiran atas Seriosa Indonesia'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-6ujzbQXVigs/TqMuBvLSGAI/AAAAAAAAA0I/nUcOdH0uJxM/s72-c/kirdjomuljo%2B1930-2000.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-8427833734438953706</id><published>2011-10-22T11:41:00.000-07:00</published><updated>2011-10-23T02:02:06.510-07:00</updated><title type='text'>Salihara: Resital "Sastra, Musik, dan Yang Klasik"</title><content type='html'>Sabtu, 15 Oktober yang lalu saya bersama tenor &lt;strong&gt;Pharel Silaban &lt;/strong&gt;dan soprano &lt;strong&gt;Devi Fransisca &lt;/strong&gt;berkesempatan untuk mengisi acara International Literary Biennale yang diadakan oleh Komunitas Salihara. Tema dari Bienal Sastra kali ini adalah “Klasik Nan Asyik (Exciting Classics)”, dimana novelis &lt;strong&gt;Ayu Utami &lt;/strong&gt;(selaku direktur festival) ingin mengangkat kembali karya sastra klasik yang kini semakin jarang dibaca oleh masyarakat – yang mungkin lebih asyik tenggelam dalam gelora sastra kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-qM6L0xN0Jaw/TqMPEs5ygUI/AAAAAAAAAzc/M6C6MYCZlfs/s1600/salihara.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666389329609654594" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 219px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-qM6L0xN0Jaw/TqMPEs5ygUI/AAAAAAAAAzc/M6C6MYCZlfs/s320/salihara.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Program yang kami bawakan adalah seriosa Indonesia (ada yang mengistilahkannya sebagai Tembang Puitik atau Musik Sastra – Ayu Utami menolak istilah “Tembang Puitik” karena istilah “Tembang” lekat dengan musik tradisi Jawa, sedangkan seriosa mengacu pada gaya Barat). Adapun karya seriosa Indonesia mengadaptasi &lt;em&gt;Art Song&lt;/em&gt; (bahasa Jermannya: &lt;em&gt;Lieder&lt;/em&gt;) yang pada era Romantik di Eropa, para komposer biasanya mengambil syair dari puisi karya pujangga terkenal saat itu (misalnya: Goethe, Lenau, Hesse) untuk dijadikan musik dengan iringan piano, dinyanyikan oleh solois dalam suasana resital yang intim dan hangat. Lebih lengkapnya mengenai seriosa Indonesia, bisa dilihat pada &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2010/11/sekelumit-tentang-seriosa-indonesia.html"&gt;tulisan saya sebagai pembuka Konser 25 Tahun Aning Katamsi berkarya.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-D6uO3jzHfXU/TqMPD8FhhHI/AAAAAAAAAzM/tr6KFfekBOc/s1600/salihara%2Badit-ayu%2Butami.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666389316505535602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-D6uO3jzHfXU/TqMPD8FhhHI/AAAAAAAAAzM/tr6KFfekBOc/s320/salihara%2Badit-ayu%2Butami.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Bersama Ayu Utami&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Berikut adalah urutan program yang kami bawakan:&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Awan"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Binsar Sitompul&lt;br /&gt;(Syair: Sanusi Pane, dari kumpulan “Madah Kelana”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Bagi Kekasih"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Binsar Sitompul&lt;br /&gt;(Syair: Sanusi Pane)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kemuning"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Cornell Simandjuntak&lt;br /&gt;(Syair: Sanusi Pane)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"O Angin"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Cornell Simandjuntak&lt;br /&gt;(Syair: Sanusi Pane)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Puisi Rumah Bambu"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;FX Soetopo&lt;br /&gt;(Syair: Kirdjomoeljo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan Sajak Usmar Ismail &lt;strong&gt;“Puntung Berasap”&lt;br /&gt;Hidup&lt;br /&gt;Jika Kau Tahu&lt;br /&gt;Cita-cita&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Mochtar Embut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Trima Salamku"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Binsar Sitompul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Cintaku Jauh di Pulau"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;FX Soetopo&lt;br /&gt;(Syair: Chairil Anwar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Elegie"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;FX Soetopo&lt;br /&gt;(Syair: Kirdjomoeljo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Lagu Biasa"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;RAJ Soedjasmin&lt;br /&gt;(Syair: Chairil Anwar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Semangat"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;RAJ Soedjasmin&lt;br /&gt;(Syair: Chairil Anwar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Aku"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Trisutji Kamal&lt;br /&gt;(Syair: Chairil Anwar)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesuai dengan tema, seriosa Indonesia yang kami pilih adalah yang menggunakan puisi-puisi klasik, karya sastrawan Sanusi Pane, Kirdjomoeljo, dan Chairil Anwar. Saat jeda resital berlangsung, ada pembacaan puisi oleh &lt;strong&gt;Avianti Armand&lt;/strong&gt; – seorang arsitek yang juga menggarap kisah para perempuan Kitab Suci, &lt;strong&gt;Mrityunjay Kumar Singh&lt;/strong&gt; – mantan direktur Pusat Kebudayaan India yang membacakan penafsiran dirinya atas karya “Kalidasa”, &lt;strong&gt;Georgios Veis&lt;/strong&gt; – Duta Besar Yunani untuk Indonesia, dan &lt;strong&gt;Thorsten Becker&lt;/strong&gt; – seorang aktor berkebangsaan Jerman yang sedang berkunjung ke Indonesia juga dalam rangka "Ubud Writers &amp;amp; Readers Festival 2011".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-NI51Bl7Aos0/TqMPD5ShhzI/AAAAAAAAAy8/lumudRAM23k/s1600/salihara%2Bbertiga.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666389315754755890" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 212px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-NI51Bl7Aos0/TqMPD5ShhzI/AAAAAAAAAy8/lumudRAM23k/s320/salihara%2Bbertiga.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-spGqSoCacSo/TqMPDl1n4MI/AAAAAAAAAy0/q275gOW7wlk/s1600/salihara%2Badit-devi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666389310533263554" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-spGqSoCacSo/TqMPDl1n4MI/AAAAAAAAAy0/q275gOW7wlk/s320/salihara%2Badit-devi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Hak Cipta Foto: Dokumentasi Komunitas Salihara&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa media yang meliput konser kami, antara lain harian &lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2011/10/14/4377/Melaraskan-Sastra-Musik-dan-yang-Klasik"&gt;Suara Merdeka &lt;/a&gt;dan &lt;a href="http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/jakartas-biennial-bash-for-book-lovers/473237"&gt;Jakarta Globe&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-8427833734438953706?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/8427833734438953706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=8427833734438953706' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/8427833734438953706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/8427833734438953706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2011/10/salihara-resital-sastra-musik-dan-yang.html' title='Salihara: Resital &quot;Sastra, Musik, dan Yang Klasik&quot;'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-qM6L0xN0Jaw/TqMPEs5ygUI/AAAAAAAAAzc/M6C6MYCZlfs/s72-c/salihara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-1318729032896958718</id><published>2011-10-16T10:13:00.000-07:00</published><updated>2011-10-16T10:31:03.327-07:00</updated><title type='text'>Liszt berjumpa dengan Wagner di Kuala Lumpur</title><content type='html'>25 September 2011 yang lalu, Malaysia Philharmonic Orchestra mengadakan konser bertajuk “Liszt meets Wagner” di Petronas Philharmonic Hall. Sebuah rangkaian program yang menarik, menampilkan &lt;em&gt;overture&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;scenes&lt;/em&gt; dari beberapa opera karya Richard Wagner, ditambah sebuah &lt;em&gt;symphonic poem&lt;/em&gt; karya Franz Liszt berjudul “Les Preludes”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu adalah pertama kalinya saya menyaksikan sebuah Philharmonic Orchestra di Philharmonic Hall. Kesan pertama, orkestra kebanggaan Malaysia itu sebagian besar pemainnya (mungkin sekitar 90%) adalah orang asing. Hampir tidak ada nama Melayu di daftar pemain yang tercantum di buku program – rata-rata pemainnya bernama Eropa, Amerika, Jepang, dan Korea. Konduktornya sendiri adalah Claus Peter Flor, yang sebelumnya pernah memegang berbagai orkestra kelas dunia (baik sebagai konduktor tetap atau tamu), seperti London Symphony, Vienna Symphony, Royal Concertgebouw, hingga Rotterdam, Los Angeles, New York, dan Berlin Philhamonic Orchestra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color:#0066cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-xSHnxqNrCkw/TpsRX63VR6I/AAAAAAAAAyo/trFlI56csXE/s1600/dewan-filharmonik-petronas-01.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664140058984531874" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-xSHnxqNrCkw/TpsRX63VR6I/AAAAAAAAAyo/trFlI56csXE/s320/dewan-filharmonik-petronas-01.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Dewan Filharmonik Petronas &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sedikit janggal, apabila orkestra yang menyandang nama negara (apalagi sekelas &lt;em&gt;philharmonic&lt;/em&gt;) tetapi isinya sebagian besar adalah orang asing. Mungkin hal ini menandakan Malaysia yang sudah aktif di pasar bebas, sehingga siapapun (dan warga negara apapun) bisa turut berkarir di negara tersebut dan dianggap setara dengan penghidupan warga lokal (juga sebaliknya), atau memang itu adalah sebuah usaha dari pihak terkait untuk menjaga mutu permainan orkestra agar sesuai dengan standar yang “sudah diakui” (baca: standar negara Barat). Pada kenyataannya, secara garis besar permainan Malaysia Philharmonic Orchestra memang tidak mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-qA2iva8w5s0/TpsRXyEoECI/AAAAAAAAAyc/RQOgdUAeaKk/s1600/Tiket%2BMPO%2BWagner.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664140056624369698" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 210px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-qA2iva8w5s0/TpsRXyEoECI/AAAAAAAAAyc/RQOgdUAeaKk/s320/Tiket%2BMPO%2BWagner.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dibuka dengan &lt;em&gt;overture&lt;/em&gt; dari opera “Rienzi” favorit Hitler, orkestra langsung membawa tema heroik dalam kewibawaan melodi yang lugas. Tempo yang dipilih sangat tepat dan akurat, dimana kalimat tetap dibentuk dengan kokoh. Begitu pula pada “Les Preludes” karya Liszt (dimana Liszt adalah menantu Wagner – oleh karena itu program konsernya dinamakan “Liszt meets Wagner”) disajikan dengan warna dan dinamik yang terukur dengan baik. Penggarapan tema pastoral di awal hingga bagian klimaks yang megah tampak sangat solid, terutama pada bagian harpa yang gemilang, terjalin baik bersama &lt;em&gt;woodwinds section&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;Pada &lt;em&gt;scenes&lt;/em&gt; dari opera Götterdämmerung “Dawn &amp;amp; Siegfried’s Rhine Journey” semakin memperlihatkan roh dari orkestra. Wagner yang sangat progresif dalam komposisi orkestral, menggunakan tiga harpa untuk &lt;em&gt;scenes&lt;/em&gt; ini, yang dimainkan dengan sangat elok oleh tiga harpist orkestra (pada pertunjukan asli operanya, dibutuhkan enam harpa). &lt;em&gt;Scenes&lt;/em&gt; yang sangat terkenal dari opera Die Walküre “Ride of the Valkyries” menjadi pilihan yang tepat untuk menutup program konser. Sejak &lt;em&gt;trill&lt;/em&gt; pada pembuka, nuansa misterius sudah hadir, mengantar pada leitmotif tema The Valkyries yang dipandu oleh &lt;em&gt;brass section&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman yang sangat mengesankan ketika menonton Malaysia Philharmonic Orchestra, terlihat betul kesungguhan pemerintah Malaysia dalam menumbuhkan iklim berkesenian yang baik di negaranya. Mungkin ada yang berkilah bahwa Malaysia Phiharmonic Orchestra adalah proyek mercusuar negara, sebagai &lt;em&gt;façade&lt;/em&gt; Malaysia di mata Dunia Barat (dimana hal yang sama terjadi di China, Korea, dan Jepang), namun apapun itu – seandainya hal tersebut benar pun, Malaysia telah memperlihatkan sesuatu yang memang layak untuk dibanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terlepas dari peran sponsor yang mendanai aktivitas rutin orkestra (juga akomodasi bintang lima bagi para pemain orkestranya – termasuk tinggal di Hotel Traders/Shangri-La Kuala Lumpur), &lt;em&gt;supporting system&lt;/em&gt; dari pemerintah adalah nomor satu. Sehebat apapun musisi, apabila akses dari pemerintahnya dipersulit, rakyat tidak akan mendapat kesempatan untuk mendengarkan &lt;em&gt;artistry&lt;/em&gt; musisi yang bagus itu. Sosok pemimpin peduli seni seperti Bang Ali Sadikin (yang menjadi kompor didirikannya Taman Ismail Marzuki Jakarta) kini telah tiada. Yang ada adalah sosok pemimpin yang tidak bisa memimpin dan lebih senang bermimpi dalam lagu-lagu ciptaannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-1318729032896958718?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/1318729032896958718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=1318729032896958718' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1318729032896958718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1318729032896958718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2011/10/liszt-berjumpa-dengan-wagner-di-kuala.html' title='Liszt berjumpa dengan Wagner di Kuala Lumpur'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-xSHnxqNrCkw/TpsRX63VR6I/AAAAAAAAAyo/trFlI56csXE/s72-c/dewan-filharmonik-petronas-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-9201299876364700761</id><published>2011-10-09T12:57:00.000-07:00</published><updated>2011-10-16T10:32:08.140-07:00</updated><title type='text'>Tante Hermès vs Ibu Jilbab Suroboyoan</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Hari Minggu (25 September) yang lalu saya berkesempatan untuk menghadiri pementasan &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2011/10/liszt-berjumpa-dengan-wagner-di-kuala.html"&gt;konser Malaysia Philharmonic Orchestra bertajuk “Wagner meets Liszt” di Petronas Philharmonic Hall, Kuala Lumpur&lt;/a&gt;. Seperti kebiasaan umum ketika menonton suatu pergelaran musik klasik, para penonton diharuskan untuk mengenakan pakaian yang pantas, apalagi apabila pementasan konser tersebut diadakan dalam rangka Gala, dimana para tamu pria diharuskan mengenakan &lt;em&gt;dress code black-tie&lt;/em&gt;, dan tamu wanita mengenakan &lt;em&gt;evening gown&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-7-G_HIXAxGo/TpH95vtCcTI/AAAAAAAAAyU/_vgNMm6nhuw/s1600/dewan-filharmonik-petronas-01.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661585375081165106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-7-G_HIXAxGo/TpH95vtCcTI/AAAAAAAAAyU/_vgNMm6nhuw/s320/dewan-filharmonik-petronas-01.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Dewan Filharmonik Petronas&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Kebiasaan menghadiri konser dengan pakaian resmi sebenarnya sudah tidak menjadi kewajiban mutlak. Penonton dapat saja mengenakan setelan &lt;em&gt;smart-casual&lt;/em&gt;, asalkan rapi dan sopan. Saya ketika menonton opera di gedung prestisius Staatsoper Vienna, hanya mengenakan kaus, cardigan, dan jeans – meskipun nontonnya di balkon lantai lima dengan harga tiket mahasiswa. Lain ladang lain belalang, sepertinya Petronas Philharmonic Hall ingin meneruskan tradisi berpakaian aristokratik seperti yang diterapkan gedung-gedung pertunjukan elit satu abad yang lalu. Ini ditunjukkan dengan peringatan keras yang ditulis di situs pemesanan tiket dan juga tercetak di tiket, berlaku bagi seluruh penonton:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;Gala Concert: Long sleeved batik or lounge suit. All other performances: Smart Casual. Jeans, denim, shorts, collarless T-shirts/singlets, sneakers, slippers are NOT ALLOWED at anytime. If inappropriately dressed, ticket holders shall be denied admission and no refunds will be given.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Maka ketika saya memasuki lobi Petronas, seluruh tamu rata-rata berpakaian setelan jas lengkap dengan dasi, dan bagi yang perempuan mengenakan gaun panjang terbaik mereka, dengan rambut tertata rapi, perhiasan, serta tas dan sepatu berlabel desainer internasional. &lt;em&gt;They dress to kill&lt;/em&gt;. Saya sendiri di Indonesia beberapa kali menonton konser (yang menyertakan &lt;em&gt;dress code&lt;/em&gt;), dimana yang datang juga kurang-lebih mengenakan atribut yang sama, namun ketika sedang jeda konser dan mengobrol dengan &lt;em&gt;the ladies&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;the gentlemen&lt;/em&gt;, banyak diantara mereka yang tidak paham musik klasik, atau berusaha mencoba membuat orang terkesan, misalnya dengan pernyataan “Saya suka permainan pianonya (pianis yang sedang tampil, kebetulan pianis kelas dunia yang sudah konser di berbagai gedung konser terkemuka di seluruh dunia). Dia penuh perasaan sekali ya mainnya, seperti Richard Clayderman”. &lt;em&gt;Oh well&lt;/em&gt;...&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zQRuI1XZqH4/TpH95V6l3nI/AAAAAAAAAyM/bv9MCCOuUPc/s1600/3522k35.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661585368158690930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 257px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-zQRuI1XZqH4/TpH95V6l3nI/AAAAAAAAAyM/bv9MCCOuUPc/s320/3522k35.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Putri Kerajaan Monaco, Grace Kelly pada malam gala opera&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Kemudian di auditorium Petronas Philharmonic Hall itu saya duduk di sebelah seorang ibu sepuh, mungkin usianya sekitar 60 tahun, dengan pakaian rapi namun sangat sederhana – sangat kontras dengan pakaian penonton ibu-ibu lain yang glamor. Beliau hanya mengenakan setelan batik dengan motif cetak – sudah kusam, nyaris tanpa &lt;em&gt;make-up&lt;/em&gt;, dan kepalanya berbalut kerudung dengan warna yang agak pudar – kebetulan dari seluruh penonton yang ada dalam auditorium, hanya beliau yang mengenakan kerudung. Beberapa menit setelah saya duduk, ibu tersebut menyapa saya ramah dengan logat Jawa yang sangat kental, “Mas iki wong Indonesia ya?”. Saya jawab iya sambil tersenyum. Rupanya ibu tersebut berasal dari Surabaya yang sedang menengok anaknya yang bekerja di Petronas. Setelah sedikit mengobrol basa-basi, saya yang penasaran bertanya.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saya:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Ibu suka nonton konser musik klasik?&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ibu:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Oh iya, aku suka banget. Tapi kan kita nggak boleh nonton sembarangan ya. Aku cuma nonton yang bagus-bagus saja. Di rumahku banyak piringan hitam, kaset, sampai CD musik klasik. Aku suka sekali.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saya:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Maksudnya Ibu tidak boleh sembarang itu bagaimana ya?&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ibu:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Iya, misalnya seperti kita dengerken Verdi “Aida”, itu harus yang nyanyinya Leontyne Price atau Maria Callas. Saya dengerken Wagner sing siklus “Der Ring” kuwi, iku biasanya saya dengerken Birgit Nilsson atau yang konduktornya Pierre Boulez. Sing konduktornya James Levine produksi Metropolitan juga apik.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saya:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Hah?! (Kaget)&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ibu:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Lha iya mas, sing jenenge musik klasik, teksnya yo sami mawon, tapi sing bikin beda iku penghayatan artisnya. Makanya aku penasaran karo konser iki. Aku ingin dengar Wagner secara live. Aku iki pecinta Wagner loh.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saya:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Oh! (Berusaha terlihat tidak kaget)&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ibu:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Aku iki juga suka karo Richard Strauss. Lagu-lagu orkestra dia hebat-hebat, seperti “Also Spracht Zarathustra”. Sing opera-ne “Elektra” juga aku suka. Musiknya mirip karo Wagner. Sing Strauss kuwi, dhe'e falsafahnya apik, ono Nietzsche, Schopenhauer. Aku baca juga buku-bukune.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Saya:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (Dalam rasa takjub) Oh, Richard Strauss itu memang pengikut alirannya Wagner, Bu.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ibu:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Lha iya. Mirip toh musiknya.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Kemudian lampu auditorium diredupkan, mengakhiri percakapan saya dengan si Ibu. Beliau menutup pembicaraan dengan “Eh iki lampune wis peteng. Yo wes, ta’ nonton sik konserne,”. Dan saya pun menonton konser tersebut dengan perasaan takjub seakan tak percaya. Pelajaran yang saya ambil dari kejadian tersebut: Bagaimanapun, jangan menilai buku dari covernya. Bukunya harus dibaca dulu dengan seksama, baru kita bisa memahami isinya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nhzp6rs8d5g/TpH95ZooFpI/AAAAAAAAAyE/wVMH7NaCQek/s1600/elizabeth%2Btaylor%2Bopera%2B2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661585369157080722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 199px; CURSOR: hand; HEIGHT: 225px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-nhzp6rs8d5g/TpH95ZooFpI/AAAAAAAAAyE/wVMH7NaCQek/s320/elizabeth%2Btaylor%2Bopera%2B2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Maria Callas dan Elizabeth Taylor pada malam gala opera&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-9201299876364700761?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/9201299876364700761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=9201299876364700761' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/9201299876364700761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/9201299876364700761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2011/10/tante-hermes-vs-ibu-jilbab-suroboyoan.html' title='Tante Hermès vs Ibu Jilbab Suroboyoan'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-7-G_HIXAxGo/TpH95vtCcTI/AAAAAAAAAyU/_vgNMm6nhuw/s72-c/dewan-filharmonik-petronas-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-2879915925266521664</id><published>2011-07-20T12:14:00.000-07:00</published><updated>2011-07-20T13:51:50.019-07:00</updated><title type='text'>Resital Piano Masataka Goto</title><content type='html'>Selasa, 12 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, dimana setelah sehari sebelumnya mengadakan &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2011/07/masterclass-piano-masataka-goto.html"&gt;masterclass di sekolah musik kami&lt;/a&gt;, pianis &lt;strong&gt;Masataka Goto&lt;/strong&gt; (pemenang &lt;em&gt;&lt;strong&gt;The First Prize of the 9th International Franz Liszt Piano Competition&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;) hari ini mengadakan resital tunggal di Erasmus Huis Jakarta. Auditorium penuh sesak, bahkan penonton yang datang terlambat pun dipersilakan untuk pulang, mengingat bahwa kebijakan Erasmus saat ini: Auditorium tidak boleh diisi melebihi kapasitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Goto-san membawakan: Beethoven Sonata op 109, Chopin Ballade no 3, Liszt Hungarian Rhapsody no 13, Liszt “Tre sonetti del Petrarca”, dan Liszt/Bellini “Réminiscences de Norma”. Secara keseluruhan, beberapa hal yang saya catat adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konsep yang jelas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari semua karya yang ia bawakan, konsep serta formatnya sangat jelas dan transparan, seakan-akan ia telah membedah semua karya ke potongan-potongan yang lebih kecil, dan menyatukannya dalam sebuah mahakonsep yang utuh. Jangan tanya mengenai format sonata klasik yang solid seperti Beethoven, bahkan dalam Liszt “Tre sonetti del Petrarca” yang bersifat deskriptif-imajinatif, dibangun dalam sebuah kesatuan. Adalah sulit untuk memahami bangunan Liszt “Petrarca” karena pianis harus memahami benar puisi karya Petrarca, pun karya tersebut diciptakan Liszt sebagai &lt;em&gt;lieder&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;art songs&lt;/em&gt;). Usaha Goto-san untuk membawa suatu puisi yang menyanyi melalui dentingan piano – dan diselipkan figurasi-figurasi virtuoso Lisztian – tetap dapat menghadirkan sosok "penyanyi" yang paham benar akan derita cinta dan kegalauan Petrarca terhadap Laura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-BCpY8_PYFNU/Ticv43u0zoI/AAAAAAAAAx8/iVd-G2c6VvE/s1600/DSC05756.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631522513129623170" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-BCpY8_PYFNU/Ticv43u0zoI/AAAAAAAAAx8/iVd-G2c6VvE/s320/DSC05756.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berlebihan, saat Goto-san membawakan karya Liszt/Bellini “Réminiscences de Norma” yang sangat virtuoso dan dramatik, saya pribadi seolah-olah dapat membayangkan sosok Maria Callas di atas panggung, lengkap dengan regalia seorang &lt;em&gt;Druid priestess&lt;/em&gt;, sejak awal Goto-san membunyikan panji-panji &lt;em&gt;introduction&lt;/em&gt; yang megah dan mencengangkan. Pun keahlian Goto-san dalam membangun suatu arsitektur tema yang kokoh, terlihat saat bagian &lt;em&gt;Finale&lt;/em&gt;, dimana tangan kanan dan kiri sama-sama memainkan figurasi cadenza Lisztian di seluruh range keyboard piano, namun melodi “Norma” yang lantang tetap berjalan gagah perkasa di bagian tengah. Semua dimainkan secara jelas, bersih, terukur, namun tetap spontan dan &lt;em&gt;breathtaking&lt;/em&gt;. Istimewa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Presisi yang nyaris sempurna&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kejutan selanjutnya yang dihadirkan oleh Goto-san adalah presisi dan artikulasi not yang nyaris tanpa cela. Pada Liszt “Hungarian Rhapsody no 13”, semua artikulasi figurasi cadenza yang rumit dapat dimainkan dengan jernih dan jelas, tanpa ada satu not pun yang terdengar keruh. Semua figurasi dimainkan dengan persiapan sangat matang, persis dengan gaya &lt;em&gt;capriccioso&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;rubato&lt;/em&gt; nyanyian ratapan (&lt;em&gt;lament&lt;/em&gt;) kaum gypsy. Pada bagian dua Rhapsody yang bergaya tarian Verbunkos, semua ketepatan nada dan virtuositas menyatu dalam spontanitas alami. Jangan tanya akan kelincahan jemari Goto-san saat memainkan not repetisi dalam tempo ultra-cepat, yang membuat para penonton menggelengkan kepala seakan tak percaya. Apalagi mengingat tuts piano Erasmus yang lumayan berat dan sulit dikontrol, semua bukan tantangan bagi “Sang Samurai yang membela kehormatan musik” tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tone color&lt;/em&gt; yang hangat namun perkasa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan Goto-san yang lain adalah &lt;em&gt;power&lt;/em&gt;-nya yang luar biasa. Ibarat Daud dan Goliath, perawakannya yang kecil ternyata mampu mengalahkan “sang raksasa” berupa piano Yamaha Grand S-6 Erasmus Huis yang terkenal sangat sulit untuk dikuasai. Sebagai catatan, pengalaman selama ini membuktikan bahwa &lt;em&gt;range&lt;/em&gt; &lt;em&gt;treble&lt;/em&gt; piano Erasmus sangat “kering”, sementara &lt;em&gt;range bass&lt;/em&gt; kurang “subur” (ada istilah lain yang lebih tepat selain “subur”?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu semua berubah. Di jemari baja Goto-san, piano seolah-olah bermetamorfosis menjadi sebuah orkestra besar yang memenuhi seluruh rongga auditorium Erasmus Huis. Meskipun demikian, &lt;em&gt;tone&lt;/em&gt; yang dihasilkan Goto-san tetaplah bulat dan tidak kasar (&lt;em&gt;banging&lt;/em&gt;): semua terukur dengan baik dan teliti. Kelebihan itulah yang mungkin membuat Goto-san berbeda dengan pianis pada umumnya. Tubuh yang kecil dan keterbatasan ukuran lengan cenderung membuat pianis mengeluarkan &lt;em&gt;effort&lt;/em&gt; berlebih untuk menghasilkan &lt;em&gt;tone&lt;/em&gt; yang besar, namun di tangan Goto-san semua &lt;em&gt;tone projection&lt;/em&gt; dapat terproyeksikan dengan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-gsbmkblX1RE/Ticv4n6gjFI/AAAAAAAAAx0/hkzvryJNh2k/s1600/DSC05761a.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631522508883659858" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-gsbmkblX1RE/Ticv4n6gjFI/AAAAAAAAAx0/hkzvryJNh2k/s320/DSC05761a.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai penutup dari rangkaian program malam itu, Goto-san memberikan &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt; yang luar biasa, berupa Liszt "La Campanella". Suatu pilihan &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt; yang agak berat, mengacu pada pernyataan – saya lupa, pokoknya antara Jorge Bolet atau Claudio Arrau – yang mengatakan bahwa setelah suatu program yang berat, sebaiknya pilihan &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt; hendaklah yang ringan, seperti Moszkowki “Etincelles” atau “La Jongleuse” karena diibaratkan: setelah jamuan makan malam yang berat, tentu para tamu akan senang disuguhi es bonbon, cokelat, atau &lt;em&gt;mint cream&lt;/em&gt;, daripada disuguhi &lt;em&gt;roast beef&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;steak&lt;/em&gt;. Apapun itu, "La Campanella" yang dimainkan oleh Goto-san menurut saya adalah pilihan yang tepat, untuk menjaga &lt;em&gt;tension&lt;/em&gt; keterpukauan penonton terhadap permainannya yang brilian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesan yang begitu mendalam akan penampilan Masataka Goto pada malam itu tetap membekas dalam benak saya hingga tulisan ini dibuat – seminggu setelahnya. Tidaklah berlebihan apabila saya katakan bahwa resital piano tunggal Goto-san malam itu merupakan salah satu konser terbaik yang pernah saya saksikan selama ini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-pC0NJLE_zKo/Ticv4cjv7tI/AAAAAAAAAxs/P93FSHsGIDU/s1600/DSC05951.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631522505835409106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-pC0NJLE_zKo/Ticv4cjv7tI/AAAAAAAAAxs/P93FSHsGIDU/s320/DSC05951.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-2879915925266521664?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/2879915925266521664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=2879915925266521664' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2879915925266521664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2879915925266521664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2011/07/resital-piano-masataka-goto.html' title='Resital Piano Masataka Goto'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-BCpY8_PYFNU/Ticv43u0zoI/AAAAAAAAAx8/iVd-G2c6VvE/s72-c/DSC05756.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-880288871763882146</id><published>2011-07-20T11:00:00.000-07:00</published><updated>2011-07-20T12:13:36.050-07:00</updated><title type='text'>Masterclass Piano Masataka Goto</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Senin, 11 Juli 2011&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Sekolah musik kami mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah masterclass piano &lt;strong&gt;Masataka Goto&lt;/strong&gt;, pemenang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;The First Prize of the 9th International Franz Liszt Piano Competition&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, yang diadakan di Utrecht pada April 2011. Siang itu sang pianis datang ke sekolah musik kami didampingi oleh Mr Quinten Peelen (Direktur Franz Liszt Competition) dan Mr Bob Wardhana (perwakilan dari Erasmus Huis Jakarta).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Pada kesempatan kali ini, ada lima pianis muda berbakat yang telah terpilih sebagai peserta aktif masterclass, antara lain mereka membawakan Chopin Etude op 25 no 12 “Ocean”, Rachmaninoff Etude Tableau op 39 no 1, Liszt Etude “Un Sospiro”, Liszt Etude “Gnomenreigen”, dan Liszt “Les jeux d’eau a la Villa d’Este”.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Uk9tGC3ypr8/TicfrYE5pfI/AAAAAAAAAxk/x9Y6mkqmZ4I/s1600/DSC05727.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631504689107936754" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-Uk9tGC3ypr8/TicfrYE5pfI/AAAAAAAAAxk/x9Y6mkqmZ4I/s320/DSC05727.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Bersama Masataka Goto dan Quinten Peelen&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Hal yang menarik pada kunjungan Masataka Goto ini terletak pada kesederhanaan dan antusiasmenya, yang terlihat sejak pertama kali datang dan turun dari mobil. Saya dan Ibu Dyah Nurul Maliki (salah satu guru sekolah musik kami yang ditugaskan untuk jadi MC merangkap translator bahasa Jepang-Indonesia) menyambut kedatangan sang pianis di ruang tunggu artis, yang ternyata langsung meminta kami untuk menyediakan partitur lagu-lagu yang akan dibawakan saat masterclass. Dengan seksama, Goto-san mempelajari partitur tersebut sambil sesekali memberikan tanda. Sedikit gugup, Goto-san (yang ternyata cukup fasih berbahasa Inggris) mengaku pada kami bahwa hari itu adalah pertama kalinya ia memberikan masterclass, dimana beberapa lagu yang akan dibawakan belum pernah dimainkannya. Seperti Liszt “Gnomenreigen” dan “Villa d’Este”, ia pernah memainkannya tapi sudah lama sekali tidak dilatih. Kami sempat menawarkannya untuk mencoba lagu-lagu tersebut pada piano upright yang kebetulan ada di ruangan, namun ia menolak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-QK4cUf5XB8I/Ticfq1rVsLI/AAAAAAAAAxc/OFmvggcv0l8/s1600/DSC05728.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631504679873917106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-QK4cUf5XB8I/Ticfq1rVsLI/AAAAAAAAAxc/OFmvggcv0l8/s320/DSC05728.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt; Masataka Goto sedikit melatih lagu yang di-masterclass-kan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Saat masterclass dimulai, terlihat bahwa Goto-san menekankan permainan pada &lt;em&gt;phrasing&lt;/em&gt; dan bagaimana membuat &lt;em&gt;shape&lt;/em&gt; kalimat yang baik. Misalnya pada Chopin “Ocean”, ia mengingatkan bahwa ketukan not 1/16 haruslah tetap dijaga (kendati di dalam hati) karena ada kecenderungan bahwa para pianis memainkannya dengan aksen-aksen yang berlebihan sehingga mengganggu alur kalimat. Selain itu, permainan dinamik harus benar-benar direncanakan sejak awal. Konsep permainan harus jelas, dimana pianis harus bisa membedakan &lt;em&gt;tone color&lt;/em&gt; dari tema yang sama (namun berulang, seperti dalam Liszt “Un Sospiro”) sehingga dapat menghasilkan impresi yang berbeda. Ia juga sempat meminta peserta untuk memainkan bagian tangan kiri dan kanan sendiri, terutama di bagian dimana melodi berada di tangan kiri, seperti pada Rachmaninoff Etude Tableau op 39 no 1. Pun pada Liszt “Gnomenreigen”, Goto-san meminta agar pada bagian dimana tangan kiri-kanan-saling-bergantian dalam tempo cepat, untuk dimainkan semulus mungkin: &lt;em&gt;Flowing&lt;/em&gt;. Pada Liszt “Villa d’Este”, penggarapan dinamik sangatlah penting hingga pianis bisa mencapai klimaks. Penekanan pada melodi di tangan kiri sangatlah penting, juga pada penggarapan &lt;em&gt;tone color&lt;/em&gt; yang sangat &lt;em&gt;subtle&lt;/em&gt; sehingga pada bagian akhir dapat terdengar seperti doa.&lt;/p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-80PwV2m-71Y/TicfquNBZtI/AAAAAAAAAxU/tdSrQeUAeY4/s1600/DSC05732.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631504677867710162" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-80PwV2m-71Y/TicfquNBZtI/AAAAAAAAAxU/tdSrQeUAeY4/s320/DSC05732.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Sedikit grogi, hari itu adalah untuk pertama kalinya ia memberi masterclass&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Antusiasme Goto-san terhadap karya-karya dibawakan sangatlah tinggi. Saat jeda berlangsung, Goto-san buru-buru lari ke ruang artis untuk berlatih dengan piano upright yang ada disana. Pertama, ia memainkan Liszt “Gnomenreigen” dengan tempo cepat, tapi salah-salah dan tersendat. Kemudian ia mencobanya dengan tempo yang lebih lambat, tapi tetap canggung, hingga akhirnya ia gemas sendiri dan tertawa-tawa. Karena ia gugup sekali, kami mencoba untuk membuatnya rileks “&lt;em&gt;Just take your time. Don’t worry&lt;/em&gt;,”. Kemudian ia ganti mencoba bagian &lt;em&gt;introduction&lt;/em&gt; Liszt “Villa d’Este" hingga beberapa kali.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Ibu Iravati Sudiarso yang saat itu berada disana, mengatakan “Dedikasinya (Goto) terhadap musik besar sekali. Ia tidak mau melewatkan sedikit momen pun. Ia benar-benar ingin memberikan yang terbaik bagi para peserta masterclass”. Pribadi Goto-san yang ramah dan hangat juga membuat suasana yang tegang menjadi menyenangkan. Mr Quinten menjelaskan pada kami bahwa jadwal Goto-san di Indonesia sangat padat. Selain resital tunggal di Erasmus Huis pada keesokan hari (Selasa), ia juga akan tampil di Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta berturut-turut. “Indonesia selalu menjadi prioritas utama dalam jadwal tur keliling dunia artis kami,” katanya. “Indonesia adalah negara pertama Goto melakukan tur, setelah ini ia akan tampil selama berturut-turut di Jepang, Belanda, New York, dan Polandia,” lanjutnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-hN9VJkI53wE/TicfqLQzTAI/AAAAAAAAAxM/hgPY4WApQZ8/s1600/DSC05741.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631504668488322050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-hN9VJkI53wE/TicfqLQzTAI/AAAAAAAAAxM/hgPY4WApQZ8/s320/DSC05741.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Masataka Goto dan Stephen Setiawan, salah satu peserta masterclass&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selama memberikan masterclass pun, Goto-san memperagakan contoh di piano. Perawakannya kecil, namun tangannya kuat dan tebal. Tone color yang dihasilkannya besar, namun tidak kasar. Pada sesi tanya-jawab, ada peserta yang bertanya “&lt;em&gt;Mr Goto, you have tiny hands, but your playing was so powerful with those big chords, without any mistakes&lt;/em&gt;,”. Goto-san menjawab “&lt;em&gt;&lt;strong&gt;The secret is: Always practice slowly, without pedal&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;”. Saya melihat ekspresi wajah Ibu Iravati yang mengangguk-angguk senang – mengingat saat saya masih belajar piano bersama beliau, hal yang selalu ditekankan oleh Ibu Ira adalah “Latihan lambat, jangan pakai pedal!”. Wow!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-880288871763882146?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/880288871763882146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=880288871763882146' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/880288871763882146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/880288871763882146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2011/07/masterclass-piano-masataka-goto.html' title='Masterclass Piano Masataka Goto'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Uk9tGC3ypr8/TicfrYE5pfI/AAAAAAAAAxk/x9Y6mkqmZ4I/s72-c/DSC05727.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-7848569065549472469</id><published>2010-12-12T10:28:00.000-08:00</published><updated>2010-12-12T11:09:35.770-08:00</updated><title type='text'>25 Tahun Aning Katamsi Berkarya</title><content type='html'>Berangkat dari sebuah tradisi adiluhung, kiprah soprano Aning Katamsi selama 25 tahun berkarya di bidang vokal klasik merupakan suatu pencapaian yang luar biasa. Dimulai sejak memenangkan Kompetisi Bintang Radio, karir Aning Katamsi sebagai salah satu soprano terbaik di Tanah Air mengalami berbagai proses yang semakin memperdalam penghayatan dan visinya terhadap makna berkesenian dan bagaimana seni dilestarikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soprano Maria Callas dalam pidato penutupan seri &lt;em&gt;masterclass&lt;/em&gt;-nya di Juilliard, mengatakan “&lt;em&gt;Don’t think singing is an easy career. It’s a lifetime work: it doesn’t stop here. As future colleagues, you must carry on. Fight bad tradition: Remember, we are servants to those better than us – the composers. They believed, we must believe. Of course, by helping the composer we help ourselves. But this takes courage – the courage to say no to easy applause, to fireworks for their own sake. You must know what you want to do in life. You must decide, for we can’t do everything&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya semangat yang sama sudah dilakukan oleh Aning Katamsi selama 25 tahun ini. Tanpa meninggalkan identitasnya sebagai penyanyi yang berangkat dari suatu tradisi, Aning dengan konsisten membawa jatidirinya untuk berkesenian dengan berbagai musisi, mulai dari musisi klasik hingga rock. Pemahamannya akan etos kerja musisi, dedikasi, dan pendekatan artistik terhadap musik seni yang digelutinya selama ini berangkat dari ibundanya tercinta, almarhumah Pranawengrum Katamsi – yang merupakan legenda musik seriosa Indonesia, juga berkat didikan guru-guru musik terbaik: pianis Iravati Sudiarso dan penyanyi opera Catharina Leimena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aning yang bersahaja namun anggun dan elegan, selalu mendahulukan kepentingan teks atas interpretasi. Ia telah menafsirkan ratusan karya komposer-komposer kelas dunia dengan cermat dan pemahaman yang mendalam. Dalam interpretasinya, selalu ada alasan artistik: Mengapa not ini dinyanyikan demikian, mengapa kalimat itu harus disambung, mengapa komposer ini meminta penyanyinya untuk menyanyi dalam gaya tertentu – semua merupakan proses pembelajaran yang seperti dikatakan oleh Callas: &lt;em&gt;A lifetime work&lt;/em&gt;. Kelebihan Aning dalam berekspresi dan merangkai kalimat dalam suatu legato yang luar biasa merupakan kelebihannya yang menonjol. Terima kasih kepada warna suaranya yang indah, yang oleh kritikus musik Ninok Leksono dipuji: mengingatkan kita akan suara emas Renata Tebaldi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TQUYr1UdYxI/AAAAAAAAAjI/zZ0SbP1oP1w/s1600/DSC03382.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549869257130337042" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TQUYr1UdYxI/AAAAAAAAAjI/zZ0SbP1oP1w/s320/DSC03382.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TQUYrk0CnWI/AAAAAAAAAjA/voZbD2Tawjw/s1600/DSC03379.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5549869252699397474" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TQUYrk0CnWI/AAAAAAAAAjA/voZbD2Tawjw/s320/DSC03379.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konser 25 tahun berkarya yang diadakan di Usmar Ismail Hall pada 27 Oktober yang lalu, Aning memang sedang tidak dalam kondisinya yang prima. Namun hal tersebut tidak menutupi interpretasi luar biasa terhadap &lt;em&gt;lieder&lt;/em&gt; dan aria opera favoritnya yang dibawakan dengan iringan piano oleh pianis Levi Gunardi. Sesuai dengan tema konsernya, yaitu &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2010/11/sekelumit-tentang-seriosa-indonesia.html"&gt;“Benang Merah Cinta”&lt;/a&gt;, Aning telah membuktikan kecintaannya terhadap seni yang selama ini dilakoninya, terhadap komitmen, juga terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya. Seperti dalam &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt;-nya yang terakhir, sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Barbra Streisand, “&lt;em&gt;People who need people, are the luckiest people in the world&lt;/em&gt;,” telah membuktikan bahwa seorang Aning merupakan diva bagi setiap insan. Energi cinta yang menjadi dasar Aning untuk berkarya, ia curahkan dengan penuh haru dalam suatu malam yang sarat akan kenangan, dimana setiap orang pulang dengan senyum dan sekuntum bunga.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Viva Aning Katamsi !&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-7848569065549472469?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/7848569065549472469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=7848569065549472469' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7848569065549472469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7848569065549472469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/12/25-tahun-aning-katamsi-berkarya.html' title='25 Tahun Aning Katamsi Berkarya'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TQUYr1UdYxI/AAAAAAAAAjI/zZ0SbP1oP1w/s72-c/DSC03382.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-5416829050020980422</id><published>2010-11-13T11:46:00.000-08:00</published><updated>2010-11-13T12:05:19.959-08:00</updated><title type='text'>Sekelumit Tentang Seriosa Indonesia</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;MENINJAU PERJALANAN SERIOSA DI INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: Aditya Setiadi (Pengajar Apresiasi Musik, Universitas Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninjau ulang keberadaan musik seriosa di Indonesia merupakan suatu hal yang unik, dimana pengistilahan jenis musik tersebut nampaknya hanya ada di bumi pertiwi tercinta ini. Sebagai suatu jenis musik yang dianggap serius dan memiliki prestise tersendiri, genre “seriosa” mulai dikumandangkan oleh Amir Pasaribu pada saat blantika musik Indonesia sedang menggandrungi kompetisi Bintang Radio dan Televisi, dimulai sejak enam puluh tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritikus musik &lt;strong&gt;Suka Hardjana&lt;/strong&gt; sempat mengemukakan bahwa Musik Seriosa dalam Bintang Radio sesungguhnya merupakan bagian dari suatu seni olah suara (menyanyi) dengan teknik tertentu – diiringi piano atau orkes – dalam membawakan lagu-lagu pendek berbentuk format Art Songs (Jerman: Lieder) yang memiliki 3 frase sederhana: awal, sisipan, dan ulangan. Pemilihan istilah “seriosa” antara lain berasal dari pemilahan khazanah musik musik di Amerika dan Eropa setelah Perang Dunia II berakhir. Orang Amerika – berdasarkan peraturan hukum yang berlaku, melakukan dikotomi antara &lt;em&gt;Serious Music&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Entertainment Music&lt;/em&gt;. Orang Jerman mengistilahkannya, &lt;em&gt;Unterhaltungmusik&lt;/em&gt; (musik hiburan) dan &lt;em&gt;Ernstmusik&lt;/em&gt; (musik serius).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku “Esai dan Kritik Musik” Suka Hardjana menjelaskan bahwa pada tahun 1950, beberapa kaum pejuang yang terpelajar dan mendapat pendidikan apresiasi musik di sekolah-sekolah Belanda sering terlibat dalam pergaulan musik di RRI. Mereka antara lain Amir Pasaribu, Cornell Simandjoentak, Binsar Sitompoel, Sjaiful Bachri, Ismail Marzuki, RAJ Soedjasmin, Koesbini, kemudian dilanjutkan generasi yang lebih muda seperti Iskandar, Isbandi, Mochtar dan Syafi’i Embut, Soedharnoto, Soebronto K Atmodjo, Harry Mulyono, FX Soetopo, dan Trisutji Kamal. Mereka adalah kontributor utama kompetisi Bintang Radio. Lagu-lagu ciptaan mereka menjadi standar pertama seleksi Bintang Radio baik tingkat daerah maupun nasional. Karya cipta mereka terinspirasi dari romantisme keindonesiaan dan adaptasi bentuk Art Songs musik klasik Barat, yang telah menghasilkan sederetan nama besar di dunia tarik suara klasik Indonesia, seperti Norma Sanger, Rose Pandanwangi, Ade Ticoalu, Surti Suwandi, juga maestro Pranajaya dan Ibu Seriosa Indonesia: Pranawengrum Katamsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah seriosa juga berkaitan erat dengan kiprah maestra Catharina Wiriadinata-Leimena, penyanyi opera lulusan konservatorium musik Milan yang menjadi salah satu legenda dari terpeliharanya tradisi berkesenian vokal klasik di Indonesia. Kendati kariernya tidak melalui Bintang Radio dan memiliki pakem yang berbeda, namun para penyanyi didikannya turut membangun fondasi yang kuat dari tradisi adiluhung tersebut, termasuk dalam melestarikan karya vokal seriosa yang kini makin langka peminatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soprano Aning Katamsi besar dalam dua tradisi tersebut. Ibunda tercintanya – almarhumah Pranawengrum Katamsi, merupakan legenda seriosa Indonesia. Sementara itu, ia tumbuh besar dalam didikan vokal seorang Catharina Leimena. Sebagai bagian dari sejarah, Aning memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat untuk terus melestarikan tradisi vokal klasik yang telah dirawat selama ini. Paling tidak, ia selalu berusaha untuk menyisipkan karya Tembang Puitik Indonesia dalam program konsernya, selain telah menerbitkan buku “Klasik Indonesia” yang memuat karya-karya vokal berestetika tinggi karangan Binsar Sitompoel, FX Soetopo, dan Mochtar Embut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari sebuah wacana, ada baiknya jika saat ini istilah “seriosa” ditinjau ulang, baik dari segi fungsi maupun estetika. Pengategorian genre musik “serius” nampaknya terlalu banal untuk dipahami sebagai sebuah pemaknaan terhadap proses berkesenian yang berlangsung terus-menerus. Filsuf &lt;strong&gt;Theodor Adorno&lt;/strong&gt; menyatakan bahwa musik yang ingin mendapatkan haknya untuk tetap ada (eksis), harus memiliki ciri pengetahuan (&lt;em&gt;character knowledge&lt;/em&gt;). Musik secara murni terus mengungkapkan permasalahan yang ada dalam materinya, dimana materi tersebut tidak bersifat alami, namun merupakan hasil dari perjalanan sosio-historis. Demi kelangsungan musik-seni vokal tersebut, nampaknya kini istilah “Tembang Puitik” terasa lebih estetik untuk menggantikan istilah “seriosa”. Di dalamnya ada identitas musik seni yang lekat dengan ciri khas keindonesiaan dan fungsi edukasi yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;* * *&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan yang merupakan gabungan dari berbagai artikel ini diterbitkan dalam Buku Program Konser "Benang Merah Cinta" (25 Tahun Aning Katamsi Berkarya), 27 Oktober 2010 di Usmar Ismail Hall.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TN7sdGO-NqI/AAAAAAAAAi4/L3KFyk6xhGU/s1600/DSC03384.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539124576346060450" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TN7sdGO-NqI/AAAAAAAAAi4/L3KFyk6xhGU/s320/DSC03384.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Bersama soprano Aning Katamsi, setelah konser 25 tahun berkarya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-5416829050020980422?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/5416829050020980422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=5416829050020980422' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/5416829050020980422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/5416829050020980422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/11/sekelumit-tentang-seriosa-indonesia.html' title='Sekelumit Tentang Seriosa Indonesia'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TN7sdGO-NqI/AAAAAAAAAi4/L3KFyk6xhGU/s72-c/DSC03384.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-3074011446480506349</id><published>2010-11-11T06:16:00.000-08:00</published><updated>2010-11-11T11:49:36.541-08:00</updated><title type='text'>Vienna: Haus der Musik</title><content type='html'>Selama berkunjung ke Vienna, saya sempat mampir ke &lt;strong&gt;Haus der Musik&lt;/strong&gt; (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;House of Music&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;), sebuah museum musik interaktif yang dilengkapi dengan peralatan multimedia &lt;em&gt;hi-tech&lt;/em&gt; dan bertujuan untuk memperkenalkan dunia musik – sejak manusia mengenal alat musik hingga penggunaannya hingga saat ini. Museum ini merupakan kerjasama dari banyak pihak, antara lain empat universitas di Austria, dua institut asing, satu tim musisi dan ahli teori musik terpilih, seniman, teknisi suara, arsitek, serta orang-orang yang memang berkiprah di bidang musik. Pada tahun 2002, museum ini sempat dianugerahi “&lt;em&gt;Austrian Museum Prize&lt;/em&gt;” atas konsepnya yang inovatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;House of Music ini berlokasi di “&lt;em&gt;Palais of Archduke Charles&lt;/em&gt;”, dimana &lt;strong&gt;Otto Nicolai&lt;/strong&gt; (pendiri &lt;strong&gt;Vienna Philharmonic Orchestra&lt;/strong&gt;) menempatinya 150 tahun yang lalu. Saat ini, jabatan Honorary President museum dipegang oleh konduktor &lt;strong&gt;Zubin Mehta&lt;/strong&gt;. Adapun beberapa wahana yang menarik antara lain adalah simulasi konduktor, dimana kita bisa seolah-olah menjadi konduktor dan mengaba Vienna Philharmonic Orchestra dengan beberapa pilihan lagu, seperti Waltz Blue Danube karya Johann Strauss atau Hungarian Dance karya Johannes Brahms. Pada tongkat baton-nya terdapat sensor, sehingga musik dan videonya mengikuti aba-aba dari gerakan tangan kita. Kemudian ada ruangan “rahim” yang jika kita masuk ke dalamnya, maka akan terdengar suara-suara yang persis seperti yang didengarkan oleh janin bayi ketika masih berada dalam kandungan ibunya. Sangat unik, di dalam ruang tersebut suara-suara terdengar seperti gelombang-gelombang sonar dalam frekuensi yang asing – suasana yang saya tangkap, seperti bernuansa suara alien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain simulasi dan wahana yang menarik, museum ini juga memamerkan memorabilia dari komposer-komposer penting, seperti kacamata Schubert, dompet Brahms, partitur-partitur tulisan tangan Mozart, Haydn, Beethoven, hingga barang-barang penting peninggalan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;The Second Viennese School&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, seperti Arnold Schoenberg, Alban Berg, dan Anton Webern. Turut dipamerkan pula alat-alat musik bersejarah yang dulu pernah digunakan oleh Beethoven dan Mozart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu memorabilia: Tongkat dirigen (baton) komposer dan konduktor penting abad ini ketika mereka menjadi konduktor Vienna Philharmonic Orchestra; seperti Richard Strauss, Arturo Toscanini, Hans Pfitzner, Wilhelm Furtwängler, Hans Knappertsbusch, Karl Böhm, Herbert von Karajan, dan Willi Boskovsky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwR7mdT-AI/AAAAAAAAAiw/efjgOhWajig/s1600/DSC03236.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538321357392312322" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwR7mdT-AI/AAAAAAAAAiw/efjgOhWajig/s320/DSC03236.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang pribadi Otto Nicolai, pendiri Vienna Philharmonic Orchestra, dilengkapi dengan patung lilin dirinya dan beberapa memorabilia seperti tulisan tangan, benda-benda pribadi, surat-surat, dan kursi yang masih terawat baik hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwR7KYRlbI/AAAAAAAAAio/k9C01-rNAlk/s1600/DSC03239.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538321349854991794" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwR7KYRlbI/AAAAAAAAAio/k9C01-rNAlk/s320/DSC03239.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ruang dengan perlengkapan futuristik. Pada lubang-lubang yang terdapat di dinding, kita dapat memasukkan kepala untuk mendengarkan suara-suara khas dari seluruh dunia, seperti: suara pasar di Turki ketika siang hari, suara gurun pasir di Maroko, suara pinggir pantai di Hawaii, suara keramaian kota New York, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwR67T-BkI/AAAAAAAAAig/OMxqEf5Nl0I/s1600/DSC03242.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538321345810400834" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwR67T-BkI/AAAAAAAAAig/OMxqEf5Nl0I/s320/DSC03242.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa memorabilia peninggalan komposer Johannes Brahms, termasuk diantaranya: kacamata, program konser, foto hitam-putih, kartu dengan tulisan tangannya, dompet, serta pena bulu angsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwOa8eW1pI/AAAAAAAAAiY/PuUklAgEcVQ/s1600/DSC03240.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538317497831708306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwOa8eW1pI/AAAAAAAAAiY/PuUklAgEcVQ/s320/DSC03240.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beberapa program konser semasa Herbert von Karajan menjadi konduktor Vienna Philharmonic Orchestra, termasuk konser terakhirnya sebelum ia meninggal.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwOZ7fnqLI/AAAAAAAAAiQ/RepgAdJlJjQ/s1600/DSC03241.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538317480388700338" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwOZ7fnqLI/AAAAAAAAAiQ/RepgAdJlJjQ/s320/DSC03241.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papan deret nada &lt;em&gt;dodecaphony&lt;/em&gt; (sistem komposisi 12 nada) yang digunakan oleh Arnold Schoenberg dalam operanya, "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Moses und Aron&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;". Benda ini merupakan pinjaman dari &lt;em&gt;Arnold Schoenberg Center Privatstiftung&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwOZpZX8SI/AAAAAAAAAiI/E981LIJWK3s/s1600/DSC03245.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538317475530666274" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwOZpZX8SI/AAAAAAAAAiI/E981LIJWK3s/s320/DSC03245.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partitur opera Mozart "&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Le nozze di Figaro&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;" yang dipenuhi oleh coretan tangan komposer/konduktor Gustav Mahler, ketika ia memimpin orkestra Vienna State Opera.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwOYlHKEZI/AAAAAAAAAiA/GiAj8kBbqh4/s1600/DSC03246.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538317457200648594" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwOYlHKEZI/AAAAAAAAAiA/GiAj8kBbqh4/s320/DSC03246.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gustav Mahler yang juga seorang matematikus handal, membuat banyak coretan mengenai rumus-rumus matematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwOYEQT7-I/AAAAAAAAAh4/kDW0GH4pv54/s1600/DSC03247.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538317448380674018" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwOYEQT7-I/AAAAAAAAAh4/kDW0GH4pv54/s320/DSC03247.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu lembaran sketsa tulisan tangan komponis Franz Schubert ketika mengarang karya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Deutsche Messe D 872&lt;/em&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwBZyqn5hI/AAAAAAAAAhw/j-E_iiKnJyM/s1600/DSC03250.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538303184367773202" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwBZyqn5hI/AAAAAAAAAhw/j-E_iiKnJyM/s320/DSC03250.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu piano Ludwig van Beethoven yang diproduksi oleh &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Broadwood&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; London. Piano ini merupakan salah satu perintis dari berkembangnya produksi piano berkualitas di era Klasik-Romantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwBZpFHdEI/AAAAAAAAAho/nwNgdzP884g/s1600/DSC03248.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538303181794538562" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwBZpFHdEI/AAAAAAAAAho/nwNgdzP884g/s320/DSC03248.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sisi Lain Kunjungan ke Vienna&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Selama berada di Vienna, saya dikenalkan dengan komposer muda berprestasi asal China yang bermukim di Vienna: &lt;strong&gt;Wen Liu&lt;/strong&gt;. Di usia yang masih muda, ia telah meraih banyak penghargaan atas karyanya yang bercirikan &lt;em&gt;avant-garde&lt;/em&gt;, antara lain &lt;em&gt;Award of Theodor-Körner Fonds for Composition&lt;/em&gt; yang diberikan oleh Presiden Austria, Dr Heinz Fischer.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sempat terbersit dalam benak saya adalah: &lt;em&gt;Jauh-jauh sekolah ke Eropa, malah bertemu orang Asia terus, bukannya bule&lt;/em&gt; – mengacu pada pengalaman &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2010/10/kuliah-musim-panas-di-hungaria-part-one.html"&gt;&lt;em&gt;Summer Course&lt;/em&gt; saya di Hungaria &lt;/a&gt;yang 80% pesertanya berasal dari China. Nampaknya China sedang menginvasi ranah seni klasik Barat dengan mengirimkan mahasiswa mereka yang berprestasi ke luar negeri. Mungkin ada yang memang pergi dengan biaya sendiri, namun pada &lt;em&gt;Summer Course&lt;/em&gt; saya di Hungaria itu, keseluruhan mahasiswa yang berasal dari Beijing Central Conservatory dibiayai penuh biaya perjalanannya oleh pemerintah mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya pun terkejut ketika di Hungaria mengobrol dengan seorang kawan saya – Chen Zhaojun (nama Inggrisnya: Barney), ia memaparkan bahwa ia tidak berkeinginan untuk sekolah di Beijing Central Conservatory. Ia ingin menjadi desainer, dan orangtuanya lah yang menyuruh dia untuk berkiprah sebagai musisi. Menurutnya, musisi klasik kini dipandang sebagai sebuah profesi yang cukup bersinar di China. Lantas kekagetan ini saya ceritakan pada Melissa Goh, seorang kawan yang berkebangsaan Malaysia. Menurut Melissa, cukup aneh jika di China (dimana kebijakan pemerintahnya yang mengharuskan satu keluarga hanya boleh punya satu anak) ada orangtua yang menyuruh anak laki-lakinya berprofesi sebagai musisi. Pada umumnya (Melissa membandingkannya dengan kultur Chinese-Malaysia) orangtua akan memasukkan anak laki-laki mereka ke sekolah bisnis atau sekolah teknik, yang tidak ada hubungannya dengan seni.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan saya, China nampaknya sedang giat mempromosikan kesenian klasik Barat pada masyarakatnya. Konsistensi pemerintah China dalam hal tersebut sedikit demi sedikit telah mengubah cara pandang dan nilai-nilai masyarakat akan seni. Pendidikan musik klasik yang dimulai sejak dini telah menghasilkan musisi kelas dunia, misalnya Beijing Central Conservatory adalah sekolah pianis Lang Lang, Yuja Wang, serta komposer Tan Dun dan Chen Yi. Pun pemerintah mereka gencar membangun pusat-pusat kesenian Barat, seperti &lt;em&gt;opera house&lt;/em&gt; di Beijing dan Shanghai, juga berbagai concert hall. Bisa jadi hal ini merupakan bagian dari ambisi China untuk menjadi negara adidaya setelah Amerika, mungkin dengan menyejajarkan aspek ekonomi (seperti Amerika) dan kultural (seperti Eropa Barat). Mungkinkah pada akhirnya musik klasik Barat akan dilestarikan oleh orang Asia dan dilupakan oleh sang empunya sendiri?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Memori pun kembali pada celetukan &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2010/11/kuliah-musim-panas-di-hungaria-part-two.html"&gt;Prof Marta Szabo ketika saya sedang mengikuti Summer Course di Hungaria&lt;/a&gt;, dimana rombongan mahasiswa dari Beijing Central Conservatory tersebut diminta untuk membawakan lagu &lt;em&gt;folksong&lt;/em&gt; China. Ketika mereka sedang pentas, sang profesor mendekat ke saya seraya berbisik, “&lt;em&gt;Dear, I think we are minority here&lt;/em&gt;”~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwBZS2iRTI/AAAAAAAAAhg/mq3ub9wERiw/s1600/DSC03232.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538303175827801394" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwBZS2iRTI/AAAAAAAAAhg/mq3ub9wERiw/s320/DSC03232.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Bersama harpist Rama Widi, di depan Bank Austria Kunstforum&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwBZJxqNrI/AAAAAAAAAhY/7kNorpOOcaw/s1600/DSC03305.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538303173391431346" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwBZJxqNrI/AAAAAAAAAhY/7kNorpOOcaw/s320/DSC03305.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Bersama Wen Liu di Stadtpark&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwBY2fIkLI/AAAAAAAAAhQ/SvJBCagYhzo/s1600/DSC03306.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538303168213455026" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwBY2fIkLI/AAAAAAAAAhQ/SvJBCagYhzo/s320/DSC03306.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Patung Johann Strauss di Stadtpark&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-3074011446480506349?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/3074011446480506349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=3074011446480506349' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3074011446480506349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3074011446480506349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/11/vienna-haus-der-musik.html' title='Vienna: Haus der Musik'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNwR7mdT-AI/AAAAAAAAAiw/efjgOhWajig/s72-c/DSC03236.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-1067799464339588357</id><published>2010-11-08T02:04:00.000-08:00</published><updated>2010-11-10T08:30:18.643-08:00</updated><title type='text'>Opera La Boheme di Wiener Staatsoper</title><content type='html'>Dalam lawatan tiga hari ke Austria, saya dijamu dengan sangat hangat oleh kawan saya yang sedang menyelesaikan studi harpanya di konservatorium musik Vienna: Rama Widi. Ketika saya tiba di Vienna, momentumnya bertepatan dengan pembukaan &lt;em&gt;season&lt;/em&gt; opera 2010/2011 di &lt;strong&gt;Vienna Opera House&lt;/strong&gt; (atau yang dikenal dengan &lt;strong&gt;Vienna State Opera&lt;/strong&gt; -&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Wiener Staatsoper&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;), dimulai dengan Tännhauser (Wagner), La Boheme (Puccini), dan Die Zauberflöte (Mozart) selama tiga hari berturut-turut secara bergantian. Sayang sekali, ketika saya hendak memesan tiket secara &lt;em&gt;online&lt;/em&gt;, rupanya semua sudah &lt;em&gt;sold-out&lt;/em&gt;. Hanya ada beberapa kursi yang tersisa untuk kelas VIP dan harganya dimulai dari EUR 500 (sekitar lima juta rupiah). Tentu saya tidak mungkin ambil yang itu sehingga satu-satu jalan adalah dengan membeli &lt;em&gt;standing ticket&lt;/em&gt; yang biasanya dijual dua atau tiga jam sebelum pementasan opera dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfs3YotlPI/AAAAAAAAAhA/_lNfRO_yspE/s1600/DSC03287.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537154703125484786" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfs3YotlPI/AAAAAAAAAhA/_lNfRO_yspE/s320/DSC03287.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Wiener Staatsoper setelah pertunjukan La Boheme usai, pukul 22.30&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya saya memutuskan untuk menonton opera &lt;strong&gt;La Boheme&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Giacomo Puccini&lt;/strong&gt; yang dipergelarkan pada hari kedua. Sudah telat untuk menonton Tännhauser – lagipula di Indonesia saya pernah menonton opera La Boheme produksi maestra &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2008/02/catharina-leimena-dibalik-opera-la.html"&gt;Catharina Leimena&lt;/a&gt;, jadi ingin sedikit mengembalikan memori. Pada hari pementasannya, saya yang baru saja berkeliling kota rupanya tidak sadar bahwa jam telah menunjukkan pukul enam sore dimana semestinya saya sudah harus berada di antrian loket depan gedung opera. Setelah bergegas ke lokasi, ternyata antriannya sudah sangat mengerikan – panjangnya sekitar 100 meter dan dibagi dalam beberapa barisan. Itu pun masih bertambah panjang dengan orang-orang yang mengantri di belakang saya. Sebenarnya saya masih beruntung, karena pada beberapa &lt;em&gt;event&lt;/em&gt; tertentu yang dibintangi oleh penyanyi opera &lt;em&gt;superstar&lt;/em&gt;, biasanya orang-orang sampai rela menginap dengan sleeping bag di ruang tiket semalam sebelumnya. Akhirnya setelah berdiri menunggu selama satu jam, antrian mulai bergerak masuk ke dalam. Mungkin karena pelayanannya yang sangat gesit, sekitar setengah jam saya sudah tiba di depan loket. Akhirnya saya baru mengerti mengapa banyak orang berburu &lt;em&gt;standing ticket&lt;/em&gt; karena harganya yang sangat miring, yaitu EUR 3 sampai EUR 5 (sekitar tiga sampai lima puluh ribu rupiah). Meskipun saat menonton harus sambil berdiri, di lantai balkon paling atas~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfqQMYxPdI/AAAAAAAAAg4/GrYHT0zy4lc/s1600/DSC03260.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537151830799236562" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfqQMYxPdI/AAAAAAAAAg4/GrYHT0zy4lc/s320/DSC03260.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Tangga di foyer utama&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfqPnR0Q7I/AAAAAAAAAgw/eX1_X0COPZA/s1600/DSC03263.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537151820837962674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfqPnR0Q7I/AAAAAAAAAgw/eX1_X0COPZA/s320/DSC03263.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Penonton berjubel memasuki auditorium&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Setibanya di foyer gedung opera, saya merasa salah kostum. Berhubung saya waktu itu bergegas langsung kesana, tidak sempat ganti baju sehingga hanya mengenakan kaos, cardigan, jeans, dan sepatu kets. Sementara itu tamu-tamu lain di foyer nampak terhormat dengan setelan jas dan perempuannya mengenakan gaun malam, beberapa diantaranya turun dari limousine dengan mantel bulu. Namun perasaan itu hanya sesaat saja karena penonton di balkon &lt;em&gt;standing ticket&lt;/em&gt; yang terletak di lantai paling atas, rata-rata mengenakan pakaian seadanya à la mahasiswa kuliahan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537216210583393234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 215px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNgkzlxbk9I/AAAAAAAAAhI/6cMM3j3H35o/s320/Vienna_State_Opera_ticket_office.jpg" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Kadang orang-orang hingga menginap di loket opera demi mendapatkan tiket&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfqPCtE1zI/AAAAAAAAAgo/VSvefDSoHQk/s1600/DSC03286.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537151811020183346" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfqPCtE1zI/AAAAAAAAAgo/VSvefDSoHQk/s320/DSC03286.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Foyer utama yang dipenuhi penonton&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Opera La Boheme yang malam itu dipentaskan merupakan produksi sutradara kenamaan, &lt;strong&gt;Franco Zefirelli&lt;/strong&gt;. Pria Itali yang lahir tahun 1923 ini juga berkiprah sebagai sutradara film (antara lain film &lt;em&gt;Romeo &amp;amp; Juliet&lt;/em&gt; yang memenangkan penghargaan Oscar, serial terkenal &lt;em&gt;Jesus of Nazareth&lt;/em&gt;, dan filmnya yang terakhir pada 2002 – &lt;em&gt;Callas Forever&lt;/em&gt;) serta produser film, selain dari dedikasinya untuk menyutradari opera. Dalam kiprahnya di dunia opera, ia berteman baik dengan diva opera Maria Callas, dimana mereka bekerja sama dalam produksi opera La Traviata (Verdi) di Dallas, 1959. Salah satu produksinya yang sangat terkenal adalah tahun 1964 dengan Tosca (Puccini) di Royal Opera House London, menampilkan Maria Callas dan baritone Tito Gobbi. Di tahun yang sama, ia membuat produksi opera Norma (Bellini) di Opera Paris, yang merupakan Norma terakhir Callas. Selain kiprahnya bersama Maria Callas, ia membuat beberapa produksi untuk Metropolitan Opera New York, yaitu Tosca, Turandot, dan La Boheme – yang malam itu turut dipentaskan di Vienna.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfqOfrsfvI/AAAAAAAAAgg/3yNs7hRwpjo/s1600/DSC03269.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537151801619152626" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfqOfrsfvI/AAAAAAAAAgg/3yNs7hRwpjo/s320/DSC03269.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Poster opera La Boheme&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Adapun produksi La Boheme malam itu menampilkan konduktor sekaligus &lt;em&gt;music director&lt;/em&gt; Vienna State Opera yang baru: &lt;strong&gt;Franz Welser-Möst&lt;/strong&gt;. Menceritakan kisah tragis tentang kehidupan kaum bohemian para seniman di Paris, opera empat babak ini tetap merupakan pilihan favorit untuk ditonton sepanjang waktu. Penataan dan pencahayaan artistik di panggung merupakan ide jenius Zefirelli, memberi imajinasi nuansa kelam dan &lt;em&gt;gloomy &lt;/em&gt;sebagai &lt;em&gt;verité&lt;/em&gt; dari kesulitan hidup masa lalu, sesuai dengan aliran &lt;strong&gt;&lt;em&gt;verismo&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang mengedepankan realitas, merupakan ciri khas karya-karya komposer opera Italia di awal abad 20. Melihat dekor babak pertama dan terakhir yang berlatar belakang kamar Rodolfo di loteng tua, memori langsung teringat pada penataan yang serupa dengan La Boheme legendaris versi Luciano Pavarotti-Mirella Freni – pun sutradaranya sama. Babak dua yang menggambarkan kemeriahan Café Momus di malam Natal, dikerjakan dengan jenius dimana para solis berada di lantai pertama, sementara panggung sedikit dinaikkan (&lt;em&gt;mezzanine&lt;/em&gt;) untuk memperlihatkan &lt;em&gt;scene&lt;/em&gt; anak-anak yang berlarian, tukang jualan, dan parade serdadu. Babak tiga yang kelam, penuh dengan salju, dibuat samar melalui bantuan tirai putih lembut – menggambarkan kabut musim dingin dan serpihan salju yang turun halus perlahan secara konstan dari atas panggung.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfqNf-ECkI/AAAAAAAAAgY/rok70PIonVc/s1600/DSC03266.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537151784516323906" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfqNf-ECkI/AAAAAAAAAgY/rok70PIonVc/s320/DSC03266.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Auditorium utama&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfbs2HAaII/AAAAAAAAAgQ/VBxxI6V9Gm0/s1600/DSC03272.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537135830360942722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfbs2HAaII/AAAAAAAAAgQ/VBxxI6V9Gm0/s320/DSC03272.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Orkestra dan konduktor telah siap di orchestra pit&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Rodolfo &lt;/span&gt;sang penyair diperankan dengan meyakinkan oleh tenor muda terkenal asal Amerika, &lt;strong&gt;Stephen Costello&lt;/strong&gt; (lahir 1982). Kemampuan akting yang natural dan terkontrol baik terjalin dari awal hingga akhir, dilengkapi dengan instrumen vokal yang mampu menjangkau nada-nada tinggi dengan segenap power namun tetap tidak berlebihan. &lt;span style="color:#006600;"&gt;Mimi&lt;/span&gt; yang ringkih dan melankolis dilakonkan oleh soprano Bulgaria – &lt;strong&gt;Krassimira Stoyanova&lt;/strong&gt;, yang kiprahnya di dunia opera sudah cukup matang (ia adalah pasangan menyanyi tenor José Cura dalam &lt;em&gt;premiére&lt;/em&gt; opera "Le Villi" karya Puccini di Vienna State Opera). Meskipun demikian, suaranya yang liris dan memiliki &lt;em&gt;tone&lt;/em&gt; indah belum begitu memadai untuk mengimbangi orkestra, terutama pada beberapa klimaks dalam dinamik yang nyaring. Begitupun dalam penggalangan frase, legato dan pengucapan vokal dalam satu warna masih dapat dikembangkan lagi. Misalnya pada babak pertama ketika Mimi yang telah pamit sadar bahwa kunci kamarnya tertinggal di loteng Rodolfo, ia berteriak dan bergegas masuk, “&lt;em&gt;Ah! Sventata! Sventata! Chiave della stanza, dove l’ho lasciata?&lt;/em&gt;” (Aduh! Goblok! Goblok! Kuncinya...! Dimana gue tadi ninggalin itu kunci?). Semestinya frase ini dapat lebih menggambarkan seseorang yang panik – mungkin melalui &lt;em&gt;attack&lt;/em&gt; yang baik pada seruan “Ah!” dan dilanjutkan dengan sedikit &lt;em&gt;agitato &lt;/em&gt;pada “Sventata!” dengan aksen di “ta” pertama (SvenTAta) – jadi tidak sekadar dinyanyikan dengan datar tanpa emosi. Begitupun di babak tiga yang sarat akan gejolak emosi, soprano Stoyanova dapat lebih mengungkapkan kekecewaan dan perasaan &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt; dengan memaksimalkan intensitas vokal yang dimilikinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfbsYqxDSI/AAAAAAAAAgI/ybVx0GBXAaI/s1600/DSC03273.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537135822457867554" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfbsYqxDSI/AAAAAAAAAgI/ybVx0GBXAaI/s320/DSC03273.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setting babak pertama La Boheme: Terlarang untuk mengabadikan foto ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Kemampuan akting dan vokal yang prima nampaknya dimiliki oleh soprano &lt;strong&gt;Alexandra Reinprecht&lt;/strong&gt;. Dalam memerankan &lt;span style="color:#006600;"&gt;Musetta&lt;/span&gt; – gadis centil yang banyak maunya, ia nampak ekstrovert, percaya diri, dan tampil apa adanya. Beberapa adegan komikal sempat membuat penonton tertawa. Rupanya soprano Reinprecht telah membuat magnetisme bagi mereka yang menyaksikannya beraksi, terutama pada aria “&lt;em&gt;Quando me’n vò soletta per la via&lt;/em&gt;” (Ketika gue lagi jalan sendirian). Sementara itu, &lt;span style="color:#006600;"&gt;Marcello&lt;/span&gt; sang pelukis yang diperankan oleh baritone &lt;strong&gt;Boaz Daniel&lt;/strong&gt; dapat menampilkan beragam karakter dengan kemampuan vokalnya yang sangat baik. Ada perbedaan nuansa ketika ia sedang memainkan &lt;em&gt;mood &lt;/em&gt;senang (babak pertama) dengan sedih dan kecewa (babak tiga). Baritone Boaz Daniel yang telah menelurkan album La Boheme (bersama Anna Netrebko, Nicole Cabell, Rolando Villazòn) di bawah label Deutsche Grammophon ini terlihat sangat menguasai panggung, membuat partner menyanyinya dapat berekspresi secara timbal-balik dengannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Colline&lt;/span&gt; sang filsuf yang diperankan penyanyi bass &lt;strong&gt;Sorin Colliban&lt;/strong&gt; membawakan aria “&lt;em&gt;Vecchia zimarra&lt;/em&gt;” (Jaket tuaku) dengan penuh kedalaman dan perenungan. Suara bass-nya yang empuk dan dipandu oleh legato yang baik dapat menciptakan suasana kesendirian, yang dilanjutkan dengan dialog penuh makna pada “&lt;em&gt;Schaunard, ognuno per diversa via. Mettiamo insieme due atti di pietà,&lt;/em&gt;” (Schaunard, tiap orang punya cara beda-beda untuk ungkapin perasaan setiakawannya. Kita bisa lakuin dua hal yang berarti untuk Mimi yang sedang sekarat itu). Sementara itu &lt;span style="color:#006600;"&gt;Schaunard&lt;/span&gt; yang musisi, diperankan dengan baik oleh baritone asal Ceko – &lt;strong&gt;Adam Plachetka&lt;/strong&gt; (lahir 1985). Karakter dan vokalnya diolah secara seimbang, terutama pada babak pertama, dimana Schaunard masuk ke loteng Rodolfo dengan membawa sejumlah bahan pangan dan kayu bakar.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Konduktor &lt;strong&gt;Franz Welser-Möst&lt;/strong&gt; yang pernah menjabat sebagai konduktor Cleveland Orchestra di Amerika, memiliki kapasitas penuh sebagai nahkoda dari &lt;strong&gt;Orchester der Wiener Staatsoper&lt;/strong&gt;. Ia dapat mengatasi beberapa problem, seperti pada babak dua yang menampilkan anak-anak kecil berlarian sambil menyanyi dalam format paduan suara – mereka sempat terlambat masuk menyanyi pada adegan “&lt;em&gt;La Ritirata!&lt;/em&gt;” dan “&lt;em&gt;Ecco il tambur maggior!&lt;/em&gt;” (maklum, namanya juga anak-anak). Namun dengan sigap sang konduktor dapat menahan tempo orkestra sepersekian detik sehingga semua berjalan kembali mulus, tanpa ada “kecelakaan”. Semua dilakukan tanpa merusak musiknya~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfbsHsljDI/AAAAAAAAAgA/068AYgVm2Ag/s1600/DSC03279.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537135817902099506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfbsHsljDI/AAAAAAAAAgA/068AYgVm2Ag/s320/DSC03279.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Curtain calls setelah opera selesai&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfbrhsUHbI/AAAAAAAAAf4/7Off7Pe2nyk/s1600/DSC03267.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537135807700409778" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfbrhsUHbI/AAAAAAAAAf4/7Off7Pe2nyk/s320/DSC03267.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Lobi auditorium lantai 5&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya selama pergelaran berlangsung, penonton dilarang untuk mengambil foto atau merekam pertunjukan. Foto yang saya ambil pada set babak pertama dilakukan secara diam-diam, setelah melihat ada beberapa penonton lain yang melakukannya. Saya pikir, untuk keperluan dokumentasi di blog ini, tak apalah melanggar sedikit peraturan – meskipun ketika saya bersiap mengambil foto, ibu-ibu yang menonton di depan saya sudah melotot dengan ekspresi muka marah ke arah saya. Selain itu, beberapa etiket yang saya kagumi adalah kesadaran seluruh penonton untuk menon-aktifkan telepon selular selama pertunjukan berlangsung, juga kepada ekstrimnya mereka dalam menjaga ketenangan. Ketika sedang di tengah pertunjukan, ada seorang ibu-ibu batuk – dan semua mata langsung menatap padanya dengan tatapan tajam. Hal yang konyol adalah, ketika pada akhir babak pertama Rodolfo dan Mimi menyelesaikan nada terakhir duet cinta “&lt;em&gt;O soave fanciulla&lt;/em&gt;” yang merdu dan syahdu, tiba-tiba dari luar auditorium terdengar suara orang jatuh dari tangga yang diikuti dengan teriakan kencang seperti kucing – nampak dengan segenap usaha, penonton di sekeliling saya mati-matian menahan tawa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sangat menarik, gedung opera ini hanya memiliki satu pintu keluar &lt;em&gt;backstage&lt;/em&gt; (di samping gedung). Pada pertunjukan yang dibintangi oleh &lt;em&gt;superstar&lt;/em&gt; seperti Placido Domingo, Montserrat Caballé, Anna Netrebko, atau Maria Guleghina, kita dapat melihat kerumunan fans menunggu bintang idolanya keluar dari pintu tersebut dengan setia – sekadar salaman, foto bersama, atau minta tanda tangan. Menurut penuturan harpist Rama Widi, biasanya Placido Domingo sangat ramah pada fans, sementara Anna Netrebko yang memiliki &lt;em&gt;difficult personality&lt;/em&gt; biasanya langsung bergegas ke hotel diiringi para bodyguard-nya. Malam itu saya kebetulan lewat di area pintu &lt;em&gt;backstage&lt;/em&gt;, terlihat beberapa orang berkerumun. Rupanya ada sang tenor Stephen Costello sedang mengobrol dengan para fans, diiringi baritone Boaz Daniel dan Adam Plachetka. Saya sempat memberi ucapan selamat pada mereka – pribadi yang hangat dengan suara emas.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfbrJFWwQI/AAAAAAAAAfw/BbJ94Fut7p0/s1600/DSC03288.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5537135801094553858" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfbrJFWwQI/AAAAAAAAAfw/BbJ94Fut7p0/s320/DSC03288.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Tenor Stephen Costello memberikan tanda tangan pada penggemar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-1067799464339588357?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/1067799464339588357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=1067799464339588357' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1067799464339588357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1067799464339588357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/11/opera-la-boheme-di-wiener-staatsoper.html' title='Opera La Boheme di Wiener Staatsoper'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNfs3YotlPI/AAAAAAAAAhA/_lNfRO_yspE/s72-c/DSC03287.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-8327139691829780171</id><published>2010-11-04T11:35:00.000-07:00</published><updated>2010-11-05T11:28:00.104-07:00</updated><title type='text'>Un viaggio a Roma</title><content type='html'>Dalam kunjungan tiga hari ke Roma, saya menyempatkan diri untuk mampir ke &lt;strong&gt;Rome Opera House&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Teatro dell’Opera di Roma&lt;/em&gt;). Sebagaimana seni opera berasal dari Italia, gedung opera ini memiliki andil yang sangat penting dalam perjalanan &lt;em&gt;showbiz&lt;/em&gt; dunia opera sejak dulu hingga kini. Sayang sekali, saat saya datang rupanya belum ada jadwal pementasan opera – ketika itu masih awal musim gugur di bulan September dan &lt;em&gt;season&lt;/em&gt; opera yang baru akan dimulai beberapa hari setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFD69Y8UI/AAAAAAAAAfo/hbR5ZNJLTSk/s1600/DSC03136.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535773931892961602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFD69Y8UI/AAAAAAAAAfo/hbR5ZNJLTSk/s320/DSC03136.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Bagian muka (façade) Teatro dell'Opera di Roma&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung opera Roma ini arsitekturnya nampak sederhana dan tidak serumit gedung opera yang sayang kunjungi di Budapest. Sejarahnya cukup panjang, dimana pada awalnya gedung ini dibuka pada November 1880 (kapasitas 2212 tempat duduk) dengan nama &lt;strong&gt;Teatro Constanzi&lt;/strong&gt;, sesuai dengan nama kontraktor yang membangun gedungnya: Domenico Constanzi (1810-1989). Ia membiayai pembangunan gedung opera ini secara pribadi, dengan mempekerjakan arsitek Achille Sfondrini yang berasal dari Milan, seorang arsitek yang memiliki spesialisasi dalam membangun dan merenovasi teater. Sfondrini sendiri meletakkan dasar akustik yang sangat kuat, dimana struktur interiornya dibuat seperti layaknya “&lt;em&gt;resonance chamber&lt;/em&gt;”, sebagaimana bentuk auditoriumnya yang menyerupai tapal kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1926, Teatro Constanzi dibeli oleh pemerintah kota Roma dan namanya diganti menjadi &lt;strong&gt;Teatro Reale dell’Opera&lt;/strong&gt;. Sebagian dari bangunan aslinya dibangun ulang oleh arsitek Marcello Piacentini. Akibat dari pembangunan ulang teater ini, pintu masuk utama yang pada awalnya terletak di Via del Teatro (tempat dimana taman Hotel Quirinale sekarang berada) dipindahkan ke sisi samping, dimana Piazza Beniamino Gigli dibangun. Auditorium utama di dalam teater dihancurkan dan diganti dengan empat tingkat, lengkap dengan balkon dan &lt;em&gt;partéré box&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah akhir dari sistem monarki di Italia, gedung opera ini kembali berganti nama menjadi &lt;strong&gt;Teatro dell’Opera&lt;/strong&gt;, dimana pada tahun 1958 gedung ini lagi-lagi dibangun ulang oleh pemerintah kota Roma. Kembali dikerjakan oleh arsitek Marcello Piacentini, kini hasilnya dapat terlihat dari bagian muka (&lt;em&gt;façade&lt;/em&gt;), pintu masuk, dan foyer yang bertahan hingga saat ini. Meskipun demikian, akustiknya yang legendaris tetap dapat dibandingkan dengan gedung-gedung opera ternama di seluruh dunia. Beberapa perubahan yang signifikan adalah kapasitas tempat duduk yang sedikit berkurang (menjadi 1600 kursi) dan penambahan pendingin udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung opera ini menjadi saksi sejarah penting dalam dunia per-opera-an, antara lain menjadi tempat pementasan perdana (&lt;em&gt;premiére&lt;/em&gt;) dari opera &lt;strong&gt;Cavalleria Rusticana&lt;/strong&gt; (Pietro Mascagni) pada 1890 dan opera &lt;strong&gt;Tosca&lt;/strong&gt; (Giacomo Puccini) pada 1900. Selain itu, gedung ini menjadi tempat terjadinya “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Rome Scandal&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;”, yaitu saat pementasan opera &lt;strong&gt;Norma &lt;/strong&gt;(karya Bellini) yang dihadiri oleh Presiden Italia – Giovanni Gronchi (2 Januari 1958), diva opera &lt;strong&gt;Maria Callas&lt;/strong&gt; memutuskan untuk tidak melanjutkan menyanyi pada akhir babak pertama dan pergi meninggalkan teater (&lt;em&gt;walk out&lt;/em&gt;). Dianggap sebagai penghinaan, keesokan harinya Maria Callas – yang tidak melanjutkan pementasan karena kondisi suaranya sedang tidak fit – mendapat demonstrasi dengan poster-poster bertuliskan “We don’t want Callas in Rome!” di depan Hotel Quirinale, tempatnya menginap. Selain itu, kasus ini menjadi topik &lt;em&gt;headline&lt;/em&gt; di surat kabar seluruh dunia, termasuk majalah Time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFDbsUBoI/AAAAAAAAAfg/tx0p4zkKS5U/s1600/Callas+Rome+Walkout+1958.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535773923499837058" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 252px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFDbsUBoI/AAAAAAAAAfg/tx0p4zkKS5U/s320/Callas+Rome+Walkout+1958.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Maria Callas (kedua dari kanan) meninggalkan gedung opera Roma, Januari 1958&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun saat saya berkunjung kesana gedung opera sedang ditutup untuk umum, namun saya sempat mengambil gambar &lt;em&gt;snapshot&lt;/em&gt; dari pintu &lt;em&gt;backstage&lt;/em&gt; yang kebetulan sedang dibuka. Dari celah pintu tersebut terlihat interior teater (auditorium) yang mewah, lengkap dengan &lt;em&gt;Royal Box&lt;/em&gt; yang biasanya digunakan khusus untuk kepala negara dan tamu-tamu kenegaraan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFDEM0ZjI/AAAAAAAAAfY/5ZlGtEQJ_ds/s1600/DSC03140.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535773917193725490" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFDEM0ZjI/AAAAAAAAAfY/5ZlGtEQJ_ds/s320/DSC03140.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Mengintip auditorium teater dari pintu backstage&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai opera &lt;strong&gt;Tosca&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Giacomo Puccini&lt;/strong&gt;, saya sempat mengunjungi beberapa tempat aktual yang menjadi latar belakang operanya. Dalam tiga babak opera tersebut, babak pertama adalah di gereja &lt;strong&gt;Sant’Andrea della Valle&lt;/strong&gt; – yang sayangnya saya lewatkan, padahal letaknya hanya beberapa langkah dari Piazza Navona, dimana saya sebelumnya mondar-mandir keliling di area itu. Babak kedua adalah di &lt;strong&gt;Palazzo Farnese&lt;/strong&gt; – yang saya lewatkan juga, padahal letaknya hanya beberapa meter di belakang gereja Sant’Andrea della Valle itu. Babak ketiga adalah di &lt;strong&gt;Castel Sant’Angelo&lt;/strong&gt;, dimana Cavaradossi dipenjara dan dieksekusi mati. Setelah itu, Tosca – yang ternyata ditipu oleh janji palsu Scarpia, memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan lompat ke sungai Tiber dari jembatan &lt;strong&gt;Ponte Sant’Angelo&lt;/strong&gt;. Jejak rekam di area Castel Sant’Angelo yang indah ini berhasil saya jelajahi, dan tepian sungai Tiber merupakan tempat yang sangat romantis untuk menghabiskan senja bersama kekasih tercinta~&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFCh-Vf2I/AAAAAAAAAfQ/UtWK0l0aZfQ/s1600/DSC03158.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535773908006174562" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFCh-Vf2I/AAAAAAAAAfQ/UtWK0l0aZfQ/s320/DSC03158.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Castel Sant'Angelo, foto dari jembatan Ponte Sant'Angelo&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFBtMDE5I/AAAAAAAAAfI/9mkZIgo2nNk/s1600/DSC03142.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535773893836608402" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFBtMDE5I/AAAAAAAAAfI/9mkZIgo2nNk/s320/DSC03142.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Sungai Tiber &amp;amp; Ponte Sant'Angelo, dimana Tosca mengakhiri hidupnya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-8327139691829780171?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/8327139691829780171/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=8327139691829780171' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/8327139691829780171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/8327139691829780171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/11/un-viaggio-roma.html' title='Un viaggio a Roma'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNMFD69Y8UI/AAAAAAAAAfo/hbR5ZNJLTSk/s72-c/DSC03136.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-5737201253604792765</id><published>2010-11-03T12:50:00.000-07:00</published><updated>2010-11-04T07:49:38.369-07:00</updated><title type='text'>Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part Four)</title><content type='html'>Selama kunjungan dua hari di Budapest, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa monumen musik penting. Budapest sendiri merupakan kota yang sarat akan tradisi berkesenian, dimana tokoh-tokoh musik penting seperti komposer Franz Liszt, Bela Bartók, dan Zoltan Kodàly adalah berkebangsaan Hungaria. Institusi pertama yang saya kunjungi adalah &lt;strong&gt;Franz Liszt Academy of Music&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Liszt Ferenc Zeneművészeti Egyetem&lt;/em&gt;) – merupakan konservatorium musik dan gedung konser yang didirikan tahun 1907 dengan gaya Art Nouveau, terletak diantara Kiràly Street dan Liszt Ferenc Square. Gedung yang merupakan salah satu &lt;em&gt;landmark&lt;/em&gt; kota Budapest ini dapat dengan mudah dikenali dengan patung Liszt bergaya à la raja yang sedang duduk di singgasana (karya Alajos Stróbl), dimana interiornya dihiasi oleh lukisan fresco, keramik Zsolnay (keramik bergengsi yang biasa dipakai di istana-istana Eropa), patung-patung komposer seperti Bela Bartók, Frederic Chopin, juga kaca-kaca mozaik (&lt;em&gt;stained glass&lt;/em&gt;) karya Miksa Róth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx2w20kuI/AAAAAAAAAfA/m2Y1t8xsr98/s1600/DSC02478.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535682446377652962" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx2w20kuI/AAAAAAAAAfA/m2Y1t8xsr98/s320/DSC02478.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Franz Liszt Music Academy, Budapest&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Akademi ini merupakan salah satu institusi musik terkemuka di Eropa. Selain telah menghasilkan komposer terkenal seperti Bela Bartók, Zoltan Kodàly, György Kurtàg, dan György Ligeti, lulusannya adalah musisi-musisi kelas dunia, seperti pianis Georges Cziffra, Zoltan Kocsis, Géza Anda, György Sàndor, Andràs Schiff, Tamàs Vàsàry, Lili Kraus, Annie Fischer; penyanyi opera Éva Marton, Andrea Rost, Sylvia Sass; serta konduktor Fritz Reiner dan Georg Solti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu sudut di Franz Liszt Academy, terdapat plakat yang ditujukan sebagai memorial bagi &lt;strong&gt;Ernő Dohnànyi&lt;/strong&gt; (1877-1966), yang merupakan salah satu komposer penting Hungaria dan pernah menjabat sebagai direktur akademi tersebut. Namanya kini diabadikan sebagai salah satu jalan yang menghubungkan konservatorium dan Teréz Street. Selain itu di taman Liszt Ferenc Square yang terletak beberapa langkah dari gedung, terdapat patung Liszt yang sangat menarik – seperti posisi sedang main piano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx2Y-k4qI/AAAAAAAAAe4/gpH_Zp4uzcg/s1600/DSC02476.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535682439967728290" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx2Y-k4qI/AAAAAAAAAe4/gpH_Zp4uzcg/s320/DSC02476.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Plakat bertuliskan: Ernő Dohnànyi&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx2JvoRuI/AAAAAAAAAew/hgeBqar6oqc/s1600/DSC02474.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535682435878504162" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx2JvoRuI/AAAAAAAAAew/hgeBqar6oqc/s320/DSC02474.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Patung Franz Liszt dalam posisi memainkan piano&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, akademi musik ini didirikan di bekas rumah Liszt, namun sempat dipindahkan ke gedung tiga tingkat bergaya Neo-Renaissance karya arsitek Adolf Làng di Andràssy Street (jalan utama dan bergengsi di Budapest, seperti Champs-Élysées Paris) antara tahun 1877-1979 – tepat berseberangan dengan gedung opera nasional. Kini gedung itu dikenal sebagai “the old Music Academy”, dimana pada tahun 1980 gedung tersebut diakuisisi oleh Franz Liszt Academy dan dimaksudkan untuk menjadi “The Ferenc Liszt Memorial and Research Center”. Saat kunjungan saya ke gedung lama tersebut, keadaannya masih dalam proses renovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx1gJhdpI/AAAAAAAAAeo/-feNAiyz7EM/s1600/DSC02965.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535682424712820370" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx1gJhdpI/AAAAAAAAAeo/-feNAiyz7EM/s320/DSC02965.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Di depan "The Old Music Academy", Andràssy Street&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Masih di Andràssy Street, terdapat &lt;strong&gt;Hungarian State Opera House&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Magyar Àllami Operahàz&lt;/em&gt;), sebuah gedung opera bergaya Neo-Renaissance berelemen Barok dengan akustik terbaik ketiga di Eropa (setelah La Scala Milan dan Palais Garnier Paris). Didesain oleh arsitek Miklós Ybl pada tahun 1875, gedung opera ini terkenal karena keindahan arsitekturnya, menjadikannya &lt;em&gt;landmark&lt;/em&gt; utama kota Budapest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx1MQR_2I/AAAAAAAAAeg/MIJSgXj1Vyw/s1600/DSC02523.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535682419372457826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx1MQR_2I/AAAAAAAAAeg/MIJSgXj1Vyw/s320/DSC02523.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Hungarian State Opera&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, ketika saya berkunjung kesana (bulan Agustus), tidak ada pertunjukan opera. &lt;em&gt;Season&lt;/em&gt; opera dimulai setiap awal September dan berakhir pada akhir Juni, dimana selama musim panas ada tour keliling gedung dalam enam bahasa dengan tiket sedikit mahal – bahkan lebih mahal daripada tiket pertunjukan operanya sendiri. Daripada kesal, saya akhirnya ikut tour dan rupanya tidak menyesal, karena pemandu tour sangat cakap dalam menjelaskan seluk-beluk gedung opera yang sangat indah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKlKxHTSWI/AAAAAAAAAeY/SnhcSYCFLFs/s1600/DSC02481.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535668496392997218" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKlKxHTSWI/AAAAAAAAAeY/SnhcSYCFLFs/s320/DSC02481.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Foyer gedung opera&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu &lt;em&gt;state of art&lt;/em&gt; tersendiri, gedung opera ini memang sudah menampakkan keindahannya sejak pertama kali saya memasuki bagian foyer. Sejak zaman dahulu, opera memang adalah hiburan yang ditujukan bagi kalangan bangsawan dan berada. Tidak heran apabila setiap sudut ruang terhias dengan sangat elegan dan mewah, seperti halnya interior foyer yang dilapisi oleh marmer berwarna-warni, lantai marmer mozaik, dan dinding yang tidak luput dari lukisan fresco indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKlKq5huXI/AAAAAAAAAeQ/yEOYGWzk73U/s1600/DSC02487.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535668494724610418" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKlKq5huXI/AAAAAAAAAeQ/yEOYGWzk73U/s320/DSC02487.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Foyer menuju pintu masuk&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Kemudian kami memasuki &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Main Hall&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, atau ruang auditorium utama. Ruang berkapasitas 1261 tempat duduk ini dibuat melingkar dengan bentuk tapal kuda dan memiliki lima tingkat, dimana bagian balkon terbagi dalam &lt;em&gt;partéré box&lt;/em&gt; dan di tengahnya terdapat Royal Box yang hanya digunakan untuk kepala negara. Hal yang sangat unik adalah sistem ventilasi yang merupakan temuan mutakhir pada masanya, dimana di bawah setiap bangku terdapat lubang-lubang angin yang bertujuan untuk menghembuskan angin dingin agar suhu udara di dalam auditorium tetap terjaga dan tidak pengap (fungsinya seperti AC). Opera memang selalu diadakan pada musim gugur dan dingin, dimana suhu udara di luar gedung sangat dingin, sementara udara di dalam auditorium panas (karena tertutup). Sesuai prinsip udara dingin pasti mengalir ke suhu yang lebih panas, maka dibuatlah lubang-lubang ventilasi tersebut. Jadi saat pergelaran berlangsung, penonton tidak perlu khawatir karena udara tidak akan pengap. Udara segar dan sejuk akan masuk melalui ventilasi dengan sendirinya~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKlKRyb6OI/AAAAAAAAAeI/fBrR-TTguvA/s1600/DSC02489.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535668487983982818" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKlKRyb6OI/AAAAAAAAAeI/fBrR-TTguvA/s320/DSC02489.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Auditorium Main Hall&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKlJ2swHPI/AAAAAAAAAeA/6wz3BoSo6j0/s1600/DSC02493.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535668480712383730" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKlJ2swHPI/AAAAAAAAAeA/6wz3BoSo6j0/s320/DSC02493.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;The Royal Box: Hanya untuk kepala negara&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKlJptb7wI/AAAAAAAAAd4/Dm8up3qfd_I/s1600/DSC02497.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535668477225594626" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKlJptb7wI/AAAAAAAAAd4/Dm8up3qfd_I/s320/DSC02497.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Lubang ventilasi di setiap tempat duduk&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Bagian eternit (&lt;em&gt;ceiling&lt;/em&gt;) auditorium merupakan karya seni sangat indah, yaitu lukisan karya Kàroly Lotz yang merepresentasikan Olympus, Mount of the Muses, termasuk di dalamnya ada figur mitologi Yunani seperti Apollo, Bacchus, Zeus, dan Venus. Di tengahnya, terdapat &lt;em&gt;chandelier&lt;/em&gt; yang berasal dari Mainz, menyinarkan cahaya yang berpendar keemasan. Setiap sudut auditorium tidak luput dari ukiran dan ornamen yang menyiratkan keagungan masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHOzIghA8I/AAAAAAAAAdw/ooUT9KEbVyQ/s1600/DSC02494.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535432794867565506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHOzIghA8I/AAAAAAAAAdw/ooUT9KEbVyQ/s320/DSC02494.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Ceiling yang berhiaskan lukisan &amp;amp; chandelier&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sungguh kebetulan, ketika saya sedang berada dalam auditorium, ada seorang ibu-ibu penyanyi opera veteran yang melakukan tes terhadap akustik ruangan. Ia menyanyikan aria &lt;em&gt;&lt;strong&gt;O mio babbino caro&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (dari opera &lt;strong&gt;Gianni Schicchi&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Puccini&lt;/strong&gt;) secara utuh, dan kami semua terpukau karena meskipun ia nampak sudah sepuh namun suaranya masih penuh &lt;em&gt;power&lt;/em&gt; dengan intensitas dramatik. Kebeningan warna suaranya tidak merefleksikan usianya, juga membuktikan bahwa akustik gedung opera ini sangat baik dan terawat. Saya pun ingat kisah penyanyi mezzosopran Catharina Leimena yang pernah menonton pergelaran opera &lt;strong&gt;Adriana Lecouvreur&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Francesco Cilea&lt;/strong&gt; di gedung opera ini. Beliau menceritakan, “Saya duduk tiga baris tepat di belakang konduktornya. Gedung operanya bagus sekali, akustiknya sangat mendukung untuk membuat berbagai macam warna suara tanpa harus bersusah payah mengeluarkan energi berlebih,”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami dibawa ke &lt;strong&gt;Ruang Rehat &lt;/strong&gt;yang biasanya digunakan sebagai area bagi penonton untuk menikmati minuman, beristirahat, dan bersosialisasi pada saat jeda antar babak. Ruangan ini pun tidak luput dihiasi oleh fresco – sebenarnya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;secco&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, karena pada gambarnya dilukis saat tembok sudah kering. Fresco mengacu pada gambar yang dilukis di atas dinding yang masih basah dan baru disemen. Di ruang ini terdapat bar, dimana di sebelahnya ada Cigar Room untuk mereka yang ingin menikmati cerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHOy49Y6XI/AAAAAAAAAdo/sleHL9ETw_U/s1600/DSC02504.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535432790693702002" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHOy49Y6XI/AAAAAAAAAdo/sleHL9ETw_U/s320/DSC02504.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Ruang Rehat, penuh dengan lukisan dan ornamen hingga atap&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHOyfsaYbI/AAAAAAAAAdg/zeEPq44DnYw/s1600/DSC02508.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535432783911608754" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHOyfsaYbI/AAAAAAAAAdg/zeEPq44DnYw/s320/DSC02508.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Ada bar kecil dan tempat duduk&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Selanjutnya adalah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Function Hall&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang sangat mewah. Ruang ini biasa digunakan untuk pertemuan, mengadakan seminar, atau resital kecil yang hanya dihadiri oleh puluhan penonton. Di dindingnya tergantung lukisan-lukisan yang menggambarkan sosok peran perempuan-perempuan &lt;em&gt;femme fatale&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;heroine&lt;/em&gt; dunia opera, seperti Isolde, Tosca, Violetta, dan Elisabeth of Valois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHOyETQmhI/AAAAAAAAAdY/sWzViAopUaQ/s1600/DSC02509.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535432776558352914" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHOyETQmhI/AAAAAAAAAdY/sWzViAopUaQ/s320/DSC02509.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Function Hall, dilengkapi piano dan meja konferensi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHOxXAXO4I/AAAAAAAAAdQ/pTt_tROCx0I/s1600/DSC02512.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535432764399500162" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHOxXAXO4I/AAAAAAAAAdQ/pTt_tROCx0I/s320/DSC02512.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Duduk-duduk di Function Hall&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Lantas ada &lt;strong&gt;&lt;em&gt;The Royal Staircase&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang hanya boleh digunakan oleh kepala negara. Pada zaman dahulu kala, tangga ini digunakan khusus untuk raja dan ratu yang akan menonton opera. Mereka biasanya naik tangga diikuti oleh petinggi-petinggi negara dan bangsawan, oleh karena itu tepat di hadapan tangga ini terdapat cermin raksasa yang bertujuan bagi raja dan ratu untuk melihat siapa saja manusia yang ada di belakang mereka. Menurut tata etiket kebangsawanan, seorang raja/ratu tidak elok apabila ketika sedang berjalan menoleh ke belakang. Itulah fungsi cerminnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHEkuGnvmI/AAAAAAAAAdI/VcJbdhsDKG4/s1600/DSC02513.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535421552145186402" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHEkuGnvmI/AAAAAAAAAdI/VcJbdhsDKG4/s320/DSC02513.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHEkdhr9ZI/AAAAAAAAAdA/BjStKD01Va8/s1600/DSC02514.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535421547695306130" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHEkdhr9ZI/AAAAAAAAAdA/BjStKD01Va8/s320/DSC02514.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;The Royal Staircase: Ditutup untuk umum&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Terakhir adalah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;The Grand Staircase&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang menghubungkan foyer dengan ruang auditorium utama. Tangga ini mengadopsi model &lt;em&gt;Le Grand Escalier&lt;/em&gt; yang terdapat di gedung opera Bastille di Paris, meskipun dalam skala yang lebih kecil. Di tangga inilah para &lt;em&gt;duchess&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;countess&lt;/em&gt; zaman dahulu memamerkan gaun-gaun terindahnya ketika akan menonton pertunjukan opera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHEj5nh6aI/AAAAAAAAAc4/Aadkb5nIoao/s1600/DSC02515.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535421538056137122" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHEj5nh6aI/AAAAAAAAAc4/Aadkb5nIoao/s320/DSC02515.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;The Grand Staircase&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHEjVcjDII/AAAAAAAAAcw/MLv75GPl_eg/s1600/DSC02518.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535421528346397826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHEjVcjDII/AAAAAAAAAcw/MLv75GPl_eg/s320/DSC02518.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Salah satu sudut The Grand Staircase&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung opera yang didirikan atas inisiatif komponis besar Hungaria – &lt;strong&gt;Ferenc Erkel&lt;/strong&gt; ini merupakan “rumah” bagi artis-artis opera internasional. Konduktor legendaris seperti Otto Klemperer dan Gustav Mahler pernah menjadi &lt;em&gt;music director&lt;/em&gt; disini~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHEi3M7mMI/AAAAAAAAAco/B0XSTajDGRk/s1600/DSC02519.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535421520227834050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNHEi3M7mMI/AAAAAAAAAco/B0XSTajDGRk/s320/DSC02519.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Patung Franz Liszt di depan pintu masuk gedung opera&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-5737201253604792765?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/5737201253604792765/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=5737201253604792765' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/5737201253604792765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/5737201253604792765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/11/kuliah-musim-panas-di-hungaria-part_03.html' title='Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part Four)'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNKx2w20kuI/AAAAAAAAAfA/m2Y1t8xsr98/s72-c/DSC02478.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-1016581425142371289</id><published>2010-11-02T12:58:00.000-07:00</published><updated>2010-11-02T17:04:46.086-07:00</updated><title type='text'>Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part Three)</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Selama masa perkuliahan di Debrecen, &lt;em&gt;official&lt;/em&gt; kampus sempat menjadwalkan kami untuk kunjungan singkat ke kota Eger, sebuah kota Barok cantik yang terletak persis di antara Budapest dan Debrecen. Perjalanan dengan bus yang nyaman memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Debrecen, menuju area perbukitan asri dan sejuk. Kota Eger yang indah, nampak terawat dengan baik – terlihat dari taman-taman dengan bunga warna-warni tertata apik, jalanan yang tersusun atas &lt;em&gt;setts &amp;amp; cobblestone&lt;/em&gt; dengan pola-pola indah, juga toko-toko dan restoran yang menarik di sepanjang jalan. Di kota ini terdapat banyak bangunan historis, antara lain berupa benteng peninggalan masa perang Turki-Hungaria pada abad 15 (Dobó Castle) dan Basilica of Eger, sebuah gereja besar bergaya Neo-Klasik yang memiliki organ pipa terbesar kedua di Hungaria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCRcTPko3I/AAAAAAAAAcQ/mQiHu1Mm-Nk/s1600/DSC02814.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535083857426293618" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCRcTPko3I/AAAAAAAAAcQ/mQiHu1Mm-Nk/s320/DSC02814.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Kota Eger yang indah, dengan taman bunga dan jalanan yang rapi &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCRb_X7MaI/AAAAAAAAAcI/USa_7_fDtcQ/s1600/DSC02724.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535083852092617122" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCRb_X7MaI/AAAAAAAAAcI/USa_7_fDtcQ/s320/DSC02724.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Basilica of Eger &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Jadwal utama kami adalah menyaksikan konser organ pipa di &lt;strong&gt;Basilica of Eger&lt;/strong&gt;. Pada saat itu, kami diizinkan untuk menonton pertunjukan organ di balkon tempat pipa-pipa organ berada, ketika organisnya mengetahui bahwa kami adalah rombongan musisi dari konservatorium Debrecen. Konsol organ pipanya sendiri berlabelkan Vàradi, terdiri atas lima tingkat keyboard dengan banyak tombol &lt;em&gt;nomenclature &lt;/em&gt;untuk mengatur suara-suara yang diinginkan, keyboard kaki, dan dua layar monitor. Nampaknya konsol organ pipanya sudah diperbarui beberapa kali, meskipun susunan pipanya sendiri mungkin sudah berusia lebih dari satu abad.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCMNNt4utI/AAAAAAAAAcA/oddrZU5h2eE/s1600/DSC02730.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535078100686650066" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCMNNt4utI/AAAAAAAAAcA/oddrZU5h2eE/s320/DSC02730.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt; Organ pipa di dalam Basilica of Eger&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Tanpa basa-basi, sang organis segera memainkan karya pertama, yaitu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Organ Prelude, Fugue, and Variation Op 18&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; karya komponis Prancis, &lt;strong&gt;César Franck&lt;/strong&gt;. Sebuah karya yang sangat sublim, penuh dengan nuansa puitis dan liris – langsung membawa suasana khidmat dan khusuk, membuat kami sangat berkonsentrasi pada setiap not yang dibunyikan. Kemudian lagu-lagu berikutnya mempertunjukan virtuositas sang organis, yang dari belakang nampak &lt;em&gt;riweuh&lt;/em&gt; sekali karena dua tangannya memencet tuts-tuts keyboard dengan cepat, sementara kedua kaki saling beradu cepat untuk menginjak keyboard bass. Pada lagu terakhir &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ave Maria&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Schubert&lt;/strong&gt;, dibawakan dengan syahdu hingga beberapa kawan saya menitikkan air mata. Rupanya kehebatan organ pipa ini, ia bisa mengeluarkan suara-suara yang tak terduga, seperti suara bel (benar-benar suara bel) dan suara kerincingan. Entah bagaimana mekanismenya, yang pasti organ antik ini pasti merupakan sebuah temuan yang sangat mutakhir di eranya diciptakan, ratusan tahun lalu.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCMMpoXnBI/AAAAAAAAAb4/l_-UhYbIr1s/s1600/DSC02738.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535078090999831570" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCMMpoXnBI/AAAAAAAAAb4/l_-UhYbIr1s/s320/DSC02738.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Organis memainkan karya César Franck&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCMMdx7sSI/AAAAAAAAAbw/XbabaTwD6e0/s1600/DSC02740.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535078087818719522" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCMMdx7sSI/AAAAAAAAAbw/XbabaTwD6e0/s320/DSC02740.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Mencoba memainkan organ &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Setelah konser organ, kami mengunjungi &lt;strong&gt;Dobó Castle&lt;/strong&gt; yang historis dan diberikan waktu luang selama dua jam untuk berkeliling dan berpencar di tengah kota. Kota Eger yang terkenal sebagai salah satu penghasil wine terbaik di Hungaria, memiliki banyak toko wine yang menjual red, rose, dan white wine dengan harga sangat murah (Hungaria belum menggunakan Euro, tapi mata uang Hungarian Forint). Setelah cukup berkeliling, kami kembali ke Debrecen dan mampir dulu di &lt;strong&gt;Artist Village&lt;/strong&gt; (di luar kota Debrecen) dan makan malam di Kitsi Café, dimana sesi makan diiringi oleh grup musik Gypsy yang memainkan musik-musik Csàrdàs (lengkap dengan alat musik cembalom), dan ditutup dengan tarian rakyat oleh penari setempat.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCMMLDQnwI/AAAAAAAAAbo/Gv-KkpIV_CU/s1600/DSC02794.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535078082791120642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCMMLDQnwI/AAAAAAAAAbo/Gv-KkpIV_CU/s320/DSC02794.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Di depan Dobó Castle &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCML6p9cjI/AAAAAAAAAbg/5ZPXJaaHWRw/s1600/DSC02792.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535078078390039090" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCML6p9cjI/AAAAAAAAAbg/5ZPXJaaHWRw/s320/DSC02792.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Pemandangan kota Eger &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCEqqBNSbI/AAAAAAAAAbY/iWE9jWc0SO4/s1600/DSC02819.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535069810407066034" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCEqqBNSbI/AAAAAAAAAbY/iWE9jWc0SO4/s320/DSC02819.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Musisi Gypsy dengan cembalom, mekaniknya mirip piano namun dipukul&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCVlUyWR2I/AAAAAAAAAcg/fxtrCfdiuME/s1600/DSC02822.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535088410505922402" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCVlUyWR2I/AAAAAAAAAcg/fxtrCfdiuME/s320/DSC02822.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Penampilan tarian oleh penari setempat&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;br /&gt;Minggu kedua kuliah musim panas, kawan kami Péter Szűcs membawa kami ke &lt;strong&gt;Debrecen Museum of Modern Art (MODEM)&lt;/strong&gt; yang saat itu sedang menampilkan pameran lukisan karya pelukis terkenal Hungaria, &lt;strong&gt;Judit Reigl&lt;/strong&gt; (lahir 1923). Sang pelukis yang melarikan diri dari rezim komunis Hungaria pada tahun 1950 ke Paris, dimana disana ia mendapat arahan artistik dari pelukis surealisme Prancis, André Breton. Gaya lukisan Judit Reigl yang berproses pada akhirnya meninggalkan gaya surealisme, dimana ia menekankan pada spontanitas mental yang dilengkapi dengan gerak tubuh bebas. Ada sebuah video yang menggambarkan Reigl ketika sedang melukis di studionya, dimana ia menyapukan kuas pada bidang kanvas yang polos dengan gerak tubuh bagaikan sedang berada dalam ekstase dan &lt;em&gt;trance&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color:#0066cc;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCEp4XRX5I/AAAAAAAAAbI/j0Jzg5hBBN0/s1600/DSC02896.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535069797077835666" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCEp4XRX5I/AAAAAAAAAbI/j0Jzg5hBBN0/s320/DSC02896.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Di depan karya surealisme, bersama kamerad Péter Szűcs &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCEpVKPEEI/AAAAAAAAAbA/u1xeyOkeK9g/s1600/DSC02911.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535069787627917378" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCEpVKPEEI/AAAAAAAAAbA/u1xeyOkeK9g/s320/DSC02911.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Salah satu karya yang menampilkan spontanitas mental &amp;amp; gerak tubuh &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu pelukis penting pasca Perang Dunia II, Judit Reigl sendiri dikenal sebagai sosok yang menyampingkan batasan-batasan dan aturan yang dianggapnya baku, mengabaikan perbedaan antara bagian depan dan belakang kanvas – dimana ia melukis pada dua sisinya, juga pada penonjolan karakter antagonis antara bentuk-bentuk figuratif dan non-obyektif, seperti halnya menyatukan prinsip surealisme dan abstraksi ekspresionisme. Kini karya-karyanya menjadi koleksi di berbagai museum kelas dunia, seperti London Tate Gallery, Paris Centre Pompidou, dan Metropolitan Museum of Art, New York.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCEpL09E5I/AAAAAAAAAa4/kx8SZUxEgeg/s1600/DSC02921.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535069785122739090" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCEpL09E5I/AAAAAAAAAa4/kx8SZUxEgeg/s320/DSC02921.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB9VRtKMoI/AAAAAAAAAaw/i5J2pQXDQZ4/s1600/DSC02926.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535061746521879170" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB9VRtKMoI/AAAAAAAAAaw/i5J2pQXDQZ4/s320/DSC02926.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB9U7eCfdI/AAAAAAAAAao/pbmmRBJ8Ghc/s1600/DSC02900.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535061740552879570" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB9U7eCfdI/AAAAAAAAAao/pbmmRBJ8Ghc/s320/DSC02900.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;em&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bersama Chen Zhaojun&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Salah satu karya/idenya yang menarik perhatian saya adalah pada “lukisan” yang berjudul &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Everything Can Happen”,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dimana di bidang display yang digunakan untuk menggantung lukisan hanya tercantum label judulnya saja – tidak ada lukisannya! Saya membandingkannya dengan ide komponis &lt;strong&gt;John Cage&lt;/strong&gt; dalam karya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;4’33’’&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (4 menit, 33 detik), dimana pianis hanya duduk di depan piano selama 4 menit 33 detik tanpa memainkan satu not pun. Apabila John Cage terpengaruh oleh filsafat Zen Buddhisme, dimana “silence” merupakan “musik” juga – dengan filosofi bahwa “silence” sama pentingnya dengan keindahan warna, bentuk, dan aroma sekuntum bunga, maka “lukisan” Judit Reigl ini nampaknya membuat setiap orang berimajinasi: &lt;em&gt;Anything Can Happen&lt;/em&gt;. Saya membayangkan, mungkin saja dari balik dindingnya akan muncul Suzzanna~&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB9UuMe4wI/AAAAAAAAAag/pZKB1GeoKss/s1600/DSC02925.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535061736989582082" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB9UuMe4wI/AAAAAAAAAag/pZKB1GeoKss/s320/DSC02925.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;"Anything Can Happen"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB9UdpncuI/AAAAAAAAAaY/vXKNLUzWccQ/s1600/DSC02924.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535061732548375266" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB9UdpncuI/AAAAAAAAAaY/vXKNLUzWccQ/s320/DSC02924.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;"Apapun dapat terjadi"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Suatu kebetulan, beberapa hari menjelang berakhirnya kuliah musim panas, ada suatu event penting di Debrecen yang sudah berjalan selama 50 tahun, yaitu &lt;strong&gt;Festival Jazz Debrecen (Debreceni Jazznapok) 2010&lt;/strong&gt; yang berlangsung tanggal 2-5 September. Kebetulan lagi, pembukaan festival tersebut salah satunya diadakan di Galéria Café yang terletak di gedung perpustakaan universitas – yang berarsitektur modern dan merupakan perpustakaan terbesar di Hungaria. Di tengah malam dingin dan hujan, khalayak ramai berkumpul di cafe perpustakaan yang nyaman dan &lt;em&gt;cozy&lt;/em&gt;, menyaksikan &lt;strong&gt;Debrecen Jazz Group&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Artézis Jazz Trio&lt;/strong&gt; membawakan nomor-nomor jazz terkenal, tentu diselingi dengan &lt;em&gt;jamz session&lt;/em&gt; yang mendapat sambutan hangat penonton. Saya bukan ahli jazz, namun malam itu saya benar-benar menikmati sajian musik yang spontan dan hangat. Jika terlalu banyak berpikir, kadang kita jadi tidak bisa menikmati sesuatu~&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB9UBlOrrI/AAAAAAAAAaQ/oOUx_jj7rNU/s1600/DSC02888.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535061725013782194" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB9UBlOrrI/AAAAAAAAAaQ/oOUx_jj7rNU/s320/DSC02888.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Penampilan Artézis Jazz Trio di Galéria Café &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB0xbNkhgI/AAAAAAAAAaI/WiLRmM872HI/s1600/DSC02891.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535052334505428482" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB0xbNkhgI/AAAAAAAAAaI/WiLRmM872HI/s320/DSC02891.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Galéria Café, bersama Gao Yunan dan Péter Szűcs&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;p&gt;Kemudian pada malam Sabtu selepas &lt;em&gt;farewell dinner&lt;/em&gt;, Péter Szűcs mengajak saya dan beberapa kawan untuk menyaksikan konser jazz yang lebih besar, yaitu di Baltazar Square, di depan Debrecen Museum of Modern Art (MODEM). Saat itu sedang ada penampilan memukau &lt;em&gt;latin jazz&lt;/em&gt; oleh &lt;strong&gt;Elsa Valle y sus Hermanos&lt;/strong&gt;. Saya menikmati sekali malam yang indah itu, terutama karena suasana yang membuat &lt;em&gt;mood&lt;/em&gt; senang – menyaksikan pertunjukan jazz di lapangan terbuka bersama dengan penikmat jazz lain, saat udara dingin beku namun bintang-bintang nampak bertaburan di langit yang cerah. Sungguh suatu momentum yang belum tentu terjadi dua kali. Setelah Zus Elsa selesai tampil, Péter membawa kami ke sebuah club jazz underground (terletak di bawah tanah) yang terletak tidak jauh dari Baltazar Square, yaitu Perenyi Music Club. Disana &lt;strong&gt;Debrecen Jazz Group&lt;/strong&gt; kembali tampil memukau, dengan &lt;em&gt;jamz session&lt;/em&gt; yang tak henti-hentinya, meskipun usia para musisinya sudah sepuh. Kira-kira kami baru kembali ke asrama konservatorium sekitar pukul satu dinihari, berjalan kaki di tengah udara dingin beku!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB0xFtYwqI/AAAAAAAAAaA/F8YU-GF8Ja4/s1600/DSC02948.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535052328733295266" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB0xFtYwqI/AAAAAAAAAaA/F8YU-GF8Ja4/s320/DSC02948.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Elsa Valle y sus Hermanos &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB0w1-2qiI/AAAAAAAAAZ4/rCbpT4bTofU/s1600/DSC02954.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535052324511590946" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB0w1-2qiI/AAAAAAAAAZ4/rCbpT4bTofU/s320/DSC02954.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Penampilan Debrecen Jazz Group di Perenyi Club &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Malam jazz indah dan romantis, dibawah langit bertaburkan bintang-bintang, merupakan suatu kesan tersendiri sebelum keesokan hari kami meninggalkan Debrecen menuju Budapest &lt;span style="font-size:130%;"&gt;☺&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB0wnK2lxI/AAAAAAAAAZw/qQ7fpSXyJrs/s1600/DSC02932.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535052320535385874" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB0wnK2lxI/AAAAAAAAAZw/qQ7fpSXyJrs/s320/DSC02932.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCRcuK-CyI/AAAAAAAAAcY/9L9KLV29Sz4/s1600/DSC02933.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535083864654744354" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCRcuK-CyI/AAAAAAAAAcY/9L9KLV29Sz4/s320/DSC02933.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB0wJkKMOI/AAAAAAAAAZo/GaURY7mpQN8/s1600/DSC02934.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5535052312588464354" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNB0wJkKMOI/AAAAAAAAAZo/GaURY7mpQN8/s320/DSC02934.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Farewell dinner di Leveles Csárda Restaurant&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-1016581425142371289?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/1016581425142371289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=1016581425142371289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1016581425142371289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1016581425142371289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/11/kuliah-musim-panas-di-hungaria-part.html' title='Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part Three)'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TNCRcTPko3I/AAAAAAAAAcQ/mQiHu1Mm-Nk/s72-c/DSC02814.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-5400927333976453654</id><published>2010-11-01T07:58:00.000-07:00</published><updated>2010-11-01T11:09:21.883-07:00</updated><title type='text'>Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part Two)</title><content type='html'>Hari pertama kuliah dibuka oleh kuliah dari &lt;strong&gt;Prof Erika Juhàsz&lt;/strong&gt; dengan tema &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hungarian folk music as the part of Hungarian culture: Regional traditions and specialities&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Pada kuliah ini, Prof Juhàsz yang juga adalah seorang penyanyi folklore, membuka horizon pengetahuan kami akan seluruh elemen musik rakyat Hungaria, dimana dulu kawasan kekaisaran Austro-Hungary juga meliputi sebagian Jerman, Rumania, Kroasia, Moldavia, dan Ceko-Slovakia. Setiap daerah lokal, memiliki ciri khas elemen musik rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen yang pertama kali menjadi dasar bagi musik rakyat Hungaria adalah &lt;strong&gt;tangganada pentatonik&lt;/strong&gt; (terdiri atas lima nada) dan nyanyiannya dibawakan dalam gaya menyanyi &lt;strong&gt;strophic parlando-rubato&lt;/strong&gt;. Bentuk primitif seperti ini, kerap kali disebut sebagai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Laments&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (nyanyian ratapan) yang memiliki melodi sama dan diulang-ulang, namun syairnya berbeda (strophic). Pada umumnya, gaya seperti ini dibawakan dengan bebas (rubato), tanpa terikat pada suatu hitungan birama tertentu. Setelah gaya &lt;em&gt;Laments&lt;/em&gt;, muncul gaya nyanyian &lt;strong&gt;giusto style&lt;/strong&gt; yang memiliki tempo ajeg, antara lain digunakan sebagai irama tarian. Kemudian sekitar abad 18-19 muncul suatu genre &lt;strong&gt;Verbunkos&lt;/strong&gt; yang dipengaruhi oleh irama musik Jerman, dibawa oleh para serdadu Jerman yang saat itu menguasai Hungaria. Perlu digarisbawahi bahwa musik kaum Gypsy tidaklah sama dengan musik rakyat Hungaria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam kuliah dari &lt;strong&gt;Prof Andràs Jànosi&lt;/strong&gt; yang bertema &lt;strong&gt;&lt;em&gt;The performing characteristics of Hungarian folk music&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, dijelaskan bahwa penotasian musik rakyat dengan menggunakan metrum birama (seperti yang dilakukan oleh Bela Bartók dan Zoltan Kodàly) pada kenyataannya berbeda dengan interpretasi aslinya. Prof Jànosi yang adalah seorang pemain biola fiddle dari tradisi ensemble gesek musik rakyat, memberikan banyak contoh mengenai ritme asimetris, dimana logika memainkan musik rakyat berbeda dengan konsepsi musisi klasik pada karya klasik Barat pada umumnya. Dalam musik rakyat, ritme sangat fleksibel dan cenderung rubato dan tidak sama, kendati dalam musik yang memiliki gaya giusto sekalipun. Selain itu beliau juga mengemukakan mengenai pentingnya improvisasi dalam memainkan atau menyanyikan musik rakyat. Kami dijelaskan beberapa pola improvisasi dan dicontohkan oleh beliau pada biola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7xQa1QOMI/AAAAAAAAAZg/86tSXCWbs-w/s1600/DSC02650.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534626256467802306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7xQa1QOMI/AAAAAAAAAZg/86tSXCWbs-w/s320/DSC02650.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Salah satu materi kuliah mengenai ritme asimetris&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7vpVUUHdI/AAAAAAAAAZY/4RfAuiACy0Q/s1600/DSC02654.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534624485460942290" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7vpVUUHdI/AAAAAAAAAZY/4RfAuiACy0Q/s320/DSC02654.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Prof Andràs Jànosi menerangkan proporsi ritme asimetris&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam kuliah selanjutnya yang bertema &lt;strong&gt;&lt;em&gt;The connections of the Hungarian folk and classical music in the 20th century&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, Prof Jànosi menjelaskan mengenai tradisi musik rakyat yang menjadi akar bagi komposisi musik Bela Bartók. Saat itu beliau mengundang dua musisi temannya untuk mementaskan beberapa contoh musik rakyat. Yang menarik, Prof Jànosi sebelumnya meminta salah satu dari peserta kuliah untuk memainkan karya Bartók berjudul &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Six Rumanian Folk Dances&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; di piano, dengan idiom dan persepsi seperti layaknya pianis klasik pada umumnya. Setelah itu, ensemble gesek beliau membawakan karya yang sama, namun dengan fleksibilitas ritme dan harmoni yang sangat berbeda. Hasilnya memang berbeda sekali. Six Rumanian Folk Dances tersebut merupakan kumpulan tarian rakyat dari daerah yang berbeda-beda, kemudian dikumpulkan, dinotasikan untuk piano oleh Bartók, dan ditambahkan harmoni yang unik. Sementara itu, versi asli yang dimainkan oleh ensemble gesek terdengar sangat “mentah” seperti &lt;em&gt;indigenous folksong&lt;/em&gt; pada umumnya, dengan harmoni sederhana dan mengandalkan kemampuan improvisasi pada pola-pola tertentu. Meskipun demikian, kedua versi tetap menarik pada perspektifnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7vpFMpsuI/AAAAAAAAAZQ/dCVdEhpUq2E/s1600/DSC02657.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534624481133834978" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7vpFMpsuI/AAAAAAAAAZQ/dCVdEhpUq2E/s320/DSC02657.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Prof Andràs Jànosi &amp;amp; Ensemble geseknya &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari berikutnya ada &lt;strong&gt;Prof Làszló Felföldi&lt;/strong&gt; dari &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hungarian Academy of Science&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, sebuah institusi paling terhormat di Hungaria dan berkedudukan di Budapest. Seorang profesor jangkung yang nampak tenang, kalem, dan karismatik, beliau merupakan salah satu anggota kehormatan UNESCO, dan antara lain yang mem-voting batik Indonesia sebagai salah satu warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Kali ini tema kuliah adalah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;The connections of instrumental folk music and folk dance: The importance of folk customs,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; menjelaskan mengenai dinamika dan proses komunikasi timbal-balik antara musisi dan penari dalam suatu pertunjukan tarian rakyat. Setelah sesi kuliah yang cukup rumit, kami diminta untuk membuat suatu formasi dan mempraktikkan tarian rakyat dalam bentuk yang paling sederhana. Bagi orang Hungaria mungkin sederhana, namun bagi saya (dan juga peserta kuliah yang lain), lompat-lompat dan berputar-putar dalam ritme yang sangat cepat sudah cukup membuat kewalahan~&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7rz0zhvjI/AAAAAAAAAZI/0zyifk-3DwE/s1600/DSC02674.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534620267665538610" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7rz0zhvjI/AAAAAAAAAZI/0zyifk-3DwE/s320/DSC02674.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Prof Làszló Felföldi mengajarkan tarian rakyat&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah yang cukup menarik adalah oleh &lt;strong&gt;Prof Joób Àrpàd&lt;/strong&gt; dengan tema &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hungarian folk music as the part of the Hungarian identity&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Disini kami diperkenalkan dengan berbagai macam alat musik tradisional, antara lain &lt;strong&gt;Zyther, Bagpipe&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;Hurdy-Gurdy&lt;/strong&gt;. Hal yang sangat menarik, Bagpipe dan Hurdy-Gurdy adalah alat musik yang sangat populer di era Renaissance, dimana para ahli menelusuri sejarah keberadaannya yang disinyalir memiliki pengaruh dari alat musik Timur Tengah. Memang tidak heran, musik rakyat Hungaria pun dipengaruhi oleh elemen musik tradisional Turki, terutama pada saat penaklukkan Hungaria oleh kerajaan Turki-Ottoman di era Renaissance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7rzlWS0BI/AAAAAAAAAZA/VsoOin5nCgA/s1600/DSC02690.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534620263516393490" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7rzlWS0BI/AAAAAAAAAZA/VsoOin5nCgA/s320/DSC02690.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Prof Joób Àrpàd &amp;amp; Bagpipe&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7rzLFx6ZI/AAAAAAAAAY4/hiYLWjtBAyY/s1600/DSC02696.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534620256467806610" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7rzLFx6ZI/AAAAAAAAAY4/hiYLWjtBAyY/s320/DSC02696.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Prof Joób Àrpàd memainkan Hurdy-Gurdy&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada minggu kedua, kuliah diawali oleh &lt;strong&gt;Prof Àgnes Török&lt;/strong&gt; yang merupakan profesor piano di konservatorium Debrecen. Dengan tema &lt;strong&gt;&lt;em&gt;National music and European music culture&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, Prof Török mengemukakan beberapa contoh musik komposer Eropa Barat yang menggunakan elemen musik rakyat Hungaria, misalnya Joseph Haydn, Ludwig von Beethoven, Johannes Brahms, hingga komposer dan pianis kebanggaan Hungaria: Franz Liszt. Bahkan dalam musik Johann Sebastian Bach pun terdapat beberapa elemen musik rakyat Hungaria.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain itu, pada sesi ini dibahas secara mendalam mengenai genre Verbunkos, yang memiliki kesamaan dengan jenis Csàrdàs. Gaya Verbunkos ini merupakan &lt;em&gt;melting pot&lt;/em&gt; dari musik rakyat Hungaria, Slavik-Balkan, Gypsy, dengan gaya Western. Tipikal Verbunkos, menggunakan ensemble gesek dengan iringan alat musik &lt;strong&gt;cembalom&lt;/strong&gt;. Biasanya musik ini untuk mengiri tarian bertempo cepat yang penuh dengan spontanitas dan enerjik, mengandalkan keleluasaan gerak kaki dalam gaya &lt;em&gt;still-standing&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7ryxDmtnI/AAAAAAAAAYw/XXsjhgeujCw/s1600/DSC02847.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534620249479362162" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7ryxDmtnI/AAAAAAAAAYw/XXsjhgeujCw/s320/DSC02847.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Prof Àgnes Török menerangkan gaya musik Verbunkos &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dua sesi kuliah yang sangat menyenangkan adalah saat &lt;strong&gt;Prof Màrta Sarosine Szabó&lt;/strong&gt; (profesor bidang teori musik di konservatorium) membawakan tema &lt;strong&gt;&lt;em&gt;The Hungarian musical native language as the base of Hungarian music education &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;dan&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Folk music in the classical, 20th century vocal music&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Seorang profesor yang sangat antusias dan bersemangat, memberikan kami segudang karya musik untuk dianalisis. Analisis pertama adalah mengenai sistem pendidikan musik yang dikembangkan oleh Zoltan Kodàly, yang menekankan pentingnya mendidik musik sejak dini melalui bahasa musik lokal: dalam hal ini adalah musik rakyat Hungaria yang menggunakan tangganada pentatonik. Untuk memahami sistem ini, dibutuhkan kemampuan untuk melakukan &lt;em&gt;sight-reading&lt;/em&gt; dengan &lt;em&gt;movable do&lt;/em&gt;, juga melalui gerak-isyarat tangan yang masing-masing melambangkan not &lt;em&gt;do, re, mi, fa, sol, la, ti&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7ryqaIIpI/AAAAAAAAAYo/CZEiDAfzk1Y/s1600/DSC02873.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534620247694779026" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7ryqaIIpI/AAAAAAAAAYo/CZEiDAfzk1Y/s320/DSC02873.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Prof Màrta Sarosine Szabó pada piano&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis musik pertama adalah pada struktur musik vokal karya Bartók &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“New Hungarian Folk Song”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Erdő, erdő de magos a teteje&lt;/em&gt;) yang melodinya diambil dari melodi asli rakyat Hungaria, menggunakan tangganada pentatonik. Meskipun melodi yang digunakan sangat sederhana, namun Bartók memberikan sentuhan modern pada lagu ini. Ada yang disebut dengan tipikal chord Bartók (&lt;em&gt;Bartókian chords&lt;/em&gt;), yaitu yang dibentuk oleh &lt;strong&gt;overtone scales&lt;/strong&gt;. Tangganada tersebut terbentuk dari getaran simpatetik yang muncul dari resonansi bunyi pada frekuensi nada tertentu. Jenis tangganada ini biasanya digunakan untuk menggambarkan nuansa alam, karena memang berasal secara natural dari frekuensi alam. Kemudian komposer Prancis &lt;strong&gt;Claude Debussy&lt;/strong&gt; mengembangkan jenis tangganada ini, misalnya bisa ditemukan pada karya &lt;em&gt;La Mér&lt;/em&gt; (Laut).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Analisis musik berikutnya adalah mengenai struktur musik polifoni &lt;strong&gt;Johann Sebastian Bach&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Ein feste burg ist unsser Gott” BWV 80&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang melodinya diambil dari tradisi &lt;em&gt;choral&lt;/em&gt; musik gereja Lutheran. Disini kami digembleng dengan form binary A-B (&lt;em&gt;Stollen-Abgesang&lt;/em&gt;) yang merupakan tradisi dari musik-musik para penyanyi &lt;em&gt;Troubadour/Minnesänger&lt;/em&gt; di abad pertengahan. Selain itu ada analisis mengenai lagu rakyat dengan tangganada modus gereja (&lt;em&gt;Church-mode&lt;/em&gt;) Aeolian dalam format &lt;em&gt;counterpoint&lt;/em&gt;, juga analisis terhadap beberapa lagu rakyat Inggris yang dikumpulkan oleh &lt;strong&gt;Cecil Sharp &amp;amp; Maud Karpeles&lt;/strong&gt;, dan beberapa aransemen serupa yang diberi tambahan harmoni modern oleh &lt;strong&gt;Benjamin Britten&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sangat menarik adalah ketika Prof Szabó memberikan pengenalan kepada historiografi tangganada pentatonik, dimana tangganada tersebut telah ada sejak era sebelum Masehi. Di seluruh dunia, termasuk Eropa, Afrika, Asia, Amerika, tangganada pentatonik dapat ditemukan sebagai basis dari suatu musik rakyat. Pada awalnya, Prof Szabó memperdengarkan sebuah rekaman berupa suara (seperti suara pria dewasa) yang menyanyikan nada pentatonik: &lt;em&gt;la mi sol mi, la mi sol mi~&lt;/em&gt; &lt;em&gt;mi LA re do, mi LA re do~&lt;/em&gt; Setelah itu, beliau memperdengarkan suara burung berkicau indah. Kemudian, Prof Szabó menjelaskan bahwa rekaman yang pertama kali diperdengarkan (yang mirip suara pria dewasa menyanyikan melodi pentatonik) merupakan suara BURUNG (yang diperdengarkan setelahnya) yang diperlambat puluhan kali. Jadi, burung tersebut sebenarnya berkicau menyanyikan nada pentatonik! Tentu seluruh kelas terkejut. Saya bertanya, “Apakah berarti musik-musik rakyat yang menggunakan tangganada pentatonik, menandakan bahwa mereka mengadaptasi tangganada tersebut dari alam sekitarnya? Mengingat pada zaman dahulu manusia sangatlah dekat dengan alam,”. Prof Szabó menjawab, “Itu juga yang ada di pikiran saya,”. Kemudian struktur pentatonik à la kicauan burung itu, dianalisis oleh para ahli menjadi sistem “tonal answer”, dimana kita bisa menemukannya dalam bentuk tanya-jawab dalam interval dominan (&lt;em&gt;5th shift&lt;/em&gt;), misalnya di musik JS Bach pada pembukaan tema Fuga WTK I No 2.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami mulai menganalisis tangganada pentatonik dengan berbagai variannya. Ada &lt;em&gt;pentatonic&lt;/em&gt; &lt;em&gt;anhemitonic&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;hemitonic&lt;/em&gt;, hingga pada &lt;em&gt;pentatonic seventh&lt;/em&gt;. Prof Szabó yang berwawasan luas, juga menjelaskan mengenai variasi pentatonik yang ada di musik rakyat China, juga aplikasinya pada tangganada &lt;strong&gt;gamelan Jawa&lt;/strong&gt; yang dibagi dalam dua jenis, yaitu &lt;em&gt;pelog&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;salendro&lt;/em&gt;. Sang profesor yang kagum sendiri dengan sistem tangganada gamelan, menjelaskan “Bisa kalian bayangkan, pada tangganada gamelan ‘Salendro’, mereka membagi semua not dalam jarak sama rata! Itu berbeda sekali dengan tradisi musik yang ada di Barat. Jarak antar-nadanya pun tidak setengah, melainkan mikrotonal,”. Saya pun senang~ &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7jErwadLI/AAAAAAAAAYg/Q6j7FZRoDbo/s1600/DSC02874.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534610661689685170" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7jErwadLI/AAAAAAAAAYg/Q6j7FZRoDbo/s320/DSC02874.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Prof Màrta Sarosine Szabó menerangkan Gamelan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Prof Szabó memperkenalkan komposer-komposer Hungaria yang mungkin jarang terdengar, padahal di negaranya menjadi legenda. Selain &lt;strong&gt;Franz Liszt&lt;/strong&gt;, ada &lt;strong&gt;Franz (Ferenc) Erkel&lt;/strong&gt; (1810-1893) yang membuat opera bertema heroik berjudul &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bànk Bàn&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Erkel ini pula yang mengarang lagu kebangsaan Hungaria &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Himnusz – Isten àlld meg a magyart”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (God, bless the Hungarian) dimana lagunya lebih bersifat doa dan perenungan, dalam tempo lambat dan agung. “Berbeda dari lagu-lagu kebangsaan negara lain yang umumnya bersifat gagah berani atau bangga, lagu kebangsaan Hungaria lebih merupakan doa. Melodinya diambil dari melodi rakyat.”~ Franz (Ferenc) Liszt dan Franz (Ferenc) Erkel adalah &lt;em&gt;"dynamic-duo"&lt;/em&gt; yang turut mendirikan Akademi Musik di Budapest.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kami juga diperdengarkan melodi rakyat popular Hungaria yang sebenarnya merupakan jenis &lt;em&gt;Laments&lt;/em&gt;, dalam tipe &lt;strong&gt;Peacock&lt;/strong&gt;. Tipe melodi seperti ini selalu bergerak turun (&lt;em&gt;descending&lt;/em&gt;) dalam &lt;em&gt;5th shift&lt;/em&gt; dan diadaptasi oleh &lt;strong&gt;Zoltan Kodàly&lt;/strong&gt; dalam karya orkestralnya yang terkenal: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Peacock Variations&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Musiknya sangat indah, dengan harmoni yang &lt;em&gt;advance&lt;/em&gt;, namun tetap memunculkan karakter asli dari musik aslinya. Terkadang ada beberapa variasi yang terdengar seperti musik rakyat China, tidak heran karena &lt;em&gt;Laments Peacock&lt;/em&gt; tersebut menggunakan tangganada pentatonik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lantas kami berkesempatan mendapat kuliah dari &lt;strong&gt;Prof Mihàly Ittzés&lt;/strong&gt; yang berasal dari &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kodàly Institute&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Institut yang terletak di kota Kecskemét tersebut merupakan kota kelahiran Kodàly, sekaligus pusat pengembangan dan konservasi metode pembelajaran musik à la Zoltan Kodàly. Kehadiran Prof Ittzés di Debrecen merupakan suatu momen penting, dimana beliau menjelaskan mengenai dasar-dasar pengajaran musik dengan metode Kodàly. Saya sempat membeli beberapa buku referensi yang kebetulan dikarang oleh beliau. Dekan konservatorium &lt;strong&gt;Prof Mihàly Duffek&lt;/strong&gt; yang sempat hadir pada sesi tersebut, menampilkan sebuah karya &lt;strong&gt;Kodàly&lt;/strong&gt; untuk piano, yaitu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Székely Keserves”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dari &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Seven Pieces for Piano op 11&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Melodi aslinya sangat sederhana, diambil dari &lt;em&gt;Laments&lt;/em&gt; daerah pegunungan Transilvania, namun diberikan sentuhan harmoni luar biasa dan impresionistik (Kodàly banyak mendapatkan pengaruh dari Debussy). Prof Duffek yang merupakan pianis lulusan Franz Liszt Academy of Budapest (dibawah bimbingan Pàl Kadosa) nampaknya masih memiliki &lt;em&gt;touch&lt;/em&gt; yang prima, dengan segenap power memadai untuk menampilkan karya tersebut secara puitis. Beliau juga menampilkan karya &lt;strong&gt;Bartók&lt;/strong&gt; dari kumpulan lagu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Easy Pieces”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; berjudul &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“An Evening in The Village”.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Melodi yang indah, terus hinggap di benak saya hingga setiap kali saya berjalan di lorong konservatorium, pasti sambil menyiulkan melodi tersebut~&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7jEGU57_I/AAAAAAAAAYY/KrZHLwbqi1w/s1600/DSC02698.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534610651642195954" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7jEGU57_I/AAAAAAAAAYY/KrZHLwbqi1w/s320/DSC02698.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Prof Mihàly Duffek menampilkan beberapa karya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kuliah terakhir ditutup oleh ceramah dari Prof Duffek sendiri, masih berkoar-koar mengenai topik yang sama, yaitu pentingnya menyelamatkan identitas musik dengan bantuan pedagogi musik Hungaria. Intinya, beliau tetap mengeluhkan turunnya kualitas pendidikan generasi muda yang dirusak oleh kebudayaan pop dan globalisasi, sehingga kami sebagai calon pendidik bangsa memiliki kewajiban untuk merawat kebudayaan asli yang menjadi identitas diri kita.&lt;br /&gt;Beliau mengungkapkan, “&lt;em&gt;Facing the Globalisation: The reason Bartók collected so many folk music, not only Hungarian, but also Serbian, Croatian, Arabic, and so on – is to build the national character of the nation, and also to be open to the world’s culture,&lt;/em&gt;” Kemudian ceramah ditutup dengan Ujian Akhir yang bertujuan untuk melihat sejauh mana para peserta kuliah dapat menyerap materi yang diberikan, dari awal hingga akhir. Puji Tuhan, saya mendapatkan nilai tertinggi di kelas, with &lt;em&gt;High Honours&lt;/em&gt;~ ☺&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7jD-ZxnAI/AAAAAAAAAYQ/EijbDlJqwMM/s1600/DSC02710.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534610649515138050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7jD-ZxnAI/AAAAAAAAAYQ/EijbDlJqwMM/s320/DSC02710.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Latihan tarian rakyat yang sangat melelahkan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7jDCoLNoI/AAAAAAAAAYI/SdPcqPSk0dU/s1600/DSC02703.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534610633469408898" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7jDCoLNoI/AAAAAAAAAYI/SdPcqPSk0dU/s320/DSC02703.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Ibu-ibu petani lokal dari kampung sebelah menyanyi &amp;amp; menari&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7jCkN4W7I/AAAAAAAAAYA/dK8MCiRoyVs/s1600/DSC02706.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534610625306057650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7jCkN4W7I/AAAAAAAAAYA/dK8MCiRoyVs/s320/DSC02706.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-5400927333976453654?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/5400927333976453654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=5400927333976453654' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/5400927333976453654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/5400927333976453654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/11/kuliah-musim-panas-di-hungaria-part-two.html' title='Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part Two)'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TM7xQa1QOMI/AAAAAAAAAZg/86tSXCWbs-w/s72-c/DSC02650.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-3532167959979596402</id><published>2010-10-25T12:31:00.000-07:00</published><updated>2010-10-25T13:31:44.516-07:00</updated><title type='text'>Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part One)</title><content type='html'>Tanggal 22 Agustus – 4 September 2010 yang lalu saya mendapat beasiswa dari pemerintah Hungaria untuk mengikuti Summer Course mengenai tradisi dan inovasi dalam pendidikan musik Hungaria. Kuliah musim panas yang diadakan di Universitas Debrecen (kota Debrecen, sekitar 2 jam perjalanan dengan kereta dari Budapest) tersebut diikuti oleh sekelompok mahasiswa dari Beijing Central Conservatory, dua orang Malaysia (satu lulusan piano dari University of Birmingham, satu lagi lulusan piano dari Conservatory of Taiwan), dan seorang pelukis-fotografer Italia, selain saya sendiri tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532078153536014450" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXjxTs2iHI/AAAAAAAAAXY/yazFbRgBieM/s320/DSC02828.JPG" border="0" /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Kota Debrecen yang tenang, mendukung suasana belajar&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Secara teknis, kuliah diadakan di gedung Conservatory of Debrecen, dimana kami tinggal di asrama berlantai sembilan yang menyatu dengan bangunan utama gedung konservatorium. Gedung tersebut terletak persis berhadapan dengan bangunan utama University of Debrecen. Di lantai basement, ada banyak studio yang dilengkapi dengan piano-piano grand Steinway, Bösendorfer, dan August-Förster. Pada masing-masing studio terdapat dua piano, dan kami boleh menggunakan ruangan tersebut untuk berlatih, meskipun dalam pelaksanaan kuliah, memang tidak dituntut untuk memainkan suatu karya tertentu. Namun ada kalanya, dosen meminta kami untuk memainkan suatu contoh lagu tertentu, misalnya ketika itu saya dan teman Malaysia saya diminta untuk main duet, karya seorang komposer Hungaria bernama J. Thomàn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532078182930699090" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXjzBNF01I/AAAAAAAAAX4/z4Z5sHDb01A/s320/DSC02664.JPG" border="0" /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Bangunan utama (University Building)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXjyubLEAI/AAAAAAAAAXw/fsd75KXEVHc/s1600/DSC02831.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532078177889488898" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXjyubLEAI/AAAAAAAAAXw/fsd75KXEVHc/s320/DSC02831.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Berlatih di salah satu studio konservatorium&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sosok yang bertanggungjawab atas pelaksanaan kuliah musim panas ini adalah dekan konservatorium, yaitu Prof Mihàly Duffek – seorang pendidik sejati yang berulang kali menyatakan kekecewaannya terhadap sistem pendidikan berbasiskan kapitalisme, suatu kecenderungan yang ada dimanapun, termasuk di Universitas Indonesia. Beliau mengungkapkan bahwa saat ini mutu lulusan universitas manapun sedang mengalami penurunan. Menurutnya semua itu disebabkan oleh komodifikasi pendidikan yang mengubah keseluruhan arti dari pendidikan itu sendiri. Zaman dulu, pendidikan merupakan sesuatu yang bersifat proses, berlangsung terus menerus, dan bertujuan untuk memanusiakan manusia – dalam arti, bagaimana caranya menjadikan manusia sebagai sosok yang berkebudayaan dan beradab (&lt;em&gt;cultured&lt;/em&gt;). Namun Duffek dengan lantang menyebutkan bahwa globalisasi telah merusak semua tatanan nilai tersebut: menjadi diseragamkan dalam sistem kapitalisme, dimana mahasiswa membayar uang uang kuliah agar dosen dapat memberikan ilmunya, sehingga kelak dia bisa bekerja dan mendapatkan uang yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXjyDFzBnI/AAAAAAAAAXo/pbrJr2cQwm8/s1600/DSC02946.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532078166257108594" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXjyDFzBnI/AAAAAAAAAXo/pbrJr2cQwm8/s320/DSC02946.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Berpose bersama peserta Summer Course, setelah farewell dinner&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“&lt;em&gt;Everything is about money now&lt;/em&gt;” sesal Duffek. “&lt;em&gt;It’s because the globalization has changed our way of life. America is to blame for this matter. America with their evil culture have corrupted the younger generations. Now if you examine the students in our university, they don’t know what to do. They have been spoiled by such instant things, they don’t want to enrich themselves with things which can make them civilised. All they want is money! And if you ask them something about their own root, the greatness of the European traditions, the Hungarian culture, the music, the arts, they don’t know! The bad culture from America made them ignorant. Now if I ask you something, what is the so-called ‘American culture’?&lt;/em&gt;” ungkap Duffek dengan sangat berapi-api, dalam suatu percakapan di balkon konservatorium. “&lt;em&gt;That’s why, it’s very important to preserve our culture, through the innovations in our music education, based on our own root, the great tradition of Hungarian music,&lt;/em&gt;”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXjxisKBHI/AAAAAAAAAXg/QYwTwoAr4FA/s1600/DSC02945.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532078157559628914" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXjxisKBHI/AAAAAAAAAXg/QYwTwoAr4FA/s320/DSC02945.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Bersama Prof Duffek, mendapat nilai tertinggi di kelas&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Maka kuliah yang berlangsung selama dua minggu pun dirancang dalam susunan yang sangat sistematik. Dimulai dari pengenalan akan bentuk-bentuk musik rakyat (&lt;em&gt;folk music&lt;/em&gt;) Hungaria, pengenalan akan tarian rakyat tradisional, musik rakyat sebagai basis dari identitas diri Hungaria, hingga pada kaitan antara musik rakyat Hungaria dengan tradisi musik Eropa Barat, seperti yang biasa kita dengar pada karya-karya Liszt (misalnya &lt;em&gt;Hungarian Rhapsodies&lt;/em&gt;) atau Brahms (&lt;em&gt;Hungarian Dance&lt;/em&gt;), dan bermuara pada konsep pendidikan musik berbasiskan musik rakyat yang dikembangkan Zoltan Kodàly, juga berbagai analisis pada &lt;em&gt;repertoire&lt;/em&gt; karya Bela Bartók. Kuliah terakhir menampilkan Prof Mihàly Duffek, berbicara panjang lebar mengenai topik yang sama seperti yang saya bahas sebelumnya, diikuti dengan ujian akhir untuk menilai kemampuan kami dalam menyerap keseluruhan kuliah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-3532167959979596402?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/3532167959979596402/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=3532167959979596402' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3532167959979596402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3532167959979596402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/10/kuliah-musim-panas-di-hungaria-part-one.html' title='Kuliah Musim Panas di Hungaria (Part One)'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXjxTs2iHI/AAAAAAAAAXY/yazFbRgBieM/s72-c/DSC02828.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-3638180056713297254</id><published>2010-10-25T09:59:00.000-07:00</published><updated>2010-10-25T12:05:26.482-07:00</updated><title type='text'>Beberapa Pertunjukan Sebelumnya</title><content type='html'>Akhirnya saya berkesempatan untuk memperbarui blog ini, meskipun ada beberapa pertunjukan musik bagus yang terlewat untuk diulas, diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan memukau dari karya orkestral &lt;strong&gt;“Nyi Ronggeng”&lt;/strong&gt; karya komponis kenamaan Indonesia – &lt;strong&gt;Yazeed Djamin&lt;/strong&gt;, yang pada 10 Juni lalu dibawakan oleh Nusantara Symphony Orchestra (NSO) dibawah baton konduktor Prancis, Michael Cousteau. Karya yang sebenarnya terdiri atas beberapa bagian tersebut turut menampilkan penari ronggeng yang melenggak-lenggok leluasa di tengah panggung pada saat bagian kendang dimainkan oleh penabuh kendang kawakan, Jalu Pratidina. Meskipun keutuhan rancang-bangun dari segi artistik masih dapat dikembangkan lagi oleh NSO, namun merupakan suatu keunikan untuk kembali mengangkat karya lama almarhum Pak Yazeed tersebut di panggung Balai Sarbini.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532041747457097826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXCqMfPwGI/AAAAAAAAAWw/HzyfBoxIMP8/s320/DSC02225.JPG" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Penari Ronggeng diiringi tetabuhan kendang beraksi di tengah panggung&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Salah satu konser memukau lainnya adalah pada awal Agustus di Aula Simfonia Jakarta, dimana pemain harpa &lt;strong&gt;Rama Widi&lt;/strong&gt; menggandeng para musisi kenamaan untuk mempersembahkan musik bersama dalam satu panggung. Tidak kurang dari Twilite Orchestra, Paduan Suara Paragita UI, dan gamelan Bali Pak Kompyang Raka, didukung oleh konduktor Addie MS, duo-pianis Levi Gunardi dan Adelaide Simbolon, soprano Aning Katamsi, serta dua harpist muda Mesty Ariotedjo dan Erasputranto membawakan &lt;strong&gt;Babak I Gunung Agung&lt;/strong&gt; karya komponis &lt;strong&gt;Trisutji Kamal&lt;/strong&gt;. Karya megah tersebut dibawakan dengan nuansa mistis-magis, perkawinan antara orkestra bergaya Barat dengan gamelan Bali. Dinamis dan elok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di babak kedua yang merupakan jantung dari konser malam itu, Rama Widi sebagai solis membawakan &lt;strong&gt;Harp Concerto Op 25&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Alberto Ginastera&lt;/strong&gt;. Karya yang sarat akan ketegangan dan keberanian itu dibawakan dengan gagah berani, dan merupakan perpaduan yang sangat jantan antara jemari besi Rama Widi dengan kepemimpinan Addie MS terhadap Twilite Orchestra. Semua klimaks hadir di saat yang tepat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532041759594856770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXCq5tHQUI/AAAAAAAAAW4/tQEf8nLScWc/s320/DSC02408.JPG" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Addie MS memimpin Twilite Orchestra &amp;amp; Paragita Choir&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532041768443470962" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXCraqyZHI/AAAAAAAAAXA/2hF2ffJx4SQ/s320/DSC02410.JPG" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Rama Widi &amp;amp; Mesty Ariotedjo&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Masih di minggu kedua Agustus, penikmat musik klasik dikejutkan dengan penampilan mahadahsyat dari &lt;strong&gt;Philippines Madrigal Singers (Madz)&lt;/strong&gt; di Usmar Ismail Hall. Konser paduan suara kelas dunia ini merupakan salah satu penampilan terbaik yang saya saksikan sepanjang tahun 2010. Belum pernah saya menyaksikan konser paduan suara dengan penataan artistik sangat tinggi, hingga detail terkecil pun digarap nyaris sempurna, dengan teknik vokal tinggi pada setiap personilnya – tentunya dengan disiplin yang sangat tinggi.&lt;/p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXCr8RPMzI/AAAAAAAAAXI/K5JtXaOlezg/s1600/DSC02421.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532041777463112498" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXCr8RPMzI/AAAAAAAAAXI/K5JtXaOlezg/s320/DSC02421.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Madz&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kemudian konser unik yang sangat berkesan diadakan di restoran Italia Pepenero di Graha Niaga Sudirman. Konser yang merupakan bagian dari Cum Laude Series garapan &lt;a href="http://www.blogger.com/www.musik-sastra.com"&gt;Yayasan Musik Sastra &lt;/a&gt;tersebut menampilkan soprano muda gemilang &lt;strong&gt;Bernadeta Astari (Deta)&lt;/strong&gt; yang baru saja menyelesaikan studi vokalnya di Belanda dengan predikat Summa Cum Laude. Tampil bersama contralto Rosina Fabius, soprano Floor van der Sluis, baritone Michael Wilmering, serta tenor Ivan Yohan dan Farman Purnama, malam itu Deta membuat suasana mencengangkan dengan kemampuan vokalnya yang magnetik: volume yang besar dengan warna suara indah, dan pencapaian teknik resonansi tinggi yang membuatnya seolah-olah menyanyi dalam ruang berakustik baik, padahal restoran Pepenero bukanlah tempat yang ditujukan untuk menyanyi tanpa microphone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep konser yang unik, dimana para vokalis menyanyikan aria-aria opera terkenal disertai akting di tengah-tengah hadirin, membuat saya merasa turut serta dalam kisah yang sedang dinyanyikan. Pianis pengiring berkebangsaan Jepang – Kanako Inoue pun mengiringi dengan efisien dan akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5532041785981497058" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXCscALbuI/AAAAAAAAAXQ/1DPBynMkR3o/s320/DSC02434.JPG" border="0" /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Bersama Deta &amp;amp; para artis pendukung&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-3638180056713297254?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/3638180056713297254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=3638180056713297254' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3638180056713297254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3638180056713297254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/10/beberapa-pertunjukan-sebelumnya.html' title='Beberapa Pertunjukan Sebelumnya'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TMXCqMfPwGI/AAAAAAAAAWw/HzyfBoxIMP8/s72-c/DSC02225.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-5773274237244801844</id><published>2010-06-14T12:34:00.000-07:00</published><updated>2010-06-14T14:13:07.191-07:00</updated><title type='text'>Kreativitas Musikal Mahasiswa UI</title><content type='html'>Pada tanggal 11 Mei yang lalu, program pendidikan dasar UI mengadakan perhelatan “Gelar Karya” yang secara rutin diadakan setahun sekali, bertujuan untuk menampilkan hasil karya para mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Pengembangan Kepribadian Seni (MPKS) di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBaKi_PynrI/AAAAAAAAAWI/7KKu_fHv_vI/s1600/DSC02191.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5482721930068008626" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBaKi_PynrI/AAAAAAAAAWI/7KKu_fHv_vI/s320/DSC02191.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Rektor Universitas Indonesia membuka "Gelar Karya"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Saat itu &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2010/01/semester-pertama-mengajar-di-ui.html"&gt;mata kuliah Apresiasi Musik &lt;/a&gt;yang kami asuh menghadirkan sejumlah mahasiswa berbakat yang membawakan berbagai lagu dari berbagai era dan zaman, sesuai dengan mata kuliah yang dipelajari, yaitu kajian mengenai sejarah musik dan perkembangannya, serta praktikum mereka pada alat musik yang dikuasai. Sebagaimana sejarah perkembangan musik yang dipelajari mencakup musik dari era Medieval (Abad Pertengahan) hingga Modern (termasuk musik pop, rock, dan alternatif), maka dapat kita lihat antusiasme mahasiswa untuk berekspresi di atas panggung, antara lain adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5482721935663748130" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBaKjUF61CI/AAAAAAAAAWQ/FJ_AsGWSQrE/s320/DSC02177.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Dosen &amp;amp; Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Violis &lt;strong&gt;Astari Anjani&lt;/strong&gt; dan pianis &lt;strong&gt;Irwina Annisa&lt;/strong&gt; berduet membawakan lagu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Humoresque&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (Antonin Dvorak) dengan manis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pianis &lt;strong&gt;Anne Ivana Samanhudi&lt;/strong&gt; membawakan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Etude Causerie&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang indah karya komponis Rusia, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Cesar Cui&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Dengan segala keterbatasan akustik, Anne berusaha untuk menampilkan kerja kerasnya selama ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Flutist &lt;strong&gt;Yogi Tri Prasetyo&lt;/strong&gt; dan pianis &lt;strong&gt;Leonard Reza Saputra&lt;/strong&gt; dengan duet &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Concerto for Flute and Harpsichord&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (Johann Christian Bach) yang dibawakan dengan sangat dinamis, lincah, dan mengikuti kaidah permainan musik era Barok.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Clarinetist &lt;strong&gt;Hendro Wijaya&lt;/strong&gt; (diiringi saya pada piano) yang membawakan lagu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Edelweiss&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; dengan selamat (karena selama latihan kerap kali ia kehabisan nafas, mungkin disebabkan reed clarinetnya yang belum begitu lunak).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Violis &lt;strong&gt;Putri Adisti Hasanah&lt;/strong&gt; (diiringi saya pada piano), membawakan lagu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“Over the Rainbow”.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Adisti yang merupakan salah satu pemain violin pada grup musik sufi “Debu” ini bahkan sampai membuat aransemen sendiri khusus untuk tampil pada Gelar Karya saat itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Duet cantik dari &lt;strong&gt;Fajar Cahyanto&lt;/strong&gt; dan vokalis/pianis (ala Joss Stone) &lt;strong&gt;Finishia Desela&lt;/strong&gt;, membawakan lagu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hero&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5482721944425318882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBaKj0u1yeI/AAAAAAAAAWY/Knh-KLg49IE/s320/DSC02195.JPG" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Membawakan "Kompor Meleduk"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Trio gitaris blues &lt;strong&gt;Ian Martin&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Andrian Surya Wirawan&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;M. Tanziel&lt;/strong&gt;, membawakan lagu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Benyamin S. “Kompor Meleduk”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang sangat menarik untuk didengar. Saya sendiri ingat ketika dulu mengikuti Jazz Clinic dalam rangka Jazz Goes to Campus FEUI, musisi jazz Idang Rasjidi mengatakan bahwa tanpa kita sadari, nada-nada blues, soul, dan rock &amp;amp; roll telah ada dalam perkembangan musik Indonesia, antara lain ia mencontohkan lagu “Kompor Meleduk” Benyamin S tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masih diiringi Trio gitaris blues, ada vocal group &lt;strong&gt;Miranti, Wahyu&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;Enrico&lt;/strong&gt; membawakan sebuah lagu jazz dari &lt;em&gt;&lt;strong&gt;MaliQ &amp;amp; d’Essentials&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Tidak saya sangka bahwa mahasiswa kami memiliki sejumlah talenta vokal yang nampaknya sangat natural dan tidak berlebihan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Kemudian rangkaian penampilan mahasiswa ditutup oleh penampilan dosen, yaitu saya pada piano dan soprano &lt;strong&gt;Sri Muji Rakhmawati&lt;/strong&gt; dengan &lt;em&gt;aria opera&lt;/em&gt; penuh penderitaan dari opera &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Manon Lescaut&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; karya &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Giacomo Puccini&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“Sola, perduta, abbandonata,” &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;(Sendiri, hilang, ditelantarkan). Suara soprano Wati yang (sepertinya) sedang diolah menjadi lebih gelap dan &lt;em&gt;powerful&lt;/em&gt;, dapat mengatasi akustik payah auditorium, sehingga proyeksi suara dapat terdengar membahana meskipun tanpa menggunakan &lt;em&gt;microphone&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5482721955463822706" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBaKkd2n_XI/AAAAAAAAAWg/7z864-87oR0/s320/DSC02181.JPG" border="0" /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Andira, mahasiswi luar biasa bersuara emas&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Adapun saya sangat bersyukur karena ada &lt;strong&gt;Andira,&lt;/strong&gt; seorang mahasiswi “luar biasa” yang memang tidak bisa melihat sejak kecil, namun memiliki suara emas yang menggetarkan hati. Saya sendiri mengiringinya menyanyikan lagu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“Reflection”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; dan sama sekali tidak bisa konsentrasi karena sangat terharu mendengar suara dan semangatnya untuk dapat tampil pada hari itu. Selain itu, salah satu mahasiswa kami (yang sudah disebutkan di atas) ada yang sedang mengidap kanker kelenjar getah bening (dan sedang dalam tahap penyembuhan), namun masih bisa membawakan duet vokal dengan suara tenor yang mengagumkan. Rasa haru bercampur bangga, melihat perjuangan para mahasiswa yang dengan segala keterbatasannya tapi masih memiliki semangat untuk tampil pentas sebaik mungkin. Juga ketika malam sebelumnya, saya menyaksikan pianis jazz tunanetra &lt;strong&gt;Ade Wonder Irawan&lt;/strong&gt; pada &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2010/06/berkah-dari-kunjungan-lech-walesa.html"&gt;konser menyambut Lech Walesa di Erasmus Huis&lt;/a&gt;, nampaknya Tuhan memang selalu memberikan kurnia-Nya, asalkan seseorang mau berusaha. Semoga perjuangan mereka dapat kita tiru, amin.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-5773274237244801844?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/5773274237244801844/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=5773274237244801844' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/5773274237244801844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/5773274237244801844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/06/kreativitas-musikal-mahasiswa-ui.html' title='Kreativitas Musikal Mahasiswa UI'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBaKi_PynrI/AAAAAAAAAWI/7KKu_fHv_vI/s72-c/DSC02191.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-1699688695469840739</id><published>2010-06-12T05:08:00.000-07:00</published><updated>2010-06-12T06:31:14.325-07:00</updated><title type='text'>Berkah dari kunjungan Lech Walesa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;Disengaja ataupun tidak, pianis/budayawan/pengusaha/kelirumolog &lt;strong&gt;Jayasuprana&lt;/strong&gt; nampaknya sedang bertindak seperti layaknya impresario yang kiprahnya mungkin bisa disandingkan dengan P.T. Barnum atau Eddy Bagarozy. Yang jelas, 9 Mei yang lalu saya berkesempatan untuk menghadiri pergelaran konser yang diadakan oleh Jayasuprana dalam rangka menyambut kunjungan pemenang Nobel/mantan presiden Polandia, &lt;strong&gt;Lech Walesa&lt;/strong&gt; ke Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOC3N9GqlI/AAAAAAAAAWA/JxlrpModP6U/s1600/DSC02114.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481869056590391890" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOC3N9GqlI/AAAAAAAAAWA/JxlrpModP6U/s320/DSC02114.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Fragmen Keputren Madukoro&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Acara yang diadakan atas kerjasama Erasmus Huis, Kedutaan Polandia, dan Sekolah Musik Jayasuprana ini merupakan “campursari” dari beragam pementasan seni yang sangat memukau. Ibaratnya, segala macam hal yang bagus-bagus ditampilkan secara bersamaan dalam satu malam. Begitu pula konser yang dimulai dengan &lt;strong&gt;Tari Saman Aceh&lt;/strong&gt; ini, dibawakan dengan sangat kompak oleh para siswi &lt;strong&gt;SMA Al-Izhar&lt;/strong&gt;. Kemudian penonton langsung dibawa ke dunia pewayangan melalui alunan merdu musik gamelan dan tari Jawa bertemakan &lt;strong&gt;“Fragmen Keputren Madukoro”&lt;/strong&gt; (dibawakan oleh &lt;strong&gt;Pantha, Apsara&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;Aylawati&lt;/strong&gt;) yang menceritakan mengenai pernikahan Gatotkaca. Pergelaran pembuka berupa tarian Aceh dan Jawa nampaknya memiliki suatu misi (saya yakin, ini berkat kecintaan Jayasuprana pada bumi Indonesia) yaitu membawa keragaman budaya sendiri untuk diperkenalkan pada khalayak. Rupanya sudah di-plot, seusai penampilan “tiga Srikandi Madukoro” tersebut, Jayasuprana sendiri yang menggiring Yang Mulia Lech Walesa ke atas panggung, untuk dikalungkan bunga sebagai ucapan selamat datang di Indonesia. Suatu prosesi penyambutan tamu agung yang rapi dan regal.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOC2magBgI/AAAAAAAAAV4/ehL8bhJIQcU/s1600/DSC02126.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481869045976270338" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOC2magBgI/AAAAAAAAAV4/ehL8bhJIQcU/s320/DSC02126.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Lech Walesa &amp;amp; Performers&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;/p&gt;Kemudian acara berlanjut ke sesi kedua, yaitu penampilan menakjubkan atas &lt;strong&gt;Etudes&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Frederic Chopin&lt;/strong&gt; yang dimainkan oleh anak-anak “ajaib”, dimana usia mereka rata-rata masih dibawah 18 tahun. Dimulai oleh &lt;strong&gt;Jennifer Chrysantha Salim&lt;/strong&gt; yang masih berusia 9 tahun, membawakan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Trois Etudes de Fetis no 1 in f minor&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Melihat usia dan perawakannya yang masih kanak-kanak, sangatlah sulit untuk mempercayai bahwa malam itu ia dapat menyalurkan emosi dan pendalaman yang matang terhadap apa yang dibawakannya. &lt;em&gt;Sense&lt;/em&gt; untuk memainkan &lt;em&gt;tempo rubato&lt;/em&gt; yang alamiah, serta penggalangan format frase menuju klimaks sangat patut untuk diacungkan jempol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu &lt;strong&gt;Randy Ryan&lt;/strong&gt; tampil mengejutkan penonton dengan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Etude op 10 no 1&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang merupakan salah satu etude Chopin tersulit secara teknik karena dari awal hingga akhir dibentuk oleh &lt;em&gt;chords&lt;/em&gt; besar berjarak 12 nada dan lebih, serta harus dimainkan dalam tempo cepat. &lt;em&gt;Power&lt;/em&gt; yang dimiliki oleh Randy nampaknya dapat berimbang untuk memainkan dinamik &lt;em&gt;pianissimo&lt;/em&gt; sekalipun, sehingga Etude ini nampak seperti kembang api dengan percikan-percikannya yang terus menerus muncul dengan berbagai warna.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOARmy-SyI/AAAAAAAAAVw/s89m_LsEakc/s1600/DSC02134.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481866211400502050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOARmy-SyI/AAAAAAAAAVw/s89m_LsEakc/s320/DSC02134.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Pianis Randy Ryan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Seperti terus untuk menjaga elektrisitas dari program Chopin Etudes malam itu, hadirlah &lt;strong&gt;William Cartie Halim&lt;/strong&gt; dengan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Etude op 10 no 5 (Black Keys).&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Permainannya yang lincah pada bilah-bilah not hitam di piano dilakukan dengan cermat, mengingat bahwa agilitas bermain di tuts hitam sangatlah sulit untuk menjaga presisi, apalagi dalam tempo yang cepat. Begitu pula dengan &lt;strong&gt;Jennifer Ongkowijoyo&lt;/strong&gt; yang memainkan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Etude op 10 no 8&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Penggalangan tempo yang sangat berani dan spontan, memperlihatkan hasil kerja keras dari latihan harian pianis-pianis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hadir seorang pianis muda misterius (karena nama dan karya yang dimainkannya tidak/lupa dicantumkan dalam buku program), namun yang pasti ia membawakan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Etude Chopin op 25 no 6&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dengan sangat baik! Pianis &lt;strong&gt;Ratna Arumasari Katamsi&lt;/strong&gt; yang hadir malam itu sempat mengatakan pada saya, justru si pianis misterius inilah yang konsep musikal dan tekniknya dapat dibilang matang malam itu. Tidak dapat lebih setuju lagi, saya pun sependapat dengan beliau, mengingat bahwa Etude ini merupakan salah satu yang tersulit dalam kumpulan Etude Chopin op 25. Dalam suatu diskusi dengan pianis &lt;strong&gt;Aryo Wicaksono&lt;/strong&gt; yang berkarir di USA, beliau pun mengamini tingkat kesulitan Etude ini. Tidak hanya dari segi teknik dan agilitas jari yang harus tergalang dengan baik (mengingat bahwa dari awal sampai akhir, Etude ini dibentuk dari pola not terts/&lt;em&gt;thirds&lt;/em&gt; yang harus dimainkan seperti &lt;em&gt;trill&lt;/em&gt; dalam tempo super cepat), namun ada kalimat-kalimat melankolis di tangan kiri yang dibentuk dari &lt;em&gt;chords&lt;/em&gt;, namun harus terdengar seperti desahan seseorang yang sedang putus asa. Memang indah dan (tentu saja) sulit, namun malam itu kami beruntung dapat mendengar sang pianis muda misterius tersebut memainkan Etude op 25 no 6 dengan segala kelengkapan kemanusiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, hadirlah &lt;strong&gt;Ceryl Adinda Primadara&lt;/strong&gt; membawa badai musim salju dengan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Etude op 25 no 11 (Winter Wind).&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Pianis muda nan jelita tersebut tampil tanpa penuh pretensi, langsung menusuk hati sanubari dengan serpihan-serpihan es tajam yang dibawa oleh keberanian dan spontanitas &lt;em&gt;tone color&lt;/em&gt; seorang penakluk. Saya ingat, dulu dalam resital tunggalnya, Ceryl yang belum genap 18 tahun ini membawakan program yang luar biasa berat, dimana ia memainkan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sonata Prokofiev no 3 op 28&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dengan segenap &lt;em&gt;power &lt;/em&gt;– seperti jika kita melihat Emil Gilels membawakan karya yang sama – namun dengan perawakan kecil mungil. Sungguh mengejutkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOARKo4yPI/AAAAAAAAAVo/z6XWSy6-Rw0/s1600/DSC02144.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481866203842005234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOARKo4yPI/AAAAAAAAAVo/z6XWSy6-Rw0/s320/DSC02144.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Pianis Ceryl Adinda Primadara&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesi all-Chopin Etudes ini ditutup oleh penampilan &lt;strong&gt;Aloysius Albert Oenaryo&lt;/strong&gt; dengan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Etude op 25 no 12 (Ocean).&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Sungguh suatu rangkaian penampilan yang membuat saya tidak ingin lagi menyaksikan apa-apa lagi setelahnya. Namun memang bukan Jayasuprana jika tidak membuat kejutan, acara rupanya dilanjutkan dengan variasi atas lagu &lt;strong&gt;“Indonesia Pusaka”&lt;/strong&gt; yang menampilkan &lt;strong&gt;Tiga Dewi Muri&lt;/strong&gt; (tiga orang remaja yang menguasai berbagai intrumen dan mereka memainkannya secara bergantian di atas panggung), &lt;strong&gt;Ade Wonder Irawan&lt;/strong&gt; (pianis jazz tunanetra), dan &lt;strong&gt;PENTABOYZ&lt;/strong&gt; (grup musik acapella yang terdiri atas 5 vokalis), ditutup oleh &lt;em&gt;montage&lt;/em&gt; lagu “Indonesia Pusaka” yang dinyanyikan oleh berbagai tokoh politik, budayawan, dan rakyat jelata dalam rangkuman 5 menit video dokumenter.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOAQzcidrI/AAAAAAAAAVg/kOnVS0RV-Ec/s1600/DSC02149.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481866197616195250" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOAQzcidrI/AAAAAAAAAVg/kOnVS0RV-Ec/s320/DSC02149.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Pianis jazz Ade "Wonder" Irawan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiga Dewi Muri, Ade Wonder Irawan, PENTABOYZ yang malam sebelumnya saya saksikan di acara talk-show &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kick Andy&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, kini tampil secara &lt;em&gt;live&lt;/em&gt; di atas panggung Erasmus. Yang mengagumkan adalah Ade Irawan, dimana ia membawakan variasi jazz luar biasa, dengan klimaks yang terus berulang-ulang. Keterbatasan yang ia miliki nampaknya bukan penghalang untuk mengeksplorasi segala talenta yang telah diberikan Tuhan padanya. Seharusnya para pemimpin negeri ini malu. Di tengah orang-orang yang sibuk memikirkan diri sendiri, masih ada Jayasuprana yang memberikan oase bagi bakat-bakat bangsa ini yang tidak (dan mungkin tidak akan pernah) diperhatikan oleh para pembuat kebijakan tersebut. Paling tidak, semoga Lech Walesa dapat terhibur oleh penampilan memukau para tunas muda bangsa ini, sebagaimana kami yang menonton merasa bersyukur dapat hadir malam itu. Amin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOAQQ100UI/AAAAAAAAAVY/Z68yIcbSJHQ/s1600/DSC02155.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481866188327014722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOAQQ100UI/AAAAAAAAAVY/Z68yIcbSJHQ/s320/DSC02155.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Violist Jap Tji Kien, Pianist Kuei Pin Yeo, Pianist Iravati M. Sudiarso, Conductor Addie MS &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&amp;amp; little pianist Jennifer Chrysantha Salim&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOAP97fvxI/AAAAAAAAAVQ/kMrOee8lle0/s1600/DSC02160.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481866183250525970" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOAP97fvxI/AAAAAAAAAVQ/kMrOee8lle0/s320/DSC02160.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Madame Shinta Nuriyah Wahid &amp;amp; Addie MS.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-1699688695469840739?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/1699688695469840739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=1699688695469840739' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1699688695469840739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1699688695469840739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/06/berkah-dari-kunjungan-lech-walesa.html' title='Berkah dari kunjungan Lech Walesa'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/TBOC3N9GqlI/AAAAAAAAAWA/JxlrpModP6U/s72-c/DSC02114.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-6670564189816346384</id><published>2010-05-13T13:13:00.000-07:00</published><updated>2010-05-13T13:42:33.510-07:00</updated><title type='text'>Nafas Kenangan Adela Martín</title><content type='html'>Selasa 4 Mei yang lalu, Kedutaan Besar Kerajaan Spanyol untuk Indonesia mengadakan resital bertajuk &lt;strong&gt;“El soplo del recuerdo”&lt;/strong&gt; di Usmar Ismail Hall, menampilkan pianis handal &lt;strong&gt;Adela Martín&lt;/strong&gt; yang beberapa tahun silam sempat berkunjung juga ke Jakarta, dan menyuguhkan sebuah &lt;em&gt;masterclass&lt;/em&gt; dan konser yang memukau penikmat musik klasik, khususnya untuk lagu-lagu karya komposer Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini kehadiran Adela Martín ke Jakarta bukannya tanpa misi. Nampaknya ia tetap menyimpan hasrat untuk mempopulerkan musik-musik karya komposer tanah airnya, dikemas dalam penampilan yang sangat sederhana dan tidak penuh pretensi. Namun demikian, justru dalam kesederhanaannya itulah, mutiara-mutiara indah dapat terjalin melalui jemari tangannya yang memukau penonton malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-xghxcNV4I/AAAAAAAAAVI/SpYwCG200bc/s1600/DSC02111.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470853780671911810" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-xghxcNV4I/AAAAAAAAAVI/SpYwCG200bc/s320/DSC02111.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi duduk di depan piano yang sangat tinggi, resital dimulai dengan lagu-lagu miniatura dari album &lt;strong&gt;“España op. 16”&lt;/strong&gt; karya komposer Spanyol yang sudah tidak asing lagi: &lt;strong&gt;Isaac Albeniz&lt;/strong&gt;. Nada-nada familiar seperti &lt;em&gt;Tango, Malagueña&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;Capricho catalàn&lt;/em&gt; mengalir dengan &lt;em&gt;simple&lt;/em&gt; namun terangkai indah. Semuanya dibawakan dalam satu nafas. Pemilihan karya-karya yang sederhana sebagai pembuka resital menunjukkan kelugasan bahasa musik Adela Martín: Meskipun terlihat sederhana, namun di jari-jarinya semuanya nampak unik dan ada pemaknaan di setiap detil not yang dimainkan. Justru dari kesederhanaan itulah, nampak virtuositas sang pianis. Sebagai contoh, lagu &lt;em&gt;Tango&lt;/em&gt; Albeniz ini ada versi “sulit”-nya yang ditranskripsi oleh pianis/komponis &lt;strong&gt;Leopold Godowsky&lt;/strong&gt; (1870-1938) dengan memperkaya harmoni dan menambah alur polifoni di dalamnya. Dibandingkan dengan versi aslinya yang dibuat Albeniz,&lt;em&gt; Tango&lt;/em&gt; Albeniz-Godowsky nampak lebih “mewah” dan “grand”. Namun apabila ada seseorang yang dapat memainkan versi asli &lt;em&gt;Tango&lt;/em&gt; tersebut tetap dengan citarasa elegan dan &lt;em&gt;seducing&lt;/em&gt;, tanpa penuh pretensi, disitulah letak kehebatan Adela Martín.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hadirlah karya cipta sang pianis sendiri, yang sekaligus menjadi tajuk konser malam itu: &lt;strong&gt;“El soplo del recuerdo (à Albeniz)”&lt;/strong&gt; yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia, kira-kira “Nafas kenangan (kepada Albeniz)”. Rupanya disinilah letak kedalaman interpretasi dari Adela Martín. Apa mungkin ini karena karya ciptanya sendiri (lantas ia bermain dengan istimewa), saya kurang paham. Yang jelas, seorang komponis belum tentu bisa memainkan karya ciptanya sendiri dengan baik. Sebagai contoh, saya memiliki dua &lt;em&gt;recording&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;“Preludes &amp;amp; Fugues”&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Dmitri Shostakovich&lt;/strong&gt;. CD pertama, Shostakovich sendiri yang main, sementara CD kedua dimainkan oleh &lt;strong&gt;Tatiana Nikolayeva&lt;/strong&gt; (pianis hebat, yang mana “Preludes &amp;amp; Fugues” tersebut didedikasikan oleh Shostakovich padanya). Pada CD pertama (versi Shostakovich), secara umum permainannya baik, namun terasa kurang &lt;em&gt;passionate&lt;/em&gt; dan kejernihan polifoni di dalamnya kurang jelas. Sementara itu ketika mendengar versi Tatiana Nikolayeva, saya kaget dan terpukau karena &lt;em&gt;power&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; yang sangat luar biasa, dimana seluruh nada-nada polifoni digalang dengan detil nyaris sempurna dengan memperhatikan struktur keseluruhan karya dari awal hingga akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran semacam ini memang agak kurang sesuai, karena kita toh harus melihat semua aspek secara kontekstual, apalagi dikaitkan dengan “El soplo del recuerdo” ciptaan Adela Martín, yang malam itu dimainkan olehnya dengan sangat luar biasa. Segala unsur kenangan, kerinduan, hadir dalam &lt;em&gt;tone production&lt;/em&gt; yang spesial, pewarnaan (&lt;em&gt;tone colour&lt;/em&gt;), dan ide-ide musikal yang indah. Isaac Albeniz (1860-1909) seperti hadir di tengah-tengah penonton, melalui daun-daun yang berguguran helai demi helai, dimana setiap helai membawa potongan memori dalam imajinasi akan warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-xghHsaSBI/AAAAAAAAAVA/FRm4UjaIUgQ/s1600/DSC02113.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470853769465579538" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-xghHsaSBI/AAAAAAAAAVA/FRm4UjaIUgQ/s320/DSC02113.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Resital dilanjutkan dengan karya &lt;em&gt;avant-garde&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;Defin Colomé “Tiento para Rodrigo”&lt;/strong&gt; (Kebijaksanaan untuk Rodrigo – yang dimaksud pasti komposer Joaquín Rodrigo), sebagai pendahuluan untuk tiga karya komposer &lt;strong&gt;Joaquín Rodrigo&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Pastoral, Danza Rùstica&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Aranjuez ma pensèe&lt;/em&gt;) yang lagi-lagi merupakan mutiara di jemari Adela Martín. Terutama untuk “&lt;em&gt;Aranjuez, ma pensèe&lt;/em&gt;”, merupakan potongan melodi yang sangat terkenal dari &lt;strong&gt;Concierto de Aranjuez&lt;/strong&gt; (untuk gitar dan orkestra). Joaquín Rodrigo sendiri menciptakan konserto ini untuk mengenang keindahan taman di Istana Real de Aranjuez, Spanyol. Kali ini, melodi yang menjadi &lt;em&gt;manna&lt;/em&gt; dari awal hingga akhir lagu dibawakan dengan kejernihan dan artikulasi prima, sementara iringan tangan kiri hanya berupa not-not ostinato seperti layaknya metrum yang statis. Betapa nuansa melankolis kembali hadir dalam kenangan, penuh perenungan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Adela Martín menutup perjalanan penuh kenangan dengan &lt;strong&gt;“Suite Iberia”&lt;/strong&gt;, merupakan karya-karya akhir di masa hidup Albeniz yang lebih bernuansa Impresionistik Prancis, à la Debussy. Karya yang terdiri atas empat album ini diciptakan Albeniz dengan maksud untuk membangkitkan kenangan akan Spanyol. Disini, Adela Martín hanya membawakan tiga lagu saja dari album pertama, yaitu &lt;em&gt;Evocaciòn, El puerto, &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;El corpus Christi en Sevilla&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Evocaciòn&lt;/strong&gt; merupakan pembuka dari keseluruhan “Suite Iberia” dan tujuannya (seperti layaknya judulnya: &lt;em&gt;Evocation&lt;/em&gt;) adalah untuk mengembalikan semua kenangan akan Spanyol beserta seluruh idiom negerinya, disini digunakan ritme tarian &lt;em&gt;fandango &lt;/em&gt;(dari Spanyol Selatan) dan &lt;em&gt;jota&lt;/em&gt; (dari Spanyol Utara). Saya pribadi dulu pernah memainkan karya ini, dan ketika sudah setengah jalan, baru menyadari bahwa Albeniz “ngerjain” saya, karena struktur dan bahasa musiknya benar-benar berbeda dari karya-karya Albeniz sebelumnya saya kenal. Disini pemahaman akan nuansa impresionistik dan pewarnaan &lt;em&gt;tone&lt;/em&gt; menjadi krusial, apalagi harmoni dan melodi yang sangat sulit untuk diserap. Dari pengalaman pribadi tersebut, malam itu saya menjadi lebih paham mengenai interpretasi alternatif dari &lt;em&gt;Evocaciòn.&lt;/em&gt; Adela Martín telah membawa nafas baru bagi kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dalam musiknya, termasuk idenya yang brilian untuk bermain dengan dinamik yang kontras. Memang jadinya seperti melihat lukisan Impresionis, dari jauh terlihat indah, namun dari dekat hanya titik-titik warna nan samar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemudian pada &lt;strong&gt;El puerto&lt;/strong&gt; yang meriah dan &lt;strong&gt;El corpus Christi en Sevilla&lt;/strong&gt; yang virtuosik, Adela Martín menunjukkan kepiawaian teknik bermain pianonya yang &lt;em&gt;superb&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Corpus Christi&lt;/em&gt; yang dianggap sebagai karya tersulit dari empat album “Suite Iberia” Albeniz, berhasil ditaklukkan oleh sang pianis dengan selamat sampai di tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tajuk konser &lt;strong&gt;“El soplo del recuerdo”&lt;/strong&gt; (Nafas Kenangan) yang dihadirkan oleh Adela Martín malam itu benar-benar menjadi sebuah kenangan dalam arti sesungguhnya. Sayang sekali Kedutaan Spanyol tidak mempromosikan konser tersebut pada khalayak umum, padahal banyak sekali insan pecinta musik klasik yang pasti akan merasa bahagia apabila dapat menyaksikan permainan penuh khasanah seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-6670564189816346384?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/6670564189816346384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=6670564189816346384' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/6670564189816346384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/6670564189816346384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/05/nafas-kenangan-adela-martin.html' title='Nafas Kenangan Adela Martín'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-xghxcNV4I/AAAAAAAAAVI/SpYwCG200bc/s72-c/DSC02111.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-6349690290350210166</id><published>2010-05-07T09:50:00.000-07:00</published><updated>2010-05-07T10:38:53.784-07:00</updated><title type='text'>Hari Kartini: Kenangan akan Ibunda &amp; Freddy Mercury</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;“Bunda, engkau bertahta di alam baka,&lt;br /&gt;Rinduku menderu,&lt;br /&gt;Oh menyeru... menyeru...&lt;br /&gt;tanpa jemu...”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sepenggal syair yang mengawali tembang puitik &lt;strong&gt;“Kepadamu Bunda”&lt;/strong&gt; karangan komponis Trisutji Kamal yang pada peringatan Hari Kartini (21 April 2010) yang lalu dibawakan dengan syahdu oleh soprano Aning Katamsi di auditorium RRI Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembang puitik (&lt;em&gt;Art song&lt;/em&gt;) yang versi aslinya diciptakan untuk vokal dan piano tersebut diadaptasi untuk orkestra dan piano. Kebetulan saat itu saya mendapat kehormatan untuk memainkan &lt;em&gt;part &lt;/em&gt;pianonya, sementara bagian orkestranya dimainkan oleh Orkes Simfoni Jakarta dibawah konduktor Amir Katamsi (Sebenarnya Amir Katamsi sama sekali tidak ada hubungan famili dengan Aning Katamsi, kebetulan saja nama belakangnya sama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-RIsx-HNmI/AAAAAAAAAU4/Iat32USheOs/s1600/DSC02057.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468575781699925602" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-RIsx-HNmI/AAAAAAAAAU4/Iat32USheOs/s320/DSC02057.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bersama Trisutji Kamal, Aning Katamsi, dan Rani Kamal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Lagu “Kepadamu Bunda” ini sangat spesial sekali, sarat akan makna dan doa yang direpresentasikan melalui harmoni-harmoni melankolis dan syair yang khidmat, hampir mirip dengan suasana muram &lt;em&gt;lied &lt;strong&gt;“Suleika”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; karya Mendelssohn, namun dalam idiom Romantisme Chopin. Suasana renungan yang kental menjadi ciri khas musik-musik karya Trisutji Kamal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya ingat, dalam sebuah kunjungan ke kediaman beliau di Cipete (bersama dengan pianis Linda Suharso), Tante Titi (panggilan akrab Trisutji Kamal) bercerita mengenai pengalaman spiritualnya ketika sedang dalam proses membuat komposisi piano &lt;strong&gt;“Sunda Seascapes”&lt;/strong&gt; yang terdiri atas tujuh lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bercerita mengenai suatu malam di pulau pribadinya di lepas pantai Anyer. Saat itu bulan menampakkan sinarnya yang cemerlang, Tante Titi bertapa kungkum merendam diri ke tengah laut, merasakan getaran-getaran kosmik yang terjadi dalam dirinya. Menurutnya pengalaman itu sangat sublim dan transendental. Ketika cahaya bulan dipantulkan oleh riak-riak air laut, menampilkan warna-warna keperakan dan bening, namun tetap misterius: Keindahan itulah yang diwujudkan dalam &lt;strong&gt;“Nuansa Selat Sunda”.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada lagu &lt;strong&gt;“Cumbuan Bulan dan Laut”&lt;/strong&gt;, kembali menggambarkan mengenai cahaya bulan yang membelai mesra permukaan air laut. Ketika itu saya sangat antusias mendengarkan pengalaman spiritual beliau, menyadari bahwa karya-karya Tante Titi selalu mengandung makna yang lebih dalam daripada yang sekadar tersirat di permukaan. Kira-kira seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak berlebihan ketika pihak orkestra minta izin pada Tante Titi untuk mengadaptasi tembang puitik “Kepadamu Bunda”, beliau meminta agar bagian piano tetap ditonjolkan, sementara orkestra menjadi warna yang memperkaya harmoni.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Keintiman.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Hal itulah yang ingin tetap digarisbawahi oleh Tante Titi, agar nuansa muram dan penuh renungan bagi “Bunda” tetap terjaga, sebagai bentuk komunikasi intens antar penyanyi dan instrumentalis yang mengiringinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang diusung oleh RRI dan TVRI ini juga menampilkan duet adik-kakak (yang masing-masing berkiprah di genre musik berbeda), yaitu: soprano Aning Katamsi dan rocker Doddy Katamsi. Lagu yang dibawakan adalah &lt;strong&gt;“&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Barcelona”&lt;/strong&gt;,&lt;/em&gt; yang dulu pernah populer dibawakan oleh rocker band Inggris “Queen” Freddy Mercury dan penyanyi opera Montserrat Caballé. Menyenangkan sekali bisa melihat program konser yang begitu beragam, mulai dari renungan dan doa pada Bunda yang telah meninggal, hingga kegemerlapan &lt;em&gt;rockstar&lt;/em&gt; à la Queen.&lt;br /&gt;Tidak apa-apa, hidup sesekali harus diselingi oleh dinamika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Kartini 2010!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-RIsFN2tHI/AAAAAAAAAUw/lc-GRnD7vS4/s1600/IMG00365-20100416-2024.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468575769686357106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-RIsFN2tHI/AAAAAAAAAUw/lc-GRnD7vS4/s320/IMG00365-20100416-2024.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt; Adik-Kakak: Soprano Aning Katamsi &amp;amp; Rocker Doddy Katamsi&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-RIrTO_4nI/AAAAAAAAAUo/EII-ETRQapQ/s1600/Barcelona_album_cover.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468575756269380210" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 318px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-RIrTO_4nI/AAAAAAAAAUo/EII-ETRQapQ/s320/Barcelona_album_cover.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Cover Album "Barcelona" (Freddy Mercury &amp;amp; Montserrat Caballe)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-6349690290350210166?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/6349690290350210166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=6349690290350210166' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/6349690290350210166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/6349690290350210166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/05/hari-kartini-kenangan-akan-ibunda.html' title='Hari Kartini: Kenangan akan Ibunda &amp; Freddy Mercury'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S-RIsx-HNmI/AAAAAAAAAU4/Iat32USheOs/s72-c/DSC02057.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-5185918143119414827</id><published>2010-04-19T08:39:00.000-07:00</published><updated>2010-04-19T09:25:23.551-07:00</updated><title type='text'>Malam Musikal di Kediaman Duta Besar Austria</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Pada tanggal 5 April 2010 yang lalu, saya beserta soprano &lt;strong&gt;Christine Lubis&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Sri Muji Rakhmawati&lt;/strong&gt;, dan tenor &lt;strong&gt;Imanuel Bimo&lt;/strong&gt; mendapat kehormatan untuk tampil di Kediaman Duta Besar Austria – &lt;strong&gt;&lt;em&gt;His Excellency&lt;/em&gt; Dr Klaus Wolfer&lt;/strong&gt; – di bilangan Imam Bonjol, Menteng. Acara yang dipergelarkan malam itu bertepatan dengan hari ulang tahun Mr Wolfer, dimana beliau turut mengundang duta besar negara-negara sahabat dan para relasi, untuk beramah tamah bersama. Acara tersebut diawali dengan resital vokal mini, dimana kami membawakan lima pilihan karya (berupa &lt;em&gt;lieder&lt;/em&gt; dan aria opera) yang telah kami susun dalam satu rangkaian sederhana dan padat, dimana semuanya terdiri atas bahasa Jerman, Italia, dan Prancis, mengingat bahwa penonton yang hadir malam itu berasal dari latar belakang kebudayaan Eropa yang beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_Q8N_GYI/AAAAAAAAAT8/YHzwE2lQXWs/s1600/IMG00336-20100408-2328.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461880377112992130" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_Q8N_GYI/AAAAAAAAAT8/YHzwE2lQXWs/s320/IMG00336-20100408-2328.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Program singkat malam itu: Musical Night&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Resital dibuka dengan Bimo yang menyanyikan salah satu &lt;em&gt;lieder&lt;/em&gt; terkenal gubahan &lt;strong&gt;Franz Schubert&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;“An die Musik”&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;To Music&lt;/em&gt;). Tembang puitik ini merupakan sebuah “himne” yang ditujukan untuk menghormati musik. Harmoni piano iringannya sederhana, namun lugas. Melodi pada nada-nada bass di piano menjadi semacam arahan filosofis yang mendasari kekuatan musik sebagai salah satu seni yang agung. Karya ini dirasakan cocok sebagai pembuka karena kelugasannya: &lt;em&gt;Untuk Musik&lt;/em&gt;. Maka kami ingin menyampaikan bahwa resital mini di Kediaman Duta Besar malam itu didedikasikan kepada musik, sebagaimana Austria telah menjadi ibu pertiwi bagi para musisi dan komposer kelas dunia yang kita kenal hingga saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_QeJtvRI/AAAAAAAAAT0/CP2UoAOEFpU/s1600/DSC01955.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461880369042013458" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_QeJtvRI/AAAAAAAAAT0/CP2UoAOEFpU/s320/DSC01955.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Mencoba piano sebelum acara dimulai&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Menyambung kepada dedikasi itulah, pada lagu kedua yang diambil dari siklus tembang puitik “Myrthen” karya &lt;strong&gt;Robert Schumann&lt;/strong&gt;, hadirlah &lt;strong&gt;“Widmung”&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Dedication&lt;/em&gt;) yang dibawakan oleh Christine dengan segenap perasaan, sebagaimana Schumann menghadiahkan karya tersebut sebagai mas kawin bagi calon istrinya, Clara Wieck. Bedanya, Christine malam itu mungkin menghadiahkan “Widmung” sebagai mas kawin bagi musik yang selama ini telah digelutinya dan menjadikannya sebagai salah satu soprano menjanjikan negeri ini.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_PotOstI/AAAAAAAAATs/gq2arc5Savo/s1600/DSC01959.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461880354695459538" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_PotOstI/AAAAAAAAATs/gq2arc5Savo/s320/DSC01959.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;HE Dr Klaus Wolfer bersama performers&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Kemudian pada pada lagu ketiga, hadirlah &lt;em&gt;drama queen&lt;/em&gt; kita malam itu, yaitu soprano Wati yang tampil mengenakan gaun panjang elegan warna ungu tua dan tatanan rambut à la Maria Callas. Dengan sangat ekspresif, Wati membawakan aria opera &lt;strong&gt;“O mio babbino caro”&lt;/strong&gt; (Oh ayahku tercinta) dari opera &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Gianni Schicchi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Giacomo Puccini&lt;/strong&gt;, yang merupakan “lagu wajib” bagi setiap soprano.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Drama berlanjut pada lagu keempat, yaitu &lt;strong&gt;“Flowers Duet” &lt;/strong&gt;dari opera &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Lakmé&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; karya komponis Prancis, &lt;strong&gt;Leo Delibes&lt;/strong&gt;. Duet yang sangat merdu dan menawan ini dibawakan oleh soprano Wati dan Christine dengan &lt;em&gt;delicate &lt;/em&gt;dan keintiman à la Prancis yang prima. Ceritanya adalah mengenai Lakmé, yang jatuh cinta pada seorang perwira Inggris nan tampan yang sedang ditugaskan di India kala itu, dimana hubungan mereka ditentang oleh Nilakantha, seorang pendeta Brahma fanatik yang adalah ayah Lakmé. Pada Duet Bunga ini, Lakmé dan inangnya (Mallika) sedang bersiap-siap untuk mandi di sungai, bertaburan oleh bunga melati mewangi.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_PG5ApYI/AAAAAAAAATk/TmLXFoixX2I/s1600/DSC01968.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461880345618064770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_PG5ApYI/AAAAAAAAATk/TmLXFoixX2I/s320/DSC01968.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Bersama HE Dr Klaus Wolfer &amp;amp; Istri Dubes Indonesia untuk USA&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Setelah duet cantik dari opera Lakmé, kami menghadirkan klimaks berupa pertengkaran dari era sebelum Masehi, yaitu antara Norma (seorang pendeta Druid) dengan kekasihnya, Pollione (utusan Kekaisaran Roma) dimana Pollione berselingkuh dengan Adalgisa, seorang perawan Druid (pengikut Norma) karena sudah bosan dengan Norma yang sudah tua dan tidak menarik lagi. &lt;em&gt;Cat fight&lt;/em&gt; yang dibawakan dalam format &lt;strong&gt;Trio&lt;/strong&gt; dari opera &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Norma&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Vincenzo Bellini&lt;/strong&gt; ini merupakan salah satu bagian yang paling sulit dalam &lt;em&gt;repertoire&lt;/em&gt; opera karena nada-nadanya yang penuh dengan figurasi &lt;em&gt;coloratura&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;agility&lt;/em&gt; menyanyi à la &lt;em&gt;bel canto&lt;/em&gt;, dimana hanya para penyanyi yang sudah berpengalaman saja yang bisa membawakannya. Iringan pianonya pun cukup sulit karena penuh dengan figurasi-figurasi not dalam tempo cepat dan harus terdengar megah seperti orkestra. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_Oqtc3AI/AAAAAAAAATc/SODdDGjIF1s/s1600/DSC01969.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461880338053389314" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_Oqtc3AI/AAAAAAAAATc/SODdDGjIF1s/s320/DSC01969.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Mendapat ucapan selamat dari Mas Addie MS&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Syukurlah program malam itu berakhir dengan sambutan meriah sehingga sebagai &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt; (padahal kami sama sekali tidak menyiapkan &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt;) akhirnya mengalirlah lagu &lt;strong&gt;Nyiur Hijau&lt;/strong&gt; karya &lt;strong&gt;Maladi &lt;/strong&gt;yang terkenal itu. Mr Wolfer sendiri menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam dan memberikan kado berupa CD Wiener Philharmoniker kepada kami.&lt;br /&gt;Semoga sekelumit resital yang kami tampilkan malam itu dapat menyatukan perbedaan kebudayaan dan bangsa dalam bahasa musik yang universal. Untuk itu kami berterima kasih kepada Kedutaan Besar Austria untuk Indonesia: &lt;strong&gt;His Excellency Dr Klaus Wolfer&lt;/strong&gt; dan istri tercintanya, &lt;strong&gt;Madame Dian Wolfer&lt;/strong&gt;. Juga kepada &lt;strong&gt;Mr Dedi Panigoro&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Madame Catharina Leimena&lt;/strong&gt; atas saran-saran dan rekomendasi yang telah diberikan. &lt;em&gt;God bless you all&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-5185918143119414827?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/5185918143119414827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=5185918143119414827' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/5185918143119414827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/5185918143119414827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/04/malam-musikal-di-kediaman-duta-besar.html' title='Malam Musikal di Kediaman Duta Besar Austria'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8x_Q8N_GYI/AAAAAAAAAT8/YHzwE2lQXWs/s72-c/IMG00336-20100408-2328.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-2687776097506464331</id><published>2010-04-18T06:59:00.000-07:00</published><updated>2010-04-18T07:34:04.887-07:00</updated><title type='text'>Polandia Mengenang 200 Tahun Lahirnya Chopin</title><content type='html'>Di tengah berita duka lara rakyat Polandia akan wafatnya para pemimpin mereka dalam suatu kecelakaan pesawat terbang tragis, izinkanlah saya untuk menyampaikan sebuah kenangan yang juga berasal dari Polandia. Pada tanggal 10 Maret 2010 lalu Kedutaan Polandia untuk Indonesia sempat menyelenggarakan konser musik di Gedung Kesenian Jakarta, untuk mengenang 200 tahun lahirnya &lt;strong&gt;Frederic Chopin&lt;/strong&gt;, komponis era Romantik yang memang berkebangsaan Polandia (namun lama menetap dan berkarya di Paris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8sUX2uxaPI/AAAAAAAAATU/HbDogJcD3j8/s1600/001.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461481373178095858" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 227px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8sUX2uxaPI/AAAAAAAAATU/HbDogJcD3j8/s320/001.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Artis yang tampil malam itu melibatkan tiga kewarganegaraan, yaitu &lt;strong&gt;Dana Ciocarlie&lt;/strong&gt; (pianis Rumania yang besar di Paris), &lt;strong&gt;Adam Wakowicz&lt;/strong&gt; (pianis Polandia), serta dari Indonesia sendiri adalah pianis &lt;strong&gt;Ary Sutedja&lt;/strong&gt; dan cellist &lt;strong&gt;Asep Hidayat&lt;/strong&gt;. Semuanya menampilkan program &lt;em&gt;all-Chopin works&lt;/em&gt; yang sangat padat, hebat, dan cermat. Tidak kurang dari 5 Valses, Polonaise-Fantaisie op 61, 3 Mazurkas op 59, dan Rondeau à la Mazur op 5 langsung dibawakan oleh Dana Ciocarlie sebagai pianis pertama yang membuka konser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8sUXQKsxsI/AAAAAAAAATM/JQEnKTFcEb4/s1600/DSC01570.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461481362826249922" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8sUXQKsxsI/AAAAAAAAATM/JQEnKTFcEb4/s320/DSC01570.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Pianis Dana Ciocarlie&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Permainan Dana Ciocarlie yang tegas, enerjik, dan ekstrovert menjadi jiwa dari keseluruhan program yang dibawakannya, meskipun ia tidak kehilangan sisi spiritualitasnya pada bagian pembukaan Polonaise-Fantaisie. Kelincahan jari (&lt;em&gt;agility&lt;/em&gt;) dan kekuatan proyeksi &lt;em&gt;tone&lt;/em&gt; yang megah dapat tersampaikan dengan sangat baik, mengingat malam itu seluruh karcis terjual habis dan auditorium terisi penuh kapasitasnya. Terkadang ada perbedaan antara akustik auditorium yang penuh dan yang kosong, dimana auditorium yang penuh sesak dengan orang tentu akan lebih menyerap suara piano sehingga dibutuhkan usaha ekstra kuat untuk menyampaikan interpretasi musik yang diinginkan oleh pianis kepada para penonton. Dalam hal ini, Dana Ciocarlie nampak telah berhasil menampilkan kualitas bunyi yang ia inginkan, meskipun harus melalui usaha ekstra keras, seperti menggunakan teknik &lt;em&gt;free-fall&lt;/em&gt; pada nada-nada bass yang memiliki dinamik &lt;em&gt;forte&lt;/em&gt; (keras). Pendalaman karakter musik Chopin (terutama pada Valses dan Mazurkas) terlihat telah dikuasai dengan sepenuh hati, seperti pada pemunculan aksen-aksen yang tepat dan tegas, membuat pendengarnya menggoyangkan badan mengikuti irama tarian tersebut secara tidak sadar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8sUW1G7xTI/AAAAAAAAATE/EZm0GUFfrxI/s1600/DSC01574.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461481355562698034" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8sUW1G7xTI/AAAAAAAAATE/EZm0GUFfrxI/s320/DSC01574.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Pianis Ary Sutedja &amp;amp; Cellist Asep Hidayat&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kemudian penampilan dilanjutkan dengan pianis Ary Sutedja dan cellist Asep Hidayat membawakan Sonata for Cello and Piano op 65. Permainan dua musisi selalu terlihat menarik karena di dalamnya ada komunikasi interpersonal yang intim, terjalin melalui bahasa-bahasa musik yang disampaikan secara intens. Sonata for Cello and Piano ini merupakan salah satu dari sembilan karya Chopin yang dikarang untuk instrumen selain piano (meskipun unsur piano selalu tetap hadir di dalamnya). Sebagaimana format chamber music, permainan Ary Sutedja terlihat apik dan menggiring Asep Hidayat dalam dialog musikal yang tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8sUWW8pUnI/AAAAAAAAAS8/40fwxHAPwYI/s1600/DSC01577.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461481347466482290" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8sUWW8pUnI/AAAAAAAAAS8/40fwxHAPwYI/s320/DSC01577.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Pianis Adam Makowicz&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Penampilan ketiga yang mengejutkan adalah pianis Adam Makowicz yang lahir tahun 1940. Melihat programnya yang cukup panjang (Preludes op 28 no 2,3,4, 7, 24; Nocturne op 15 no 1; Fantaisie-Impromptu op 56; Ballade no 2 op 38; dan Mazurka no 4 op 17) agak sedikit mengkhawatirkan, takut telinga sudah tidak bisa mencerna lagi karena saat itu menurut saya programnya terlalu panjang dan maraton. Ternyata, setelah Opa Adam memulai not pertamanya, baru semua orang sadar bahwa ternyata ia adalah pianis jazz dan dengan sangat menakjubkan, mengadaptasi semua program Chopin tersebut dalam dentingan nada-nada jazz! &lt;em&gt;Trés magnifique&lt;/em&gt;!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Rupanya konser malam itu ingin menghadirkan musik Chopin dalam idiom sebenarnya (klasik) dan dalam bentuk &lt;em&gt;cross-over&lt;/em&gt; berupa jazz. Seperti ingin membuktikan bahwa karya-karya Chopin juga bisa dimainkan dalam bentuk jazz, Opa Adam dengan gayanya yang santai dan khas, membiarkan jari-jarinya menari dan berimprovisasi di atas bilah-bilah hitam, membuat para penonton tercengang dan bertepuk tangan setiap kali ada figurasi-figurasi à la jazz yang memukau. Dari permainannya, dapat disimpulkan bahwa Opa Adam telah memahami struktur musik Chopin dengan baik sebelum mengemasnya dalam nada jazz, dan itu semua terukir dalam perjalanan hidupnya yang menarik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa kecilnya dihabiskan untuk mempelajari musik klasik, pada usia 15 tahun ia mulai tertarik dengan musik jazz. Pada zaman komunis Polandia, jazz merupakan sesuatu yang tabu dan terlarang karena merupakan produk dari Barat. Jenis musik tersebutlah yang oleh Makowicz muda dianggap sebagai pintu menuju “dunia kebebasan dan improvisasi”, dimana ia rela meninggalkan sekolah dan keluarganya pada usia 18 tahun demi mengejar cita-citanya untuk bisa memainkan jenis musik yang dicintainya itu. Karirnya di Amerika Serikat berkembang sejak produser legendaris John Hammond mengundangnya untuk tur keliling Amerika selama 10 minggu. Setelah itu Adam Makowicz pun kerap kali terlibat dengan musisi-musisi terkenal, seperti Benny Goodman, Herbie Hancock, Earl Hines, Freddie Hubard, Sarah Vaughan, Teddy Wilson, dan George Shearing. Meskipun demikian, Opa Makowicz menganggap bahwa karya-karya Chopin yang semasa kecil diserapnya, telah memberi interpretasi personal dalam setiap musik jazz-nya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebuah konser yang sangat mengesankan, seolah-olah Chopin kembali hadir di tengah-tengah kita melalui karya-karya klasik dan &lt;em&gt;cross-over&lt;/em&gt; yang disajikan oleh para artis kawakan tersebut. Dari permainan dan kisah hidup mereka, dapat disimpulkan bahwa musik adalah sesuatu yang cair dan akan terus hidup dalam hati umat manusia, sebagaimana kebudayaan terus berkembang bagi masyarakat yang hidup di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-2687776097506464331?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/2687776097506464331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=2687776097506464331' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2687776097506464331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2687776097506464331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/04/polandia-mengenang-200-tahun-lahirnya.html' title='Polandia Mengenang 200 Tahun Lahirnya Chopin'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S8sUX2uxaPI/AAAAAAAAATU/HbDogJcD3j8/s72-c/001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-7345855677271715793</id><published>2010-02-22T13:36:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T14:14:48.970-08:00</updated><title type='text'>Ferdy Tumakaka Sang Pengelana</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ferdy Tumakaka&lt;/strong&gt;, seorang jejaka yang saya kenal sembilan tahun lalu sebagai pemenang pertama &lt;em&gt;Jakarta Piano Competition&lt;/em&gt;, kini telah bermetamorfosis menjadi seorang artis besar dengan sejumlah pencapaian artistik yang signifikan di dunia internasional. Merupakan salah satu bibit unggul bangsa ini, kiprahnya sebagai &lt;em&gt;music director&lt;/em&gt; di &lt;em&gt;&lt;strong&gt;New York Ballet Theater&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; tentu bukan hal sembarangan, apalagi jabatan itu diperolehnya saat ia masih berusia 21 tahun! Sangat disayangkan, mungkin negara ini masih sibuk mengurus sandiwara-drama intrik-politik, sehingga aktivitas Ferdy di Amerika sana kurang terdengar disini, kecuali oleh para kawan-kawannya yang tetap &lt;em&gt;update&lt;/em&gt; melalui sarana jejaring sosial di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferdy Sang Pengelana yang kini telah mendapatkan &lt;em&gt;Green Card&lt;/em&gt; di USA tersebut merupakan salah satu contoh sosok manusia yang berhasil (atau mungkin: sedang) meraih impiannya. Tentunya itu tidak akan terjadi apabila ia tidak memiliki kualitas yang memadai untuk berangkat meninggalkan &lt;em&gt;comfort zone&lt;/em&gt; negeri sendiri dan mendayagunakan seluruh energinya untuk bermusik di Negeri Paman Sam sana. Spirit itu pula yang menjadi jantung penggerak konser &lt;strong&gt;“Wanderer”&lt;/strong&gt; yang diadakannya di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail pada tanggal 18 Februari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertama memasuki &lt;em&gt;foyer&lt;/em&gt; auditorium, suasana artistik dan penuh &lt;em&gt;taste&lt;/em&gt; memang dapat terbersit. Buku program resital piano yang biasanya dibuat dalam format konvensional, kali ini mendapatkan &lt;em&gt;touch&lt;/em&gt; yang sangat artistik, dengan desain grafis dan &lt;em&gt;digital imaging&lt;/em&gt; yang &lt;em&gt;superb&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;fetch&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;edgy&lt;/em&gt;. Tamu yang datang terdiri atas berbagai kalangan, mulai dari pecinta musik klasik, duta besar, hingga kalangan selebritis papan atas dan sosialita (yang mana kehadiran mereka jarang kita temui pada saat menghadiri resital piano klasik pada umumnya); diantaranya adalah sahabat-sahabat Ferdy sendiri: &lt;strong&gt;Paquita Widjaja&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Nicholas Saputra&lt;/strong&gt; yang menjadi among tamu, juga &lt;strong&gt;Teges Prita Soraya&lt;/strong&gt; sebagai MC. Kehadiran para tamu dari berbagai kalangan tersebut memperlihatkan bahwa Ferdy memilik persona magnetik yang belum tentu diperoleh oleh setiap musisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan busana kemeja putih sederhana, celana kain hitam, dan sandal, Ferdy tampil di atas panggung membawakan lagu pertama karya &lt;strong&gt;Johann Sebastian Bach&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;French Suite No. 5 in G Major, BWV 816&lt;/em&gt;. Suite yang merupakan kumpulan lagu berirama tarian dari era Barok tersebut terdiri atas enam bagian, dimulai dengan &lt;em&gt;Allemande&lt;/em&gt; (tarian Jerman berirama dua) yang dinamis. Pada buku program ditulis: Awalnya &lt;em&gt;French Suite&lt;/em&gt; ini ditulis tahun 1722 untuk &lt;em&gt;harpsichord&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;clavichord&lt;/em&gt;. Sengaja diberi nama “French” agar tidak tertukar dengan dengan “English Suite”. Johann Nikolaus Forkel yang menyusun biografi Bach, pada tahun 1802 mempopulerkan nama ini dengan bertutur, “&lt;em&gt;Orang-orang biasanya menyebut karya ini French Suite karena ditulis dengan langgam Prancis&lt;/em&gt;,” Sebenarnya pernyataan tersebut kurang tepat, karena seperti &lt;em&gt;suite&lt;/em&gt; Bach lainnya, semua ditulis dengan mengikuti pakem Italia. Selain itu, sebagaimana semua karya Bach, kiblat dari &lt;em&gt;French Suite&lt;/em&gt; ini berada di bagian Sarabande dengan ciri khas tempo lambat dan ditulis dalam birama ¾.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441188615170156898" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S4L8N4Md6WI/AAAAAAAAAS0/oy8CKYTbvpM/s320/DSC01541.JPG" border="0" /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Ferdy Tumakaka, Sang Pengelana&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Ferdy sendiri membuka acara dengan &lt;em&gt;French Suite&lt;/em&gt; ini sebagai &lt;em&gt;prelude &lt;/em&gt;untuk lagu selanjutnya, yaitu “&lt;em&gt;Wanderer Fantasy&lt;/em&gt;” karya komponis era Romantik, &lt;strong&gt;Franz Schubert&lt;/strong&gt;. &lt;em&gt;Fantasy in C Major “Wanderer” &lt;/em&gt;yang digubah oleh Franz Schubert ini memiliki sejarah yang sangat menarik: Saking sulitnya karya ini, bahkan Schubert sendiri frustrasi ketika sedang memainkan bagian terakhirnya. Ia tiba-tiba bangkit dengan gusar dan berkata, “&lt;em&gt;Suruh saja setan yang memainkannya! Saya tidak mampu!&lt;/em&gt;” Bisa dikatakan bahwa &lt;em&gt;Fantasy Wanderer&lt;/em&gt; ini merupakan &lt;em&gt;magnum opus&lt;/em&gt; diantara karya-karya Schubert yang lain karena untuk memainkannya dibutuhkan kemampuan virtuositas yang sangat tinggi, baik &lt;em&gt;outside&lt;/em&gt;, maupun &lt;em&gt;inside&lt;/em&gt;. Nampaknya Ferdy Sang Pengelana bisa menaklukkan keduanya: Selain kemampuan untuk mengolah energi ekstrovertnya dengan &lt;em&gt;tone&lt;/em&gt; besar dan gagah berani, pada bagian kedua yang bertempo lambat (&lt;em&gt;Adagio&lt;/em&gt;), terlihat betul kemampuannya dalam menciptakan "&lt;em&gt;cri de coeur"&lt;/em&gt; yang sangat jujur, dengan pewarnaan &lt;em&gt;tone&lt;/em&gt; sedemikian rupa sehingga dibalik kemuraman, dapat muncul titik-titik cahaya pengharapan yang bening. Pianis kawakan &lt;strong&gt;Iravati Sudiarso&lt;/strong&gt; yang hadir malam itu, mengaku sangat terkesan dan terharu. Beliau berkata, “&lt;em&gt;Dulu guru saya, Walter Hautzig, selalu memainkan Fantasy Wanderer ini setiap kali resital. Rasanya sampai bosan mendengarnya. Namun ketika saya mendengar interpretasi Ferdy malam ini, ia seperti memberikan &lt;/em&gt;vision&lt;em&gt; baru bagi kita. Fantasy Wanderer yang ia mainkan jauh lebih bagus daripada yang dimainkan guru saya. Saya benar-benar kagum dan sangat tersentuh akan pencapaian artistiknya. Menurut saya, Ferdy adalah pianis terbaik yang pernah kita miliki&lt;/em&gt;,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah &lt;em&gt;intermission&lt;/em&gt;, program dilanjutkan dengan karya &lt;strong&gt;Claude Debussy&lt;/strong&gt; “&lt;em&gt;Images, Book 1&lt;/em&gt;”. Terdapat tiga lagu di dalamnya, yaitu &lt;em&gt;Reflets dans l’eau&lt;/em&gt; (Bayangan dalam air), &lt;em&gt;Hommage à Rameau&lt;/em&gt; (Penghormatan untuk Rameau), dan &lt;em&gt;Mouvement &lt;/em&gt;(Gerak). Ferdy yang mengidentifikasikan dirinya sebagai “&lt;em&gt;never a purist&lt;/em&gt;” ini memilih untuk menyajikan &lt;em&gt;Reflets dans l’eau&lt;/em&gt; dengan pendekatan yang sedikit romantik, dibandingkan dengan impresionistik sebagaimana karya-karya Debussy pada umumnya. Alur melodi yang menggambarkan bayang-bayang cahaya dalam air, mengalir tenang dalam &lt;em&gt;rubato&lt;/em&gt; yang terkontrol. &lt;em&gt;Tone&lt;/em&gt; yang digunakan jauh berbeda dengan &lt;em&gt;Fantasy Wanderer&lt;/em&gt; yang ia mainkan sebelumnya. Kali ini ada bunyi bisikan dan tetesan air yang jernih, diciptakan dengan pewarnaan ultra &lt;em&gt;subtile&lt;/em&gt;. Indah!&lt;br /&gt;Lantas pada &lt;em&gt;Hommage à Rameau&lt;/em&gt; yang diciptakan Debussy untuk menghormati pendahulunya ini (komposer era Barok Prancis, Jean-Phillipe Rameau), ada nuansa nostalgia dan kerinduan mendalam yang tak lekang oleh waktu. Mendengarkan Ferdy memainkan karya ini, momen seakan terhenti dan hanya terisi oleh denting-denting piano dalam gerak prosesional nan harmonis, syahdu, dan khidmat. Sementara itu, bagian &lt;em&gt;Mouvement&lt;/em&gt; ditampilkan dengan efisiensi gerak konstan yang menutup “&lt;em&gt;Images&lt;/em&gt;” dengan menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S4L8M8eFDGI/AAAAAAAAASs/RJAWtQ5aRdw/s1600-h/DSC01544.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441188599137897570" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S4L8M8eFDGI/AAAAAAAAASs/RJAWtQ5aRdw/s320/DSC01544.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Nicholas Saputra membacakan puisi sebelum "In the Kraton"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rupanya pengembaraan artistik Ferdy ke tiga benua sebagai solis, membawanya kembali ke ranah Indonesia tercinta. Pilihannya jatuh pada karya &lt;strong&gt;Leopold Godowsky&lt;/strong&gt; “&lt;em&gt;In the Kraton&lt;/em&gt;” yang diambil dari kumpulan “&lt;em&gt;Java Suite&lt;/em&gt;”. Sebelumnya, &lt;strong&gt;Nicholas Saputra&lt;/strong&gt; yang malam itu mengingatkan kita pada perannya sebagai Rangga dalam film “&lt;em&gt;Ada Apa Dengan Cinta?&lt;/em&gt;”, membawakan puisi pembuka. Komposer sekaligus pianis legendaris Leopold Godowsky yang pada tahun 1923 melakukan serangkaian perjalanan ke tempat-tempat eksotik di seluruh dunia, sempat singgah di Jawa dimana ia memberikan kesannya yang mendalam, “&lt;em&gt;Masuk ke Tanah Jawa membuat kita seolah-olah berada di dunia lain, atau sekelibat melihat dunia yang &lt;/em&gt;immortal&lt;em&gt;. Musiknya sangat mengagumkan. Sulit menjelaskan kekaguman ini, sama sulitnya seperti berusaha menjelaskan warna pada seorang tunanetra&lt;/em&gt;,”. Begitu pula ketika Ferdy mendentingkan nada pertama “&lt;em&gt;In the Kraton&lt;/em&gt;”, suasana &lt;em&gt;immortal &lt;/em&gt;tersebut memang demikian adanya. Tiada satu tempat pun yang tidak diberi sentuhan artistik olehnya, semuanya mengalir dalam ruang dan waktu yang terhenti, membawa imajinasi pada keindahan Jawa di era kolonial. Layaknya kesan Godowsky ketika mengunjungi keeksotikan pulau Jawa kala itu, saya pun tidak kuasa menggambarkan bagaimana Ferdy dapat menciptakan keindahan itu. Seseorang harus hadir disana, menyaksikan sendiri momen itu. Terlalu sublim untuk dijelaskan dengan akal sehat: yang ada adalah imajinasi!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S4L8MIIGFfI/AAAAAAAAASk/imq3E5qdsUU/s1600-h/DSC01545.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441188585087047154" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S4L8MIIGFfI/AAAAAAAAASk/imq3E5qdsUU/s320/DSC01545.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Ferdy: Never a purist&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian Ferdy menutup konser malam itu dengan &lt;em&gt;Bolero&lt;/em&gt; karya &lt;strong&gt;Frederic Chopin&lt;/strong&gt;. Mungkin ia juga ingin membawa peringatan lahirnya Chopin (tahun 2010 ini, merupakan 200 tahun lahirnya Chopin dan Schumann), namun berhubung “&lt;em&gt;In the Kraton&lt;/em&gt;” masih terngiang-ngiang dalam imajinasi, &lt;em&gt;Bolero&lt;/em&gt; tersebut nampak hadir sebagai &lt;em&gt;encore &lt;/em&gt;pemanis. Apapun, konser bertajuk “&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Wanderer&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;” yang berarti “&lt;strong&gt;Sang Pengelana&lt;/strong&gt;” itu telah menjadi bukti konkrit akan pengembaraan Ferdy Tumakaka dalam hal pencarian jatidiri dan proses berkesenian yang semakin terasah. Nampaknya ia telah belajar banyak dari Kehidupan dan itu membuatnya semakin kaya. Kaya dalam arti batiniah dan itu terlihat dari musiknya, karena musik selalu berbicara tentang Kebenaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selamat dan sukses untuk Ferdy Tumakaka!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-7345855677271715793?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/7345855677271715793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=7345855677271715793' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7345855677271715793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7345855677271715793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/02/ferdy-tumakaka-sang-pengelana.html' title='Ferdy Tumakaka Sang Pengelana'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S4L8N4Md6WI/AAAAAAAAAS0/oy8CKYTbvpM/s72-c/DSC01541.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-6419007946757692096</id><published>2010-02-16T09:08:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T09:33:55.695-08:00</updated><title type='text'>Seuntai Kenangan dari Renata Tebaldi</title><content type='html'>Beberapa hari yang lalu ketika saya sedang merapikan tumpukan CD, saya menemukan sebuah CD menarik berjudul “&lt;strong&gt;Renata Tebaldi: Songs &amp;amp; Arias&lt;/strong&gt;”. Apabila Anda adalah salah satu dari penggemar fanatik penyanyi opera yang dijuluki “&lt;em&gt;Voce d’angelo&lt;/em&gt;” (suara malaikat) oleh konduktor legendaris Arturo Toscanini tersebut, maka Anda akan segera paham bahwa CD tersebut merupakan barang langka, dalam pengertian: Dari sekian banyak rekaman suara Renata Tebaldi, kebanyakan adalah &lt;em&gt;genre&lt;/em&gt; opera. Sementara itu, CD ini unik karena di dalamnya memuat kumpulan lagu-lagu &lt;em&gt;art songs&lt;/em&gt; Italia yang tergolong jarang dibawakan di panggung pentas musik seriosa dewasa ini, misalnya: &lt;em&gt;Notte&lt;/em&gt; (Ottorino Respighi), &lt;em&gt;O luna che fa lume&lt;/em&gt; (Vincenzo Davico), atau &lt;em&gt;Passo e non ti vedo&lt;/em&gt; (Enzo Masetti). Semua lagu dalam CD ini disusun dalam format resital vokal dan piano, dimana pianis pengiringnya adalah Giorgio Favaretto, yang mengiringi dengan sensitivitas dan efisiensi yang terasa cocok dengan karakter suara Tebaldi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438891330796026914" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 311px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S3rS2VAMfCI/AAAAAAAAASc/R9SsR_4aO9o/s320/renata+tebaldi+songs+and+arias.jpg" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Dalam CD ini, ada tiga buah lagu yang menurut saya menarik. Ketiganya diambil dari kumpulan siklus &lt;em&gt;art songs&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;La canzone dei ricordi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (Lagu-lagu kenangan) karya Giuseppe Martucci (1856-1909). Dari total tujuh lagu yang ada dalam siklus &lt;em&gt;art songs&lt;/em&gt; tersebut, Tebaldi membawakan tiga saja, yaitu: &lt;em&gt;Al folto bosco&lt;/em&gt; (Di tengah belantara hutan), &lt;em&gt;Cantava il ruscello&lt;/em&gt; (Nyanyian sungai kecil), dan &lt;em&gt;Sul mar la navicella&lt;/em&gt; (Perahu kecil di lautan). Intensitas Tebaldi memang menjadi kekuatan dalam interpretasi karya yang sulit ini. Ia dapat membangkitkan suasana nostalgia yang kental, membuai lamunan dalam &lt;em&gt;Fin de siècle&lt;/em&gt; era Romantik melalui melodi-melodi melankolis dan harmonisasi kromatik yang muram. Siklus &lt;em&gt;art songs&lt;/em&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;La canzone dei ricordi&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; sendiri pertama kali ditampilkan di Napoli sebulan setelah meninggalnya sang komposer, dimana syair lagunya diambil dari puisi karya Rocco Pagliara dan menceritakan mengenai seorang gadis yang sedang meratap, mengenang momen-momen indah yang telah dilaluinya bersama kekasih tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;object height="364" width="445"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/sSItOFwHjss&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;color1=0x234900&amp;amp;color2=0x4e9e00&amp;amp;border=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/sSItOFwHjss&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;color1=0x234900&amp;amp;color2=0x4e9e00&amp;amp;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="445" height="364"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;br /&gt;Dalam rekaman tahun 1956 ini Renata Tebaldi sedang berada dalam masa-masa puncak ketenarannya. Jenis suara &lt;em&gt;lirico-spinto&lt;/em&gt; yang dimilikinya mampu memenuhi ruang pendengaran para penggemarnya di gedung-gedung opera berskala besar. Namun pada rekaman &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Al folto bosco&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; ini, Tebaldi sepertinya sedikit mengurangi intensitas suaranya menjadi sedikit lebih &lt;em&gt;light&lt;/em&gt;. Mungkin ini disebabkan oleh format resital vokal-piano yang tidak memungkinkannya untuk mengeluarkan suara secara &lt;em&gt;full-voice&lt;/em&gt;, atau karena teknologi rekaman pada saat itu yang kurang bisa membuat &lt;em&gt;balance&lt;/em&gt; antara suara piano dan vokal, sehingga ada beberapa tempat yang terdengar kurang seimbang: Suara piano tertutup oleh suara Tebaldi, terutama di bagian klimaks. Tebaldi yang memang besar dalam dunia opera, sepertinya kurang memberikan ruang intimasi pada lagu ini. Gaya bernyanyi &lt;em&gt;art songs&lt;/em&gt; dan opera memang jauh berbeda. Saya membayangkan seorang Tebaldi yang biasa menyanyikan opera berskala besar seperti Aida, kemudian harus menciptakan suasana personal, dimana komunikasi hanya terjadi antara vokalis dan pianis. Berbeda dengan opera, dimana komunikasi terjadi dengan banyak pihak, misalnya dengan orkestra, lawan main, juga dengan gajah, jerapah, kuda, dan unta (dalam bagian &lt;em&gt;Triumphal March&lt;/em&gt; opera Aida). Sepertinya mindset “diiringi piano” dan “diiringi orkestra” tidak bisa disamakan.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Meskipun demikian, marilah kita melihat &lt;em&gt;artistry&lt;/em&gt; rekaman ini sebagai sebuah peninggalan berharga dari masa keemasan seni vokal klasik abad 20. Secara kontekstual, penafsiran Tebaldi terhadap &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Al folto bosco&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; ini dapat dilihat sebagai suatu &lt;em&gt;acquired taste&lt;/em&gt; yang klasik, seperti gaya menyanyinya yang sangat “Italia”, dengan penekanan dan aksen di suku kata yang tepat. Apapun itu, nuansa nostalgia yang kental langsung dapat dipahami pada saat pertama kali lagu ini dinyanyikannya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-6419007946757692096?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/6419007946757692096/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=6419007946757692096' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/6419007946757692096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/6419007946757692096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/02/seuntai-kenangan-dari-renata-tebaldi.html' title='Seuntai Kenangan dari Renata Tebaldi'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S3rS2VAMfCI/AAAAAAAAASc/R9SsR_4aO9o/s72-c/renata+tebaldi+songs+and+arias.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-4267505584767243014</id><published>2010-02-14T10:02:00.000-08:00</published><updated>2010-02-14T10:29:49.777-08:00</updated><title type='text'>Schumannabend</title><content type='html'>Schumann memang selalu misterius! Sebagai salah satu tonggak gerakan romantisme dalam musik, Schumann memang memiliki kedalaman tersendiri yang terkadang ambigu dan sarat akan teka-teki. Ambiguitas tersebut tercermin dari filosofinya akan karakter Florestan dan Eusebius (yang diambilnya dari format komedia improvisasi arkaik Italia, yakni &lt;em&gt;commedia dell’arte&lt;/em&gt;). Florestan yang ekstrovert dan Eusebius yang introvert menggambarkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan ada dikotomi: sebagaimana filosofi Goethe akan Faust dan Mephistopheles, atau mitologi Yunani akan karakter Apollo dan Dionysus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pemikirannya, Schumann adalah pribadi yang berkepribadian ganda. Terkadang pemikirannya laksana malaikat dan setan, sebagaimana ia menderita penyakit jiwa pada saat-saat terakhir hidupnya. Kendati demikian, musiknya memiliki nuansa intim yang dikemas dalam virtuositas individual, terkadang melankolis dan penuh enigma, namun bisa juga meluap-luap dan penuh emosi. Yang pasti, &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; selalu ada disana. Coba saja dengarkan &lt;em&gt;Drei Fantasiestücke Op 73&lt;/em&gt; untuk piano dan cello, atau &lt;em&gt;Fantasy Op 17&lt;/em&gt; untuk piano solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam resital piano dan vokal bertajuk "&lt;em&gt;Schumannabend&lt;/em&gt;" (Malam Schumann) di Goethe Haus tanggal 9 Februari yang lalu, pianis &lt;strong&gt;Iswargia Sudarno&lt;/strong&gt; dan mezzosoprano &lt;strong&gt;Yosefin Emilia&lt;/strong&gt; menampilkan serangkaian program yang sangat menarik, yaitu percampuran antara resital vokal dan piano solo. Pilihan karya yang ditampilkan adalah siklus &lt;em&gt;lieder &lt;/em&gt;(Tembang Puitik) &lt;em&gt;Myrthen Op 25&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Frauenliebe und Leben&lt;/em&gt; (Kisah Cinta dan Kehidupan Wanita) &lt;em&gt;Op 42&lt;/em&gt;, serta penampilan piano solo Iswargia yang kerap disebut Mas Lendi, dengan &lt;em&gt;Carnaval Op 9&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Kinderszenen&lt;/em&gt; (Memori Masa Kecil) &lt;em&gt;Op 15&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, resital berlangsung dengan apik. Mezzosoprano Lia yang sangat ekspresif nampak menunjukkan kematangannya dalam mengolah siklus lieder &lt;em&gt;Frauenliebe und Leben&lt;/em&gt; sebagai suatu kesatuan. Soprano Aning Katamsi yang hadir malam itu, berkomentar akan &lt;em&gt;legato&lt;/em&gt; Lia yang sangat prima dan pengolahan warna suara antara register dada dan kepala (&lt;em&gt;passaggio&lt;/em&gt;) yang biasanya sulit untuk disamakan warnanya, dapat dilakukan Lia dengan mulus. Mezzosoprano Lia memang adalah salah satu dari jajaran penyanyi seriosa menjanjikan negeri ini, dengan warna suara yang indah dan &lt;em&gt;power &lt;/em&gt;yang terukur, semoga ia dapat terus melanjutkan jenjang studi vokalnya di Jerman, sebagaimana yang dicita-citakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438164259548033058" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S3g9lNiV8CI/AAAAAAAAASM/O7LCHMjoqz0/s320/DSC01535.JPG" border="0" /&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Pianis Iswargia Sudarno &amp;amp; Mezzosoprano Yosefin Emilia&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Siklus lieder &lt;em&gt;Myrthen&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Frauenliebe&lt;/em&gt; yang dibawakan Lia sebagai pembuka resital dapat dianalogikan sebagai kisah cinta Schumann pada Clara Wieck, istrinya. Apabila &lt;em&gt;Myrthen&lt;/em&gt; adalah hadiah pernikahan dari Schumann untuk Clara Wieck, maka &lt;em&gt;Frauenliebe&lt;/em&gt; mengisahkan kisah cinta seorang wanita, sejak ia bertemu dengan kekasihnya, menikah, hingga kekasihnya meninggal. Pada &lt;em&gt;Frauenliebe&lt;/em&gt; ini, Schumann mungkin terinspirasi dari kehidupan pribadinya, antara lain dari sulitnya mendapat izin Profesor Wieck ketika ia akan meminang Clara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S3g9lkHUrFI/AAAAAAAAASU/BXw6OyyUURE/s1600-h/DSC01537.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438164265608719442" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S3g9lkHUrFI/AAAAAAAAASU/BXw6OyyUURE/s320/DSC01537.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Pianis Iswargia Sudarno membawakan Schumann Carnaval Op 9&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Mas Lendi kembali pada kenangan akan masa kecilnya dalam &lt;em&gt;Kinderszenen&lt;/em&gt;. Siklus karya solo piano yang menceritakan akan kenangan masa kecil ini terdiri atas 13 lagu, dimana yang paling terkenal adalah &lt;em&gt;Träumerei &lt;/em&gt;(Mimpi). Sepertinya Schumann adalah komposer favorit Mas Lendi. Saya ingat pada resital solo di Erasmus Huis (1 Februari 2001), Mas Lendi memainkan seluruh bagian &lt;em&gt;Carnaval Op 9 &lt;/em&gt;juga dan memberikan &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt; (kalau tidak salah) &lt;em&gt;Kind im Einschlummern&lt;/em&gt; (Anak yang tertidur) yang merupakan lagu ke-12 dari siklus &lt;em&gt;Kinderszenen&lt;/em&gt;. Oleh karena itu, melalui interpretasi pianistik Mas Lendi yang mumpuni, nostalgia itu kembali hadir dalam benak saya. Hal ini mungkin pertanda bahwa Schumann “turut hadir” pada resital malam itu, sebagaimana tahun 2010 ini merupakan peringatan lahirnya Schumann 200 tahun yang lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-4267505584767243014?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/4267505584767243014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=4267505584767243014' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/4267505584767243014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/4267505584767243014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/02/schumannabend.html' title='Schumannabend'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S3g9lNiV8CI/AAAAAAAAASM/O7LCHMjoqz0/s72-c/DSC01535.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-2958001094635137411</id><published>2010-02-07T08:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T09:23:59.040-08:00</updated><title type='text'>Malam Musikal ala Aleksander Kudajczyk &amp; Asep Hidayat</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Pada tanggal 19 Januari 2010 yang lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri persembahan musikal karya-karya Chopin dan Bach yang disajikan oleh pianis berkebangsaan Polandia, &lt;strong&gt;Aleksander Kudajczyk&lt;/strong&gt; dan pemain cello kawakan Indonesia, &lt;strong&gt;Asep Hidayat&lt;/strong&gt;. Bertempat di Griya Jenggala, acara tersebut menarik perhatian penonton karena sang pianis rupanya memiliki riwayat perjalanan karir yang sangat unik. Berangkat dari keluarga musikal, Aleksander yang menekuni studi pianonya sejak kecil memutuskan untuk pindah dari Polandia ke Glasgow, Inggris, dimana disana ia terpaksa bekerja sebagai &lt;em&gt;cleaning service&lt;/em&gt; di sebuah universitas. Bakat terpendamnya terkuak setelah secara tidak sengaja ia memainkan piano di auditorium universitas tersebut, dan terekam di CCTV. Untuk info lebih lanjut, silahkan lihat di:&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www.aleksanderkudajczyk.com/"&gt;http://www.aleksanderkudajczyk.com/&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S27yCLd51SI/AAAAAAAAASE/iW_00P7fGbM/s1600-h/DSC01354.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435547919534642466" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S27yCLd51SI/AAAAAAAAASE/iW_00P7fGbM/s320/DSC01354.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Aleksander Kudajczyk memainkan Ballade in F minor karya Chopin&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, resital dibagi dalam dua babak. Babak pertama adalah Aleksander Kudajczyk secara solo memainkan karya-karya &lt;strong&gt;Frederic Chopin&lt;/strong&gt; (antara lain Ballade in F minor, Scherzo in B minor, dan beberapa Valse), sementara itu babak kedua diisi oleh permainan cello Asep Hidayat yang menyuguhkan Cello Suite no 1 karya &lt;strong&gt;Johann Sebastian Bach&lt;/strong&gt;. Pada akhirnya, mereka berdua duet menyajikan The Swan (dari &lt;em&gt;Le carnaval des animaux&lt;/em&gt;) karya &lt;strong&gt;Camille Saint-Saëns&lt;/strong&gt; sebagai lagu penutup.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian resital dibuka dengan karya liris Chopin, &lt;em&gt;Ballade in F minor&lt;/em&gt;. Pada karya pertama ini, Aleksander menunjukkan kebolehannya dalam memproduksi &lt;em&gt;tone-touch&lt;/em&gt; yang sangat sensitif dan penuh warna. Ia bisa membawakan Ballade terakhir Chopin tersebut dalam satu kesatuan nafas yang terukur dari awal hingga akhir.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Ballade Chopin yang satu ini memang sangat spesial. Bahkan kritikus musik James Huneker yang menulis buku “&lt;em&gt;Chopin: The Man and His Music&lt;/em&gt;” menyatakan bahwa khusus untuk membahas Ballade in F minor yang didedikasikan oleh Chopin untuk Baronne C. de Rothschild ini, ia bisa membuat satu buku sendiri! Di dalam Ballade ini terkandung unsur reflektif dalam penceritaan yang liris, sebagaimana pengertian dari &lt;em&gt;Ballade&lt;/em&gt; itu sendiri, yang berarti “Kisah mengenai suatu perjalanan”, dimana “Perjalanan” dapat diartikan sebagai perjalanan hidup, perjalanan batiniah, baik ragawi maupun sukma. Yang jelas, pianis senior Iravati Sudiarso dulu pernah berkisah pada saya: Suatu saat ketika beliau sedang berlatih di &lt;em&gt;basement&lt;/em&gt; Steinway House New York, tiba-tiba ruangannya dihampiri oleh seorang sepuh yang dengan penuh kerendahan hati memperkenalkan diri sebagai Artur Rubinstein. Ketika itu Iravati sedang berlatih Chopin Ballade in F minor, membuat Artur Rubinstein terlihat sangat antusias dan mengatakan, “&lt;em&gt;For me, I need a lifetime to understand the meaning of this masterpiece,&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;James Huneker sendiri menulis bahwa Ballade ini merupakan refleksi batiniah seorang manusia yang sedang gundah dalam rasa penasaran akan desakan penyakit yang sedang mendera jiwa. Mungkin memang itulah “perjalanan” batiniah Chopin yang semasa hidupnya berada dalam masa perang dan kerapkali harus berpindah tempat tinggal, juga atas penyakit TBC yang dideritanya. Di dalam musiknya ada &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;, terkadang halus dan meluap-luap, semuanya disatukan dalam konstruksi komposisi yang elok. James Huneker menutup tulisan tentang Ballade ini dengan pernyataan bahwa komposisi tersebut merupakan "&lt;em&gt;Chopin di puncak tertinggi pencapaian artistiknya, sangat personal dan menusuk langsung pada hati sanubari manusia&lt;/em&gt;." Seperti halnya Bach &lt;em&gt;Chromatic Fantasy&lt;/em&gt;; Beethoven pada bagian pertama &lt;em&gt;Sonata Cis minor&lt;/em&gt; dan arioso pada &lt;em&gt;Sonata op 110&lt;/em&gt;-nya; atau bagian pertama Schumann &lt;em&gt;Fantasy op 17&lt;/em&gt;; semuanya memiliki keintiman yang sublim seperti yang terkandung dalam Ballade in F minor, dan dapat disandingkan dengan ambiguitas senyum ala &lt;em&gt;Monalisa&lt;/em&gt; karya Leonardo da Vinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Keintiman yang dibuat oleh Aleksander Kudajczyk malam itu memang diperoleh dari &lt;em&gt;tone-touch&lt;/em&gt; yang prima, sebagaimana ia mengakhiri rangkaian resital dengan duet cantik bersama cellist Asep Hidayat. Pada piano, ia memainkan riak gelombang air nan tenang dalam dinamik yang &lt;em&gt;subtle&lt;/em&gt;, sangat syahdu, sementara itu angsanya (diwujudkan melalui permainan cello Asep Hidayat) berenang anggun sambil bernyanyi dalam &lt;em&gt;legato&lt;/em&gt; yang tidak berkesudahan. Betapa indahnya &lt;em&gt;The Swan&lt;/em&gt;, membuat penonton terbius dan terlena sehingga pasangan pianis-cellist itu diminta untuk mengulangi lagi "Swan Song" yang mungkin sedang berenang mengarungi perjalanan hidupnya dalam kedamaian danau musim semi.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S27yBhxy7_I/AAAAAAAAAR8/-hx1nL-CBFM/s1600-h/DSC01357.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435547908343787506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S27yBhxy7_I/AAAAAAAAAR8/-hx1nL-CBFM/s320/DSC01357.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Duet cantik lagu "The Swan" oleh Aleksander Kudajczyk &amp;amp; Asep Hidayat&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-2958001094635137411?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/2958001094635137411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=2958001094635137411' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2958001094635137411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2958001094635137411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/02/malam-musikal-ala-aleksander-kudajczyk.html' title='Malam Musikal ala Aleksander Kudajczyk &amp; Asep Hidayat'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S27yCLd51SI/AAAAAAAAASE/iW_00P7fGbM/s72-c/DSC01354.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-7173600571331145229</id><published>2010-01-11T09:49:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T10:22:39.488-08:00</updated><title type='text'>Harimada Kusuma, Conversation Nocturne</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Prelude&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Judul tulisan ini diambil dari judul film “&lt;em&gt;Martha Argerich, Conversation Nocturne&lt;/em&gt;”, sebuah film dokumenter mengenai &lt;em&gt;life and art&lt;/em&gt; dari pianis legendaris kelahiran Argentina, Martha Argerich. Bukanlah suatu kebetulan tulisan ini diawali dengan bahasan “Martha Argerich”, karena baik saya maupun Harimada Kusuma merupakan fans beratnya. Begitu pula dalam acara “Harimada and Friends” yang digelar di Goethe Haus pada tanggal 9 Januari 2010 lalu, sang empunya acara memang terinspirasi dari tajuk konser-konser pianis Argentina tersebut, yang kerap kali dinamakan “Martha Argerich and Friends”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“&lt;em&gt;Ya kalau nggak gitu, namanya apalagi donk Dit?&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Sepertinya susah sekali mencari nama yang lain, yang paling pas dan praktis ya Harimada and Friends&lt;/em&gt;,” kata Harimada seusai konser. Dalam konser tersebut, &lt;strong&gt;Harimada Kusuma&lt;/strong&gt; (yang merupakan salah satu pianis kebanggaan Indonesia dan sejak lama berkiprah di Belanda) mengajak tiga orang musisi sahabatnya untuk berkolaborasi. Ada pianis &lt;strong&gt;Menur Karen Kamarullah&lt;/strong&gt; yang membawakan duet dari Franz Schubert &lt;em&gt;Fantasy in F minor&lt;/em&gt;, kemudian flutist &lt;strong&gt;Marini Widyastari&lt;/strong&gt; dengan &lt;em&gt;Sonata for Flute and Piano op 94&lt;/em&gt; karya Prokofieff, dan violis &lt;strong&gt;Inge Karyadi&lt;/strong&gt; yang membawakan dua bagian dari &lt;em&gt;Sonata for Violin and Piano in A Major&lt;/em&gt; karya Cesar Franck. Harimada sendiri unjuk kebolehan bermain solo dengan Partita no 2 karya Johann Sebastian Bach.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S0tk8TG6NSI/AAAAAAAAAR0/v246GRNoY-8/s1600-h/Harimada+and+Friends.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425541163182077218" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S0tk8TG6NSI/AAAAAAAAAR0/v246GRNoY-8/s320/Harimada+and+Friends.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Harimada and Friends (foto diambil dari facebook)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Para penonton yang memenuhi hampir seluruh auditorium Goethe Haus malam itu nampaknya puas dengan suguhan bermutu dari keempat musisi tersebut. Konser berakhir dengan sukses dan Harimada memberikan sepotong &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt; manis, berupa &lt;em&gt;Nocturne &lt;/em&gt;karya Faure. Seusai konser, Harimada rupanya mengundang saya untuk berbincang-bincang sejenak dan bertanya mengenai kesan saya akan konser tersebut. Saat itu terus terang saya sedang kurang &lt;em&gt;mood&lt;/em&gt; untuk membahas permainan secara detail karena masih berada dalam suasana terpukau akan permainan para musisi yang luar biasa, juga karena rasa senang bisa melihat Harimada bermain dalam konser lagi di Jakarta, setelah sekian lama ia meninggalkan Indonesia untuk meneruskan program Master di bidang piano, Amsterdam Conservatory. Berhubung saat itu Harimada sedikit mendesak saya, maka saya terlibat dalam percakapan malam (&lt;em&gt;conversation nocturne&lt;/em&gt;) yang berlanjut dengan makan-makan tengah malam di sebuah restoran 24 jam kawasan Sarinah bersama para musisi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Interlude&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Pertama-tama, saya menekankan bahwa &lt;em&gt;artistry&lt;/em&gt; musisi yang tampil di atas panggung merupakan sebuah proses panjang, penuh perjuangan jiwa raga, sehingga bisa menampilkan sebuah karya seni adiluhung yang tidak semua orang bisa membawakannya. Oleh karena itu, saya tidak berhak untuk mengkritik atau menjelek-jelekkan permainan seseorang karena &lt;em&gt;output&lt;/em&gt; setiap musisi atas proses perjalanan pencarian artistik yang panjang tersebut belum tentu sama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Harimada sendiri mengungkapkan bahwa misi dari diadakannya konser “Harimada and Friends” tersebut adalah untuk mengajak dan memberi kesempatan bagi para musisi berbakat untuk bermusik bersama, melakukan dialog (lagi-lagi &lt;em&gt;conversation&lt;/em&gt;) simbolis dalam bentuk musik. Ada ungkapan bahwa di dalam musik, ribuan kata yang tak terungkapkan dapat tersampaikan dalam bentuk &lt;em&gt;rasa&lt;/em&gt;. Memang demikian, Harimada nampaknya ingin menumpahkan rasa kangennya terhadap sahabat-sahabatnya dalam bentuk musik. Dalam proses itu pula, masing-masing musisi berusaha untuk mempersembahkan segenap kemampuan terbaik mereka agar dapat tampil bersama di atas panggung dengan cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Seperti Menur yang diantara kesibukannya mengajar dan ngantor di Medco, masih sempat latihan piano dan hasilnya dapat terlihat dari duet &lt;em&gt;Fantasy in F minor&lt;/em&gt;. Kelincahan jari dan penggalangan kalimat menuju klimaks dapat berlangsung dengan mulus. Arsitektur karya berhasil dibangun dengan kokoh dan cermat, mengantisipasi tema minor yang terus-menerus diulang kapanpun dan dimana saja oleh sang komponis, Franz Schubert. Kerjasama yang baik antara Harimada (di not bass) dan Menur (di not treble) membuahkan spontanitas yang enerjik dan kompak.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Pada &lt;em&gt;Sonata for Flute and Piano op 94&lt;/em&gt; karya Prokofieff, terlihat jelas dialog yang sangat dinamis diantara Harimada dan flutist Marini Widyastari. Sang pemain seruling yang lulusan Royal Northern College of Music di Inggris tersebut mengerahkan segala energinya untuk menyelesaikan sonata modern itu dengan prima, sebagaimana ia dapat mengatur nafasnya agar kalimat-kalimat unik ala Prokofieff dapat terbentuk dengan kokoh dan mengimbangi permainan piano Harimada yang penuh virtuositas.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sementara permainan violis Inge Karjadi menutup konser malam itu dengan nada-nada &lt;em&gt;agitato&lt;/em&gt; yang berselingan dengan lirisisme Cesar Franck, dalam dua bagian dari Sonata &lt;em&gt;for Violin and Piano in A Major&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Harimada sendiri mengajak penonton untuk merenung sesaat dengan &lt;em&gt;Partita no 2 BWV 826&lt;/em&gt; karya Bach yang dimainkan setelah &lt;em&gt;intermission&lt;/em&gt;. Karya ini memang &lt;em&gt;tricky&lt;/em&gt; sekali karena terdiri atas beberapa bagian (&lt;em&gt;Sinfonia, Allemande, Courante, Sarabande, Rondeaux, Capriccio&lt;/em&gt;) yang harus berada dalam satu nafas dan kekokohan format &lt;em&gt;Suite&lt;/em&gt; (irama tarian) ala zaman Barok. Menurut saya pribadi, dalam Partita tersebut Harimada masih berada dalam proses pencarian artistik yang lebih tinggi. Ada beberapa bagian yang masih bisa dieksplorasi, seperti kalimat-kalimat yang bisa dibentuk dengan penggabungan &lt;em&gt;art of fugue&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;arioso&lt;/em&gt;, penentuan tempo yang sesuai, kejernihan dan &lt;em&gt;clarity&lt;/em&gt; dari beberapa &lt;em&gt;passage&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;atau penggabungan bagian-bagian Partita menjadi suatu arsitektur Barok yang kokoh dan terstruktur. Namun demikian, bagian &lt;em&gt;Sarabande&lt;/em&gt; dapat dibawakan dengan anggun dan khidmat, sementara &lt;em&gt;Capriccio&lt;/em&gt; terasa sangat hidup dan memiliki &lt;em&gt;bounce&lt;/em&gt; yang membuat penonton tidak bosan menyaksikan hingga akhir karya selesai dibawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“&lt;em&gt;Intinya, dalam Bach ini kamu harus bisa menikmati permainanmu sendiri&lt;/em&gt;,” kata saya pada Harimada (seolah-olah saya adalah gurunya). Harimada sendiri mengemukakan bahwa Partita Bach tersebut sebelumnya belum pernah ia mainkan di hadapan orang. Di konser Goethe tersebut, itu adalah pertama kalinya ia memainkan di depan khalayak ramai. Ternyata sudah enam bulan ini profesor piano Harimada (Prof. Mila Baslawskaja) tidak mengajar karena sedang dalam proses pemulihan akibat sebuah kecelakaan mobil. Harimada pun tidak mendapatkan profesor pengganti, sehingga ia harus belajar semuanya sendirian, termasuk Partita Bach tersebut. Tapi justru dari keadaan itulah, Harimada benar-benar belajar bagaimana rasanya jika kelak ia sudah lulus dari program Master, dimana ia akan berdiri di atas kakinya sendiri sebagai seorang artis yang independen. Sebuah proses yang tidak mudah karena pada umumnya khalayak hanya melihat &lt;em&gt;output&lt;/em&gt;-nya saja, apakah seorang musisi dikategorikan sebagai pianis bagus atau tidak. Bagaimana pun juga, apabila telah berada di atas panggung, &lt;em&gt;the show must go on&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Masih membahas Bach tersebut, saya menyarankan Harimada untuk mendengarkan rekaman Bach versi Martha Argerich (diterbitkan oleh &lt;em&gt;Deutsche Grammophon&lt;/em&gt;). Saya tidak menyarankannya untuk mendengarkan versi Glenn Gould atau Rosalyn Tureck karena dua artis tersebut memang selalu menjadi acuan untuk Bach. Pada Bach versi Martha Argerich, ada suatu “sentuhan” yang berbeda. Harimada bilang, Argerich membuat tempo yang lebih cepat dari biasanya dan memiliki &lt;em&gt;bounce&lt;/em&gt; (seperti irama tarian itu tadi) yang sangat hidup, seperti spontan, sehingga orang tidak bosan untuk mendengar. Kebetulan Harimada hanya punya rekaman Argerich yang memainkan Partita, sementara untuk referensi lebih lanjut bisa coba dengarkan &lt;em&gt;Toccata in C minor BWV 911&lt;/em&gt;, dan lihat betapa kokoh struktur dan penggalangan arsitektur karya Bach tersebut yang dibangun dari awal hingga akhir oleh Argerich.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S0tk8HbEngI/AAAAAAAAARs/GLD4_TnU7rI/s1600-h/Martha+Argerich+Bach.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425541160045420034" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S0tk8HbEngI/AAAAAAAAARs/GLD4_TnU7rI/s320/Martha+Argerich+Bach.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;CD Martha Argerich plays Johann Sebastian Bach&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Harimada juga sempat menanyakan apakah permainan Partita-nya tidak ortodoks, karena menggunakan pedal di beberapa tempat. Mengacu pada pedal yang (biasanya) tabu dipergunakan pada musik-musik era Barok, saya mengemukakan bahwa pedal bukanlah suatu hal yang esensial. Pianis Iravati Sudiarso (yang merupakan guru saya dan Harimada) pernah mengatakan bahwa pedal bisa saja digunakan pada saat main Bach di pentas atau resital, di bagian-bagian yang sekiranya perlu. Penggunaan pedal pada karya Bach memiliki fungsi dan maksud yang berbeda dengan komposisi di era setelahnya, seperti Klasik atau Romantik. Hanya saja dalam ujian, biasanya penggunaan pedal dihindari karena para juri ingin mengetahui apakah pianis yang sedang diuji dapat memainkan &lt;em&gt;fuga&lt;/em&gt; dan kalimat-kalimat Bach yang rumit secara &lt;em&gt;legato&lt;/em&gt;. Tentunya pedal dapat digunakan saat pentas, karena pianis ahli Bach seperti Rosalyn Tureck pun menggunakan pedal di beberapa tempat yang perlu, seperti pada &lt;em&gt;sustain&lt;/em&gt; chords besar atau untuk memperlancar &lt;em&gt;legato&lt;/em&gt; apabila &lt;em&gt;finger-legato&lt;/em&gt; sudah mencapai limitnya, atau mungkin untuk alasan artistik lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, semuanya kembali lagi kepada proses. Musik bukanlah sesuatu yang instan dan dapat ditampilkan hanya dalam latihan “sistem kebut semalam”. Dalam sebuah wawancara Elyse Mach dengan pianis Stephen Hough (dalam buku &lt;em&gt;Great Contemporary Pianists Speak for Themselves&lt;/em&gt;), dijelaskan, “&lt;em&gt;There is a whole Romantic aesthetic which seems to be missing from many areas of life today. We’ve become extremely harsh somehow, and we just do not seem to have time to appreciate certain beauties. Everything is very fast, very frenetic. If you had, for instance, to travel on a horse from Ravinia to this hotel, the Moraine, which is a ten-minute car ride, your sense of distance would be more perceptive, more sensitive. But for us, it is just nothing; we hop in a car, and move on, passing gas stations on every corner. It is reflected in life and in art. We don’t have any time for people; we don’t have have any time to think, to absorb&lt;/em&gt;,”&lt;br /&gt;Harimada telah membuktikan pada konser malam itu bahwa dengan kerja keras yang gigih dan mandiri, mungkin Prof. Mila Baslawskaja akan tersenyum saat melihat hasilnya. Pendewasaan estetika suatu karya musik memang akan terus bermetamorfosis dan saya yakin Harimada sedang berada dalam proses itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Postlude&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya obrolan malam itu dipersatukan oleh bahasan tentang Martha Argerich. Entah suatu kebetulan atau bukan, dua karya yang ditampilkan malam itu merupakan salah satu &lt;em&gt;repertoire&lt;/em&gt; Argerich, yaitu Partita Bach dan Sonata Cesar Franck. Kebetulan di Goethe pada saat jeda &lt;em&gt;intermission&lt;/em&gt; berlangsung, saya sempat mengobrol dengan pianis Levi Gunardi yang bercerita bahwa ia baru saja membeli DVD "&lt;em&gt;Martha Argerich, Conversation Nocturne&lt;/em&gt;". Mungkin memang itu suatu pertanda bahwa &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;musicianship&lt;/em&gt; Martha Argerich turut hadir pada hati para musisi di Negara Dunia Ketiga ini. Semoga Harimada dapat menyelesaikan persiapannya untuk tour keliling Indonesia awal April ini bersama beberapa musisi kontemporer Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat dan sukses!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-7173600571331145229?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/7173600571331145229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=7173600571331145229' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7173600571331145229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7173600571331145229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/01/harimada-kusuma-conversation-nocturne.html' title='Harimada Kusuma, Conversation Nocturne'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S0tk8TG6NSI/AAAAAAAAAR0/v246GRNoY-8/s72-c/Harimada+and+Friends.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-2214200712225542103</id><published>2010-01-03T00:56:00.001-08:00</published><updated>2010-01-03T01:51:47.110-08:00</updated><title type='text'>Semester Pertama Mengajar di UI</title><content type='html'>Puji syukur kehadirat Tuhan, kami selaku tim dosen MPK Seni Musik Universitas Indonesia (Aditya Setiadi, Mira Wardhani, Sri Muji Rakhmawati) berhasil membawa mahasiswa angkatan 2009 dengan hasil yang cukup memuaskan. Sebagai mata kuliah yang baru (diperdanakan pada semester gasal 2009), kami menempuhnya dengan proses yang tidak mudah, dan hal tersebut tidak hanya dari segi pelaksanaan mata kuliahnya, namun dari segi pengurusan administrasi UI yang cukup birokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Pada Awalnya&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kisah awal kami mengajar MPK Seni cukup panjang, dan dimulai ketika saya selesai diwisuda tahun lalu. Setelah selesai wisuda, saya beserta Wati dipanggil oleh Bapak AG. Sudibyo (salah satu pejabat rektorat dan konduktor musik saat wisuda) untuk menghadap. Ternyata beliau menyampaikan kabar bahwa Rektor UI sedang menyiapkan &lt;em&gt;UI Arts Center&lt;/em&gt; (rencananya rampung 2012) yang diharapkan dapat memayungi kegiatan-kegiatan berkesenian yang ada di lingkungan UI, termasuk sedang membuat proposal untuk mendirikan fakultas seni. Salah satu bibit yang sedang dibenih (semacam proyek percobaan) untuk menuju ke fakultas seni tersebut adalah mata kuliah MPK Seni yang memayungi berbagai macam kuliah seni, seperti membatik, seni lukis, pewayangan, dll. Saat itu Pak Dibyo menawarkan saya dan Wati untuk menjadi salah satu tim dosen mata kuliah baru yang akan berada di bawah naungan MPK Seni, “&lt;em&gt;Pokoknya seni musik yang berlatar belakang sejarah musik Barat. Nama mata kuliahnya terserah kamu, kurikulumnya juga kamu atur saja,&lt;/em&gt;” kata Pak Dibyo.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Alasan Pak Dibyo memilih saya dilatarbelakangi oleh kegiatan bermusik saya (dalam bidang keilmuan) yang cukup aktif selama menjadi mahasiswa, sementara Wati memang penyanyi seriosa andalan UI jika sedang ada acara-acara kenegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemudian saya teringat Mira Wardhani, teman baik saya yang juga seorang ahli musik dan kebetulan memegang kelas di Pascasarjana Komunikasi UI. Setelah Pak Dibyo setuju akan keterlibatan Mbak Mira di kuliah baru tersebut, kami segera membuat kurikulum yang berbasiskan pada konsep kuliah Apresiasi Musik, dimana tujuannya adalah agar mahasiswa saat mendengarkan musik (musik apapun, bisa musik klasik, pop, rock, blues, dll) tidak menelannya bulat-bulat, tapi juga tahu latar belakang perkembangan, proses, dan hal-hal yang berkaitan dengan musik itu sendiri. Pada akhirnya diharapkan bahwa musik sebagai produk budaya dapat membuka wawasan mahasiswa terhadap keragaman kultur yang ada di dunia, dan bagaimana antar kultur tersebut sifatnya cair dan saling mempengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“&lt;em&gt;Orang yang bilang bahwa musik A hanya miliknya kaum anu, musik B miliknya orang anu; adalah orang-orang egois! Seni itu sifatnya cair dan fleksibel. Tidak ada pemisahan antara dunia Timur dan Barat, semuanya saling sintesis menghasilkan sesuatu yang baru. Kontribusi dunia Timur terhadap peradaban Barat sangat signifikan, misalnya cendekiawan Al-Farabi di zaman pertengahan turut memberikan fondasi bagi pengembangan sistem solmisasi tangganada musik Barat. Atau alat musik dawai Middle-East zaman Byzantium, menjadi nenek moyang biola. Belum lagi dalam arsitektur, sangat besar pengaruh arsitektur dunia Timur ketika zaman Gothic berlangsung&lt;/em&gt;.” demikian penjelasan Mbak Mira saat kami merancang kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah Pak Dibyo mengecek kurikulum yang kami buat, beliau menambahkan bahwa dalam kuliah tersebut harus diusahakan mengandung muatan praktis, yang berarti bahwa mahasiswa dapat turut serta mempersembahkan musik, apapun bentuknya. Beliau juga menyarankan nama mata kuliahnya dinamakan “Musik dan Vokal” agar beliau bisa turut mengajar vokal, beserta dengan soprano Wati. Pada awalnya saya (atas diskusi dengan Ibu Linda Primana, pianis dan pengajar psikologi UI) mengajukan nama kuliah “Apresiasi Musik”, namun karena harus bermuatan unsur praktis tersebut, maka nama “Musik dan Vokal” yang dipilih. Apalah artinya sebuah nama, meskipun pada kenyataannya salah satu mata kuliah MPK Seni ada yang bernama “Apresiasi Film”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemudian mengenai pelaksanaan kuliah, ternyata MPK Seni berada di bawah naungan Departemen Ilmu Filsafat (Fakultas Ilmu Budaya) UI, dan diasuh oleh Prof. Irmayanti Meliono Budianto, sebagai koordinator. Kuliahnya sendiri dilakukan di Gedung IX FIB UI yang nyaman dan dikelilingi oleh pepohonan rindang sejuk. Kuliah pertama sedikit bombastis, karena Jakarta-Depok sedang “dikunjungi” gempa bumi sehingga kelas terpaksa dilakukan di beranda gedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Materi Perkuliahan&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Titik berat perkuliahan adalah konsentrasi studi pada perkembangan musik melalui kacamata sejarah musik Barat, yaitu sejak zaman Medieval, Renaissance, Barok, Klasik, Romantik, dan Modern. Sebagaimana musik merupakan produk kebudayaan, tentunya saling mempengaruhi dengan produk kebudayaan lain seperti arsitektur, seni lukis, fashion, hingga kondisi sosial-budaya masyarakat. Yang menarik adalah respon mahasiswa ketika mereka melihat tampilan gambar-gambar menarik dan contoh-contoh video musik yang disampaikan via media infocus. Misalnya, ketika membahas zaman Barok, saya menampilkan berbagai contoh arsitektur Barok yang agung dan penuh ornamen, begitu pula dengan contoh-contoh lukisannya, hingga pada pemutaran beberapa video pertunjukan musik Barok, seperti concerto Vivaldi atau opera Handel. Semuanya terpukau dan berdecak kagum melihat visualisasi tersebut, seakan-akan mereka belum pernah melihat gambar-gambar seperti itu. Dan memang benar, ketika saya tanyakan apakah mereka sebelumnya pernah melihat gambar-gambar istana zaman Barok, mereka jawab: Belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, mendengar jawaban mereka hati ini rasanya menjadi miris. Saya sendiri sengaja menampilkan banyak visualisasi agar mahasiswa dapat berpikir secara holistik mengenai zaman yang sedang dibahas - supaya ada gambarannya, sehingga mereka dapat memahami secara kontekstual. Seperti misalnya gambar-gambar istana zaman Barok adalah materi yang sangat mudah diperoleh di internet, begitupun dengan video pertunjukan musik klasik, tersebar jutaan &lt;em&gt;channel&lt;/em&gt; di Youtube. Saya sendiri kurang begitu tahu, mengapa dari 90 mahasiswa yang saya pegang, hanya satu-dua orang yang pernah melihat. Asumsi saya: (1) Mereka malas melihat hal-hal seperti itu, jadi entah situs apa yang dibuka ketika mereka &lt;em&gt;browsing&lt;/em&gt; di internet, (2) Mereka sebenarnya tertarik tetapi kekurangan informasi dan wawasan, sehingga tidak tahu situs apa yang harus dibuka atau tidak tahu ingin mendengarkan musik apa, atau (3) Bagaimana dengan pengajaran sejarah di SMA? Apakah hanya membaca teks belaka, tanpa ada visualisasi? Yang jelas, ketika ditampilkan visualisasi gambar-gambar, mereka sangat tertarik. Semua mendengarkan kuliah yang diberikan dengan konsentrasi penuh dan tidak ada satu pun yang mengobrol. Apalagi ketika diputar video-video musik klasik, ternyata semua mata terpaku dan tidak jarang ada yang memuji. Terkadang diselingi tawa, biasanya ketika melihat penyanyi-penyanyi opera beraksi. Tidak apa, itu wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Yang tidak wajar adalah ketika mereka memahami budaya Barat hanya sebatas melalui simbol-simbol kekiniannya saja (misalnya MTV) dan bentuk-bentuk &lt;em&gt;simulacra&lt;/em&gt; (misalnya &lt;em&gt;reality show&lt;/em&gt;) yang langsung mereka telan bulat-bulat tanpa menyadari bahwa mereka sedang menjadi korban dari proses pencitraan tersebut. Mereka harus tahu semua akar dari proses kebudayaan dan bagaimana kebudayaan itu bersintesis sehingga dapat melihatnya secara kritis dan bijaksana. Seperti ketika saya menjelaskan perbedaan antara musik seni (&lt;em&gt;art music&lt;/em&gt;) yang oleh orang awam biasa disebut dengan istilah “Musik Klasik” (padahal secara historis, “Klasik” adalah nama suatu zaman di antara Barok dan Romantik) dengan “musik industri”, sangat sulit sekali untuk diserap oleh logika mereka, karena nampaknya mereka tidak dibekali dengan pemikiran tersebut semasa SMA dulu. Mereka cenderung memahami sejarah dalam logika pemikiran kekinian, bukan secara kontekstual ketika peristiwa sejarah tersebut terjadi. Apakah semasa SMA dulu pelajaran sejarah hanya dipahami sebagai pelajaran “menghafal”?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya kaget ketika ada beberapa mahasiswa yang mengeluh ketika tahu bahwa mereka sedang mempelajari sejarah musik dan berpikiran bahwa isi kuliahnya hanya menghafal tahun-tahun kelahiran komposer, tahun-tahun terjadinya peristiwa, dan siapa saja tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422438712940029234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S0BfR7Ud5TI/AAAAAAAAARU/TE4t1Ud8GT0/s320/DSC01170.JPG" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Suasana perkuliahan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kemudian secara praktik, jatah mengajar Wati dan Pak Dibyo adalah setelah UTS, dimana mereka memberikan pengenalan teknik dasar bernyanyi pada mahasiswa. Sudah pasti mahasiswa tidak bisa mempraktikkan teknik menyanyi tersebut sesuai dengan yang diajarkan (hanya tiga kali pertemuan, &lt;em&gt;what can you expect&lt;/em&gt;?) tetapi paling tidak, mereka tahu bahwa sebelum menyanyi hal yang dilakukan adalah &lt;em&gt;vocalizing&lt;/em&gt; dan bagaimana mengambil nada agar intervalnya tepat. Selain itu, menyanyi merupakan modal dasar apabila ada mahasiswa yang sama sekali tidak bisa memainkan alat musik. Meskipun demikian, ternyata banyak sekali mahasiswa yang memiliki musikalitas dan bakat terpendam, dan itu terlihat ketika UAS yang berupa pertunjukan musik. Tidak jarang diantara mereka yang dapat memainkan alat musik dan memiliki kualitas vokal yang baik. Varian lagunya pun beragam, dari musik seni (musik klasik), pop, jazz, hingga rock. Tidak apa-apa, apapun lagu yang mereka pilih untuk ditampilkan, paling tidak mereka mengerti kajiannya secara ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422438718351175122" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S0BfSPelbdI/AAAAAAAAARc/DfYUM3PkQZo/s320/DSC01171.JPG" border="0" /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Saya dan Wati melakukan penilaian akhir untuk UAS&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menulis tulisan ini, keesokan hari saya harus mempublikasikan nilai akhir mahasiswa di Sistem Akademik Online. Saya hanya berdoa, semoga apa yang telah kami lakukan sudah benar adanya. Pengalaman pertama saya sebagai dosen sungguh menyenangkan (saya kurang tahu bagaimana kesan Mbak Mira dan Wati, tapi semestinya mereka senang juga) dan terima kasih atas kerjasama yang solid dari kelas MPK Seni Musik! Juga terima kasih banyak kepada Pak Dibyo atas kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan, juga kepada Prof. Irma yang selalu mendukung dan mengayomi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422438723315450066" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S0BfSh-KQNI/AAAAAAAAARk/rg8iHDVTQKs/s320/DSC01174.JPG" border="0" /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Kelas Musik 02 bersama Mira Wardhani, saya, dan Wati&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-2214200712225542103?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/2214200712225542103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=2214200712225542103' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2214200712225542103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2214200712225542103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2010/01/semester-pertama-mengajar-di-ui.html' title='Semester Pertama Mengajar di UI'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/S0BfR7Ud5TI/AAAAAAAAARU/TE4t1Ud8GT0/s72-c/DSC01170.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-723293025403370546</id><published>2009-12-10T11:06:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T11:51:50.402-08:00</updated><title type='text'>Malam opera ala Istituto Italiano di Culturale</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:Verdana, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" line-height: 19px;font-size:13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:Verdana, sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;Kamis, 10 Desember 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" line-height: 19px;font-size:13px;"&gt;&lt;span style="line-height:115%; font-family:&amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Calibri;mso-fareast-theme-font: minor-latin;mso-bidi-Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SAfont-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;Istituto Italiano di Cultura mengadakan konser bertajuk "Italian Night Opera", yang menampilkan pianis &lt;b&gt;Gaia Palesati&lt;/b&gt; dan soprano berkebangsaan Jepang, &lt;b&gt;Chinatsu Hirayama&lt;/b&gt;. Konser tersebut merupakan penutup dari serangkaian workshop mengenai opera Italia yang dimotori oleh Gaia. Dalam workshop yang berlangsung selama satu bulan itu, kami belajar banyak mengenai opera-opera karya Puccini (opera Verdi tidak dibahas karena waktunya sangat sempit, berhubung Gaia akan kembali ke Italia pada bulan Desember ini). Tidak hanya menonton cuplikan-cuplikan adegan yang penting via DVD, tapi Gaia memberikan pengetahuan lebih luas mengenai perbandingan antara satu penyanyi dan penyanyi lain dalam membawakan aria yang sama, atau membahas satu aria dari segi artistik penampilan ala Italia (misalnya dalam penempatan aksen yang tepat atau bagaimana membentuk kalimat nyanyian agar sesuai dengan idiom Italia).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" line-height: 14px;font-size:13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;Sebagai gambaran, pertemuan terakhir sebelum konser ini, membahas aria &lt;i&gt;Un bel dì vedremo&lt;/i&gt; (Pada suatu hari yang indah kami bertemu) dari opera Madama Butterfly. Kisah tragis mengenai nasib geisha Jepang yang dinikahi oleh seorang bajingan Amerika bernama Letnan Pinkerton, membawa suasana haru biru. Aria tersebut diputar selama empat kali dengan empat soprano yang berbeda, yaitu Renée Fleming, Mirella Freni, Renata Tebaldi, dan Maria Callas. Gaia sendiri berpendapat bahwa interpretasi Maria Callas merupakan ekspresi paling jujur dari hati seorang manusia. Nampaknya, kisah tragis Madama Butterfly memiliki persamaan dengan Callas yang akhirnya ditinggalkan oleh Onassis demi menikahi janda mendiang Presiden Kennedy. Memang sempat ada perdebatan dari beberapa peserta, mengapa sepertinya versi Renata Tebaldi lebih enak didengar. Gaia sendiri berpendapat bahwa secara keseluruhan Renata Tebaldi memang bagus, tanpa cela, namun ada sesuatu dalam diri Callas (ia menyebutnya dengan istilah &lt;i&gt;&lt;b&gt;l’anima&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; – jiwa) yang membuat karakter Butterfly menjadi suatu kesatuan artistik yang tidak bisa diganggu-gugat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;Teringat akan Madama Butterfly, maka (kebetulan) malam penutup workshop opera tersebut diisi oleh soprano Chinatsu Hirayama, yang akrab disapa China. Sebenarnya menarik sekali: seorang Jepang, bernama China, berbicara dalam bahasa Italia (ia selalu bicara dalam bahasa Italia, walaupun bisa juga bahasa Inggris), menyanyi lagu-lagu opera Italia, dan tinggal di Jakarta. Wow!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;Maka keduanya tampil dengan sangat memukau mengenakan gaun warna merah menyala. Gaia yang memiliki kecantikan klasik Eropa, tipikal pembawaan bangsawan (kata teman saya) dan China yang juga tidak kalah cantik, dengan tata krama ningrat ala Jepang. Keduanya berkolaborasi membawakan cuplikan melodi-melodi indah dari sejumlah opera terkenal, dimulai dengan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Lascia ch’io pianga&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (dari opera “Rinaldo” karya Handel) serta karya Mozart seperti &lt;i&gt;&lt;b&gt;Voi che sapete&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (dari “Le Nozze di Figaro”) dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Vedrai carino&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (dari “Don Giovanni”), para penonton sudah dibuat takjub dengan suara soprano China yang meskipun berwarna liris terang, namun memiliki volume yang besar, berisi, serta register bawah yang cukup gelap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;Setelah membawakan aria-aria favorit karya Puccini seperti &lt;i&gt;&lt;b&gt;O mio babbino caro&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (dari “Gianni Schicchi”), &lt;i&gt;&lt;b&gt;Quando m’en vo&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (dari “La Boheme”), dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Un bel dì&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (dari “Madama Butterfly”), suasana semakin memanas ketika China mempertunjukkan kebolehannya menyanyikan aria &lt;i&gt;coloratura&lt;/i&gt; dari opera-opera karya Verdi, yaitu &lt;i&gt;&lt;b&gt;Caro nome&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (dari “Rigoletto”) dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Ah, fors’é lui... Sempre liberà&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (dari “La Traviata”). Dua aria terakhir merupakan salah satu &lt;i&gt;repertoire&lt;/i&gt; tersulit dalam dunia opera, dimana penyanyi harus bisa menyanyikan ornamen-ornamen, &lt;i&gt;running scales&lt;/i&gt;, dan pewarnaan nada dalam kecepatan dan kecermatan yang luar biasa pada nada-nada register tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;Gaia sendiri mempertunjukkan kebolehannya bermain piano dalam dua kali kesempatan, yaitu &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sonata L.428&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; karya Domenico Scarlatti yang dimainkannya dengan efisiensi dan pewarnaan gaya Barok, serta &lt;i&gt;&lt;b&gt;Valse Poetico&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; karya Enrique Granados. Saya baru pertama kali mendengar &lt;i&gt;Valse Poetico&lt;/i&gt; tersebut dan tersihir oleh keindahan melodi-melodinya yang melankolis. Langsung terbersit dalam benak akan nasib Granados yang malang, dimana ia meninggal akibat kapal yang dinaikinya tenggelam karena di-bom oleh kapal selam Jerman selama masa perang Dunia I, tahun 1916. Gaia sendiri membawakan &lt;i&gt;Valse Poetico&lt;/i&gt; itu dengan temperamen Italia yang berapi-api dan penuh &lt;i&gt;passion&lt;/i&gt;, tapi liris dan &lt;i&gt;cantando&lt;/i&gt; di bagian-bagian terindahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SyFIAIhMgLI/AAAAAAAAARI/ap7LmVDFgT8/s320/DSC01168.JPG" style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413687394199961778" /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; "&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Bersama Gaia Palesati dan Chinatsu Hirayama &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#006600;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;Saya sendiri diminta tolong untuk menjadi &lt;i&gt;page-turner&lt;/i&gt; bagi Gaia. Hal esensial yang menjadi pembelajaran adalah: Penting sekali untuk mengetahui musik yang akan Anda balikkan halamannya, paling tidak lihatlah dulu partiturnya!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;Kisahnya: Ketika konser akan dimulai, tiba-tiba seorang teman memanggil-manggil saya. Dia bilang bahwa saya dipanggil Gaia ke &lt;i&gt;backstage&lt;/i&gt;. Rupanya ia minta tolong saya untuk menjadi pembalik halamannya, dan berhubung itu tinggal 5 menit sebelum tampil, saya segera ambil kursi untuk duduk di sebelah piano. Masuklah Gaia dan China ke panggung; konser pun dimulai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 14px; "&gt;Ketika tiba saat Gaia memainkan &lt;i&gt;Valse Poetico&lt;/i&gt;, saya bingung setengah mati. Rupanya karya tersebut terdiri atas beberapa bagian; ada yang diulang, ada yang tidak. Gaia sendiri hanya memainkan nomor 1, 2, 4, 6, dan final. No. 1 memang saya balikkan halamannya, tetapi menjelang No. 2 dan seterusnya, saya ragu-ragu apakah Gaia ingin dibalikkan juga atau tidak, berhubung per bagian hanya terdiri atas tepat satu halaman. Biasanya, para pianis akan membalik sendiri halamannya. Meskipun demikian, saya tetap gugup karena siapa tahu Gaia ingin agar saya membalikkan halamannya. Jika iya, tentu konsentrasinya akan terganggu seandainya saya tidak membalik, atau bisa juga malah jadi terganggu apabila saya membaliknya. Akhirnya saya memutuskan untuk diam (tentu sambil &lt;i&gt;deg-deg-an&lt;/i&gt;). Pada akhirnya ia membalik sendiri dan untunglah semua berjalan lancar. Saya benar-benar tegang saat itu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 14px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;Terima kasih atas malam operatik yang begitu indah dan berkesan. Saya berharap akan ada workshop opera part 2, mungkin bisa membahas tentang opera-opera karya Verdi, Bellini, atau Donizetti. Saya yakin akan banyak yang tertarik karena menurut penuturan teman saya, dari sekian banyak workshop (teater, film, musik, literatur) yang ditawarkan oleh Istituto, yang paling banyak peminatnya adalah workshop opera ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span style="line-height:150%;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:10.0pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Siete bravissimi! A voi tutti saluti!&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:Georgia, serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: normal;"&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: 150%"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" line-height: 18px; font-family:'Times New Roman', serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-723293025403370546?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/723293025403370546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=723293025403370546' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/723293025403370546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/723293025403370546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2009/12/kamis-10-desember-2009-istituto.html' title='Malam opera ala Istituto Italiano di Culturale'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SyFIAIhMgLI/AAAAAAAAARI/ap7LmVDFgT8/s72-c/DSC01168.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-3309777898512346576</id><published>2009-11-10T07:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T08:37:32.168-08:00</updated><title type='text'>Indonesia Membaca Rendra</title><content type='html'>Pada tanggal 29 Oktober yang lalu di Gedung Kesenian Jakarta, saya mendapat kesempatan untuk mempergelar-perdanakan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Choral Fantasy – Belavita&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; bersama soprano &lt;strong&gt;Aning Katamsi&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Paduan Suara Paragita UI&lt;/strong&gt;. Karya yang merupakan pembuka dari Malam Aksi Seni dan Renungan Kebudayaan &lt;strong&gt;“Indonesia Membaca Rendra”&lt;/strong&gt; tersebut merupakan karya kolaboratif antara musisi Jockie Suryoprayogo dan Ananda Sukarlan. Belavita sendiri merupakan sebuah lagu dari album Kantata Revolvere yang dimotori oleh grup Kantata Takwa, dimana beberapa tahun silam Aning Katamsi pernah membawakannya bersama dengan seniman Sawung Jabo. Kini karya tersebut dimodifikasi: Jockie Suryoprayogo yang malam itu berperan sebagai penata musik meminta komponis &lt;strong&gt;Ananda Sukarlan&lt;/strong&gt; untuk menginterpretasikan ulang dalam bentuk komposisi yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvmOgn9yLuI/AAAAAAAAAQ4/kVZa1GTxc7w/s1600-h/DSC01111.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402505919142702818" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvmOgn9yLuI/AAAAAAAAAQ4/kVZa1GTxc7w/s320/DSC01111.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvmOgBvjPTI/AAAAAAAAAQw/K6sy57eyzRU/s1600-h/DSC01117.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402505908882455858" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvmOgBvjPTI/AAAAAAAAAQw/K6sy57eyzRU/s320/DSC01117.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Suasana panggung ketika gladiresik&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lahirlah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Choral Fantasy – Belavita&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, dimana lirik lagunya merupakan ciptaan &lt;strong&gt;Rendra&lt;/strong&gt;, ide musik dari &lt;strong&gt;Jockie Suryoprayogo&lt;/strong&gt;, sementara aransemen yang baru diciptakan oleh &lt;strong&gt;Ananda Sukarlan&lt;/strong&gt;. Dimulai dengan bagian &lt;em&gt;choral acapella&lt;/em&gt; yang berdasarkan pada motif ritme Symphony no. 5 Beethoven. Simfoni “Nasib” demikian orang biasa menyebut mahakarya tersebut, karena motif ritme pembukanya mirip dengan ketukan pintu yang misterius, seperti Malaikat Maut yang siap datang untuk mencabut nyawa pemilik rumah.&lt;br /&gt;Lantas bagian &lt;em&gt;acapella&lt;/em&gt; tersebut dilanjutkan dengan dua halaman &lt;em&gt;bridge&lt;/em&gt;, dimana saya memainkan introduksi piano pada tema “Oh, bencana dari kekuasaan insan,” (dinyanyikan oleh Aning Katamsi) sebelum beralih pada Belavita yang menyuarakan kemenangan dan perdamaian universal, dengan seruan “Salam ya salam, Haleluya, dan Shanti Om Shanti”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mufakat Budaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;em&gt;preambule&lt;/em&gt; buku program, pada dasarnya ide dari pementasan malam itu memang dikemas sebagai pertunjukan yang berlangsung dalam irama tertata dan tempo yang terjaga, tanpa ada jeda atau &lt;em&gt;pause&lt;/em&gt; agar bisa secara utuh menciptakan aura personal dan atmosfir pertunjukan yang mewakili kehadiran Rendra di dalamnya. Untuk itu diperlukan pencapaian artistik dan totalitas para pendukung pergelaran, termasuk para artis terkemuka yang tampil, sutradara, penata musik, penata panggung, penata cahaya, penata suara, penata busana, dan bahkan penataan produksi yang profesional.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Acara yang diadakan atas kerjasama dengan TV One tersebut merupakan bentuk apresiasi dan dedikasi untuk mengenang seluruh pencapaian hidup “Si Burung Merak” &lt;span style="color:#006600;"&gt;Rendra&lt;/span&gt;. Isinya sarat akan nuansa berkesenian, mulai dari gerak tari, musikalisasi puisi, dan lakon teater yang diasuh oleh berbagai kalangan, mulai dari politisi, ilmuwan, entertainer, dan pejabat. Sebutlah &lt;span style="color:#006600;"&gt;Sys Ns.&lt;/span&gt; sebagai sutradara yang memotori setiap detail di atas panggung, atau &lt;span style="color:#006600;"&gt;Samuel Watimena&lt;/span&gt; sebagai juru kunci yang bertanggung jawab atas kostum para penampil malam itu. Juga ada seniman &lt;span style="color:#006600;"&gt;Radhar Panca Dahana&lt;/span&gt; sebagai produser eksekutif dan &lt;span style="color:#006600;"&gt;Jockie Suryoprayogo&lt;/span&gt; yang berkuasa penuh terhadap penataan musik selama pergelaran berlangsung.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengenang Perjuangan Rendra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Impresi Tiga Sudut Pandang&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, ditampilkan monolog singkat berupa kesaksian dan kenangan akan tiga orang yang memiliki hubungan sangat khusus dengan Rendra. Ada &lt;span style="color:#006600;"&gt;Adi Kurdi&lt;/span&gt; yang memberikan kesaksian sebagai murid ideologis, seniman, sekaligus adik bagi Rendra. Lantas hadir &lt;span style="color:#006600;"&gt;Clara Sinta&lt;/span&gt; sebagai anak biologis yang di hari-hari terakhir almarhum sangat dekat dan selalu berada di samping beliau, dan &lt;span style="color:#006600;"&gt;Laksamana (Purn) Sudomo&lt;/span&gt; yang merupakan rekan sekaligus rival politik Rendra, yang semasa berkuasa kerap berselisih dengan Si Burung Merak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan rasa cinta dan romantisme Rendra yang khas tertuang dalam sajak indah berjudul &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sajak Surat Cinta&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Disajikan secara kolaboratif oleh &lt;span style="color:#006600;"&gt;Marcella Zalianty&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:#006600;"&gt;Poppy Dharsono&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:#006600;"&gt;Sys Ns.&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color:#006600;"&gt;Edo Kondologit&lt;/span&gt; yang ikut menembangkan penggalan cinta itu dengan pesonanya. Kisah cinta Rendra dan Sri Sunarti memang unik, antara lain komponis Mochtar Embut pernah juga jatuh cinta pada Dik Narti, namun karena sungkan untuk mengungkapkan akhirnya perasaan rindu yang mendalam tersebut tertuang dalam sebuah lagu seriosa berjudul &lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2008/05/romantisme-ibu-roem.html"&gt;Setitik Embun&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dari pihak musisi, Rendra banyak menginspirasi rekan-rekannya dalam berkarya. Demikian pula untuk &lt;span style="color:#006600;"&gt;Jockie Suryoprayogo&lt;/span&gt; yang terinspirasi membuat aransemen lagu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Rajawali &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;berdasarkan sajak Rendra, pada malam yang sama saat Sang Pujangga wafat. Lagu yang melibatkan seniman &lt;span style="color:#006600;"&gt;Sawung Jabo&lt;/span&gt; dan &lt;em&gt;rocker&lt;/em&gt; &lt;span style="color:#006600;"&gt;Doddy Katamsi&lt;/span&gt; (kakak kandung Aning Katamsi) ini penuh dengan gejolak energi dan spontanitas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvmOfmoxz8I/AAAAAAAAAQo/2lD9-RIfxfY/s1600-h/DSC01132.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402505901606293442" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvmOfmoxz8I/AAAAAAAAAQo/2lD9-RIfxfY/s320/DSC01132.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Backstage&lt;em&gt; bersama kakak-adik: Doddy dan Aning Katamsi&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemudian adalah penggalan karya monumental &lt;em&gt;&lt;strong&gt;BipBop&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;&lt;strong&gt;drama MINIKATA&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang sempat melambungkan &lt;span style="color:#000000;"&gt;Bengkel Teater&lt;/span&gt; Rendra sebagai kelompok teater &lt;em&gt;avant-garde&lt;/em&gt; di negeri ini, dilakonkan kembali oleh anggota &lt;span style="color:#006600;"&gt;Bengkel Teater&lt;/span&gt;, sebelum berlanjut pada &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sajak Anugerah Gusti Allah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Disajikan secara kreatif oleh &lt;em&gt;rapper&lt;/em&gt; &lt;span style="color:#006600;"&gt;Iwa K.&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color:#006600;"&gt;Denada&lt;/span&gt;, sajak religius ini nampak begitu apik dipadu-padankan dengan akting &lt;span style="color:#006600;"&gt;Ray Sahetapy&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sajak Sebatang Lisong&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang dibacakan Rendra di ITB, 17 Agustus 1977, diaransemen ulang dan dipersembahkan dalam sebuah kolaborasi ekspresif dengan balutan gerak dramatik, disampaikan dengan teramat lugas, tegas, dan bernas oleh &lt;span style="color:#006600;"&gt;Sys Ns&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:#006600;"&gt;Tamara Bleszynski&lt;/span&gt;, &lt;span style="color:#006600;"&gt;Wulan Guritno&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="color:#006600;"&gt;Ray Sahetapy&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya: Pemikiran, proses kreatif, sikap kesenimanan, serta perjuangan seorang Rendra sungguh perlu mendapat penghormatan setinggi-tingginya. &lt;span style="color:#006600;"&gt;Radhar Panca Dahana&lt;/span&gt; kemudian menyampaikan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Renungan Kebudayaan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; untuk memberi aksentuasi tema acara “Indonesia Membaca Rendra ini” sebelum akhirnya ditutup oleh lagu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kesaksian&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang merupakan salah satu sajak terbaik Rendra yang digubah menjadi sebuah lagu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemarin dan esok&lt;br /&gt;adalah hari ini&lt;br /&gt;bencana dan keberuntungan&lt;br /&gt;sama saja&lt;br /&gt;langit di luar langit di badan&lt;br /&gt;bersatu dalam jiwa”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;Dikutip dengan penyesuaian dari buku program “Indonesia Membaca Rendra”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-3309777898512346576?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/3309777898512346576/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=3309777898512346576' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3309777898512346576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/3309777898512346576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2009/11/indonesia-membaca-rendra.html' title='Indonesia Membaca Rendra'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvmOgn9yLuI/AAAAAAAAAQ4/kVZa1GTxc7w/s72-c/DSC01111.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-2503898358230072764</id><published>2009-11-09T09:44:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T07:48:03.734-08:00</updated><title type='text'>Oase Spiritual Musik Jayasuprana</title><content type='html'>Di tengah &lt;em&gt;goro-goro&lt;/em&gt; yang sedang melanda bangsa ini, rupanya Semar datang mengejawantah dalam wujud &lt;strong&gt;Jayasuprana&lt;/strong&gt; yang mengajak kita semua berkontemplasi dalam sebuah pergelaran ultra-sublim pada tanggal 24 Oktober yang lalu di Gedung Kesenian Jakarta. Pergelaran tersebut melibatkan empat pianis kawakan Indonesia dan para penari handal yang berkolaborasi dalam suatu kesatuan yang solid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibuka dengan permainan maestra pianis &lt;strong&gt;Iravati Sudiarso&lt;/strong&gt;, suasana introspeksi &lt;em&gt;Sangkan&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Paraning Dumadi&lt;/em&gt; langsung hadir dalam bentuk &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Uri-uri&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang meditatif. Bau dupa semerbak memenuhi auditorium GKJ, rupanya tata laku meditasi diwakilkan oleh dua &lt;em&gt;gesture&lt;/em&gt; manusia yang sedang beribadah dalam bentuk siluet. Yang satu adalah penari &lt;strong&gt;Soepri Soehodo&lt;/strong&gt; memeragakan gerakan sholat, sementara di sisi yang berlainan adalah &lt;strong&gt;Aylawati Sarwono&lt;/strong&gt; memeragakan gerakan adorasi pada &lt;em&gt;Tian&lt;/em&gt;, tiga kali menghormat dengan tiga batang dupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Uri-uri&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang hanya ditulis dalam satu &lt;em&gt;single movement&lt;/em&gt; tanpa iringan tangan kiri, merupakan &lt;em&gt;mocopat&lt;/em&gt;. Berisi petuah &lt;em&gt;suluk&lt;/em&gt;, yaitu bagaimana seorang pribadi dapat mengenal Tuhan dalam &lt;em&gt;Rasa&lt;/em&gt;. Pencarian esensi &lt;em&gt;Kehidupan&lt;/em&gt; yang merupakan proses sampai akhir hayat dapat dituturkan melalui jemari Iravati Sudiarso, kendati hanya berupa alunan monofoni seperti &lt;em&gt;nembang&lt;/em&gt;, namun sarat akan makna secara spiritual dan magis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pasangannya, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Uro-uro&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; merupakan &lt;em&gt;nembang&lt;/em&gt; Jawa dengan titinada pentatonis juga, namun sifatnya ekstrovert. Disini penari &lt;strong&gt;Maria Darmaningsih&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Nungki Kusumastuti&lt;/strong&gt; bisa membawakan lakon tari yang sangat harmonis, mulai dari suasana awal yang liris, kemudian berkembang menuju virtuositas ala gamelan Bali yang diterjemahkan dengan sangat &lt;em&gt;powerful &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;evocative &lt;/em&gt;oleh jemari sang maestra pianis Indonesia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhb9WFMRGI/AAAAAAAAAPA/6UGpTvUMrQo/s1600-h/DSC01092.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402168862488413282" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhb9WFMRGI/AAAAAAAAAPA/6UGpTvUMrQo/s320/DSC01092.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemudian adalah duet maut antara dua maestro, yaitu &lt;strong&gt;Iravati Sudiarso&lt;/strong&gt; dan begawan tari Indonesia: &lt;strong&gt;Sardono W. Kusumo&lt;/strong&gt;. Dalam &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Interludium&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang mengalir mulus tanpa cela, Sardono mengejawantahkan kegetiran terselubung yang pasti ada dalam setiap hati umat manusia. Dengan pakaian serba putih, Sardono seperti menyimbolkan kemanusiaan yang kini sedang diterpa oleh &lt;em&gt;goro-goro&lt;/em&gt;, dimana hal tersebut diciptakan oleh nafsu dan angkara murka manusia itu sendiri (direpresentasikan dengan &lt;em&gt;spotlight&lt;/em&gt; berwarna merah tua, perlambang Batara Kala). Suasana gelisah terlihat dari gerak tari Sardono yang &lt;em&gt;restless&lt;/em&gt;, penuh ambiguitas antara senang dan sedih, hingga pada akhirnya manusia hanya bisa pasrah menerima takdir Yang Kuasa. Tanpa ragu Sardono menyelesaikan tariannya sambil duduk bersebelahan dengan sang pianis yang terus berkonsentrasi pada musik, hingga denting not terakhir.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402168871931639730" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhb95Qod7I/AAAAAAAAAPI/RZ3Dc2EOGYE/s320/DSC01094.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402168874122223090" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhb-Ba6HfI/AAAAAAAAAPQ/LNbcropr1Hg/s320/DSC01097.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402168884736446930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhb-o9iUdI/AAAAAAAAAPY/7oP-xwuD5pQ/s320/DSC01098.JPG" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kemudian adalah &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Fantasi Arum Dalu&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, masih diterjemahkan oleh &lt;strong&gt;Iravati Sudiarso&lt;/strong&gt;. Jayasuprana sendiri mengungkapkan, bahwa karya ini disusun dalam titinada pentatonik 13467 musik Sunda yang menurutnya mirip sekali dengan pentatonik musik rakyat Jepang. Setelah berargumentasi, rupanya Jayasuprana menemukan bahwa 13467 merupakan pasangan minor dari titinada 13457. Sebagai lagu terakhir penampilan Iravati Sudiarso pada sesi pertama, lagu ini disambangi oleh penampilan tari &lt;strong&gt;Elly D. Lutan&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pesona Sang Ibu kini dilanjutkan oleh putrinda, &lt;strong&gt;Aisha Sudiarso&lt;/strong&gt;. Dengan gerak yang efektif dan langsung tepat pada sasaran, mengalirlah &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sonata Sekar Setaman&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; dalam suasana &lt;em&gt;kasurupan&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;trance&lt;/em&gt;). &lt;em&gt;Clarity&lt;/em&gt; dan kejernihan setiap nada terukur prima, tidak ada satu not pun yang bersuara tanpa makna. Suasana liris terasa pada &lt;em&gt;movement&lt;/em&gt; kedua yang mengadopsi idiom musik Sunda, sementara pada bagian ketiga yang memiliki aroma tembang "&lt;em&gt;Gundul-gundul pacul&lt;/em&gt;" menyatu harmonis dengan iringan tangan kiri dalam gerak ostinato kromatik, memberikan aroma segar dan &lt;em&gt;fresh&lt;/em&gt; persis seperti bunga-bunga yang bermekaran di Taman Sari.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sonata Sekar Setaman&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; diejawantahkan dalam tarian ala Punakawan: Gareng, Petruk, Bagong oleh &lt;strong&gt;Eko Supriyanto&lt;/strong&gt; (koreografer yang pernah menari bersama Madonna), &lt;strong&gt;Havid Ponk Zakaria&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;Luluk Ari Prasetyo&lt;/strong&gt;. Punakawan yang merupakan representasi dari rakyat jelata, memang benar-benar menari hanya menggunakan cawat saja. Seperti halnya Punakawan yang setia melayani menjadi &lt;em&gt;abdi dalem&lt;/em&gt;: bukannya tidak memiliki kesaktian, melainkan terwujud pada formasi tari mencengangkan yang membuat penonton berdecak kagum.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402184431745632290" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvhqHmFYCCI/AAAAAAAAAQg/eBDN348OadM/s320/DSC01099.JPG" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402176237965460962" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhiqp38xeI/AAAAAAAAAPo/R_DfBG32C6g/s320/DSC01102.JPG" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mengalir lagi &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Variasi Gethuk&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; berdasarkan sebuah lagu gubahan musisi campursari, &lt;strong&gt;Manthous&lt;/strong&gt;. Kali ini &lt;strong&gt;Aisha Sudiarso&lt;/strong&gt; berduet bersama pemain perkusi &lt;strong&gt;Junaedi Musliman&lt;/strong&gt; yang memainkan kendang bongo dengan sangat asyik. Inilah dangdut, musik produk asli Indonesia yang merupakan gabungan dari berbagai unsur musik yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Dimulai dengan tema yang sangat sederhana namun menarik, Jayasuprana dengan cekatan dapat menggubah berbagai macam variasi yang sangat asyik untuk mengiringi pinggul bergoyang. Dengan pembawaan yang jenaka pula, Aisha dan Junaedi membuat lagu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Gethuk&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; terasa begitu hidup, diiringi oleh tarian komedi asuhan koreografer &lt;strong&gt;Afif Syakur&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402176248986722754" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvhirS7n4cI/AAAAAAAAAPw/uG4A7M5-7jk/s320/DSC01103.JPG" border="0" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Penghormatan untuk leluhur tercinta tercermin dari &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tri Reminiskenza&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang didedikasikan Jaya pada almarhum ayahanda tercinta: Lambang Suprana. Tiga karya pada masa awal karier musik Jayasuprana ini sarat akan idiom musik Barat: &lt;em&gt;Chopinesque&lt;/em&gt;! Dengan virtuositas “Franz Liszt-nya Indonesia” &lt;strong&gt;Levi Gunardi&lt;/strong&gt;, karya ini nampak sangat apik dan melodius. Dengan tarian buah karya koreografer &lt;strong&gt;Chichi Kadijono&lt;/strong&gt; dan penari pendukung dari &lt;strong&gt;EKI Dance Company&lt;/strong&gt;, tersirat simbolisasi &lt;em&gt;Tri&lt;/em&gt; melalui tiga kerangkeng besi putih besar yang menaungi mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402176260071531042" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhir8OcoiI/AAAAAAAAAP4/t14PVfD6CSE/s320/DSC01104.JPG" border="0" /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dedemit&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;! Jayasuprana mengatakan bahwa karya musik yang problematis, enigmatis, sekaligus chaos ini sangat ruwet, baik dari segi interpretasi maupun teknis-pianistik. Tanpa disadari, karya yang mirip dengan bagian terakhir Sonata Chopin dalam bes minor ini kerap ditafsirkan sebagai angin menderu di kawasan kuburan. Nampaknya memang demikian, di tangan pianis &lt;strong&gt;Hendrata Prasetia&lt;/strong&gt;, semua setan keluar dari balik panggung. Setan-setan tersebut adalah &lt;strong&gt;Martinus Miroto&lt;/strong&gt;, salah satu koreografer terkenal Indonesia. Ia tampil dengan seorang perempuan yang nampak kesurupan dan bergetar terus sejak awal hingga dentingan not terakhir. Hiii... seram!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Setelah &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Dedemit&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang penuh dengan &lt;em&gt;goro-goro&lt;/em&gt;, akhirnya giliran Sang Semar yang menginterpretasikan karyanya sendiri, yaitu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Untuk Ayla&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Karya yang (dari judulnya saja kita sudah bisa menebak) dipersembahkan untuk &lt;strong&gt;Aylawati Sarwono&lt;/strong&gt; ini bernuansa romantis dan melankolis. Mungkin dapat diibaratkan, &lt;strong&gt;Jayasuprana&lt;/strong&gt; pada malam hari memainkan lagu ini di bawah balkon istana putri Ayla, dan meluncurlah Sang Putri menari dansa dengan penari &lt;strong&gt;Henry Zheng&lt;/strong&gt;. Aylawati Sarwono yang adalah juara &lt;em&gt;Indonesian Dance Competition&lt;/em&gt;, berdansa mengikuti lantunan melodi dari jemari sang kekasih yang menunggu di bawah balkon. Seperti kisah cinta Romeo dan Juliet, atau mungkin dalam terminologi yang lebih tepat: Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402176269657064226" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhisf70QyI/AAAAAAAAAQA/PLv2xG5kfJI/s320/DSC01105.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Penampilan terakhir sebagai pamungkas adalah penafsiran maestra &lt;strong&gt;Iravati Sudiarso&lt;/strong&gt; pada &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tembang Alit&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Sebagai karya pertama Jayasuprana yang dinotasikan (atas paksaan Iravati menjelang resital di Taman Ismail Marzuki, 1984) tentunya memberikan kesan tersendiri bagi penggubahnya. Untuk menghormati penafsiran sang maestra pianis terhadap &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tembang Alit&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, di buku acara ditulis bahwa Jayasuprana sendiri yang akan menari!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402176274704404738" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvhisyvMkQI/AAAAAAAAAQI/lQQVdokqt2w/s320/DSC01106.JPG" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Rupanya disanalah letak kejeniusan Sang Semar. Alih-alih akan menari, rupanya beliau malah duduk terpaku menghadap pianis (dan membelakangi penonton) sepanjang lagu ditembangkan! Fenomena ini menimbulkan suatu perasaan spiritual dan sublim yang membuat penonton membisu. Dengan &lt;em&gt;spotlight &lt;/em&gt;biru dan asap mengepul samar, pergelaran malam itu selesai dalam &lt;em&gt;Sangkan Paraning Dumadi&lt;/em&gt; bilah-bilah hitam putih sang maestra pianis Indonesia, &lt;strong&gt;Iravati Sudiarso&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402178719204988370" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhk7FNjVdI/AAAAAAAAAQY/gpcEIrsKc2E/s320/DSC01108.JPG" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402178712616627490" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhk6sqw7SI/AAAAAAAAAQQ/lYJKEBGT7eA/s320/DSC01110.JPG" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-2503898358230072764?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/2503898358230072764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=2503898358230072764' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2503898358230072764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/2503898358230072764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2009/11/oase-spiritual-musik-jayasuprana.html' title='Oase Spiritual Musik Jayasuprana'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Svhb9WFMRGI/AAAAAAAAAPA/6UGpTvUMrQo/s72-c/DSC01092.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-1264425635690944688</id><published>2009-11-08T12:34:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T21:50:20.424-08:00</updated><title type='text'>Musik adalah bahasa universal</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pertemanan saya dengan Hideko Takahashi dimulai ketika kami belajar bahasa Italia bersama di &lt;em&gt;Istituto Italiano di Culturale&lt;/em&gt;, pusat kebudayaan Italia yang terletak di daerah Menteng. Anggapan “the world is so narrow” memang benar adanya, karena sebelumnya saya pernah berjumpa dengan beliau pada acara &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2009/04/midori-goto-friends.html"&gt;konser violin Midori Goto &lt;/a&gt;di kediaman duta besar Jepang beberapa bulan sebelumnya. Sebagai istri salah seorang diplomat yang bekerja di Kedutaan Jepang, tentu beliau diundang pada acara tersebut. Oleh karena itu, ketika pertama kali melihatnya hadir pada kuliah pertama di Istituto, saya yakin sekali, “Ibu ini pasti yang waktu itu ada di konsernya Midori,”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ternyata memang benar, itu adalah Hideko. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk akrab dengan Hideko-san karena ia memang orang yang sangat supel dan terbuka. Bahkan ia seringkali ikut serta apabila teman-teman di kelas mengadakan acara wisata kuliner ke tempat-tempat makan unik. Ia bahkan tidak segan untuk ikut makan di warung soto mie Jl. Bandung (yang berupa warung kaki lima di pinggir jalan), datang dengan mobil Toyota Fortuner berplat CD sehingga mengundang perhatian setiap orang yang ada di warung tersebut. *Yang was-was malah kami yang mengajak, takutnya sakit perut*&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Waktu pun berlalu, ternyata Hideko-san tidak melanjutkan kuliah bahasa Italia di Istituto karena suaminya dimutasi ke Roma. Akhirnya kelas “makan-makan” Istituto sepakat mengadakan &lt;em&gt;farewell party&lt;/em&gt; untuk Hideko-san di restoran Anatolia Kemang. Kebetulan malam itu Jakarta macet total sehingga saya adalah orang kedua yang tiba disana setelah Hideko (untuk disiplin soal waktu, orang Jepang memang nomor satu). Sambil menunggu teman-teman yang lain, kami mengobrol panjang, terutama mengenai musik dan kebudayaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hideko mengemukakan bahwa saat ini Jepang sedang mengalami masalah ekonomi. Iklim finansial yang tidak begitu bagus belakangan ini membuat kehidupan semakin sulit. Menurutnya, anak-anak muda di Jepang saat ini tidak berorientasi untuk berkeluarga karena untuk menanggung penghidupan sendiri saja sudah sulit, apalagi untuk menghidupi anggota keluarga apabila menikah kelak. Mencari pekerjaan di Jepang saat ini sulit sekali, sementara biaya hidup sangat tinggi. Hideko mencontohkan, di Tokyo (yang termasuk dalam daftar kota termahal di dunia), secangkir kopi di sebuah kedai dapat mencapai 80 ribu rupiah!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, teringat pada cerita Hideko-san, saya sedikit merinding ketika kemarin ini membaca artikel wawancara majalah &lt;strong&gt;Prisma&lt;/strong&gt; (Juni 2009) dengan Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Ketika membahas masalah “&lt;em&gt;hutang luar negeri Indonesia yang tidak akan pernah terbayar sampai kapan pun,&lt;/em&gt;” Ibu Ani menjawab: “Ini masuk ke dalam filosofi mengenai suatu negara apakah dia berutang terus sampai keabadian? Jepang, contohnya. Demografinya mulai mengecil, generasi tuanya sudah mencapai 60 persen. Karena makin tua berarti makin banyak kebutuhan untuk kesehatan, jasa-jasa, karena sudah tidak bekerja lagi maka “makan” dari tabungannya. Siapa yang akan menyediakan semua kebutuhan mereka ini? Generasi yang lebih muda, yang makin mengecil, yang harus menanggungnya, plus beban utang masa lalunya yang lebih dari seratus persen. Jadi negara itu akan terus masuk ke dalam lilitan utang. Terus terang, kalau saya jadi menteri keuangan Jepang barangkali akan frustrasi dan tidak tahu akan berakhir seperti apa,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcxD6xSgzI/AAAAAAAAAO4/YEem1xuf5y4/s1600-h/DSC01079.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401840221439558450" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcxD6xSgzI/AAAAAAAAAO4/YEem1xuf5y4/s320/DSC01079.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Farewell party di Anatolia, Kemang&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang penuh ketidakpastian, tapi paling tidak masih ada seni yang mempersatukan umat manusia. Rupanya Hideko-san adalah seorang pianis juga. Ia belajar piano sejak kecil, namun ketika harus menemani suaminya dinas di berbagai negara, terpaksa kontinuitas permainan pianonya harus menyesuaikan dengan ritme kehidupan ibu-ibu diplomat (merangkap ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki). Beliau sangat antusias ketika membicarakan masalah makanan dan seni yang menurutnya mempersatukan manusia dari berbagai negara yang memiliki perbedaan kultur dan budaya. Sebagai contoh, sebelum ditugaskan di Indonesia, Hideko sempat tinggal selama beberapa tahun di Teheran, Iran. Disana anak-anaknya les piano dengan guru berkebangsaan Spanyol dan memainkan lagu-lagu komponis Barat dan karya komponis Iran. Begitu pula Hideko kagum ketika tahu bahwa saya bisa menyanyikan lagu opening &lt;em&gt;dorama&lt;/em&gt; “Tokyo Love Story” dalam bahasa Jepang, dan ia bertanya pada saya, “You sing that song, but do you know what’s the meaning of the words?”. Saya jawab, &lt;em&gt;tidak&lt;/em&gt;. Kemudian ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dua hari sebelum Hideko-san berangkat ke Roma (berangkat tanggal 26 Oktober), ia mengundang saya ke apartemennya untuk memberikan tanda mata perpisahan. Saya datang dengan Lilis Ho, salah seorang kawan dari Istituto. Ketika berjumpa dengannya, rupanya ia memberikan sejumlah buku musik, bermacam-macam partitur yang sangat menarik. Yang paling menyita perhatian saya adalah buku musik terbitan Iran, yaitu Etude op 599 Carl Czerny dan dua buku karya komponis Iran, Fariborz Lachini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Etude Czerny op 599 merupakan “makanan pokok” bagi para pelajar piano. Rupanya di Iran, tulisannya menggunakan bahasa Arab untuk judul, sedangkan tanda tempo masih ditulis dalam huruf latin. Ketika sedang terkesima melihat buku-bukunya, Hideko-san bilang, “You can read it right? You’re a moslem and I think you can read all of those Arabian characters,” Saya bilang, &lt;em&gt;bisa&lt;/em&gt;, sambil berpikir kira-kira bacaannya apa, karena huruf Arab yang digunakan untuk bahasa sehari-hari biasanya adalah Arab “gundul” (tanpa penanda vokal ‘a’, ‘i’, atau ‘u’) dan sedikit berbeda dengan yang terdapat dalam Al-Qur’an.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcvPwcShyI/AAAAAAAAAOw/HF-culjyktE/s1600-h/002.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401838225802299170" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 242px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcvPwcShyI/AAAAAAAAAOw/HF-culjyktE/s320/002.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Etude op 599 (Carl Czerny)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tapi coba kita lihat, di pojok kanan atas adalah (dari kanan ke kiri) aksara modifikasi &lt;em&gt;ta&lt;/em&gt; + &lt;em&gt;sin&lt;/em&gt; = &lt;em&gt;che&lt;/em&gt;, disusul &lt;em&gt;ra&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;nun &lt;/em&gt;dengan penunjuk huruf &lt;em&gt;ya&lt;/em&gt; sebagai vokal 'i'. Karena huruf pertamanya diberi penanda vokal ‘i’, maka bacaannya kira-kira “Chir-nii” (Czerny). Sedangkan huruf kecil yang “terbang” diatas “Chir-nii” adalah &lt;em&gt;kaf&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;alif&lt;/em&gt; (untuk menandakan vokal ‘a’), &lt;em&gt;ra&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;lam&lt;/em&gt;, maka bacaannya kira-kira “Karl”. Menarik sekali!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcvPWi_lhI/AAAAAAAAAOo/WcoUXO9C_3U/s1600-h/001.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401838218851096082" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 232px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcvPWi_lhI/AAAAAAAAAOo/WcoUXO9C_3U/s320/001.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Judul menggunakan aksara Arab, tapi tanda tempo tetap alfabet Latin&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Selain Etude Karl Czerny, Hideko-san juga memberikan dua buah buku komposisi piano karya komponis Iran, &lt;strong&gt;Fariborz Lachini&lt;/strong&gt;. Sang komposer yang lahir pada 1950, belajar komposisi di Eropa dan merupakan anggota Masyarakat Komposer Prancis (Société des Auteurs-Compositeurs – SACEM). Setelah kembali ke Iran, ia aktif membuat musik untuk pendidikan anak-anak dan komposisi musik film. Berikut ini adalah kumpulan impresi akan musim gugur yang tersusun dalam album “Golden Autumn”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcvPMbN1UI/AAAAAAAAAOg/JGAxWa0OdZA/s1600-h/003.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401838216134120770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 236px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcvPMbN1UI/AAAAAAAAAOg/JGAxWa0OdZA/s320/003.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;"Golden Autumn" karya Fariborz Lachini, volume 1&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcvOqgJbII/AAAAAAAAAOY/OTsOPcnSJUM/s1600-h/004.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401838207027997826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 234px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcvOqgJbII/AAAAAAAAAOY/OTsOPcnSJUM/s320/004.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Salah satu lagu dalam "Golden Autumn"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ternyata memang benar, musik dan seni adalah suatu produk kebudayaan yang menembus batas – &lt;em&gt;transendental&lt;/em&gt;. Musik menyatukan perbedaan dan latar belakang dalam sebuah perdamaian universal. Semoga Hideko-san bisa tetap membawa kebaikan dimana pun ia berada.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Have a good life in Rome!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcvOS9te_I/AAAAAAAAAOQ/zKbtybV8XPY/s1600-h/DSC01090.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401838200709544946" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 255px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcvOS9te_I/AAAAAAAAAOQ/zKbtybV8XPY/s320/DSC01090.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;The last photograph with Hideko and Lilis Ho&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-1264425635690944688?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/1264425635690944688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=1264425635690944688' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1264425635690944688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1264425635690944688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2009/11/musik-adalah-bahasa-universal.html' title='Musik adalah bahasa universal'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SvcxD6xSgzI/AAAAAAAAAO4/YEem1xuf5y4/s72-c/DSC01079.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-7665034991938714589</id><published>2009-10-15T14:59:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T09:57:33.479-07:00</updated><title type='text'>To Smoke or Not To Smoke (?)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Who said that an opera singer shouldn’t smoke?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;History has it that a legendary opera singer of all time, &lt;strong&gt;Enrico Caruso&lt;/strong&gt; (1873-1921), smoked two packages of Egyptian cigarettes a day. He was a heavy smoker!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392953297554117186" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 272px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Steec3b8EkI/AAAAAAAAAN4/ZkRlVpVex30/s320/Enrico+Caruso+smoking+01.jpg" border="0" /&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Enrico Caruso with his Egyptian cigarette&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Lisa della Casa&lt;/strong&gt; (born 1919) just turned 90 on February 2009. She’s one of &lt;em&gt;The Last Prima Donnas&lt;/em&gt; (a book written by Lanfranco Rasponi). Some people could still remember her beautiful rendition of works by Mozart and Strauss. She still smokes until today.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Stedzea9FcI/AAAAAAAAANw/uN4-0MjBxN0/s1600-h/Lisa+della+Casa+smoking.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392952586464466370" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 211px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Stedzea9FcI/AAAAAAAAANw/uN4-0MjBxN0/s320/Lisa+della+Casa+smoking.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Lisa della Casa: Singing is more dangerous than Smoking.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Stedy5HPqQI/AAAAAAAAANo/Vf-uE6rXe58/s1600-h/Lisa+della+Casa+and+husband.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392952576449685762" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Stedy5HPqQI/AAAAAAAAANo/Vf-uE6rXe58/s320/Lisa+della+Casa+and+husband.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;90 years old Lisa della Casa and her beloved husband:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;And her beloved cigarettes&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And here we come, four of the famous Metropolitan Opera’s roster: &lt;strong&gt;Risë Stevens, Robert Merrill, Nadine Conner, &lt;/strong&gt;and&lt;strong&gt; Patrice Munsel&lt;/strong&gt;. They appeared in a vintage advertisement of &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Camel&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; cigarette. I don’t know if they really smoke, but the ad proved that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Stedym4XrII/AAAAAAAAANg/uDSlxyX4LqE/s1600-h/Rise+Stevens+%26+Robert+Merrill+smoking.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392952571555458178" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 255px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Stedym4XrII/AAAAAAAAANg/uDSlxyX4LqE/s320/Rise+Stevens+%26+Robert+Merrill+smoking.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedyEElJrI/AAAAAAAAANY/WGwKJxuCP_g/s1600-h/Nadine+Conner+%26+Patrice+Munsel+smoking.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392952562211432114" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 258px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedyEElJrI/AAAAAAAAANY/WGwKJxuCP_g/s320/Nadine+Conner+%26+Patrice+Munsel+smoking.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;This is &lt;strong&gt;Elvira de Hidalgo&lt;/strong&gt; (1892-1980). Does anyone know her? Yes, she was Maria Callas’ teacher. A famous Spanish coloratura soprano and singing teacher, she almost smoked a pack of cigarette during this interview session.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedxhgFOhI/AAAAAAAAANQ/EhLttGCyPLs/s1600-h/Elvira+de+Hidalgo+01+smoking.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392952552931539474" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedxhgFOhI/AAAAAAAAANQ/EhLttGCyPLs/s320/Elvira+de+Hidalgo+01+smoking.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392951932639550930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedNau8ndI/AAAAAAAAANI/PF6AR2LxEaU/s320/Elvira+de+Hidalgo+02+smoking.jpg" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Elvira de Hidalgo with almost one pack of cigarettes:&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Locomotive&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;In the summer of August 1957, Maria Callas was scheduled to sing at the open-air Herodes Atticus amphitheater, Greece. Both of teacher and student met at the rehearsal. And LOOK at their facial expression! Maria Callas was a genuine icon of Greek &lt;em&gt;tragédie&lt;/em&gt;, with melancholy and languorous eyes, while her teacher – with Spanish passion for &lt;em&gt;fiesta&lt;/em&gt; and fireworks – seemed very happy and enjoyed the very night with cigarettes.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394350669365965186" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 308px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StyVWnFy8YI/AAAAAAAAAOI/kYpKZKLZEaA/s320/Hidalgo-Callas+Atticus+01.jpg" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394350661854913170" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StyVWLHBYpI/AAAAAAAAAOA/S5PPpJxPtKA/s320/Hidalgo-Callas+Atticus+02.jpg" border="0" /&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;de Hidalgo: "Dear Maria, just sit and relax. Let me smoke this bloody cigarette,"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Like teacher, like student: &lt;strong&gt;Maria Callas&lt;/strong&gt; herself was a smoker. I got two pictures of her. One with her colleague, tenor &lt;strong&gt;Giuseppe di Stefano&lt;/strong&gt; who smoked cigar. Another one is a miscellaneous snapshot, taken from the filming session of Pier-Paolo Pasolini's Medea (1970).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedM1CwFQI/AAAAAAAAANA/mx4_lSozmUI/s1600-h/Callas-di+Stefano+smoking.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392951922522068226" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 227px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedM1CwFQI/AAAAAAAAANA/mx4_lSozmUI/s320/Callas-di+Stefano+smoking.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Maria Callas and Giuseppe di Stefano:&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Draught beer and cigarettes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedMQORfuI/AAAAAAAAAM4/oZlAebjaBkQ/s1600-h/Callas+smoking.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392951912638283490" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 276px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedMQORfuI/AAAAAAAAAM4/oZlAebjaBkQ/s320/Callas+smoking.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Maria Callas during the filming session of Medea&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;The rivalry between Maria Callas and &lt;strong&gt;Renata Tebaldi&lt;/strong&gt; seems too pretentious. Some people said that Callas had a diabolical voice compared to Tebaldi, who owned a &lt;em&gt;voice of an angel&lt;/em&gt;, like Toscanini said. And here &lt;em&gt;The Angel&lt;/em&gt; with a cigarette.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedL5n7h4I/AAAAAAAAAMw/k4F-JPzx8-o/s1600-h/Renata+Tebaldi+smoking.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392951906571880322" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 248px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedL5n7h4I/AAAAAAAAAMw/k4F-JPzx8-o/s320/Renata+Tebaldi+smoking.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt; Renata Tebaldi: it's a pleasure to burn!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Last but not least: &lt;strong&gt;Luciano Pavaroti&lt;/strong&gt;, King of the high Cs, and King of big cigars.&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedLvyZ5zI/AAAAAAAAAMo/P7M2G-Kzxzo/s1600-h/Pavarotti+smoking.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392951903931459378" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 276px; CURSOR: hand; HEIGHT: 316px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StedLvyZ5zI/AAAAAAAAAMo/P7M2G-Kzxzo/s320/Pavarotti+smoking.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt; Pavarotti, was a cigar aficionado&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-7665034991938714589?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/7665034991938714589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=7665034991938714589' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7665034991938714589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/7665034991938714589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2009/10/to-smoke-or-not-to-smoke.html' title='To Smoke or Not To Smoke (?)'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Steec3b8EkI/AAAAAAAAAN4/ZkRlVpVex30/s72-c/Enrico+Caruso+smoking+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-1513819551088454820</id><published>2009-10-12T23:30:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T12:51:50.879-07:00</updated><title type='text'>Il viaggio dell’opera</title><content type='html'>Pada Sabtu 10 Oktober yang lalu, saya kembali mendapat kehormatan untuk mengiringi pementasan Susvara Opera Company dalam konser yang bertajuk “Il viaggio dell’opera” di Gedung Kesenian Jakarta. Pementasan yang (menurut kritikus musik Michael Budiman) dijuluki &lt;a href="http://mikebm.wordpress.com/2009/10/12/sebuah-perjalanan-bertabur-bintang/"&gt;“Sebuah perjalanan bertabur bintang”&lt;/a&gt; ini menampilkan penyanyi-penyanyi seriosa terbaik di Tanah Air. Diantaranya ada yang masih dalam proses untuk menuju ranah artistik yang lebih tinggi, namun ada pula yang sudah berdedikasi menyelami musik klasik selama berpuluh tahun. Mereka adalah &lt;em&gt;guest star&lt;/em&gt; malam itu, yaitu soprano Aning Katamsi, Binu Sukaman, dan pianis Adelaide Simbolon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StQgSemUrJI/AAAAAAAAAMg/-SDSe014X20/s1600-h/Il+Viaggio+dell%27opera.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391970155692862610" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 226px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StQgSemUrJI/AAAAAAAAAMg/-SDSe014X20/s320/Il+Viaggio+dell%27opera.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Il viaggio dell'opera, Gedung Kesenian Jakarta 2009&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menarik adalah, kendati pementasan Susvara Opera Company malam itu melibatkan berbagai musisi dari komunitas musik yang berbeda, namun ada satu persamaan di dalamnya: Semua disatukan oleh &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2008/02/catharina-leimena-dibalik-opera-la.html"&gt;The Great Catharina Leimena&lt;/a&gt;, penyanyi opera sungguhan didikan Italia yang dengan penuh pengabdian telah mendidik dan menelurkan musisi-musisi top selama puluhan tahun. Konsistensi itulah yang kemudian memicu diadakannya pertunjukan musik “Il viaggio” yang berarti “Perjalanan”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Behind the scene&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu obrolan malam mengenai pra-produksi konser ini, Ibu Catherine bilang pada saya, “Sebenarnya mengapa dinamakan ‘Il viaggio’ itu ada falsafahnya. ‘Il viaggio’ memang berarti ‘Perjalanan’. Itu bisa macam-macam artinya, antara lain adalah perjalanan seni opera sejak era Mozart hingga Puccini yang akan kita bawakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian perjalanan Susvara Opera Company, yang sejak berdiri dengan nama Sanggar Susvara pada 1970 telah membawakan berbagai macam opera untuk menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap seni yang tinggi tersebut, dimana lagu-lagu yang akan dibawakan nanti merupakan cuplikan dari opera-opera yang selama ini pernah Susvara bawakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan yang terakhir adalah wujud konsistensi dari musisi yang mendalami opera. Saya membuat ‘Il viaggio’ ini kan dengan maksud bahwa selain generasi tua, ada juga generasi muda yang sedang dalam proses pengembaraan untuk mencari jatidiri mereka dalam musik klasik. Ada yang di tengah jalan lantas pindah ke jalur pop, ada juga seperti Harry Manulang – tenor kita dulu yang bagus sekali, akhirnya meninggal. Ada yang suaranya bagus dari ISI Jogja, sekarang hilang entah kemana. Ada Fawrita Pane yang suaranya persis seperti Callas, sekarang sudah berhenti nyanyi. Namun dari mereka-mereka itu, ada murid saya yang dari dulu hingga sekarang tetap konsisten di jalur seriosa ini, yaitu Aning dan Binu. Itu yang ingin saya tampilkan, bahwa dalam suatu Perjalanan, pasti ada proses yang semakin mendewasakan musisi-musisi itu. Mereka harus kita tumbuhkan apresiasinya seperti layaknya Binu dan Aning. Makanya, saya bikin konser ‘Il viaggio’ ini dengan maksud seperti itu,”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Konser “Il viaggio” ini selain menampilkan vokalis-vokalis berkualitas prima, juga melibatkan banyak pianis. Saya adalah salah satunya yang bertanggungjawab terhadap opera Norma, La Boheme, dan La Gioconda. Sementara itu Teodore Minaroy, pianis yang sangat saya kagumi karena permainannya yang sangat artistik dan puitik, memainkan cuplikan-cuplikan dari Il Trovatore karya Verdi dengan sangat memikat!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Celine Meirani dengan &lt;em&gt;tone-touch&lt;/em&gt; yang kokoh dan power yang prima, senantiasa memainkan cuplikan dari Fidelio (Beethoven), La Gioconda (Ponchielli), dan Cavalleria Rusticana (Mascagni).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Not-not Mozart yang membutuhkan keterampilan jari, dimainkan dengan baik oleh Priska Budihardjo dan Sharon Hartanto.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pianis ulung Adelaide Simbolon sendiri mengiringi cuplikan opera Suor Angelica (Puccini), Norma (Bellini), dan Cavalleria Rusticana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Highlights&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa &lt;em&gt;highlight &lt;/em&gt;yang merupakan favorit saya adalah cuplikan dari opera Suor Angelica yang dinyanyikan dengan &lt;em&gt;ethereal beauty&lt;/em&gt; oleh Aning Katamsi. Memang benar seperti review konser dari Michael Budiman, bahwa penampilan Mbak Aning malam itu memiliki medan magnet yang sangat kuat, sehingga membuat saya terpaku menonton dari backstage. Dengan akting yang sangat jujur, Mbak Aning memulai frase aria "Senza Mamma" dengan resonansi vokal sedemikian rupa, sehingga suara yang keluar tidak seperti keluar dari mulut, melainkan dari sebuah rongga resonansi yang ada di atas kepala. Suaranya seperti &lt;em&gt;pelangi&lt;/em&gt;. Mungkin ini yang dinamakan dengan istilah “squillo” (ringing sound) oleh kritikus musik Norman Lebrecht. Apabila konduktor-diktator Arturo Toscanini pernah memberi pujian “Voce d’angelo” (suara malaikat) pada Renata Tebaldi, malam itu saya rasa "Voce d’angelo" terjadi juga pada Mbak Aning.&lt;br /&gt;Dengan pengucapan diksi yang sangat memikat, Mbak Aning terus “menarik” aria "Senza Mamma" hingga klimaks seperti tanpa jeda. Kalimat-kalimat dibentuk dalam konsep yang sangat indah, sehingga dari awal hingga akhir menyatu utuh. Saya rasa untuk menjelaskan &lt;em&gt;magnetism&lt;/em&gt; Mbak Aning dalam aria ini, seseorang harus mendengar langsung, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Yang jelas, frase “&lt;em&gt;Se qui... se qui&lt;/em&gt;” membuat saya merinding!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mbak Ade pada piano pun mengiringi dengan seksama, penuh perhatian terhadap detail dinamik dan kedalaman. Ia bisa membuat suara piano menyerupai pipe-organ, sebagaimana versi asli orkestra pada introduksi lagu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StQgSIaO18I/AAAAAAAAAMY/fJBCkHt5ej4/s1600-h/Suor+Angelica+Tebaldi.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391970149736568770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 317px; CURSOR: hand; HEIGHT: 317px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StQgSIaO18I/AAAAAAAAAMY/fJBCkHt5ej4/s320/Suor+Angelica+Tebaldi.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Renata Tebaldi sebagai Suor Angelica&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Highlight&lt;/em&gt; kedua adalah Christine Lubis yang menyanyikan aria “D’amor sull’ali rosee” dari opera Il Trovatore karya Verdi. Dengan intensitas suara yang sangat lebar dan perhatian pada detail, Christine bisa menaklukkan salah satu aria Verdi paling sulit tersebut. Dalam recitative “&lt;em&gt;Timor di me&lt;/em&gt;...” sebelum aria, Christine bisa membawakannya dengan idiom diksi Italia, dengan penekanan aksen yang pas. Dalam arianya sendiri, ornamen-ornamen dan dinamik lembut pada nada tinggi bisa dikuasai dengan kecermatan dan presisi yang tinggi.&lt;br /&gt;Pianis Teo Minaroy dengan bahasa musiknya yang puitik, mengiringi keseluruhan cuplikan opera Verdi sebanyak lima lagu dengan memukau. Siapapun yang mendengar permainan piano Teo akan langsung dapat menangkap &lt;em&gt;artistry&lt;/em&gt; yang ada dalam dirinya secara natural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Highlight&lt;/em&gt; ketiga adalah Binu Sukaman. Dengan suara sopran yang cemerlang, Mbak Binu membawakan dua duet. Yang pertama adalah duet “Mira, O Norma,” dari opera Norma bersama Mbak Aning dan “Ah, il Signore vi manda” dari opera Cavalleria bersama Ferry Chandra. Tidak dapat disangsikan lagi bahwa Mbak Binu merupakan soprano papan atas Indonesia. Dengan kemampuan akting yang &lt;em&gt;passionate&lt;/em&gt; dan berapi-api, duet Norma diselesaikan dengan presisi dan kontrol suara ala Bel canto yang prima, tentunya dengan bumbu &lt;em&gt;coloratura &lt;/em&gt;yang membuat duet ini semakin seru dan menarik. Duet seru yang pada tahun 1965 pernah menjadi pemicu pertengkaran soprano Maria Callas dengan mezzosoprano Fiorenza Cossotto.&lt;br /&gt;Apabila duet Norma dibawakan dengan keindahan format menyanyi Bel canto, maka duet “Ah il Signore vi manda” bercerita mengenai realisme, karena Cavalleria Rusticana adalah perintis berkembangnya aliran verismo (realisme) dalam repertoire opera Italia di akhir abad 19. Mbak Binu yang penuh dengan &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; dan temperamen, bisa memerankan Santuzza yang sedang putus asa seperti nyata. Dengan Ferry Chandra sebagai Alfio yang berkarakter kuat, duet penuh ketegangan tersebut didukung oleh permainan piano Mbak Ade yang penuh &lt;em&gt;tension&lt;/em&gt;, sangat dramatis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StQgRWG4gdI/AAAAAAAAAMQ/rJY0lLswC14/s1600-h/callas_norma_1955_paris.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391970136233640402" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 222px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StQgRWG4gdI/AAAAAAAAAMQ/rJY0lLswC14/s320/callas_norma_1955_paris.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Maria Callas dalam opera Norma, Paris 1955&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Highlight&lt;/em&gt; terakhir adalah soprano Sri Muji Rakhmawati yang membawakan aria “Casta diva” dari opera Norma dengan penuh kesyahduan dan keagungan. Dengan gaun ala Callas yang dirancang khusus, Wati menyanyikan salah satu aria tersulit dalam repertoire Bel canto tersebut dalam tata ritual prosesional, sebagaimana ia menghayati perannya menjadi Norma, Druid priestess yang jatuh cinta pada perwira Romawi. Dari balik panggung, koor menyanyikan bagian-bagian syahdu yang diikuti dengan figurasi-figurasi ornamen &lt;em&gt;coloratura&lt;/em&gt; oleh Wati dengan presisi dan konsentrasi yang kuat, dibalik suaranya yang cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah konser “Il viaggio dell’opera” malam itu benar-benar menghadirkan bunga rampai dari sekian banyak opera yang pernah ditampilkan oleh Susvara. Sebagai agenda ke depan, mari kita saksikan pementasan opera lengkap “La Gioconda” karya Amilcare Ponchielli yang rencananya akan ditampilkan tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga sukses!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-1513819551088454820?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/1513819551088454820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=1513819551088454820' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1513819551088454820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/1513819551088454820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2009/10/il-viaggio-dellopera.html' title='Il viaggio dell’opera'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/StQgSemUrJI/AAAAAAAAAMg/-SDSe014X20/s72-c/Il+Viaggio+dell%27opera.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-208439036578057581</id><published>2009-10-05T14:56:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T15:42:29.285-07:00</updated><title type='text'>Prokofiev 3 dan Aryo Wicaksono</title><content type='html'>Balai Sarbini, Senin 5 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nusantara Symphony Orchestra (NSO) mempersembahkan program yang sangat menarik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Quartettino – Susumu Yoshida (1947)&lt;br /&gt;Piano Concerto No. 3 Op. 26 – Sergei Prokofiev (1891-1953)&lt;br /&gt;Symphony No. 5 Op. 64 – Peter Ilyich Tchaikovsky (1840-1893)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya malam itu datang dengan berharap akan mendapat pengalaman “tidak biasa”. Memang benar, di bumi Indonesia yang kerap dilanda musibah ini, sangat jarang kita dapat mendengarkan karya-karya besar seperti Piano Concerto Prokofiev atau Symphony Tchaikovsky. Selain karena tingkat kesulitannya yang sangat tinggi, saya rasa publik Indonesia sedang dalam proses untuk menerima suatu tingkat estetika musik seni yang “selangkah lebih maju”. Buktinya, beberapa orang mengeluh pada saya, “Prokofiev itu siapa ya?”, “Lagunya yang terkenal apa ya?”, “Kok musiknya aneh ya?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyalahkan mereka-mereka yang mengeluh itu. Toh saya juga bukan ahli Prokofiev. Jujur saja, saya tidak terlalu familiar dengan piano concerto Prokofiev. Musik pianonya pun belum pernah ada yang saya mainkan. Frekuensi saya mendengar dan menonton piano concerto-nya tidak sebanyak frekuensi menonton piano concerto komponis Rusia lain, seperti Rachmaninov katakanlah.&lt;br /&gt;Selain itu, keseluruhan sistem yang ada di Indonesia (seperti media TV, radio, pementasan konser, sampai pada peran pemerintah) memang kurang mendukung sosialisasi musik klasik.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, saya senang sekali malam itu mendapat kesempatan untuk menyaksikan secara langsung Prokofiev Piano Concerto secara &lt;em&gt;live&lt;/em&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum keseluruhan program dimulai, rupanya sang konduktor Hikotaro Yazaki ingin memberikan ungkapan doa untuk para korban gempa bumi Padang melalui “Air on the G String” karya J.S. Bach. Beliau sudah mewanti-wanti agar setelah acara “mengheningkan cipta” tersebut selesai, jangan ada yang tepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mengalirlah Quartettino karya komponis Jepang, Susumu Yoshida. Menurut saya, sebenarnya suasana “&lt;em&gt;mourning&lt;/em&gt;” sendiri telah ada dalam karya ini. Karya modern tersebut mungkin kurang terdengar “nyaman” di telinga para penonton. Penuh dengan &lt;em&gt;dissonan chords&lt;/em&gt;, namun ada bagian yang sendu dan melankolis. Ada ketegangan yang tercipta, namun segera diantisipasi oleh antiklimaks. Tidak heran apabila melihat komposernya yang berguru pada Olivier Messiaen. Bahasa musik yang ada dalam karya ini, seperti mendengarkan "Vingt Regards sur l'Enfant-Jésus" karya Messiaen, antara &lt;em&gt;movement&lt;/em&gt; "Regard des Anges" yang tegang dan "Le baiser de l'enfant-Jésus" yang kalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tibalah saat yang ditunggu-tunggu: Prokofiev Piano Concerto No. 3. Pianisnya adalah Aryo Wicaksono, kelahiran Surabaya yang lama menetap di Arizona, USA. Bagi para pecinta musik seni di ranah Indonesia, namanya mungkin belum sering terdengar karena ia memang hidup, belajar, berkiprah, dan tenar di negeri Paman Sam itu.&lt;br /&gt;Seperti biasa, jika ada artis-artis Indonesia yang sukses berkiprah di luar negeri, gaungnya jarang dimuat di media negeri sendiri. Contohnya seperti Paduan Suara Paragita UI yang bulan Agustus lalu menang juara 1 di International Choir Competition di Spittal, Austria – saya tidak melihat ada penghargaan apa-apa dari pemerintah. Mana? Padahal mereka jelas mengharumkan nama negeri ini di kancah internasional, berhubung setiap paduan suara yang ikut dalam kompetisi itu berasal dari negara yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kembali lagi. Aryo Wicaksono tampil dengan Yamaha Grand Piano &lt;em&gt;nine-feet&lt;/em&gt; dan jari-jarinya meluncur yakin setelah beberapa birama orkestra memberikan introduksi. Prokofiev Piano Concerto No. 3 merupakan salah satu favorit para pianis, termasuk Martha Argerich yang saya ulang sampai puluhan kali &lt;em&gt;movement&lt;/em&gt; 3-nya di Youtube. Secara teknik, nampaknya Aryo telah menguasai benar bahasa musik Prokofiev. Saya tidak begitu mendalami musik Prokofiev, namun saya benar-benar menikmati &lt;em&gt;tension&lt;/em&gt; yang berhasil dibuat Aryo dalam musik yang sangat ritmikal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SspvYb-Xa4I/AAAAAAAAAMA/BlKuWgVUY10/s1600-h/DSC01067.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389242369719102338" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SspvYb-Xa4I/AAAAAAAAAMA/BlKuWgVUY10/s320/DSC01067.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Aryo memainkan Liebestod (Wagner/Liszt) sebagai &lt;/em&gt;encore&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Seorang pianis mumpuni Indonesia pernah berkata pada saya, “Prokofiev itu komposer era Modern. Dia lahir, hidup, dan tumbuh bersamaan dengan berkembangnya teknologi mesin-mesin, pabrik-pabrik, maka tidak heran apabila dia sangat terobsesi dengan ritme. Ritme yang kuat merupakan ciri khas musik Prokofiev. Seperti kalau kita mendengar mesin cuci berputar, &lt;em&gt;gobrak-gobrak-gobrak-gobrak&lt;/em&gt;, bunyinya konstan. Mekanik! Itulah yang cocok menggambarkan kerumitan musik Prokofiev,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang betul. Coba saja kita dengarkan Toccata, salah satu karya Prokofiev untuk piano yang sulitnya setengah mati. Persis seperti mendengar bunyi mesin pembuat kaleng sardin yang berbunyi &lt;em&gt;gobrak-gobrak-gobrak-gobrak&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, ritme dalam musik Prokofiev dapat menjadi suatu kekuatan untuk membuat &lt;em&gt;tension&lt;/em&gt; dan klimaks. Prokofiev memang jenius, dalam “kekejaman” ritme dan garis metrum, ia bisa menciptakan sebuah klimaks yang dibangun dari kejenakaan tema-tema sederhana. Pada &lt;em&gt;movement&lt;/em&gt; 3 favorit saya, terlihat “pertempuran” sengit (&lt;em&gt;tour de force&lt;/em&gt; – sebagaimana dijelaskan pada buku program konser) antara piano dan orkestra. Jenaka, &lt;em&gt;playful&lt;/em&gt;, penuh spirit, dan diakhiri dengan &lt;em&gt;glissando&lt;/em&gt; dan oktaf-oktaf besar dalam tempo supercepat. Semua berhasil dibawakan oleh Aryo dan NSO tanpa mengecewakan. Congratulations!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penasaran saya sirna sudah. Sambutan penonton pun sangat meriah, bahkan sampai &lt;em&gt;standing ovation&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;curtain-call&lt;/em&gt; hingga berulang kali. Seorang tante-tante kenalan saya (kebetulan duduknya di depan saya persis) pun sampai terkagum-kagum akan permainan Aryo malam itu. Padahal saya tahu benar, tante itu awam sekali pada musik klasik. Hal itu berarti, musik telah berbicara pada kita semua. Aryo telah berhasil mengomunikasikan musik Prokofiev pada khalayak melalui interpretasinya yang patut diacungi jempol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena &lt;em&gt;curtain-call&lt;/em&gt; yang tidak henti-hentinya, Aryo memberikan &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt; berupa &lt;em&gt;Liebestod&lt;/em&gt;! Ya ampun, saya kaget sekali karena – terus terang – setiap kali menghadiri konser NSO di Balai Sarbini, entah mengapa saya selalu membayangkan kalau di tengah-tengah panggung ada seorang diva yang membawakan aria &lt;em&gt;Liebestod&lt;/em&gt; diiringi oleh NSO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Liebestod&lt;/em&gt; sendiri merupakan salah satu aria opera favorit saya. Aria tersebut merupakan penutup dari opera &lt;em&gt;Tristan und Isolde&lt;/em&gt; karya Richard Wagner, kemudian Franz Liszt membuat versi transkripsinya untuk dimainkan di piano, dan malam itu dimainkan oleh Aryo dengan &lt;em&gt;perfect&lt;/em&gt;!&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Liebestod&lt;/em&gt; (Love and Death) adalah ungkapan ekstase Isolde di atas jasad Tristan yang terbunuh. Isolde seperti mendapatkan &lt;em&gt;vision &lt;/em&gt;bahwa Tristan akan hidup kembali, tetapi dalam ekstase yang sangat tinggi, pada akhirnya kedua insan bersatu kembali di alam setelah kehidupan. Filosofi aria ini tinggi sekali, sehingga Jessye Norman pernah mengungkapkan bahwa untuk dapat memahami falsafah &lt;em&gt;Verklärung&lt;/em&gt; dalam &lt;em&gt;Liebestod&lt;/em&gt;, “I always distinguish between LONELIness and ALONEness”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389242376270769442" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SspvY0YZ7SI/AAAAAAAAAMI/Gmi0Y7Ex-60/s320/DSC01072.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Bersama Aryo Wicaksono&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tengah &lt;em&gt;intermission&lt;/em&gt;, saya kaget sekaligus gembira karena bertemu dengan Her Excellency Madame Nobuko Shiojiri, istri duta besar Jepang untuk Indonesia. Dulu ketika diundang dalam acara &lt;a href="http://pianistaholic.blogspot.com/2009/04/midori-goto-friends.html"&gt;Midori Goto&lt;/a&gt;, saya pernah ngobrol-ngobrol panjang dengan beliau, antara lain tentang kontribusi musisi Jepang dalam kancah musik klasik dunia. Beliau adalah seorang &lt;em&gt;lady&lt;/em&gt; yang sangat elegan, dengan tata krama yang sempurna dan keramahan yang luar biasa. Ketika saya sapa, saya kaget karena beliau masih ingat pada saya. Setelah ngobrol-ngobrol mengenai program konser malam itu, beliau berkata pada saya “Come on, next time you have to play with the orchestra, you must!” (Saya dalam hati hanya bilang “Amin,” sambil terharu).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anyway, thanks so much for your wishes, dear Madame. Also, thanks to Aryo Wicaksono, Hikotaro Yazaki, and NSO for a memorable performance last night. God bless you all!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;*Terima kasih juga untuk Pak Dedi dan Mbak Lucy atas tiket-tiketnya :)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-208439036578057581?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/208439036578057581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=208439036578057581' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/208439036578057581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/208439036578057581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2009/10/balai-sarbini-senin-5-oktober-2009.html' title='Prokofiev 3 dan Aryo Wicaksono'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SspvYb-Xa4I/AAAAAAAAAMA/BlKuWgVUY10/s72-c/DSC01067.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-295556853548579668</id><published>2009-08-23T10:34:00.000-07:00</published><updated>2009-08-23T12:20:11.751-07:00</updated><title type='text'>Resital Piano Oerip Santoso</title><content type='html'>&lt;em&gt;Pak Oerip adalah pemain lama di ranah musik klasik Indonesia. Beliau sejak dahulu kala merintis karir piano dan akademisnya (dengan berbagai macam gelar akademik yang lintas batas), menunjukkan akar kulturalnya yang sangat kuat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pak Oerip mulai belajar piano pada usia 6 tahun di Sekolah Musik YPM pada Tine Droop, Franz Szabo, Anwar Soenario, hingga lulus tingkat Persiapan Konservatorium III dibawah bimbingan pianis Soetarno Soetikno pada tahun 1965. Pak Oerip sendiri adalah dokter, tapi ia melanjutkan gelar Master of Science in Computer di University of Wisconsin-Madison, universitas yang sama dimana ia juga mengambil studi piano dibawah bimbingan Prof. Gunnar Johansen. Lebih mengagumkan lagi, Pak Oerip melanjutkan studi pianonya dibawah bimbingan maestra pianis Madame Magda Tagliaferro di Paris, bersamaan dengan menyelesaikan Doktor Informatika di Universitas Paris VI. Bersamaan dengan karirnya yang gemilang itu, ia juga kerap kali mengadakan resital piano tunggal di Jakarta, Bandung, Paris, Hamburg, dan Berlin.&lt;br /&gt;Pada tahun 1991, Pak Oerip menerima bintang tanda jasa &lt;em&gt;Chevalier des Arts et des Lettres&lt;/em&gt; dari pemerintah Prancis atas prestasinya di bidang musik. Sebuah penghargaan prestisius, dimana penerimanya antara lain melibatkan nama-nama besar seperti Rudolf Nureyev, Philip Glass, Ned Rorem, Sherrill Milnes, hingga Yohji Yamamoto, Jude Law, dan George Clooney.&lt;br /&gt;Saat ini, Pak Oerip menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister Informatika ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat riwayat pendidikannya yang sangat &lt;em&gt;"intimidating"&lt;/em&gt;, rasanya berkaitan erat dengan keluarganya, dimana ayah Pak Oerip adalah Bapak Psikologi Indonesia: Prof. Dr. Slamet Iman Santoso yang mendirikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Salah satu kakak Pak Oerip, Dr. Boen Sri Oemarjati adalah pengajar di dua fakultas di UI: MIPA (Biologi) dan Sastra! Sementara kakaknya yang lain, Prof. Dr. Soeprapti Soemarmo Markam adalah profesor di Fakultas Psikologi (Klinis) UI. Kebetulan Bu Prapti adalah juga pianis handal, dan beliau hingga saat ini mengajar Psikologi Musik di YPM. Saya selama dua tahun pernah menjadi muridnya. Maka, tidak heran apabila Pak Oerip berkiprah di berbagai bidang karena ia berasal dari keluarga pendidik yang berdedikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373217053007514994" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SpGAcPGVjXI/AAAAAAAAALw/UVYQdT99QUc/s400/DSC00271.JPG" border="0" /&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;Bersama Pak Dedi Panigoro, Pak Oerip, dan soprano Sri Muji Rakhmawati&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;setelah resital di Griya Jenggala, Januari 2009.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri beberapa kali pernah menonton Pak Oerip bermain piano. Pertama kali jika tidak salah, ketika acara konser komponis Trisutji Kamal. Waktu itu Pak Oerip berduet dengan Iswargia Sudarno memainkan "Suite Gunung Agung" yang penuh dengan idiom musik gamelan Bali. Penampilan yang kedua adalah pada 17 Januari 2009 di Griya Jenggala milik Pak Arifin Panigoro, dimana program malam itu adalah:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;J.S. Bach/Myra Hess – Jesu, Joy of man’s desiring&lt;br /&gt;Ludwig van Beethoven – Sonata op 27 no 2 “Moonlight” (3 bagian)&lt;br /&gt;Amir Pasaribu – Variasi Sriwijaya&lt;br /&gt;F. Chopin – Fantasy Impromptu op 66&lt;br /&gt;F. Chopin – Polonaise in g# minor&lt;br /&gt;C. Debussy – Danse&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Kesempatan ketiga saya menyaksikan resital Pak Oerip adalah 19 Agustus 2009 yang lalu di Goethe Haus. Programnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Haydn – Sonata As Mayor Hob XVI/43 (3 bagian lengkap)&lt;br /&gt;Felix Mendelssohn – Variation sérieuses op 54&lt;br /&gt;Krisantini Markam – Mother’s Day, Dance, Bali Music&lt;br /&gt;M. Ravel – Sonatine (3 bagian lengkap)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, gaya permainan Pak Oerip sangat tenang. Tidak banyak gerakan yang tidak perlu, semua not terukur dengan rapi dan ada kontrol yang hebat. &lt;em&gt;Shaping &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;phrasing&lt;/em&gt; dikerjakan dengan teliti sekali, terutama ketika ia memainkan karya-karya dalam format sonata. Seperti pada Sonata Haydn, selain dari pembentukan kalimat yang baik, Pak Oerip bisa memainkan dinamik &lt;em&gt;forte &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;piano&lt;/em&gt; dengan sangat mudah. Untuk bisa bermain seperti itu, tentu dibutuhkan perangkat jari yang kuat. Dan saya penasaran, di tengah kesibukan Pak Oerip sebagai akademisi dan pejabat di ITB, kapan kiranya beliau ada waktu untuk mempelajari semua repertoire dengan detail seperti itu? Kok bisa ya? Kapan latihannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di karya kedua (Mendelssohn – Variation sérieuses) lebih terlihat lagi ke-“seriusan” Pak Oerip dalam menggarap karya sulit nan penuh dengan polifonik dan kromatik itu. Variation yang merupakan salah satu karya terpenting Mendelssohn tersebut memperlihatkan pengaruh komposisi &lt;em&gt;counterpoint&lt;/em&gt; komposer favorit pendahulunya: J.S. Bach. Saya membayangkan, bagaimana cara Pak Oerip melatih not-not di Variation itu. Yang dibutuhkan tentu saja &lt;em&gt;Mental Practice&lt;/em&gt;, dalam arti: Penguasaan harmoni dan analisis teori haruslah kuat!&lt;br /&gt;*Saya tidak tahu ya, ini hanya asumsi saya saja, karena jika belajar lagunya benar-benar cuma memainkan not satu persatu dari awal, kemudian dihafalkan, rasanya mustahil bisa selesai. Yang ada malah frustrasi. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SpGAcos91TI/AAAAAAAAAL4/rW4ifHm9dhE/s1600-h/DSC00961.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373217059880424754" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SpGAcos91TI/AAAAAAAAAL4/rW4ifHm9dhE/s400/DSC00961.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Resital Goethe Haus, Agustus 2009.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian ada komposisi &lt;em&gt;miniatures&lt;/em&gt; karya Krisantini Markam, komponis muda yang menetap di Australia. Krisantini ini adalah putri Bu Prapti, yang berarti keponakannya Pak Oerip. Mendengar &lt;em&gt;miniatures&lt;/em&gt; karya Krisantini ini, saya jadi teringat komposer Alexandre Tansman yang juga membuat &lt;em&gt;miniatures&lt;/em&gt; sebagai impresinya ketika mengelilingi dunia, yaitu "Le Tour du Monde en Miniature", dimana di dalamnya ada judul-judul yang menarik seperti “&lt;em&gt;La Flute de Bambou dans la forêt de Bandoeng&lt;/em&gt;" (Suara seruling bambu di tengah hutan Bandung), dan "&lt;em&gt;La Gamelang de Bali&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Wayang-theatre d'ombres&lt;/em&gt;)".&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan impresi mengenai “Ibu yang duduk sendiri di teras depan rumah” (Mother’s Day), “Tarian Sunda dan Bali dalam ritme yang dinamis” (Dance), dan “Kenangan akan tari Bali dalam sebuah sanggar di Ubud” (Bali Music), Krisantini Markam menghadirkan suasana manis melalui dentingan jemari Pak Oerip.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah karya terakhir (Ravel – Sonatine) yang dihadirkan dengan suasana sublim khas Prancis, penonton bertepuk tangan meriah dan Pak Oerip pun kembali lagi ke panggung membawakan &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt; dari Manuel de Falla “Ritual Fire Dance”. Disinilah klimaks konser terjadi. Ketika sedang bermain di tengah-tengah lagu (Pak Oerip memainkannya dengan hafal, tapi saya rasa di sekitar halaman 3), Pak Oerip tiba-tiba lupa, berhenti, dan JRENG! Tuts piano di-&lt;em&gt;jreng&lt;/em&gt; (bagaikan pianis yang memainkan &lt;em&gt;tone-cluster&lt;/em&gt;) dan Pak Oerip segera bergegas meninggalkan piano sambil menggerutu, “Lupa!”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kontan semua penonton tertawa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memang benar-benar TOP konser malam itu. Saya pun yakin penonton bukan menertawakan Pak Oerip yang lupa, melainkan karena Pak Oerip berhasil menggebrak sesuatu yang “pakem” dengan sekali tebas! &lt;em&gt;Excitement&lt;/em&gt; saya malam itu, mungkin bisa disamakan ketika berpuluh tahun yang lalu penonton melihat &lt;em&gt;premiere&lt;/em&gt; John Cage 4’33”, dimana pianis duduk diam saja di depan piano selama 4 menit 33 detik, tidak memainkan apa-apa.&lt;br /&gt;Ibarat memainkan komposisi &lt;em&gt;avant-garde&lt;/em&gt;, Pak Oerip benar-benar mengaduk suasana malam itu, antara perasaan geli, bercampur kagum dan terkesima!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;A truly memorable &lt;em&gt;encore&lt;/em&gt;! Congratulations Pak Oerip!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-295556853548579668?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/295556853548579668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=295556853548579668' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/295556853548579668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/295556853548579668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2009/08/resital-piano-oerip-santoso.html' title='Resital Piano Oerip Santoso'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SpGAcPGVjXI/AAAAAAAAALw/UVYQdT99QUc/s72-c/DSC00271.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-8630821189478562033</id><published>2009-06-05T10:14:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T10:48:53.482-07:00</updated><title type='text'>Funny Quotations</title><content type='html'>I just found out this vintage Johann Sebastian Bach &lt;strong&gt;Inventions.&lt;/strong&gt; Actually it belonged to my auntie, but now it's mine since she's no longer studying piano.&lt;br /&gt;The funny part is, we can spot two handwritten quotations at the first page, and I believe it was &lt;strong&gt;Bekalel&lt;/strong&gt; who asked her to write it down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Bekalel, an infamous Polish pianist who was also a World-War II refugee, taught piano in the cool city of Bandung. As my auntie recalled, he was an extraordinarily strict musician with a big repertoire of great classical tradition, and a long rattan cane that she used to call it "military discipline". My auntie was one of his selected pupils. He passed away in the middle of 80's.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SilWIsKC8QI/AAAAAAAAALo/ahguahwxdSk/s1600-h/Inventions+001.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343897140144042242" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 374px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SilWIsKC8QI/AAAAAAAAALo/ahguahwxdSk/s400/Inventions+001.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Musik adalah wahyu yang lebih tinggi daripada segala hikmat dan filsafat"&lt;/em&gt; (Ludwig van Beethoven)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Semua musik yang tidak sesuai dengan Akademi adalah pelacuran musik!!!" &lt;/em&gt;(Bekalel?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-8630821189478562033?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/8630821189478562033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=8630821189478562033' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/8630821189478562033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/8630821189478562033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2009/06/funny-quotations.html' title='Funny Quotations'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/SilWIsKC8QI/AAAAAAAAALo/ahguahwxdSk/s72-c/Inventions+001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-4367353839437353215</id><published>2009-05-23T13:35:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T05:36:18.558-07:00</updated><title type='text'>Konser 25 Tahun Paragita</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Setelah menonton Duo Akordeon yang fantastik, saya bergegas ke Usmar Ismail yang terletak tidak begitu jauh dari Erasmus Huis. Paragita (Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia) menggelar &lt;span style="color:#666666;"&gt;“Silver Birthday Concert”&lt;/span&gt; yang nampaknya sayang untuk dilewatkan.&lt;br /&gt;Saya sendiri selalu menyempatkan untuk menonton Paragita karena paduan suara tersebut telah memberikan begitu banyak pengalaman dan pelajaran dalam kegiatan bermusik saya. Mbak Aning Katamsi selaku konduktor Paragita telah memberikan banyak masukan mengenai cara mengiringi paduan suara yang ternyata lebih sulit daripada mengiringi solo vokal atau biola. Dalam paduan suara perlu ada interaksi antara pianis, konduktor, dan paduan suaranya sendiri sehingga konsentrasi harus dipecah-belah. Kadang ada kalanya paduan suara kurang pas dengan aba-aba konduktor – atau sebaliknya (namanya juga paduan suara, kita pasti berurusan dengan puluhan penyanyi) – sehingga pianis harus pintar-pintar mencari akal agar suatu &lt;em&gt;performance&lt;/em&gt; dapat berlangsung tanpa ada pihak yang dirugikan. Tentu beda dengan mengiringi solo vokal – dimana interaksi hanya terjadi antar pianis dan vokalis – mengiringi paduan suara (apalagi sekelas Paragita) butuh latihan serta &lt;em&gt;trial and error&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Babak I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada babak pertama, paduan suara yang terdiri atas para mahasiswa yang masih aktif kuliah itu langsung meluncur dengan &lt;strong&gt;All Things Bright and Beautiful (John Rutter)&lt;/strong&gt;. Konduktor Agus Yuwono alias Nyonyon membawa lagu tersebut dalam tempo diatas rata-rata, diiringi jemari lincah pianis Bali Susilo. Tempo yang &lt;em&gt;flowing&lt;/em&gt; dan luwes mengangkat lagu tersebut menjadi cerah dan indah, sesuai judulnya. Setelah itu, masih dengan iringan piano Bali Susilo, Nyonyon mengarahkan lagu &lt;strong&gt;Home is a Special Kind of Feeling (Rutter)&lt;/strong&gt; dengan sedikit relaksasi, membawa nuansa nostalgia dan menarik untuk terus didengar.&lt;br /&gt;Sejenak konduktor berganti menjadi Adji Kasyono memimpin lagu &lt;strong&gt;Dashing Away with a Smoothing Iron&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;O Waly, Waly (Rutter)&lt;/strong&gt; dengan keluwesan dan perhatian akan detail seperti dinamik dan perubahan tempo. Gaya &lt;em&gt;conducting&lt;/em&gt; Mas Adji cenderung luwes dan elegan, sedangkan Nyonyon lebih berapi-api dan penuh passion. Meskipun demikian, pada &lt;strong&gt;The Girl I Left Behind Me (Rutter)&lt;/strong&gt; yang merupakan lagu terakhir pada seksi &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“John Rutter Collections”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, Nyonyon bisa memimpin paduan suara dengan khidmat.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Seksi kedua adalah &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“The Beatles Collections”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang dimulai dengan &lt;strong&gt;Here, There, and Everywhere&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Beatles in Revue (a Medley)&lt;/strong&gt;. Terus terang &lt;em&gt;highlight &lt;/em&gt;konser di babak pertama adalah The Beatles ini. Medley-nya menampilkan rangkaian lagu-lagu hits The Beatles yang asik banget, membuat para penonton tak kuasa menahan badannya untuk bergoyang mengikuti irama. Saya bukan penggemar berat The Beatles, tapi setelah mendengarkan mereka membawakan lagu ini dengan sedemikian menariknya, sepertinya saya merasa harus memiliki beberapa album The Beatles (paling tidak yang lagu-lagunya mereka nyanyikan). Iringan piano Bali Susilo yang penuh nuansa jazz menambah semarak suasana.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339124777703391698" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Shhhsop_QdI/AAAAAAAAALY/nlNJb9P8ayQ/s320/DSC00618.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;&lt;em&gt;The Beatles Collections dibawah pimpinan Nyonyon&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Seksi ketiga adalah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;"Birthday Madrigal"&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang keseluruhannya karya &lt;strong&gt;John Rutter&lt;/strong&gt;. Sebenarnya Madrigal adalah jenis komposisi vokal profan dari zaman Renaissance (berbeda dengan komposisi vokal zaman itu yang notabene bersifat religius). Di abad 20 lantas komponis John Rutter mengadopsi style madrigal itu dan membuat Birthday Madrigal (yang terdiri atas &lt;em&gt;It was a lover and his lass&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;Come live with me&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;When daisies pied&lt;/em&gt;) dengan nuansa jazz yang kental. Elemen vokal “fa-la-la” yang merupakan ciri khas English Madrigal (yang membedakannya dengan Italian Madrigal) diadopsi oleh Rutter, menjadi sangat menarik untuk didengar. Kali ini iringan pianonya adalah Haris Pranowo (kebetulan teman satu angkatan saya di YPM, tapi setelah lulus Haris lebih memilih untuk memperdalam jazz) sangat kentara sekali jazz-nya. Dengan &lt;em&gt;tone concert&lt;/em&gt; yang besar, Haris bisa mengiringi nada-nada jazz seolah-olah hal itu terjadi dengan spontan (padahal baca partitur). Menyenangkan sekali untuk didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Babak II&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan Babak Kedua merupakan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tribute to Lilik Sugiarto&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Pak Lilik yang terkenal sebagai &lt;em&gt;arranger&lt;/em&gt; lagu-lagu paduan suara, merupakan pelatih pertama Paragita. Lebih spesialnya lagi, di babak kedua ini anggota paduan suaranya merupakan gabungan alumni Paragita yang sudah menjadi anggota sedjak 1983 (saya sadja beloem lahir). Meskipun demikian, kualitas penampilan yang prima masih terlihat dengan jelas, antara lain berkat latihan intensif yang dipimpin oleh Mbak Aning Katamsi sejak bulan Maret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tongkat komando Mbak Aning, babak kedua dibuka dengan &lt;strong&gt;Doa&lt;/strong&gt; yang syahdu, dilanjutkan dengan &lt;strong&gt;Bumiku Indonesia&lt;/strong&gt; yang sangat terkenal itu. Dengan kekompakan yang solid, tante-tante dan om-om itu bisa membawakan lagu yang begitu sulit dengan gradasi dinamik dan kecermatan tempo yang terjaga, &lt;em&gt;blending&lt;/em&gt; suaranya pun terdengar menyatu. Ditambah dengan penampilan layar display mengenai Bencana Situ Gintung, memang nyata benar bahwa Bumiku Indonesia kini kian sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339124777959328770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/ShhhspnAjAI/AAAAAAAAALg/LytfAyCt6mI/s320/DSC00619.JPG" border="0" /&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;Paduan Suara Alumni Paragita dibawah pimpinan Aning Katamsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Program dilanjutkan dengan penampilan lagu daerah seperti &lt;strong&gt;Dayuang Palinggam&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Jali-Jali&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;Cik Cik Periuk&lt;/strong&gt;. Nampaknya lagu-lagu daerah ini merupakan "lagu kojo" Paragita ketika di era 80 dan 90-an sering mengikuti kompetisi ke luar negeri. Memang salut melihat penampilan tante-tante dan om-om itu, setelah sekian lama (mungkin) meninggalkan dunia paduan suara, berkeluarga dan bekerja, masih bisa kembali pada suatu kualitas yang patut diacungkan jempol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Selamat dan sukses selalu bagi Paragita!&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10946990-4367353839437353215?l=pianistaholic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pianistaholic.blogspot.com/feeds/4367353839437353215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10946990&amp;postID=4367353839437353215' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/4367353839437353215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10946990/posts/default/4367353839437353215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pianistaholic.blogspot.com/2009/05/konser-25-tahun-paragita.html' title='Konser 25 Tahun Paragita'/><author><name>Aditya P Setiadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16094993865440055630</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-FhgGlDupkuI/TcVAIgrCQnI/AAAAAAAAAuI/Vpv3o1hbZgw/s220/DSC03946%2B%25282%2529.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GafNHPzKqmE/Shhhsop_QdI/AAAAAAAAALY/nlNJb9P8ayQ/s72-c/DSC00618.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10946990.post-8318506984537611757</id><published>2009-05-23T12:09:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T05:37:16.553-07:00</updated><title type='text'>Konser Duo Akordeon di Erasmus Huis</title><content type='html'>Sabtu, 23 Mei 2009 merupakan hari yang padat karena di saat yang bersamaan ada dua konser. Untung jamnya tidak berdekatan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Accordeon Duo "Toeac" di Erasmus Huis pk 16&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konser 25 Tahun Paragita di Usmar Ismail pk 19.30&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Langsung saja, mari kita membahas konser duo-akordeon di Erasmus. Pertama-tama, perlu ditekankan bahwa alat musik akordeon merupakan instrumen yang cukup langka di Indonesia. Selain jarang ditemui, musisi yang bisa memainkannya pun tidak sebanyak jumlah pianis atau violist yang biasa meramaikan panggung pertunjukan musik klasik di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Accordeon Duo Toeac&lt;/strong&gt; terdiri atas dua pemain akordeon cantik asal Belanda, yakni Pieternel Berkers dan Renée Bekkers. Ketika pertama melihat mereka keluar dari balik tirai panggung, saya cukup terkesan melihat akordeon yang begitu besar (dan terlihat berat) telah menempel di masing-masing badan mereka yang semampai (dengan bantuan sabuk tentunya). Rupanya akordeon ada dua j
